Bab 2 Kontrak dan Harga Sebuah Pilihan
Map itu masih terbuka di tangannya.
Alya membaca ulang paragraf itu dua kali. Tiga kali. Seolah maknanya akan berubah kalau dibaca cukup sering. Tapi kata-kata itu tetap di sana, hitam di atas putih, rapi dan dingin seperti pria yang menuliskannya.
Kebutuhan privat di dalam hunian bersama.
"Klausul ini—" Alya meletakkan map itu di meja, mendorongnya sedikit ke depan seolah jarak fisik bisa menciptakan jarak dari implikasinya. "Maksudnya apa yang saya kira maksudnya?"
Raka tidak berkedip. "Tergantung apa yang kamu kira."
"Jangan main kata-kata dengan saya."
Sesuatu di mata Raka bergeser — tipis, hampir tidak terlihat. Bukan tersinggung. Lebih ke... tertarik. Seperti orang yang sedang mengamati sesuatu yang lebih menarik dari ekspektasinya.
"Saya butuh istri yang fungsional," katanya akhirnya. Memilih kata dengan cara yang terasa seperti seorang pengacara di ruang sidang. "Bukan pajangan. Dalam konteks kehidupan rumah tangga yang sesungguhnya — termasuk di dalam kamar."
Alya menarik napas perlahan melalui hidung.
Jadi memang itu.
"Anda serius." Bukan pertanyaan.
"Saya tidak pernah tidak serius dalam urusan kontrak."
Alya berdiri. Bukan karena mau pergi — kakinya belum cukup yakin untuk membawanya ke pintu — tapi karena duduk di bawah tatapan itu tiba-tiba terasa terlalu sempit. Dia berjalan tiga langkah ke samping, memandang jendela yang sama yang tadi ditatap Raka. Jakarta di bawah sana terlihat kecil dan sibuk dan tidak peduli dengan seorang perempuan yang baru saja ditawari menjual satu tahun hidupnya.
"Kalau saya menolak klausul itu?" tanyanya tanpa berbalik.
"Kontrak tidak berlaku." Suara Raka terdengar sama rata dari belakangnya. "Saya tidak butuh istri seremonial. Kalau hanya itu yang kamu tawarkan, ada cara lain yang lebih efisien untuk keperluan publik saya."
"Tapi Anda memilih cara ini."
"Ya."
"Kenapa?"
Hening sebentar. Cukup lama sampai Alya akhirnya berbalik menatapnya.
Raka sedang memandangnya dengan ekspresi yang sulit diartikan. Bukan dingin lagi — atau masih dingin, tapi ada sesuatu di baliknya yang lebih kompleks. Seperti gunung es yang permukaannya halus tapi massanya tidak bisa ditebak dari atas.
"Itu juga bukan bagian dari diskusi hari ini," katanya.
Alya hampir tertawa. Tapi tidak ada yang lucu dari situasi ini.
Dia duduk kembali.
Bukan karena menyerah — tapi karena lututnya mulai tidak kooperatif dan berdiri pura-pura kuat membutuhkan energi yang tidak dia punya hari ini.
"Saya mau baca kontraknya dulu. Semua halaman."
Raka mendorong map itu kembali ke arahnya. "Silakan."
Dua puluh tiga halaman. Alya membacanya kata per kata, kalimat per kalimat, dengan cara yang dia pelajari dari dua semester kuliah hukum yang dia ambil sebelum pindah jurusan karena biaya. Cukup untuk tahu bahwa dokumen ini ditulis oleh orang yang sangat pandai menutup celah.
Klausul pertama: durasi kontrak dua belas bulan terhitung dari tanggal penandatanganan akta nikah resmi.
Klausul kedua: Raka menanggung semua hutang keluarga Alya dalam tujuh hari kerja setelah kontrak ditandatangani.
Klausul ketiga: biaya perawatan dan rehabilitasi ayah Alya ditanggung penuh selama masa kontrak plus enam bulan setelah kontrak berakhir.
Klausul keempat: Alya mendapat tunjangan bulanan selama masa kontrak untuk kebutuhan pribadi.
Klausul kelima — yang satu ini ditulis dalam bahasa yang sangat hati-hati tapi tidak bisa disalahartikan: kedua pihak menjalankan peran sebagai pasangan suami istri secara penuh, termasuk dalam lingkungan privat, dengan prinsip saling menghormati dan tanpa paksaan.
