Bab 6 Ketika Satu Atap Terasa Terlalu Sempit
Senin pagi datang dengan agenda yang tidak memberi Alya waktu untuk terlalu banyak berpikir.
Pukul delapan, Dion sudah mengirim pesan berisi detail makan siang — nama klien, nama restoran, dress code, dan poin-poin singkat tentang hal yang sebaiknya tidak disinggung di meja makan. Pesan itu ditulis dengan presisi yang mengingatkan Alya pada buku panduan penerbangan: semua yang perlu diketahui, tidak ada yang berlebihan.
Dia membacanya dua kali sambil minum kopi yang dibuat sendiri — mesin espresso Raka ternyata tidak semenakutkan tampilannya setelah Bu Ratih mengajarinya urutan tombolnya pagi tadi.
Raka sendiri sudah pergi sebelum Alya keluar kamar.
Hanya ada cangkir kotor di wastafel dapur dan aroma kopi yang masih tertinggal di udara sebagai bukti bahwa dia pernah ada di ruangan itu. Alya menatap cangkir itu sebentar — lalu mencucinya, karena tidak ada alasan untuk tidak melakukannya.
Pukul sebelas, dia sudah siap.
Dress code yang diminta Dion adalah smart casual elegan — Alya memilih blazer krem di atas blus sutra putih dan celana panjang hitam, rambut diikat rapi ke belakang, makeup yang cukup untuk terlihat istri-seorang-CEO tapi tidak berlebihan. Dia berdiri di depan cermin kamar dan melakukan sesuatu yang belum pernah dia lakukan sebelumnya: menilai dirinya sendiri bukan sebagai Alya, tapi sebagai karakter yang harus dia mainkan.
Istri Raka Aldira. Percaya diri. Tidak terintimidasi. Tidak ada yang mencurigakan.
Refleksi di cermin itu menatap balik dengan ekspresi yang hampir meyakinkan.
Dion ternyata lebih muda dari yang Alya bayangkan. Dua puluhan akhir, rambut pendek rapi, senyum profesional yang terasa genuine — jenis orang yang efisien tapi tidak membuat kamu merasa seperti item dalam daftar tugasnya.
"Ibu Alya." Dia membuka pintu mobil dengan gerakan terlatih. "Pak Raka sudah di restoran sejak tadi."
"Dia tidak menunggu di kantor?"
"Kliennya request ketemu lebih awal. Pak Raka minta saya jemput Ibu langsung."
Alya masuk ke dalam mobil. Kulitnya cokelat tua, dingin, berbau mahal. Dia melihat ke luar jendela saat Dion memasuki arus lalu lintas Jakarta yang seperti biasa tidak kenal kompromi.
"Dion," panggilnya setelah beberapa menit. "Sudah lama kerja sama Pak Raka?"
"Empat tahun, Bu."
"Orangnya... susah?"
Dion diam sebentar. Matanya di kaca spion melirik sekilas. "Tergantung definisi susah. Standarnya tinggi. Tapi adil." Dia memilih kata-katanya hati-hati — jenis kehati-hatian orang yang loyal tapi tidak mau berbohong. "Selama kita tahu apa yang dia mau dan kenapa, tidak susah."
"Dan kalau tidak tahu?"
"Tanya langsung." Dion tersenyum tipis. "Beliau lebih suka dikonfrontasi daripada diasumsikan."
Alya menyimpan informasi itu.
Restoran itu berada di lantai tiga puluh hotel bintang lima di kawasan Sudirman — jenis tempat yang kartu menunya tidak mencantumkan harga karena kalau perlu tanya, mungkin bukan tempat untukmu. Alya melangkah masuk dengan kepala tegak dan langkah yang lebih yakin dari perasaannya.
Raka sudah duduk di meja dekat jendela bersama dua pria paruh baya dan seorang perempuan yang tampilannya sangat rapi dengan cara yang terasa seperti armor. Ketika dia melihat Alya masuk, sesuatu di postur tubuhnya berubah — sangat halus, hampir tidak terdeteksi — dan dia berdiri.
Itu sendiri sudah membuat ketiga tamunya menoleh.
"Sayang." Kata itu keluar dari mulut Raka dengan nada yang sangat natural sampai Alya hampir tersandung langkahnya sendiri. Dia melangkah ke arahnya, dan sebelum otaknya sempat memproses, tangan Raka sudah ada di pinggangnya — ringan, hangat, seperti sudah ribuan kali dilakukan.
Alya meletakkan tangannya di dadanya dan menghadap tiga tamu itu dengan senyum yang dia harapkan terlihat wajar.
"Ini istri saya, Alya," kata Raka. "Al, ini Pak Wibowo dan Pak Santoso dari Mandira Group, dan ini Bu Hera, direktur keuangan mereka."
"Selamat siang." Alya menjabat tangan ketiganya dengan genggaman yang tidak ragu. "Sudah lama dengar nama Mandira dari Raka."
Bohong yang sempurna karena tidak bisa diverifikasi.
Pak Wibowo — yang lebih tua dan lebih banyak bicara dari dua lainnya — tertawa senang. "Wah, cantik sekali Bu Alya. Pantas Pak Raka tiba-tiba menikah, kami semua kaget lho."
"Saya yang lebih kaget," kata Alya, dan kali itu bukan bohong sama sekali.
