Bab 5 Pagi Pertama dan Aturan yang Belum di uji
Alarm Alya berbunyi pukul enam.
Kebiasaan lama yang tidak bisa dimatikan meski tubuhnya baru benar-benar terlelap sekitar pukul dua dini hari. Di rumah lama, jam enam berarti menyiapkan sarapan sebelum perawat pagi datang, memastikan obat Bapak sudah disiapkan di gelas kecil di sebelah tempat tidurnya, mengecek apakah Mama sudah bangun atau masih terjebak dalam tidur yang tidak pernah cukup nyenyak.
Di sini, jam enam berarti langit-langit putih bersih yang asing dan cahaya matahari yang masuk dari celah tirai tebal yang belum dia hafal cara menutupnya rapat-rapat.
Alya mematikan alarm. Duduk. Mengorientasikan dirinya.
Penthouse. Lantai lima puluh satu. Istri kontrak.
Ya. Ini nyata.
Dia masuk kamar mandi, mencuci muka, menyikat gigi dengan gerakan otomatis sambil otaknya perlahan menyala. Dari balik pintu kamarnya, tidak terdengar suara apapun. Entah Raka belum bangun atau sudah pergi lebih awal — keduanya sama-sama mungkin untuk seorang CEO yang jadwalnya Alya tidak tahu sama sekali.
Ketika dia membuka pintu kamar, aroma kopi menyambutnya.
Kopi yang sedang diseduh, bukan kopi yang sudah jadi. Artinya ada orang yang baru saja membuatnya.
Alya berjalan ke dapur.
Raka berdiri di depan mesin kopi espresso yang ukurannya lebih besar dari microwave apartemen Alya yang lama, mengenakan kemeja putih yang sudah disetrika sempurna meski belum dikancingkan sampai atas dan dasi yang tergantung bebas di lehernya belum diikat. Rambutnya sedikit berantakan — satu-satunya hal yang terlihat tidak sempurna dari keseluruhan tampilannya — dengan cara yang membuat dia terlihat lebih muda dari tiga puluh dua tahunnya.
Dia tidak menoleh ketika Alya masuk. Tapi bibirnya bergerak.
"Kopi?"
"Boleh."
Tanpa basa-basi lebih lanjut, Raka mengambil cangkir kedua dari lemari atas, menekan beberapa tombol di mesin dengan gerakan hafalan, dan meletakkan cangkir berisi espresso panas di counter granit abu-abu di depannya.
Alya duduk di barstool, meraih cangkir itu. Menyesap.
Pahit dan kuat, tapi bukan jenis pahit yang tidak enak. Biji kopinya jelas bukan yang dijual di minimarket dekat rumahnya dulu.
"Ada jadwal hari ini?" tanya Raka, masih memunggunginya, sibuk mengancingkan kemejanya.
"Tidak. Saya rencananya—" Alya berhenti. Menyadari bahwa dia bahkan tidak tahu apa yang seharusnya dilakukannya sebagai istri kontrak di hari Minggu pertamanya. "Belum ada rencana pasti."
Raka berbalik, meraih dasinya, mulai mengikatnya dengan gerakan cepat yang terlihat sudah diulang ribuan kali. "Besok Senin ada makan siang dengan klien saya. Mereka tahu saya baru menikah. Kamu perlu hadir."
"Jam berapa?"
"Dua belas. Dion akan kirim detailnya ke nomormu pagi-pagi."
"Oke."
Dia mengikat dasi itu, mengambil jasnya dari gantungan, memasukkan tangannya ke dalam lengan jas dengan gerakan satu paket yang terasa terlalu efisien untuk pukul enam pagi. Lalu mengambil cangkir kopinya, menyesap sekali, dan meletakkannya kembali.
"Ada hal lain yang perlu dibicarakan?"
Alya menatapnya di atas tepi cangkirnya. "Anda selalu secepat ini di pagi hari?"
"Ya."
"Tidak ada obrolan kecil? Tidak ada tanya kabar?"
Raka memasang manset jasnya. "Kamu mau ditanya kabar?"
"Tidak." Alya meletakkan cangkirnya. "Saya hanya memastikan ekspektasi."
