BAB 3 - DAY 2 (HIDUP SEBAGAI NPC)
Setelah melakukan survei rumah, akhirnya pilihan Naoki jatuh pada rumah ke tiga. Rumah tersebut tidaklah terlalu besar. Rumah itu memiliki 5 kamar, 3 kamar mandi, 1 permandian umum seperti kolam air panas, memiliki halaman yang cukup luas, 1 ruang makan, 1 dapur, 1 ruang tamu, serta memiliki ruang bersantai dan lantai bawah tanah.
Dibandingkan kedua rumah lainnya, rumah ketiga dengan bangunan dua lantai ini lebih mendekati kriteria rumah yang Nao inginkan. Lingkungan yang asri, akses jalan yang bagus. Letaknya tidak terlalu jauh dari kota Lune, tidak terlalu jauh dari hutan maupun laut. Di sekitar rumah tidak terlalu ramai, bisa dikatakan ada jarak sepetak atau dua petak tanah sebelum rumah warga. Bisa dikatakan ada jarak dengan tetangga tapi itu yang Nao inginkan.
Setelah merasa cocok dan langsung membeli rumah tersebut, Nao langsung mengisi rumah yang baru ia beli dengan berbagai prabotan. Menurut tuan Fredin, rumah itu sebelumnya milik seorang petani kaya yang saat ini telah pindah di kota Wune sekitar 3 bulan yang lalu. Rumah itu masih tampak bersih dan terawat sebab pihak serikat perdagangan selalu datang 1 kali dalam seminggu untuk membersihkannya.
Seperti yang telah Nao rencanakan. Lantai 2 akan menjadi tempat pribadinya. Di lantai 2 terdapat 3 kamar. 1 kamar utama dan 2 kamar anak. Saat ini kamar utama telah Nao tempati sebagai kamar utamanya, sedangakan 2 kamar lainnya ia jadikan sebagai ruang baca dan ruang alkemis-nya. Pada lantai 1 terdapat 2 kamar di mana kamar itu menjadi kamar tamu. Nao tetap mengisinya dengan tempat tidur, lemari dan meja kecil pada 2 kamar tersebut meski Nao tidak yakin akan ada yang menginap di rumahnya.
Pagi ini Nao memutuskan ke distik dagang kota Lune. Ia ingin membeli stok bahan makanan juga beberapa barang yang belum di belinya. Berbeda dengan serikat dagang, distik dagang merupakan wilayah atau lokasi yang di khususkan berjualan untuk para pedagang. Di kota Lune tersendiri terbagi menjadi empat wilayah. Pertama distik bangsawan, distik bangsawan ini merupakan wilayah tempat tinggal para bangsawan yang ada di kota Lune. Kedua distik dagang, distik ini dikhususkan untuk para pedagang berjualan, distik ini seperti pasar besar. Ketiga distik hiburan, distik ini merupakan daerah tempat minum-minuman keras, judi bahkan pelacuran. Lalu terakhir distik terbengkalai atau daerah kumuh tempat para penduduk kalangan rakyat jelata.
"Kurasa aku tidak perlu menaikkan skill berlari ku. Aku ingin menikmati perjalanan pagi ini" Putus Nao berjalan meninggalkan rumahnya setelah mengunci rumahnya.
"Ahh.. Kapan terakhir kali aku menikmati suasana setenang dan sesejuk seperti ini?" Gumam Nao
"Aku terlalu sibuk bekerja hingga lupa bahwa tubuhku juga butuh banyak waktu istirahat, butuh banyak waktu untuk menikmati suasana sejuk seperti ini".
" Jika aku kembali ke dunia nyata, tampaknya aku harus banyak memanfaatkan waktu libur ku untuk liburan kebanyak tempat"
Naoki banyak berbicara melalui karakternya Nao. Hari kedua terjebak dalam game 'World of Netherland' membuatnya sadar akan banyak hal-hal yang telah ia lewati karena terlalu banyak bekerja. Tanpa sadar Nao telah sampai di distik dagang. Suara keramaian mulai menyapa pendengarannya.
Para pedagang terus menawarkan barang dagangannya. Beberapa kali Nao berhenti untuk membeli makanan siap makan, serta bahan makanan seperti sayur, daging, telur dan buah. Sebelum pulang Nao memutuskan untuk membeli beberapa prabotan dapur, seperti piring, gelas, panci dan barang lainnya di toko besar milik seorang pedagang yang tampaknya cukup kaya di kota Lune mengingat bangunan tokonya cukup besar.