Tawa di meja itu hangat. Raka menarik kursi untuknya sebelum duduk kembali di tempatnya, dan ketika Alya duduk, dia menyadari tangan Raka masih sesaat ada di sandaran kursinya sebelum ditarik — gestur yang terlihat seperti kebiasaan pasangan tapi terasa seperti kalkulasi yang sangat terlatih.
Dua jam berikutnya adalah pertunjukan yang tidak ada naskahnya.
Alya berbicara ketika perlu, diam ketika perlu, tertawa pada waktu yang tepat, dan menjawab pertanyaan tentang "bagaimana kalian bertemu" dengan versi yang dia improvisasi di tempat — cukup romantis untuk dipercaya, cukup singkat untuk tidak perlu diingat detailnya.
Raka — yang di penthouse dan di kantornya terasa seperti mesin yang efisien — di meja ini berubah. Tidak dramatis, tidak berlebihan, tapi ada. Satu kali tangannya menyentuh punggung tangan Alya di atas meja ketika Pak Wibowo menceritakan lelucon panjang yang tidak terlalu lucu — gestur kecil yang terlihat seperti berbagi momen tapi Alya merasakan tekanan jari-jarinya yang sebentar itu sampai ke pergelangan tangannya.
Satu kali dia menyebut nama Alya di tengah kalimat dengan intonasi yang terasa terlalu alami untuk sebuah kontrak.
Satu kali matanya bertemu mata Alya ketika Bu Hera bertanya apakah mereka berencana punya anak — dan dalam sepersekian detik itu ada komunikasi yang tidak butuh kata: ikuti arahku — dan Alya menjawab dengan senyum manis dan "kami masih menikmati waktu berdua dulu" yang membuat Bu Hera mengangguk puas.
Ketika makan siang selesai dan tamu-tamu itu pergi dengan jabat tangan dan janji pertemuan berikutnya, Alya duduk kembali di kursinya dan melepas senyum profesionalnya untuk pertama kalinya dalam dua jam.
Wajahnya terasa lelah dari tersenyum.
Raka masih duduk di seberangnya, menyesap kopi terakhirnya, memandangnya dengan ekspresi yang sulit dibaca.
"Bagus," katanya akhirnya.
Satu kata. Tapi dari mulut Raka, satu kata itu terasa seperti nilai yang lebih berarti dari pujian panjang orang lain.
"Improvisasi soal bagaimana kita bertemu tadi perlu disinkronkan," kata Alya. "Kalau mereka tanya lagi ke kamu versinya harus sama."
"Kamu bilang apa?"
"Diperkenalkan lewat kenalan bisnis, enam bulan lalu, di acara semi-formal. Kamu yang approach duluan."
Sudut bibir Raka bergerak. "Kenapa saya yang approach?"
"Karena lebih masuk akal." Alya menatapnya datar. "Tidak ada yang akan percaya saya yang nekat approach CEO Aldira Grup."
Kali ini ekspresinya bergerak lebih jelas — bukan senyum penuh, tapi cukup nyata untuk membuat Alya menyadari bahwa wajah yang biasanya terkunci itu punya dimensi lain di baliknya.
"Dicatat," katanya.
Mereka keluar dari restoran bersama, dan di lobi hotel ketika orang-orang lain ada di sekitar mereka, tangan Raka kembali ke pinggang Alya — ringan, natural, seperti tadi. Tapi kali ini tidak ada klien yang perlu diyakinkan.
Alya tidak berkomentar.
Raka juga tidak.
Tangannya tetap di sana sampai mereka keluar pintu dan Dion sudah menunggu dengan mobil, dan baru di saat itulah jarak kembali ke ukuran defaultnya — dua orang, satu kontrak, masing-masing dengan batas yang masih cukup jelas di siang bolong.
Tapi Alya berbohong kalau bilang dia tidak merasakan hangatnya telapak tangan itu di pinggangnya sepanjang perjalanan pulang.
Malam itu, pukul sembilan, Raka muncul dari sayap kirinya dengan wajah yang sedikit lebih lelah dari kemarin. Dia tidak langsung ke kamarnya — berdiri di dapur, membuka kulkas, menutupnya lagi.
"Kamu masak?" tanyanya, melihat pot di atas kompor.
"Sop ayam." Alya mengaduk isinya. "Bu Ratih tadi belikan bahannya sebelum pulang. Mau?"
Raka diam sebentar. Bukan lama — dua detik mungkin. Tapi cukup untuk Alya menangkap bahwa pertanyaan sesederhana itu membutuhkan semacam penyesuaian dari pria ini.
"Boleh."
Mereka makan di meja dapur. Bukan di meja makan besar di ruang tengah yang terasa terlalu formal untuk berdua — tapi di counter dapur, di atas barstool yang sama dari pagi pertama, dengan dua mangkuk sop dan nasi yang Alya ambilkan tanpa bertanya ukurannya.
Tidak banyak bicara. Tapi keheningannya berbeda dari kemarin.
Kemarin sunyi karena asing.
Malam ini sunyi karena tidak ada yang perlu diisi.
Dan Alya — yang sudah terbiasa mengisi keheningan dengan pertanyaan dan obrolan dan suara-suara kecil agar tidak terlalu terasa sepi — menemukan bahwa keheningan jenis ini, anehnya, tidak tidak nyaman.
Raka meletakkan sendoknya. Menatap mangkuknya sebentar.
"Enak," katanya.
Dua suku kata. Tidak dramatis. Tidak berlebihan.
Tapi Alya menyesap kuahnya untuk menyembunyikan sesuatu yang nyaris seperti senyum.