Sesuatu bergerak di sudut bibirnya. Bukan senyum penuh — terlalu kecil untuk itu. Tapi ada. Cukup untuk terlihat kalau kamu memperhatikan.
"Saya tidak pandai obrolan kecil," katanya. "Kalau ada yang penting untuk disampaikan, sampaikan langsung. Lebih efisien."
"Dicatat."
Raka mengambil ponsel dan dompetnya dari counter, memasukkannya ke saku. "Kulkas sudah diisi kemarin. Asisten rumah tangga datang jam tujuh. Namanya Bu Ratih, sudah kerja di sini tiga tahun, dia tahu selera saya untuk makan malam kalau kamu perlu referensi."
Lalu dia berjalan ke arah pintu, mengambil kunci mobilnya dari hook kecil di dinding dekat lift, dan berhenti sebentar dengan punggung ke Alya.
"Nomor darurat ada di laci meja dapur. Kalau ada masalah dengan unit, hubungi manajemen gedung langsung, bukan saya."
"Raka."
Dia berhenti.
"Anda akan pulang jam berapa?"
Hening sebentar. Seperti pertanyaan itu membutuhkan kalkulasi yang tidak sederhana.
"Tidak tentu," jawabnya akhirnya. "Tapi saya akan kabari kalau lewat tengah malam."
Lalu lift terbuka, dia masuk, dan pintu menutup.
Alya duduk di dapur yang sekarang tiba-tiba terasa terlalu sepi untuk ukurannya, memegang cangkir kopi yang masih setengah isi, dan menyadari bahwa kehidupan barunya rupanya dimulai dengan sarapan sendirian di dapur orang asing yang sekarang secara hukum adalah suaminya.
Bu Ratih datang tepat pukul tujuh.
Perempuan lima puluhan itu muncul dari lift dengan tas belanjaan di satu tangan dan kunci cadangan di tangan lain, menyapa Alya dengan senyum yang genuine dan tidak canggung — jenis senyum orang yang terbiasa beradaptasi dengan apapun yang ada di hadapannya.
"Ibu Alya ya? Saya Ratih. Sudah dengar dari Pak Dion kemarin." Dia langsung masuk ke dapur, meletakkan tas belanjaan, mulai mengeluarkan isinya dengan gerakan terlatih. "Mau sarapan apa? Saya bisa masak apa saja, tapi Pak Raka biasanya cuma mau roti gandum sama telur putih di pagi hari."
"Pak Raka sudah pergi," kata Alya.
"Oh ya, beliau memang selalu paling cepat." Bu Ratih tertawa kecil, tidak heran sama sekali. "Kalau Ibu sendiri mau apa?"
"Nasi goreng kalau ada."
"Ada, ada. Duduk saja dulu, Ibu."
Alya duduk di barstool yang sama dari tadi, mengamati Bu Ratih bergerak di dapur orang lain — dapur Raka — dengan keluwesan yang membuat Alya merasa justru dia yang tamu di sini.
"Bu Ratih sudah lama di sini?" tanyanya, mencari percakapan yang tidak canggung.
"Tiga tahun lebih, Ibu. Sejak Pak Raka pindah ke sini dari apartemen lamanya di Sudirman." Bu Ratih menggoreng bawang merah, aromanya mulai memenuhi dapur. "Orangnya tidak susah sebetulnya, asal kita tahu kebiasaannya."
"Kebiasaannya bagaimana?"
Bu Ratih berpikir sebentar sambil mengaduk wajan. "Tidak suka ada barang di luar tempat. Semua harus rapi dan di posisinya. Tidak suka suara terlalu keras kalau beliau lagi kerja di rumah. Dan—" dia sedikit menurunkan suaranya meski tidak ada orang lain, "—tidak suka ditanya soal perasaannya. Kalau wajahnya lagi gelap, mending diam saja. Nanti juga berlalu sendiri."
Alya menyerap informasi itu.
"Pernah ada tamu perempuan sebelumnya?" tanyanya, mencoba membuat pertanyaan itu terdengar casual.
Bu Ratih mengaduk nasi di wajan, diam sebentar. "Pernah. Tapi sudah lama sekali. Setelah itu Pak Raka tidak pernah bawa siapapun ke sini."
Alya tidak bertanya lebih lanjut.
