Pustaka
Bahasa Indonesia
Bab
Pengaturan

Bab 3 Tanda Tangan di Atas Segalanya

Malam itu Alya tidak tidur.

Bukan karena tidak mencoba. Dia sudah berbaring sejak pukul sepuluh, menatap langit-langit kamarnya yang catnya mulai mengelupas di sudut kanan — sesuatu yang sudah dia rencanakan untuk diperbaiki sejak enam bulan lalu tapi selalu ada yang lebih mendesak. Selalu ada yang lebih penting dari langit-langit kamar perempuan dua puluh empat tahun yang hidupnya sedang berjalan ke arah yang tidak pernah dia pilih.

Map kontrak itu tergeletak di meja belajarnya.

Dia tidak membukanya lagi. Tidak perlu. Setiap klausulnya sudah tercetak di kepalanya dengan presisi yang menyebalkan — termasuk klausul yang membuatnya berbaring seperti ini dengan dada yang terasa terlalu penuh untuk satu malam.

Dari kamar sebelah, terdengar suara mesin nebulizer yang berdengung pelan dan teratur. Bapak sedang tidur. Perawat malam yang mereka gaji dengan sisa tabungan Mama sudah bergantian jaga sejak pukul delapan. Suara itu — monoton, mekanis, tidak pernah berhenti — adalah soundtrack dari tiga bulan terakhir hidup Alya.

Dia menutup matanya.

Dua ratus tujuh puluh juta.

Lima ratus juta kompensasi akhir.

Satu tahun.

Satu pria yang matanya terasa seperti sedang menimbang beratmu setiap kali menatap.

Pukul enam pagi, Alya sudah duduk di meja makan dengan secangkir kopi yang lebih banyak ampasnya dari biasanya karena tangannya tidak sabar saat menyeduh. Mamanya muncul dari dapur dengan wajah yang menua terlalu cepat dalam tiga bulan terakhir — garis di sudut matanya lebih dalam, rambutnya yang dulu hitam lebat sekarang beruban di pelipis kanan kiri.

"Kamu tidak tidur?" Mama duduk di seberangnya.

"Tidur." Bohong yang tidak meyakinkan.

Mama tidak merespons. Tangan keriputnya meraih cangkir Alya, menyesap sedikit, lalu meletakkannya kembali dengan ekspresi perempuan yang tahu anaknya berbohong tapi memilih tidak menekannya.

"Al." Suaranya pelan. "Om Hendra tadi malam telepon Mama."

Alya mengangkat kepala.

"Dia bilang kamu ketemu seseorang kemarin." Mama memandang mejanya. Tidak berani bertemu mata. "Anak Pak Santoso Aldira."

"Raka Aldira."

"Ya." Mama menelan. "Dia bilang... ada tawaran."

Alya meletakkan cangkirnya. "Mama tahu?"

"Om Hendra cerita sedikit." Nada suaranya susah dibaca — antara tahu tapi tidak mau tahu, antara ingin bertanya dan takut jawabannya.

Ruangan itu hening selama beberapa detik yang terasa panjang tidak wajar.

"Mama jangan khawatir soal detailnya," kata Alya akhirnya. Memilih kalimat yang tidak berbohong tapi juga tidak menjelaskan terlalu banyak. "Yang penting semua beres."

Mama mendongak. Matanya — mata yang sama bentuknya dengan mata Alya — berkaca-kaca dengan cara yang membuat dada Alya terasa seperti diperas pelan-pelan.

"Alya—"

"Bapak butuh rehabilitasi yang benar, Ma. Bukan yang seadanya." Suaranya keluar lebih keras dari niatnya. Dia menariknya kembali, menurunkan volumenya. "Kita tidak bisa terus seperti ini."

Mama tidak menjawab. Tangannya yang di atas meja mengepal pelan, lalu mengendur, lalu mengepal lagi.

"Kamu yakin?" bisiknya.

Alya menyesap kopinya yang sudah dingin.

"Tidak," jawabnya jujur. "Tapi saya akan lakukan."

Pukul sepuluh tepat, Alya mengirim pesan ke nomor yang diberikan resepsionis kemarin.

Saya setuju. Kapan bisa bertemu untuk finalisasi?

Balasannya datang dalam empat puluh detik — lebih cepat dari yang dia ekspektasikan dari seorang CEO yang mestinya punya seratus hal lebih penting untuk diurus.

Hari ini. Pukul 14.00. Lokasi sama.

Singkat. Tidak ada basa-basi. Tidak ada tanda tanya memastikan dia baik-baik saja dengan keputusannya. Hanya koordinat dan waktu, seperti memo jadwal rapat biasa.

Alya meletakkan ponselnya.

Oke. Ini nyata.

Kali ini Alya tidak berdiri menunggu di depan lift.

Dia masuk dengan langkah yang lebih pasti dari kemarin — bukan karena lebih yakin, tapi karena tidak ada gunanya ragu di depan pintu yang sudah memutuskan untuk dibuka. Resepsionis yang sama menyambutnya dengan senyum yang sama. Lorong yang sama, marmer yang sama, lampu yang sama.

Tapi kali ini di ruangan itu ada dua orang tambahan.

Seorang pria paruh baya dengan kacamata dan map tebal di tangannya — pengacara, tebak Alya — dan seorang perempuan muda yang duduk di sudut dengan laptop, jari-jarinya siap di atas keyboard.