Tanpa paksaan. Alya berhenti di kalimat itu.
Dibaca lagi.
Ada sesuatu yang aneh dari dua kata itu berada di dalam dokumen kontrak pernikahan bisnis. Seperti seseorang yang cukup sadar untuk tahu bahwa apa yang dia minta bisa menjadi paksaan — dan cukup memilih untuk memasukkan klausul itu sebagai batas.
Dia mendongak. "Klausul lima ini Anda tulis sendiri?"
"Pengacara saya."
"Atas instruksi Anda?"
Raka bertemu tatapannya. "Ya."
Alya meletakkan map itu. Menyilangkan tangannya di dada — bukan defensif, tapi butuh sesuatu untuk dipegang sementara pikirannya bekerja keras.
"Satu tahun," katanya perlahan. "Dua ratus tujuh puluh juta hutang lunas. Biaya perawatan Bapak. Tunjangan bulanan." Dia menyebut setiap poin seperti sedang mengaudit sesuatu. "Dan saya harus jadi istri Anda sepenuhnya."
"Itu ringkasannya, ya."
"Setelah dua belas bulan?"
"Kamu bebas. Kompensasi akhir kontrak sudah tertera di halaman terakhir."
Alya membalik ke halaman terakhir. Angkanya membuat matanya berhenti selama dua detik.
Lima ratus juta.
Dia menutup map itu.
"Saya perlu waktu."
"Berapa lama?"
"Dua hari."
Raka menggeleng. Gerakan kecil tapi tegas. "Dua puluh empat jam. Tagihan ayahmu tidak menunggu."
Alya ingin membantah. Tapi dia tahu dia tidak punya posisi untuk menawar jadwal dari seseorang yang baru saja menawarkan hampir satu miliar rupiah sebagai solusi dari mimpi buruk keluarganya.
Dia berdiri, mengambil tasnya.
"Saya akan hubungi Anda besok."
Raka mengangguk satu kali. Sudah kembali membuka laptop sebelum Alya sampai ke pintu — seolah percakapan ini hanyalah satu dari dua belas item dalam agenda harinya dan dia sudah siap beralih ke nomor berikutnya.
Alya membuka pintu.
"Alya."
Dia berhenti. Berbalik.
Raka tidak menatapnya. Matanya di layar laptop. Tapi bibirnya bergerak.
"Baca klausul delapan sebelum kamu memutuskan."
Pintu sudah terbuka di tangannya. Alya berdiri di ambang itu sebentar, lalu berbalik masuk, mengambil map dari meja, membuka halaman yang belum sempat dia baca dengan teliti tadi.
Klausul delapan.
Pihak kedua berhak mengakhiri kontrak lebih awal dengan kompensasi penuh apabila pihak pertama melanggar klausul lima — termasuk segala bentuk tekanan fisik maupun psikologis yang tidak dikehendaki pihak kedua.
Alya membaca itu dua kali.
Dia meletakkan map kembali. Menatap Raka yang masih tidak menoleh dari layarnya.
Ada sesuatu yang dia tidak mengerti dari pria ini. Sesuatu yang tidak cocok dengan reputasi dingin dan kalkulatif yang tertulis di setiap artikel tentangnya. Seseorang yang benar-benar tidak peduli tidak akan menulis klausul delapan. Seseorang yang benar-benar hanya butuh alat tidak akan repot-repot membangun jalan keluar untuk alat itu.
Tapi dia tidak punya cukup data untuk menyimpulkan apapun hari ini.
"Terima kasih," katanya akhirnya.
Raka tetap tidak menatapnya. "Besok, Alya."
Dia keluar. Pintu menutup di belakangnya dengan bunyi klik yang terasa terlalu final untuk sekadar pamitan.
Di dalam lift yang membawanya turun empat puluh dua lantai, Alya berdiri menghadap pintu yang tertutup dan menyadari satu hal dengan sangat jelas:
Dia sudah tahu jawabannya.
Dia tahu dari menit pertama membaca angka di tagihan itu pagi tadi. Dari detik pertama mendengar nama Raka Aldira dari mulut Om Hendra. Dari langkah pertama yang dia ambil masuk ke gedung ini meski kakinya ingin berbalik.
Yang dia butuhkan bukan dua puluh empat jam untuk memutuskan.
Yang dia butuhkan adalah dua puluh empat jam untuk berdamai dengan kenyataan bahwa pilihan itu sudah tidak pernah benar-benar ada.