Nao cukup terkejut saat memasuki toko tersebut, ternyata toko tersebut cukup lengkap. Mereka bahkan menjual rempah dan alat sihir serba guna. Semenjak terjebak di dalam game VRMMORPG 'World of Netherland', Nao seringnya makan di restoran-rostoran kecil yang ada di distik dagang. Naoki merasa ia harus menghemat pengeluaran karakter gamenya, meski sebenarnya uang yang karakternya miliki banyak, bahkan drop item dari menyelesaikan dungeon elemen tanah pun belum ia jual, tetap saja ia harus berhemat. Tidak ada yang tahu seberapa lama bug ini akan berlangsung, terlebih lagi saat ini Naoki ragu mengambil misi di guild serikat petualangan mengingat kegaduhan forum chat global kemarin.
Untuk sekarang Naoki berpikir jika sementara ini karakternya Nao akan ia istirahatkan. Naoki ingin karakternya hidup santai sebagai NCP untuk saat ini sebelum situasi dalam game sedikit membaik. Naoki tidak ingin terburu-buru, terjebak dalam dunia game yang ia mainkan saat libur hari pertama cuti tahunannya saja adalah lelucon terlucu dalam hidupnya.
Mengali informasi, mengamati dan memahami situasi saat ini adalah tiga hal yang Naoki lakukan. Naoki bahkan belum tahu, apakah kesadarannya saat ini di tarik masuk ke dalam game dan ia saat ini memerankan karakternya sendiri atau bagaimana. Anehnya Naoki tidak merasakan tubuhnya yang berada di dunia nyata merasakan lelah bahkan lapar. Harusnya bug dalam game 'World of Netherland' tidak mempengaruhi tubuhnya, kecuali saat ini kesadarannya di hisap masuk ke dalam game bersama player-player lain yang juga terjebak dalam masalah bug pada sistem game.
"Nao"
Naoki tersadar saat seseorang saat ini tengah memanggil karakternya. Seorang pemuda dengan zirah besi dan pedang besar yang mencolok terlebih baik zirah maupun pedangnya didominasi warna merah yang begitu mencolok.
"Kau pasti lupa padaku. Ini aku Leon" Katanya memperkenalkan dirinya.
"Kita pernah separty saat guest melawan naga merah" Tambahnya yang tentu saja akhirnya membuat Naoki ingat bahwa dulu ia pernah membentuk party sementara untuk guest naga merah. Syarat mengikuti event tersebut kalah memiliki party minimal beranggotakan 5 orang. Saat itu Naoki asal mengajak player level tinggi yang ia temui di guild serikat petualang.
"Apa yang kau lakukan di sini?" Tanya Leon.
"Kau tidak lihat? Tentu saja membeli persediaan bumbu dapur" Jawab Nao.
"Ah.. Berarti kau sama dengan ku" Kata Leon tanpa di tanya.
"Kau tahu aku sudah terjebak dalam game ini 2 minggu" Tambahnya mulai mencari rempah yang Leon butuhkan.
"Sungguh?" Tanya Nao.
"Sungguh" Balas Leon serius.
"Bug dalam game ini sudah berlangsung sebulan. Belum ada player yang berhasil logout. Dikabarkan pihak perusahaan game tengah mati-matian memperbaiki bug yang sedang terjadi pada sistem. Namun sayangnya belum ada perubahan hingga saat ini" Tambahnya memberi informasi.
"Selama dua minggu aku di sini, aku sudah pasrah Nao. Mungkin kita tidak dapat kembali ke dunia kita lagi. Tapi itu tidak masalah. Bagiku dunia dalam game ini lebih baik dibandingkan kehidupan ku di dunia nyata" Kata Leon berusaha tegar menerima takdir.
"Informasi yang kau berikan sangat membantu Leon. Kau tahu aku baru dua hari di sini. Setelah memutuskan mengambil cuti tahunan dan sempat tidak bermain selama tiga bulan, aku pun login. Saat ingin keluar tenyata tidak bisa" Balas Nao tentu saja bersyukur dan berterimakasih atas informasinya yang Leon berikan.
"Jika kau ingin kembali, kurasa kau harus mencari cara untuk kembali. Meski pun ada caranya, mungkin aku lebih memilih tetap tinggal di sini" Putus Leon sudah bulat.
"Tidak ada yang tahu berapa lama bug akan berlangsung. Mungkin saja bug ini merupakan sebuah misi yang harus dituntaskan para player seperti kita ini" Kata Leon menepuk pundak Nao.
Perkataan Leon berhasil membuat Naoki berpikir bahwa apa yang ia katakan mungkin ada benarnya. Bisa saja bug ini adalah sebuah misi rahasia yang harus mereka tuntaskan. Mungkin seperti event melawan bos terakhir. Namun untuk saat ini Naoki belum ada niat untuk kembali, entah karena saat ini ia mulai mendalami perannya menjalani kehidupan layaknya seorang NPC.
