Jejak yang tak pernah hilang - 1
Tidak semua orang diberi masa lalu yang bisa ditinggalkan dengan mudah.
Beberapa justru harus berjuang setiap hari agar tidak ditarik kembali ke sana.
Raka termasuk yang kedua.
Ponsel itu kembali bergetar di genggaman Raka untuk ketiga kalinya pagi itu.
Nama yang sama. Nomor yang sama.
Ia menatap layar beberapa detik sebelum akhirnya mematikan ponselnya kasar.
Bangunan tua di depannya terlihat kusam. Catnya mengelupas, pintunya setengah terbuka. Tempat itu seharusnya sudah lama ia tinggalkan—bersama kebiasaan buruk, keputusan bodoh, dan darah yang pernah mengering di lantai dinginnya.
Namun masa lalu tidak pernah benar-benar pergi.
Ia menunggu.
“Rak.”
Suara itu datang dari dalam. Berat. Familiar.
Raka menutup mata sesaat sebelum melangkah masuk.
Di dalam, tiga pria duduk mengelilingi meja kayu. Asap rokok memenuhi ruangan. Wajah-wajah lama. Tatapan yang tidak pernah benar-benar ramah.
“Kita kira lu udah tobat beneran,” kata salah satu dari mereka sambil tersenyum miring. “Ternyata masih bisa ditemuin.”
Raka berdiri tegak. “Gue udah bilang. Gue keluar.”
“Keluar?” Pria lain tertawa pendek. “Lu pikir hidup bisa bersih cuma gara-gara sering ke masjid?”
Kalimat itu menghantam keras.
Raka mengepalkan tangan, tapi menahannya.
“Gue nggak mau ribut,” katanya dingin. “Gue juga nggak mau balik.”
Keheningan jatuh. Berat.
“Lu ninggalin utang,” ucap pria di ujung meja.
Suaranya rendah. “Dan aturan kita jelas. Yang keluar, harus lunasin.”
Raka mengangkat dagu. “Gue lunasin. Tapi abis itu, gue selesai.”
Tatapan-tatapan saling bertukar. Lalu senyum yang tidak membawa kebaikan muncul.
“Kita lihat aja,” kata mereka.
Saat Raka keluar dari bangunan itu, dadanya terasa sesak.
Ia tahu—ini belum selesai.
Di sisi lain kota, Alya sedang duduk di ruang tamu rumah kontrakannya, memandangi sajadah yang masih terbentang.
Sejak memutuskan untuk menjaga jarak, Alya berusaha disiplin pada dirinya sendiri. Ia tidak lagi mencari-cari sosok itu di masjid. Tidak lagi memperhatikan langkah kaki berat yang datang terlambat. Ia datang untuk shalat, lalu pulang.
Selesai.
Namun ketenangan yang ia harapkan tidak datang begitu saja.
Ada perasaan aneh yang mengganggu—bukan rindu, bukan takut, tapi firasat.
Alya menutup mushafnya perlahan.
“Ya Allah,” ucapnya lirih. “Aku titipkan dia pada-Mu.”
Ia tidak menyebut nama.
Namun hatinya tahu siapa yang ia maksud.
Magrib itu, masjid lebih sepi.
Raka tidak datang.
Isya pun begitu.
Beberapa jamaah mulai berbisik. Ada yang bertanya.
Ada yang berspekulasi. Alya mendengar, tapi memilih diam.
Hingga malam ketiga.
Suara motor berhenti mendadak di depan masjid. Terlalu keras. Terlalu tergesa.
Alya yang baru selesai mengambil wudhu menoleh refleks.
Raka masuk dengan langkah berat. Wajahnya lebam tipis di pelipis. Bibirnya pecah sedikit. Tangannya dibalut kain hitam.
Jantung Alya berhenti berdetak sesaat.
Raka berdiri di saf paling belakang. Kepalanya tertunduk. Bahunya kaku. Ia terlambat, tapi tetap datang.
Itu saja sudah cukup untuk membuat dada Alya terasa sesak.
Shalat berlangsung cepat. Selesai salam, Raka tidak duduk. Ia langsung berbalik.
Kali ini, Alya tidak menahannya.
Ia berdiri beberapa detik di tempatnya, berperang dengan diri sendiri—antara janji menjaga jarak dan nurani yang berteriak.
Akhirnya, Alya melangkah keluar.
Raka berdiri di halaman masjid, menyandarkan tubuh ke tembok. Nafasnya berat. Tangannya gemetar.
“Raka.”
Ia menoleh.
Tatapan mereka bertemu dalam jarak dekat untuk pertama kalinya setelah keputusan menjaga jarak itu dibuat.
