Pustaka
Bahasa Indonesia
Bab
Pengaturan

Bab 4 Malam Pertama di Bawah Satu Atap

Sabtu datang terlalu cepat.

Prosesi sipil di kantor catatan sipil berlangsung dua puluh tiga menit. Alya menghitungnya — dari pintu masuk sampai cap terakhir di buku nikah. Dua puluh tiga menit untuk mengubah status seseorang secara hukum, untuk memindahkan nama seorang perempuan ke kolom yang berbeda di dokumen kependudukan, untuk menjadikan dua orang asing resmi terikat di atas kertas.

Saksi dari pihak Raka adalah Pak Arman dan seorang pria muda yang diperkenalkan sebagai Dion, asisten pribadinya. Dari pihak Alya hanya ada Om Hendra — karena Alya tidak bisa membayangkan menjelaskan situasi ini kepada siapapun yang benar-benar peduli padanya.

Mama tidak hadir. Alya yang memintanya tidak datang.

Beberapa kebohongan ada yang lebih mudah dijaga kalau tidak ada saksi mata.

Raka menandatangani buku nikah dengan tangan kanannya, manset kemeja putihnya terlipat rapi satu kali di pergelangan. Cincin — tipis, platinum, tanpa ornamen berlebihan — dipasang di jari Alya oleh tangannya sendiri dengan gerakan yang efisien dan tidak dramatis. Alya melakukan hal yang sama. Jari Raka terasa hangat dan kering di tangannya, berbeda dari yang dia ekspektasikan.

Petugas catatan sipil mengucapkan selamat dengan nada yang sama yang pasti sudah dia ulang ratusan kali hari itu.

Dua puluh tiga menit.

Selesai.

Apartemen Raka berada di lantai lima puluh satu gedung residensial di kawasan SCBD. Bukan apartemen — penthouse, koreksi Dion dengan nada netral ketika mengantarkan koper Alya ke lobi. Alya tidak membawa banyak. Dua koper sedang berisi pakaian dan barang-barang yang dia anggap perlu, satu tas ransel berisi hal-hal yang terlalu personal untuk dipak dengan tergesa.

Lift penthouse membutuhkan kartu akses khusus. Raka yang menggesekkannya, berdiri di sebelah Alya dalam keheningan yang sudah menjadi bahasa default mereka dalam empat hari terakhir. Komunikasi mereka sejak penandatanganan kontrak terbatas pada beberapa pesan singkat soal logistik — jam berapa, bawa apa, perlu apa.

Fungsional. Efisien.

Pintu lift terbuka langsung ke ruang utama penthouse.

Alya melangkah keluar dan berhenti.

Bukan karena takut. Tapi karena ruangan itu — terbuka, tinggi langit-langitnya, dengan dinding kaca dari lantai ke plafon yang menghadap seluruh cakrawala Jakarta — begitu berbeda dari apapun yang pernah dia tinggali sampai refleksnya butuh waktu untuk menyesuaikan.

Perabotannya gelap dan bersih. Abu-abu, hitam, putih tulang — tidak ada warna yang hangat kecuali dari lampu-lampu tersembunyi yang menyala otomatis ketika mereka masuk. Tidak ada tanaman. Tidak ada foto di dinding. Tidak ada hal-hal kecil yang membuat ruangan terasa dihuni oleh manusia yang punya memori dan kebiasaan dan kehidupan.

Persis seperti kantornya.

"Kamarmu di sayap kanan." Raka sudah melepas jasnya, menggantungkannya di hanger dekat pintu dengan gerakan yang terlihat seperti ritual harian yang sudah dilakukan ribuan kali. "Dion sudah siapkan lemari untuk barang-barangmu. Dapur bisa kamu pakai bebas. Asisten rumah tangga datang pukul tujuh pagi sampai empat sore, Senin sampai Sabtu."

Alya masih berdiri di tengah ruangan, memutar pandangan pelan.

"Kamarku," ulangnya. "Berarti kita tidak—"

"Tidak malam ini." Raka mengendurkan dasi, menariknya lepas dari lehernya. "Ada hal yang perlu kita bicarakan dulu sebelum apapun."

Sesuatu di dada Alya mengendur sedikit — perasaan yang memalukan untuk diakui tapi tetap ada.

"Oke."

Mereka duduk di ruang tengah. Raka di sofa panjang menghadap jendela, Alya di kursi single di sisinya — jarak yang cukup untuk tidak terasa intim tapi cukup dekat untuk bicara tanpa mengeraskan suara.

Di meja kopi antara mereka, Raka meletakkan satu lembar kertas yang dia ambil dari folder tipis di laci meja samping.

"Ini bukan bagian dari kontrak resmi," katanya. "Ini aturan rumah. Saya lebih nyaman kalau kita sama-sama tahu ekspektasinya dari awal."

Alya meraih kertas itu.

Terketik rapi. Tentu saja.

Aturan Satu: Tidak ada pertanyaan soal jadwal atau aktivitas kerja saya kecuali menyangkut acara yang membutuhkan kehadiran bersama.

Aturan Dua: Ruang kerja di sayap kiri adalah area privat. Tidak masuk tanpa izin.

Aturan Tiga: Urusan rumah tangga diatur bersama sesuai kebutuhan. Tidak ada hierarki di dalam unit ini.

