Bab 1 Ketika Pilihan Bukan Milikmu
Amplop itu sudah tergeletak di meja makan sejak pagi.
Alya tahu isinya. Dia tidak perlu membukanya untuk tahu bahwa hidup keluarganya sedang digantung di ujung angka yang terlalu besar untuk diucapkan dengan suara normal. Tapi dia tetap membukanya — karena itulah yang dilakukan orang dewasa. Menghadapi sesuatu meskipun seluruh tubuh berteriak untuk lari.
Tagihan ketiga. Tenggat: 14 hari.
Jarinya menelusuri angka yang tercetak tebal di kertas itu. Dua ratus tujuh puluh juta. Bukan jumlah yang bisa diselesaikan dengan kerja lembur atau jual perhiasan. Ini jumlah yang bisa menenggelamkan seseorang.
Dan ayahnya sudah tenggelam lebih dulu sebelum Alya sempat melempar pelampung.
Stroke yang menyerang Bapak tiga bulan lalu tidak hanya melumpuhkan separuh tubuhnya — tapi juga melumpuhkan semua yang selama ini mereka sembunyikan rapi di balik fasad keluarga baik-baik. Hutang bisnis yang sudah menumpuk bertahun-tahun. Pinjaman sana-sini yang Bapak selesaikan dengan pinjaman baru. Sebuah lingkaran setan yang Alya baru tahu setelah tanda tangan Bapak tidak lagi bisa difungsikan.
Alya melipat surat itu, meletakkannya kembali dengan hati-hati seperti benda rapuh.
Padahal yang rapuh adalah dirinya.
Kantor PT Aldira Grup terletak di lantai empat puluh dua gedung pencakar langit di jantung Jakarta. Alya sudah berdiri di depan pintu lift selama dua menit penuh, menekan tombol naik tapi tidak masuk ketika pintunya terbuka.
Dua kali.
Pada kali ketiga, seorang satpam muda menegurnya dengan sopan. "Ibu, ada yang bisa dibantu?"
"Tidak. Terima kasih." Alya masuk sebelum pintunya menutup kembali.
Pertemuan ini bukan idenya. Ini ide Om Hendra — rekan bisnis lama ayahnya yang dua hari lalu menelepon dengan nada antara kasihan dan menghitung untung. "Al, ada yang mau bertemu kamu. Orang penting. Mungkin bisa bantu situasi keluargamu." Alya tahu kalimat seperti itu tidak pernah datang gratis. Tapi dua ratus tujuh puluh juta bukan jumlah yang bisa membuat dia pilih-pilih.
Resepsionis di lantai empat puluh dua menyambutnya dengan senyum profesional yang terlatih.
"Alya Sari?"
"Ya."
"Silakan ikut saya."
Lorong yang dia lewati terasa terlalu panjang dan terlalu sunyi untuk sebuah perusahaan sebesar ini. Dindingnya berwarna abu-abu gelap dengan aksen emas tipis di sisi bawah. Lantainya marmer hitam yang memantulkan lampu langit-langit. Semua terasa mahal dengan cara yang tidak perlu berteriak.
Resepsionis berhenti di depan sebuah pintu kayu besar, mengetuk dua kali, lalu membukanya dari luar.
"Tamu Bapak sudah tiba."
Alya melangkah masuk.
Dia tidak langsung melihat wajahnya.
Yang pertama dia lihat adalah punggungnya — lebar, tegap, tertutup jas hitam yang jatuhnya sempurna seperti dijahit langsung di tubuhnya. Pria itu berdiri menghadap jendela, memandang kota Jakarta yang menghampar di bawah seperti peta mainan. Tangannya satu terselip di saku celana, satu lagi memegang gelas kaca berisi cairan bening.
Ruangannya besar. Terlalu besar untuk satu orang. Meja kerjanya luas dengan sedikit sekali benda di atasnya — laptop, satu map berkas, satu pulpen. Tidak ada foto keluarga. Tidak ada tanaman. Tidak ada hal-hal kecil yang menunjukkan pemiliknya punya kehidupan di luar kerja.
"Duduk."
Satu kata. Tidak menoleh. Tidak ada basa-basi.
Alya mengepalkan jari di samping tubuhnya, lalu duduk di kursi yang sudah tersedia di depan meja.
Pria itu berbalik.
Dan Alya butuh setengah detik untuk mengumpulkan ekspresinya kembali.