Sore harinya, ketika Bu Ratih sudah pulang dan penthouse kembali sunyi, Alya menjelajahi ruangan-ruangan yang boleh dia masuki.
Ruang tengah. Dapur. Balkon yang menghadap ke barat dan matahari sorenya yang turun perlahan di balik deretan gedung. Kamar mandi tamu. Dan kamarnya sendiri yang masih terasa seperti kamar hotel yang sangat mahal, belum seperti kamarnya.
Dia tidak mendekati sayap kiri.
Bukan karena takut — tapi karena ada aturan yang dia tulis sendiri di kertas itu bersama Raka, dan Alya tidak berencana melanggar aturannya sendiri di hari kedua.
Pukul delapan malam, ponselnya bergetar.
Bukan dari Raka. Dari nomor yang membuatnya terdiam selama tiga detik sebelum mengangkat.
"Halo, Mas Bagas."
"Alya." Suara di seberang terdengar familiar dengan cara yang tidak nyaman. Hangat tapi memiliki — jenis kehangatan yang dulu terasa seperti rumah tapi sekarang terasa seperti pintu yang harusnya sudah ditutup lebih rapat. "Kamu betul sudah menikah?"
Alya menarik napas. "Darimana kamu tahu?"
"Jakarta kecil, Al."
Dia berdiri dari sofa, berjalan ke balkon, membiarkan angin malam menyapu mukanya. "Ya. Sudah resmi."
"Siapa orangnya?"
"Bukan urusanmu, Mas."
Hening sebentar. Lalu suara napas panjang di seberang. "Kamu baik-baik saja?"
Dan itu — pertanyaan sederhana itu dari orang yang dulu paling tahu artinya ketika Alya tidak baik-baik saja — membuat sesuatu di dadanya bergetar dengan cara yang tidak dia izinkan untuk berkembang menjadi apapun.
"Baik," jawabnya. Kali ini bukan kebohongan sepenuhnya. "Jaga diri, Mas."
Dia menutup telepon sebelum ada jawaban.
Berdiri di balkon lantai lima puluh satu, menatap Jakarta yang berkelip di bawah, dengan cincin platinum di jarinya yang terasa sedikit lebih berat dari biasanya.
Pukul sembilan lewat dua puluh, lift berbunyi.
Alya berbalik dari balkon.
Raka masuk dengan jas yang sudah dilipat di lengannya, kemeja yang masih rapi tapi dasinya sudah dilonggarkan, dan ekspresi lelah yang tipis di wajahnya — jenis lelah yang coba disembunyikan tapi tubuh tidak selalu kooperatif.
Dia melihat Alya di balkon melalui kaca, berhenti sebentar, lalu mengangguk satu kali.
Alya mengangguk balik.
Tidak ada kata-kata. Tidak perlu.
Raka masuk ke dapur, membuka kulkas, berdiri di depannya sebentar sebelum menutupnya lagi dan mengambil segelas air putih. Meminumnya berdiri di counter.
"Makan malam sudah?" tanyanya tanpa menoleh.
"Sudah."
"Besok pukul sebelas setengah Dion jemput kamu untuk makan siang dengan klien."
"Sudah dicatat."
Raka meletakkan gelas, berbalik, dan untuk pertama kalinya sejak dia masuk, benar-benar menatap Alya yang masih berdiri di ambang pintu balkon.
Matanya menelusuri sebentar — bukan dengan cara yang tidak sopan, tapi dengan cara seseorang yang sedang memproses informasi. Lalu dia mengangguk lagi, mengambil jasnya yang terlipat, dan berjalan ke arah sayap kirinya.
"Selamat malam."
"Selamat malam."
Pintu sayap kiri menutup pelan.
Alya berdiri di tempatnya, mendengarkan keheningan yang kembali mengisi ruangan itu — keheningan yang berbeda dari siang tadi, lebih berat, lebih terasa, karena kali ini keheningan itu dibagi dua meski tidak ada yang memintanya.
Dan untuk alasan yang tidak bisa dia jelaskan dengan logis, malam kedua ini terasa lebih nyata dari malam pertama.
Bukan lebih mudah. Hanya lebih nyata.
Dan Alya belum memutuskan apakah itu hal yang baik atau tidak.
