BAB 2
flashback
Pertemuan pertama mereka tidak romantis, bahkan cenderung canggung.
Nayara masih mengenakan kemeja putih dan celana kain hitam saat itu, rambutnya diikat rendah, wajahnya lelah setelah wawancara kerja yang berjalan terlalu singkat. Ia duduk di ruang tunggu sebuah rumah sakit swasta, menunggu hasil pemeriksaan ibunya. Tangannya menggenggam map tipis berisi dokumen lamaran kerja yang belum sempat ia rapikan.
Sagara datang tanpa suara. Setelan jasnya rapi, langkahnya tenang, ekspresinya dingin seperti orang yang tidak terbiasa menunggu. Ia berdiri tak jauh dari Nayara, berbicara singkat dengan seorang dokter. Nayara tidak tertarik memperhatikan, sampai suara pria itu terdengar jelas di telinganya.
“Kondisinya stabil. Tapi kami sarankan keluarga bersiap.”
Kalimat itu membuat Nayara menoleh refleks. Tatapan mereka bertemu, hanya sepersekian detik. Sagara mengangguk singkat, lalu kembali menunduk, seolah tidak ada apa-apa. Nayara kembali menatap lantai, tapi dadanya tiba-tiba terasa berat.
Tak lama kemudian, namanya dipanggil. Ia berdiri terlalu cepat, map di tangannya terjatuh. Kertas-kertas berserakan di lantai. Nayara berjongkok panik, mengumpulkannya dengan tangan gemetar.
Seseorang ikut berjongkok di depannya.
“Ini milikmu,” kata suara datar itu.
Sagara menyerahkan satu lembar kertas yang terlipat. Jari mereka sempat bersentuhan. Nayara refleks menarik tangannya, lalu tersenyum canggung.
“Terima kasih.”
Sagara mengangguk. Ia tidak bertanya, tidak berkomentar. Hanya berdiri dan kembali ke tempat semula. Pertemuan itu seharusnya berakhir di sana—singkat, tidak berarti.
Namun hidup sering kali tidak memberi pilihan sederhana.
Beberapa hari setelahnya, Nayara dipanggil ke sebuah rumah besar yang terlalu sunyi. Ia datang dengan perasaan tidak tenang, membawa dokumen-dokumen yang bahkan belum ia pahami sepenuhnya. Di ruang tamu itu, ia kembali melihat Sagara.
Kali ini sebagai pria yang akan menjadi suaminya.
“Aku tidak akan berjanji apa pun,” kata Sagara saat itu, suaranya tenang tapi tegas. “Pernikahan ini solusi. Bukan cerita cinta.”
Nayara duduk dengan punggung tegak, tangan saling menggenggam di pangkuannya. Ia sudah menangis sebelumnya. Sudah berdebat dengan dirinya sendiri sepanjang malam. Jadi saat ia menatap Sagara, air matanya sudah habis.
“Aku tidak meminta cinta,” jawab Nayara pelan. “Aku hanya ingin ibuku dirawat dengan baik.”
Sagara terdiam sejenak. Tatapannya tajam, seperti sedang menilai apakah perempuan di depannya akan menyulitkan hidupnya atau tidak.
“Kamu bebas selama tidak melanggar kesepakatan,” katanya akhirnya.
Nayara mengangguk. “Aku mengerti.”
Ia mengerti bahwa pernikahan itu akan sepi. Ia mengerti bahwa dirinya tidak dipilih, hanya dibutuhkan. Dan anehnya, kesadaran itu justru membuatnya tenang.
Hari pernikahan mereka berlangsung sederhana. Tidak ada ciuman mesra, tidak ada janji yang bergetar karena emosi. Saat Sagara menyematkan cincin di jarinya, Nayara hanya berpikir satu hal: aku akan menjalani ini dengan baik, tanpa berharap lebih.
Ia tidak tahu bahwa pria yang berdiri di hadapannya—yang bahkan tidak menatapnya saat mengucap ijab—suatu hari akan menjadi alasan ia lupa pada keputusan itu.
flashback berakhir
Di restoran itu, Nayara kembali ke masa kini. Tangannya masih terasa hangat, bekas sentuhan singkat Sagara tadi. Ia menurunkan pandangan, mencoba mengatur napas.
Ia menikah tanpa cinta.
Namun entah sejak kapan, ia mulai takut pada satu kemungkinan paling berbahaya—bahwa perasaan itu tumbuh sendirian, tepat pada pria yang sejak awal mengatakan tak akan pernah memberinya.