Aturan Empat: Soal hal-hal yang menyangkut klausul lima kontrak — tidak akan ada paksaan, tidak akan ada jadwal, tidak akan ada tuntutan mendadak. Komunikasi adalah syarat utama.

Alya membaca aturan keempat itu dua kali.

Lalu mendongak.

"Anda menulis ini sendiri?"

"Ya."

"Aturan ketiga." Dia menunjuk baris yang dimaksud. "Tidak ada hierarki. Tapi Anda yang membuat aturannya."

Raka menatapnya. Satu detik. Dua detik.

"Kalau kamu mau menambah atau mengubah sesuatu, sekarang waktunya."

Alya meletakkan kertas itu di meja. Memikirkan sebentar.

"Tambahkan satu aturan," katanya. "Tidak ada kebohongan di dalam unit ini. Apapun yang tidak bisa atau tidak mau dijawab, bilang tidak mau menjawab. Tapi tidak berbohong."

Raka memandangnya dengan ekspresi yang tidak berubah. Lalu dia mengambil pulpen dari saku kemejanya, menuliskan sesuatu di bawah aturan keempat, dan mendorong kertas itu kembali ke Alya.

Aturan Lima: Tidak ada kebohongan. Pilihan untuk diam diperbolehkan.

Alya membacanya. Mengangguk.

"Baik."

Kamar yang dimaksud Raka ternyata bukan kamar tamu biasa.

Ukurannya dua kali kamar Alya di rumah. Kasurnya king-size dengan seprai putih bersih yang terasa seperti tidur di atas awan kalau ditekan dengan telapak tangan. Kamar mandi dalam dengan bathtub dan shower terpisah. Lemari built-in yang sebagian sudah dikosongkan untuk barang Alya.

Semua terasa terlalu baik untuk seseorang yang seharusnya hanya melaksanakan kontrak.

Alya membereskan kopernya sendiri, menggantung baju-bajunya di lemari dengan gerakan mekanis yang membantunya tidak terlalu banyak berpikir. Ketika koper pertama selesai, dia duduk di tepi kasur dan mengeluarkan ponselnya.

Ada pesan dari Mama.

Bagaimana di sana, Al? Makan sudah?

Alya tersenyum kecil meski tidak ada yang melihat.

Baik, Ma. Tempatnya bagus. Sudah makan.

Tiga kebohongan dalam satu pesan. Dia belum makan sejak pagi, tempatnya lebih dari sekadar bagus, dan baik adalah kata yang terlalu sederhana untuk mendeskripsikan perasaannya sekarang.

Dia meletakkan ponsel di kasur dan berbaring, menatap langit-langit yang tinggi dan bersih tanpa satu pun retak atau noda cat mengelupas.

Dari luar kamarnya, samar-samar terdengar suara — langkah kaki, lalu suara pintu, lalu hening kembali. Raka rupanya sudah masuk ke area sayap kirinya.

Dua orang di penthouse yang sama, masing-masing di ujung yang berbeda.

Tepat ketika Alya mulai merasa matanya berat, pintu kamarnya diketuk dua kali.

Dia duduk. "Ya?"

Pintu terbuka sedikit. Raka berdiri di ambangnya, sudah berganti pakaian — kaos hitam dan celana rumahan abu-abu, tanpa jas tanpa dasi, terlihat seperti manusia biasa untuk pertama kalinya sejak Alya mengenalnya dan itu entah kenapa justru lebih membingungkan dari versi CEO-nya.

Di tangannya ada satu kotak putih bermerk restoran yang Alya tidak kenal.

"Belum makan," katanya. Bukan pertanyaan.

Alya membuka mulutnya untuk membantah, lalu menutupnya lagi. Aturan lima. Tidak berbohong.

"Belum."

Raka meletakkan kotak itu di meja kecil di sudut kamar. "Salmon dengan nasi merah. Kalau ada alergi yang tidak saya tahu, besok kasih tahu Dion untuk dicatat."

Dia sudah berbalik untuk pergi ketika Alya bersuara.

"Raka."

Pria itu berhenti. Berbalik setengah, memandangnya dari sudut mata.

"Terima kasih."

Ekspresinya tidak berubah. Tapi ada sesuatu — sesuatu yang sangat kecil dan sangat cepat — yang bergerak di matanya sebelum dia mengangguk satu kali dan melangkah pergi.

Pintu menutup pelan di belakangnya.

Alya menatap kotak makanan itu. Lalu menatap cincin tipis platinum di jari manisnya yang belum sempat dia lepas sejak tadi siang.

Satu hari sudah berlalu dari dua belas bulan yang harus dia jalani.

Tiga ratus enam puluh empat hari lagi.

Dia membuka kotak itu, mengambil sumpit yang dilipat rapi di sampingnya, dan makan dalam keheningan penthouse yang terlalu besar untuk dua orang yang belum tahu apa-apa tentang satu sama lain — kecuali bahwa mereka sudah resmi terikat, dan malam pertama ini terasa seperti jeda sebelum sesuatu yang jauh lebih rumit mulai berjalan.

Unduh sekarang dan klaim hadiahnya
Scan kode QR dan unduh aplikasi Hinovel