Raka berdiri di tempat yang sama seperti kemarin. Depan jendela. Punggungnya ke pintu.

Tapi kali ini dia berbalik lebih cepat ketika mendengar langkah Alya.

"Tepat waktu."

"Saya selalu tepat waktu."

Sesuatu bergerak lagi di matanya. Sekilas. Lalu kembali datar.

"Ini Pak Arman, pengacara saya." Raka menunjuk pria berkacamata itu. "Dia akan menjelaskan ulang poin-poin utama kontrak sebelum penandatanganan. Kalau ada yang ingin kamu klarifikasi, sekarang waktunya."

Pak Arman membuka map-nya dengan gerakan terlatih. "Selamat siang, Nona Alya. Mari kita mulai dari—"

"Klausul delapan." Alya memotong, tapi nadanya sopan. "Saya ingin memastikan definisi tekanan psikologis di sana cukup luas."

Pak Arman menatapnya sebentar — mungkin tidak mengekspektasikan pertanyaan itu dari perempuan yang baru masuk. Lalu dia mengangguk pelan dan membuka halaman yang dimaksud.

"Definisinya mencakup segala bentuk manipulasi emosional, ancaman, penghinaan yang disengaja, dan tindakan yang bertujuan melemahkan kondisi mental pihak kedua secara sistematis—"

"Bagus." Alya mengangguk. "Lanjut."

Dari sudut matanya, dia melihat Raka memandangnya dengan ekspresi yang tidak bisa dia baca. Tapi dia tidak menoleh untuk memastikan.

Satu jam berikutnya terasa seperti briefing perang. Pak Arman menjelaskan setiap klausul dengan bahasa yang lebih manusiawi dari teks aslinya. Alya mengajukan tujuh pertanyaan — semuanya spesifik, semuanya soal perlindungannya sebagai pihak kedua. Raka duduk di kursinya dan tidak menyela sekali pun.

Itu sendiri sudah memberitahu Alya sesuatu.

Pukul tiga kurang lima belas, Pak Arman meletakkan dokumen final di meja. Dua salinan, sudah bermaterai, menunggu tanda tangan di tiga titik yang ditandai dengan stiker kuning kecil.

Alya menatap kertas itu.

Ruangan terasa hening mendadak. Printer dan keyboard berhenti. Pak Arman mundur satu langkah. Perempuan dengan laptop mengangkat jarinya dari keyboard.

Dan Raka — Raka yang dari tadi bergerak dan berbicara dengan efisiensi mesin — terdiam juga.

Alya mengambil pulpen yang disodorkan Pak Arman.

Tangannya tidak gemetar. Dia memastikan itu — menekannya ke sisi pahanya sebentar sebelum mengangkatnya ke atas kertas. Tidak gemetar. Tidak boleh gemetar. Kalau tubuhnya mulai menunjukkan betapa takutnya dia, maka ini akan terasa seperti kekalahan dari awal.

Ini bukan kekalahan.

Ini adalah pilihan. Pilihan yang dibuat dengan mata terbuka dan kepala dingin oleh perempuan yang tahu persis apa yang sedang dia pertaruhkan dan kenapa dia memilih untuk mempertaruhkannya.

Tanda tangan pertama.

Tanda tangan kedua.

Tanda tangan ketiga.

Alya meletakkan pulpen.

Pak Arman langsung mengambil salinan pertama, memberikan salinan kedua ke Alya, dan mulai berkemas dengan gerakan yang menunjukkan dia sudah melakukan ini ratusan kali. Perempuan dengan laptop mengetik sesuatu dengan cepat.

Raka mengambil penanya sendiri. Menandatangani tiga titik yang sama dengan gerakan yang cepat dan tidak ragu — seperti menandatangani laporan keuangan. Lalu meletakkan pena itu kembali.

Selesai.

Alya menyimpan salinannya ke dalam tasnya.

"Pencairan untuk hutang keluargamu besok pagi," kata Raka. Sudah berdiri, sudah berbicara dalam mode eksekutif lagi. "Pernikahan resmi hari Sabtu. Hanya prosesi sipil, tidak perlu banyak orang."

"Sabtu?" Empat hari lagi. "Secepat itu?"

"Saya tidak suka menunda hal yang sudah diputuskan."

Alya menatapnya sebentar. Lalu mengangguk.

"Baik."

Dia berbalik untuk pergi. Sudah sampai di pintu ketika suara Raka menyusulnya untuk kedua kalinya.

"Alya."

Dia berhenti. Berbalik.

Raka berdiri di balik mejanya, memandangnya dengan ekspresi yang untuk sepersekian detik terasa berbeda dari semua ekspresi yang dia tunjukkan dalam dua hari ini. Lebih... manusiawi. Tapi sepersekian detik itu hilang terlalu cepat untuk dipastikan.

"Keputusanmu tidak akan kamu sesali."

Alya memegang pegangan pintu.

"Saya tidak tahu itu," jawabnya jujur. "Dan Anda juga tidak."

Dia keluar sebelum Raka bisa menjawab.

Dan kali ini, bunyi klik pintu yang menutup di belakangnya terasa bukan seperti akhir — tapi seperti sesuatu yang baru saja mulai, dan Alya belum tahu apakah dia siap untuk apa yang ada di seberangnya.

Unduh sekarang dan klaim hadiahnya
Scan kode QR dan unduh aplikasi Hinovel