Nayara menarik tangannya perlahan, bukan karena ingin menjauh, melainkan karena ia perlu kembali mengingat posisinya. Ia berdiri lebih dulu, merapikan tas di bahunya, lalu menunggu Sagara yang masih terlihat berpikir tentang sesuatu yang tidak ia ucapkan.
“Aku kembali ke rumah,” kata Nayara.
“Aku ke kantor,” jawab Sagara singkat. “Sopir menunggumu di luar.”
Nayara mengangguk. Ia sudah melangkah dua langkah ketika suara Sagara kembali terdengar.
“Nayara.”
Ia menoleh.
“Kita makan malam di rumah ibu malam ini.”
Bukan pertanyaan. Pernyataan yang dibungkus kewajiban. Nayara menghela napas kecil, lalu mengangguk. “Baik.”
Mobil melaju meninggalkan restoran. Di balik kaca jendela, kota bergerak cepat, sementara Nayara tenggelam dalam pikirannya sendiri. Flashback tadi terlalu jelas, terlalu dekat. Ia kembali mengingat betapa sejak awal semuanya dibangun tanpa emosi, tanpa janji. Dan justru karena itu, perasaan yang tumbuh sekarang terasa seperti kesalahan.
Rumah ibu Sagara selalu terasa megah sekaligus menekan. Segala sesuatu tertata rapi, seolah tak memberi ruang bagi kesalahan kecil. Nayara membantu di dapur meski dilarang, kebiasaan yang membuat ibu mertuanya menghela napas tapi tak benar-benar menegur.
“Kamu kurusan,” komentar wanita itu sambil menata piring. “Sagara tidak memperhatikanmu, ya?”
Nayara tersenyum sopan. “Sagara sibuk, Bu.”
“Kalian sudah menikah,” balasnya cepat. “Bukan dua orang asing.”
Nayara tidak menjawab. Ia tahu ibu mertuanya tidak bermaksud jahat. Hanya saja, tidak semua hal bisa diperbaiki dengan nasihat.
Makan malam berlangsung dengan obrolan ringan. Sagara lebih banyak diam, sesekali menjawab seperlunya. Namun Nayara menyadari satu hal kecil—pria itu memperhatikan. Ia mengambilkan air saat gelas Nayara kosong, menyingkirkan piring sebelum Nayara sempat berdiri. Gerakan kecil yang tidak diumumkan, tapi cukup terasa.
Dalam perjalanan pulang, hujan turun tanpa aba-aba. Jalanan basah memantulkan lampu kota, membuat suasana di dalam mobil terasa lebih sunyi dari biasanya.
“Kamu capek?” tanya Sagara tiba-tiba.
Sedikit terlambat. Sedikit canggung. Tapi itu pertanyaan yang nyata.
“Sedikit,” jawab Nayara jujur.
“Kita tidak perlu sering ke rumah ibu kalau kamu tidak nyaman.”
Nayara menoleh. “Aku tidak keberatan.”
Sagara menghela napas. “Kamu selalu bilang begitu.”
Mobil berhenti di lampu merah. Sagara menatap lurus ke depan, lalu berkata pelan, hampir seperti berbicara pada dirinya sendiri, “Kamu boleh keberatan.”
Kalimat itu membuat Nayara tercekat. Ia ingin menoleh, ingin bertanya maksudnya. Tapi lampu berubah hijau, mobil kembali melaju, dan momen itu berlalu begitu saja.
Malam semakin larut saat mereka tiba di rumah. Nayara naik lebih dulu, menyiapkan diri untuk tidur seperti biasa. Namun saat ia hendak menutup pintu kamar, Sagara berdiri di ambang pintu.
“Nayara,” panggilnya lagi.
“Iya?”
“Kita… tidak harus selalu seperti ini.”
Ia tidak menjelaskan maksudnya. Tidak memberi solusi. Hanya kalimat menggantung yang membuat Nayara berdiri terpaku.
“Seperti apa?” tanya Nayara pelan.
Sagara terdiam lama. Matanya menatap wajah Nayara seolah baru benar-benar melihatnya. “Berjarak.”
Sunyi jatuh di antara mereka.
Nayara menelan ludah. “Lalu bagaimana seharusnya?”
Sagara menggeleng perlahan. “Aku belum tahu.”
Jawaban itu jujur. Dan justru karena itu, Nayara merasa takut.
Karena untuk pertama kalinya sejak menikah, Sagara tidak lagi bicara tentang kesepakatan, kewajiban, atau batasan. Ia bicara tentang kemungkinan. Dan Nayara tahu, kemungkinan adalah hal paling berbahaya dalam pernikahan yang sejak awal dibangun tanpa cinta.
