BAB 3
Mobil melaju tenang, nyaris tanpa suara selain deru mesin yang halus. Nayara duduk di kursi belakang, pandangannya tertuju ke luar jendela. Lampu-lampu kota berkelebat, memantul di kaca yang sedikit berembun. Sopir di depan fokus mengemudi, tidak ikut campur, seperti sudah terbiasa dengan keheningan di dalam mobil ini.
Percakapan di restoran tadi masih berputar di kepala Nayara.
Kita tidak harus selalu terlihat baik-baik saja.
Kalimat itu terus terulang, seolah Sagara sengaja meninggalkannya di benaknya. Nayara menyandarkan kepala, menutup mata sebentar. Ia tidak terbiasa dengan perhatian yang setengah-setengah. Dingin lebih mudah dihadapi daripada sikap yang mulai berubah arah.
Ia mengingat dirinya sebelum menikah—perempuan yang hidupnya sederhana, dengan kekhawatiran nyata dan batas yang jelas. Ia tahu apa yang harus diperjuangkan, apa yang harus dilepaskan. Tidak ada ruang untuk tafsir. Tidak ada kata “mungkin”.
Namun sejak beberapa waktu terakhir, Sagara mulai memberi hal-hal kecil yang tak pernah ia minta. Pertanyaan singkat, tatapan yang lebih lama, jeda sebelum berpaling. Semua itu terlalu samar untuk disebut peduli, tapi cukup nyata untuk mengganggu ketenangannya.
Nayara membuka mata, menatap bayangannya sendiri di kaca jendela. Wajahnya tampak lebih tenang daripada perasaannya. Ia bertanya pada dirinya sendiri sejak kapan ia mulai menghitung gerak-gerik Sagara, sejak kapan kehadiran pria itu menjadi sesuatu yang ia tunggu—atau ia takuti.
Ia tahu satu hal dengan pasti: ia tidak ingin menjadi perempuan yang menuntut. Ia juga tidak ingin menjadi perempuan yang berharap diam-diam. Keduanya sama-sama melelahkan.
Mobil berhenti sejenak di lampu merah. Nayara memperhatikan pantulan lampu di aspal basah. Kota ini selalu bergerak cepat, tidak peduli siapa yang tertinggal. Ia menghela napas pelan, mencoba menata perasaan yang mulai tidak rapi.
Mungkin aku hanya salah paham, pikirnya. Mungkin ini hanya rasa bersalahnya.
Pemikiran itu seharusnya menenangkan. Namun justru membuat dadanya terasa lebih sesak. Karena jika benar demikian, maka semua perhatian kecil itu akan berhenti suatu hari nanti—dan Nayara tidak yakin apakah ia siap kembali pada jarak yang dulu terasa aman.
Lampu hijau menyala. Mobil kembali melaju.
Nayara merapikan tas di pangkuannya, seolah gerakan kecil itu bisa menguatkannya. Ia mengambil keputusan diam-diam, keputusan yang terdengar sederhana tapi berat: ia tidak akan mendahului perasaan Sagara. Tidak akan menanyakan apa pun. Tidak akan menaruh harapan di tempat yang belum tentu tersedia.
Jika memang ada perubahan, biarlah datang dari Sagara sendiri.
Dan jika tidak ada, Nayara berjanji pada dirinya—ia akan tetap berdiri utuh, tidak runtuh hanya karena perasaan yang seharusnya tidak ia miliki sejak awal.
Mobil akhirnya memasuki halaman rumah. Lampu taman menyala redup, menyambut dengan keheningan yang sudah terlalu akrab bagi Nayara. Ia turun setelah sopir membukakan pintu, mengucapkan terima kasih singkat, lalu melangkah masuk.
Rumah itu terasa lebih besar saat hanya diisi satu orang.
Nayara melepas sepatu, menggantung tas, lalu berdiri sejenak di ruang tengah. Ia tidak langsung naik ke kamar. Ada sisa gelisah yang belum menemukan tempatnya. Ia berjalan ke dapur, menuang segelas air, meminumnya perlahan, seolah memberi waktu pada dirinya sendiri untuk benar-benar kembali.
Di meja dapur, ponselnya tergeletak. Layar menyala menampilkan pesan baru.
Sagara: Aku pulang agak malam.
Nayara menatap pesan itu tanpa segera membalas. Biasanya ia hanya akan menjawab baik. Kali ini, jarinya tertahan. Ia tidak tahu kenapa kalimat sederhana itu terasa berbeda malam ini. Seperti penjelasan kecil yang tidak wajib, tapi sengaja diberikan.
Ia akhirnya mengetik, Hati-hati di jalan.
Pesan terkirim. Nayara meletakkan ponsel kembali, lalu tersenyum tipis—senyum yang cepat memudar.