Raka Aldira. Tiga puluh dua tahun. CEO termuda yang pernah masuk sampul majalah bisnis tiga tahun berturut-turut. Alya sudah mencarinya di internet semalam — tapi foto di layar tidak menyiapkannya untuk versi aslinya. Rahang tegas, mata gelap yang menatap dengan intensitas yang terasa seperti dia sedang membaca isi kepalamu, dan garis wajah yang terlalu sempurna untuk seseorang yang kabarnya setengah iblis dalam urusan bisnis.
Dia duduk di kursi di balik meja. Membuka map berkas. Tidak menatap Alya.
"Ayahmu punya hutang dua ratus tujuh puluh juta ke tiga kreditor berbeda," katanya datar, seperti membaca laporan cuaca. "Jatuh tempo dalam dua minggu. Aset keluarga tidak cukup untuk menutup semuanya bahkan kalau dijual hari ini."
Alya menarik napas pelan. "Saya tahu."
"Bagus." Raka menutup map itu, lalu akhirnya menatapnya langsung. "Karena saya tidak suka membuang waktu mengulang informasi yang sudah diketahui."
Matanya dingin. Bukan jenis dingin yang muncul dari ketidakpedulian — tapi jenis dingin yang terasa disengaja. Dipilih. Seperti perisai yang sudah terpasang sangat lama sampai pemiliknya lupa bagaimana rasanya tanpa itu.
"Om Hendra bilang Anda bisa membantu," kata Alya, memilih setiap kata dengan hati-hati.
"Saya bisa melunasi semua hutang ayahmu hari ini juga." Raka bersandar sedikit, jari-jarinya menyatu di atas meja. "Dan menanggung biaya perawatan ayahmu selama dua tahun ke depan. Termasuk rehabilitasi, obat-obatan, dan tenaga medis di rumah."
Dada Alya terasa sesak dengan cara yang aneh — antara lega dan curiga dalam satu tarikan napas.
"Dengan syarat apa?"
Sudut bibir Raka bergerak. Bukan senyum. Lebih ke pengakuan bahwa perempuan di depannya tidak bodoh.
"Nikahi saya." Dia mengucapkannya seperti menawarkan opsi menu makan siang. "Satu tahun. Kontrak penuh dengan klausul yang sudah saya siapkan. Setelah dua belas bulan, kita berpisah secara hukum dan kamu pergi dengan kompensasi tambahan yang jumlahnya tidak akan mengecewakan."
Keheningan di ruangan itu tiba-tiba terasa berat.
Alya menatapnya. Mencari sesuatu di wajah itu — kelakar, isyarat bahwa ini lelucon, apapun. Tapi Raka Aldira menatap balik dengan ekspresi yang sama rata dan seriusnya seperti tadi.
"Kenapa saya?" suaranya keluar lebih tenang dari yang dia rasakan.
"Itu bukan bagian dari diskusi hari ini."
"Bagi saya iya."
Raka diam sebentar. Seperti menimbang apakah pertanyaan itu layak dijawab.
"Kamu tidak punya kepentingan lain di Jakarta. Tidak ada karir yang terlalu besar untuk dikorbankan, tidak ada hubungan yang akan rumit kalau terungkap, dan kamu punya alasan yang cukup kuat untuk tidak keluar dari kontrak di tengah jalan." Dia berkata itu bukan dengan kejam — tapi dengan presisi yang justru lebih menyakitkan. "Kamu adalah pilihan yang efisien."
Pilihan yang efisien.
Alya menelan kata-kata itu bulat-bulat.
"Dan soal kewajiban sebagai istri," lanjut Raka, membuka map lagi dan mendorongnya ke sisi Alya. "Semuanya tertulis di sini. Termasuk klausul yang mungkin perlu kamu baca dengan teliti sebelum tanda tangan."
Alya meraih map itu. Matanya menelusuri baris demi baris kalimat legal yang rapi dan formal — sampai dia sampai di satu paragraf yang membuat jarinya berhenti.
Pihak kedua wajib memenuhi kebutuhan pihak pertama sebagai istri secara menyeluruh, termasuk namun tidak terbatas pada kehadiran publik, kebutuhan sosial, dan kebutuhan privat di dalam hunian bersama.
Kebutuhan privat.
Alya mendongak. Menatap Raka yang sudah menatapnya kembali — menunggu, sabar, dengan mata yang tidak bisa dibaca sama sekali.
Dan untuk pertama kalinya sejak masuk ruangan ini, Alya merasa tanah di bawah kakinya tidak lagi terasa solid.
