Pustaka
Bahasa Indonesia
Bab
Pengaturan

antara takut dan ingin tahu - 2

Alya tercekat. “Maksudnya?”

Mira tersenyum miring. “Raka.”

Jantung Alya berdegup keras.

“Aku nggak—”

“Semua orang yang baru kenal dia selalu ngerasa bisa bikin dia berubah,” potong Mira dingin. “Padahal ujung-ujungnya sama.”

Alya menahan napas. Ia tak mengerti situasi ini, tapi instingnya berkata—perempuan di depannya membawa luka.

“Aku nggak punya niat apa-apa,” ucap Alya tenang. “Aku cuma tetangga.”

Mira tertawa pendek. “Tetangga yang dipinjami jaket?”

Darah Alya terasa mengalir cepat ke wajahnya.

“Dengerin aku,” kata Mira, suaranya menurun, lebih tajam. “Kalau kamu orang baik, jaga jarak. Dunia Raka bukan tempat kamu.”

Alya menatap Mira lama, mencoba memahami.

“Apa yang terjadi sama kamu?” tanyanya pelan.

Mira terdiam.

Untuk sepersekian detik, pertahanannya runtuh. Matanya berkabut, tapi cepat ia alihkan pandangan.

“Dia nggak seburuk yang kamu lihat,” ucap Mira lirih.

“Tapi juga nggak sebaik yang kamu harapkan.”

Setelah itu, Mira berbalik pergi, meninggalkan Alya dengan dada berdebar dan kepala penuh tanda tanya.

Sore itu, Alya duduk di kamarnya dengan perasaan kacau.

Ia memutar ulang setiap kata Mira. Ada amarah. Ada peringatan. Tapi juga… kepedihan.

Alya sadar, ia sudah melangkah terlalu jauh secara emosional.

Ia belum mengenal Raka.

Belum tahu ceritanya.

Belum tahu luka-lukanya.

Namun hatinya sudah ingin memahami.

Alya memejamkan mata, lalu mengambil wudhu. Ia ingin menenangkan diri, ingin mengembalikan semua pada Allah.

Dalam sujud panjangnya, Alya menangis pelan.

“Kalau ini bukan jalanku,” bisiknya. “Tolong hentikan.”

Malam tiba.

Alya akhirnya memutuskan ke masjid untuk shalat isya. Ia butuh ketenangan yang tak ia temukan di rumah.

Masjid lebih sepi dari biasanya.

Alya duduk di saf perempuan. Hatinya lebih tenang setelah menangis, meski masih tersisa perih yang samar.

Selesai shalat, Alya duduk berdzikir sebentar.

Lalu suara langkah pelan mendekat.

“Maaf.”

Alya menoleh.

Raka berdiri di samping tiang, menjaga jarak. Wajahnya tampak lebih muram dari biasanya.

“Ada apa?” tanya Alya.

“Ada orang datang ke rumah kamu?” tanya Raka langsung.

Alya terdiam. “Iya.”

Raka menghela napas berat, menunduk. “Gue minta maaf.”

“Kenapa kamu minta maaf?” Alya bertanya jujur.

“Karena hidup gue selalu nyeret orang lain ke masalah,” jawabnya lirih. “Termasuk kamu.”

Alya merasakan dadanya menghangat dan sakit bersamaan.

“Aku nggak nyalahin kamu,” ucapnya lembut. “Aku cuma… lagi belajar jaga hati.”

Raka tersenyum tipis—senyum yang tidak benar-benar sampai ke matanya.

“Itu bagus,” katanya. “Kamu harus.”

Ia terdiam sejenak, lalu menambahkan, “Jaketnya… besok gue ambil.”

Alya mengangguk. “Iya."

Raka berbalik pergi, tapi berhenti di langkah ketiga.

“Alya,” katanya pelan. “Kalau nanti kamu berubah pikiran… buat menjauh—aku ngerti.”

Kalimat itu menusuk.

Alya menatap punggung Raka yang menjauh, dan untuk pertama kalinya ia merasa yakin akan satu hal yang membuatnya takut:

Raka sedang belajar melepaskan.

Dan ia melakukannya… demi kebaikan Alya.

Malam itu, Alya pulang dengan langkah gontai.

Ia sadar, antara takut dan ingin tahu—

hatinya sedang berdiri di persimpangan.

Dan apa pun pilihannya nanti,

tidak akan ada yang benar-benar mudah.

Jaket hitam itu tak lagi tergantung di balik pintu keesokan paginya.

Alya melipatnya rapi, meletakkannya di atas kursi dekat jendela. Cahaya matahari pagi jatuh tepat di atas kain gelap itu, seolah menyoroti sesuatu yang tak seharusnya terlalu lama ia genggam.

Hari ini, Raka akan mengambilnya.

Entah kenapa, pikiran itu membuat dada Alya terasa lebih berat daripada yang ia kira.