Ia naik ke kamar, mengganti pakaian dengan piyama sederhana. Rambutnya dibiarkan terurai, bahunya terasa lebih ringan tanpa beban kain kerja. Nayara duduk di tepi ranjang, menatap cermin di hadapannya. Ada kelelahan di sana, tapi juga sesuatu yang lain—kewaspadaan.
Ia teringat kalimat Sagara di restoran. Tentang tidak selalu harus terlihat baik-baik saja. Tentang mengalah. Tentang jarak.
Mungkin dia juga sedang bingung, pikir Nayara.
Pemikiran itu membuatnya sedikit lunak. Selama ini ia selalu menganggap Sagara sebagai pihak yang memegang kendali, yang tahu apa yang ia lakukan. Tapi sore ini, untuk pertama kalinya, ia melihat celah kecil—keraguan yang tidak disembunyikan.
Jam dinding bergerak pelan. Malam semakin dalam.
Nayara mematikan lampu utama, menyisakan lampu tidur. Ia berbaring menyamping, memeluk bantal, membiarkan pikirannya mengalir tanpa arah. Ia tidak menunggu Sagara, tapi ia juga tidak benar-benar tidur.
Saat suara pintu depan akhirnya terdengar—pelan, hati-hati—Nayara terbangun sepenuhnya. Ia tidak bergerak. Hanya mendengarkan langkah kaki yang mendekat, lalu berhenti di depan kamar.
Pintu terbuka perlahan.
Sagara masuk tanpa menyalakan lampu. Ia berdiri sejenak, seolah memastikan Nayara sudah tidur. Nafasnya terdengar lebih berat dari biasanya. Nayara menutup matanya rapat-rapat, berpura-pura terlelap.
Kasur bergerak sedikit saat Sagara duduk di sisi lain. Ada jarak di antara mereka, masih ada. Namun malam itu, Nayara merasakan sesuatu yang berbeda—kehadiran yang lebih sadar, lebih hati-hati.
Tanpa menyentuh, tanpa kata.
Dan justru karena itu, jantung Nayara berdetak lebih cepat.
Karena ia tahu, keheningan seperti ini bukan lagi sekadar kebiasaan. Ini adalah jeda—sebelum sesuatu berubah, atau sebelum semuanya kembali seperti semula.
Nayara membuka mata perlahan. Ia tidak lagi berpura-pura tidur. Terlalu sunyi untuk terus berbohong.
“Kamu belum mandi,” ucapnya pelan, tanpa menoleh. Suaranya datar, seperti basa-basi yang sudah terlatih.
Sagara terdiam sejenak. Ia jelas tidak menyangka Nayara masih terjaga.
“Iya,” jawabnya singkat. “Aku pikir kamu sudah tidur.”
“Belum terlalu mengantuk,” Nayara menarik selimut sedikit lebih tinggi, masih membelakangi Sagara. “Kalau capek, sebaiknya langsung mandi. Biar nggak tambah pegal.”
Kalimat itu sederhana. Istri yang mengingatkan suaminya mandi. Tidak lebih. Tidak kurang. Tapi Sagara merasakannya seperti sesuatu yang lain—perhatian yang tidak diminta, tapi juga tidak dibuat-buat.
“Iya,” ulangnya. Kali ini lebih pelan.
Ia berdiri, mengambil pakaian ganti, lalu berjalan ke kamar mandi. Pintu tertutup, suara air menyusul tak lama kemudian.
Nayara menghela napas yang baru ia sadari ia tahan sejak tadi. Ia menatap langit-langit, mendengarkan suara air mengalir, membiarkan pikirannya kembali melayang. Basa-basi barusan seharusnya tidak berarti apa-apa. Ia mengatakannya hampir setiap malam. Namun entah kenapa, kali ini terasa berbeda—seperti ia baru saja mengakui sesuatu yang tidak pernah ia ucapkan dengan jelas.
Bahwa ia peduli.
Air di kamar mandi berhenti. Beberapa menit kemudian, Sagara keluar dengan rambut masih sedikit basah. Ia bergerak lebih pelan dari biasanya, lalu duduk di sisi ranjang, membelakangi Nayara.
“Kamu nggak perlu nungguin,” katanya tiba-tiba.
Nayara menoleh, menatap punggung Sagara. “Aku nggak nungguin.”
Sagara tersenyum tipis, hampir tak terlihat. “Iya.”
Lampu tidur memantulkan bayangan mereka di dinding—dua orang yang berada dalam ruang yang sama, tapi masih berhati-hati dengan jarak masing-masing. Nayara kembali memejamkan mata, kali ini tanpa pura-pura.
Ia tidak tahu apa yang akan terjadi setelah ini. Tidak tahu apakah percakapan kecil seperti tadi akan berlanjut atau menguap begitu saja esok pagi. Tapi untuk malam ini, ia membiarkan dirinya merasa cukup.
Cukup untuk tidak menjauh.
Cukup untuk tidak berharap terlalu jauh.