Ia menghela napas panjang, lalu mengambil wudhu. Air dingin menyentuh kulitnya, menenangkan sedikit kegelisahan yang sejak malam tak kunjung pergi. Selesai shalat dhuha, Alya duduk bersila, memejamkan mata.

“Aku harus tahu batas,” bisiknya pada diri sendiri.

“Bukan perasaan yang memimpin, tapi iman.”

Ia mengulang kalimat itu seperti janji.

Menjelang dzuhur, ketukan di pintu terdengar.

Alya berdiri, menarik napas dalam-dalam, lalu membuka pintu.

Raka berdiri di sana.

Tanpa jaket. Tanpa ekspresi keras. Wajahnya terlihat lebih lelah dari biasanya, tapi matanya jernih. Seolah ia sudah mempersiapkan diri untuk pertemuan singkat ini.

“Maaf ganggu,” katanya.

“Tidak,” Alya menggeleng. “Masuk saja… kalau mau.”

Raka ragu sepersekian detik, lalu menggeleng pelan. “Di sini aja.”

Alya mengangguk, mengambil jaket hitam itu dan menyodorkannya dengan kedua tangan.

“Terima kasih,” ucap Raka. Nada suaranya rendah.

“Sama-sama.”

Hening.

Tidak canggung, tapi penuh hal-hal yang tak terucap.

Raka menatap jaket itu sebentar, lalu berkata pelan, “Gue sebenernya nggak mau kamu kepikiran macem-macem.”

Alya menatapnya. “Tentang apa?”

“Tentang gue,” jawab Raka jujur. “Hidup gue ribet. Dan nggak bersih.”

Alya menelan ludah. Ia sudah menduganya, tapi mendengar langsung tetap saja terasa berat.

“Aku nggak minta kamu cerita,” kata Alya lembut.

“Aku juga nggak minta kamu berubah buat aku.”

Raka terdiam, menatap Alya lama.

“Kenapa?” tanyanya lirih.

“Karena berubah itu urusan kamu sama Allah,” jawab Alya. “Bukan sama aku.”

Kalimat itu membuat Raka menghembuskan napas panjang. Seperti seseorang yang baru saja meletakkan beban berat.

“Jarang ada yang ngomong gitu ke gue,” katanya pelan.

Alya tersenyum tipis. “Mungkin karena kebanyakan orang ingin jadi alasan perubahan. Padahal seharusnya bukan.”

Raka mengangguk pelan.

Ia melangkah mundur setengah langkah, menjaga jarak.

“Aku bakal jaga jarak,” katanya tiba-tiba. “Bukan karena nggak peduli. Tapi karena kamu nggak seharusnya kena imbas hidup gue.”

Alya merasakan dadanya menghangat, tapi juga perih.

“Aku ngerti,” jawabnya jujur.

Dan untuk pertama kalinya sejak mereka bertemu, Alya benar-benar mengerti:

ini bukan tentang cinta.

Ini tentang pilihan.

Siang itu, Alya melihat Raka dari kejauhan.

Ia duduk di teras masjid, sendirian. Tangannya memegang ponsel, wajahnya tegang. Alya tak tahu apa yang dibacanya, tapi sorot matanya berubah—keras, penuh amarah yang ditahan.

Beberapa menit kemudian, Raka berdiri dan pergi.

Alya memejamkan mata.

Ia tahu, dunia Raka sedang memanggilnya kembali.

Malam hari, Alya kembali ke masjid. Kali ini ia datang dengan niat yang lebih lurus—beribadah, bukan mencari siapa pun.

Namun Allah seolah menguji niatnya.

Raka datang terlambat. Ia masuk tepat saat iqamah dikumandangkan. Nafasnya sedikit terengah, langkahnya tergesa. Ia langsung berdiri di saf paling belakang.

Alya melihatnya.

Dan ia tahu—Raka sedang kalah hari ini.

Shalat berlangsung khusyuk, tapi Alya bisa merasakan kegelisahan di udara. Setelah salam, Raka tak duduk. Ia langsung pergi keluar.

Tanpa sadar, Alya berdiri.

Langkahnya terhenti di ambang pintu masjid.

Ia menutup mata, mengingat janjinya sendiri: jaga jarak.

Namun di saat yang sama, hatinya berbisik pelan—

Menjaga jarak bukan berarti menutup doa.

Alya mengangkat tangannya, berdoa dalam diam.

“Ya Allah,” bisiknya lirih. “Kalau dia sedang ditarik kembali ke masa lalunya… kuatkan dia.”

Doa itu sederhana. Tapi tulus.

Dan Alya tahu, malam itu ia membuat satu keputusan yang akan mengubah banyak hal ke depan:

Ia akan menjaga jarak secara nyata.

Namun ia tidak akan berhenti mendoakan.

Karena mencintai dalam diam,

kadang adalah bentuk iman paling sunyi.

Unduh sekarang dan klaim hadiahnya
Scan kode QR dan unduh aplikasi Hinovel