“Kamu kenapa?” tanya Alya. Nada suaranya tenang, tapi matanya tidak bisa berbohong.
“Jangan ikut campur,” jawab Raka cepat. Terlalu cepat.
Alya menatap lebam di wajahnya. “Kamu habis berantem.”
Raka mengalihkan pandangan. “Ini bukan urusan kamu."
Alya mengangguk pelan. “Aku tahu.”
Ia terdiam sebentar, lalu melanjutkan dengan suara lebih pelan, “Tapi masjid ini bukan tempat orang menyembunyikan luka.”
Raka tertawa pendek. Pahit. “Kalau gue nggak ke sini, gue bisa lebih rusak.”
Kalimat itu keluar begitu saja.
Alya terdiam.
Untuk pertama kalinya, Raka mengaku kalah.
“Aku nggak bisa nolong kamu,” kata Alya jujur. “Dan aku nggak mau sok jadi apa-apa.”
Raka menatapnya, mata gelapnya bergetar.
“Tapi?” tanyanya pelan.
“Tapi aku bisa doain,” jawab Alya. “Dan aku harap… kamu bertahan.”
Hening panjang menyelimuti mereka.
Raka mengangguk sekali. “Itu aja udah lebih dari cukup.”
Ia berbalik pergi.
Raka tidak pulang ke rumah malam itu.
Ia berhenti di bawah jembatan layang, duduk di atas motor yang mesinnya sudah lama mati. Lampu jalan berkedip, memantulkan bayangan tubuhnya yang tampak lebih lelah dari usia sebenarnya.
Tangannya masih gemetar.
Bukan karena sakit di buku jarinya.
Tapi karena ia hampir kembali.
Hampir memukul.
Hampir melupakan semua niat yang ia bangun dengan susah payah.
Raka menunduk, menarik napas panjang. Bau aspal basah bercampur darah kering yang masih menempel di sudut bibirnya membuat perutnya mual.
Ia teringat kalimat Alya.
Masjid ini bukan tempat orang menyembunyikan luka.
Kalimat itu bukan nasihat.
Itu cermin.
Raka tertawa pelan, pahit. “Kalau lo tahu seberapa kotor gue…”
Ia mengusap wajahnya kasar.
Di rumah kontrakannya, Alya duduk dengan lampu mati.
Ia tidak tahu kenapa dadanya terasa sesak sejak pulang dari masjid. Ia sudah berusaha menenangkan diri, membaca Al-Qur’an, berdzikir lebih lama dari biasanya.
Namun firasat itu semakin kuat.
Ada sesuatu yang sedang terjadi.
Dan Raka berada di tengahnya.
Alya berdiri, meraih ponsel, lalu berhenti. Ia menatap layar kosong cukup lama sebelum akhirnya meletakkannya kembali.
Ia tidak punya hak untuk menghubungi.
Yang ia punya hanya doa.
“Ya Allah,” bisiknya. “Kalau malam ini dia lemah, kuatkan. Kalau dia marah, redakan. Jangan biarkan dia kembali ke tempat yang salah.”
Air mata jatuh tanpa suara.
Pagi datang dengan berita.
Alya mendengarnya dari percakapan dua ibu-ibu di depan rumah.
“Katanya ada ribut semalam di daerah gudang lama.”
“Iya, ada yang luka-luka.”
“Dengar-dengar… Raka juga ada di sana.”
Langkah Alya terhenti.
Dunia terasa menyempit.
Ia tidak ikut campur, tidak bertanya, hanya berdiri di balik pintu, berusaha menelan ketakutan yang naik ke tenggorokan.
Raka belum terlihat sejak subuh.
Masjid kosong dari sosok yang biasanya datang meski dengan langkah berat.
Alya memejamkan mata.
Ya Allah…
Siang itu, Raka akhirnya pulang.
Langkahnya pincang ringan. Jaketnya robek di bagian lengan. Wajahnya pucat, lebih pucat dari malam sebelumnya.
Ia membuka pintu rumah kontrakan kecilnya, lalu berhenti saat melihat seseorang duduk di teras.
Mira.
“Kamu keterlaluan,” kata perempuan itu tanpa berdiri. “Aku udah bilang ke kamu.”
Raka menghela napas berat. “Gue nggak minta kamu datang.”
Mira berdiri, matanya merah. “Kamu pikir gue ke sini buat nyeret kamu balik?”.
Raka terdiam.
“Gue ke sini karena gue tahu mereka nggak bakal ngelepas kamu gitu aja,” lanjut Mira, suaranya bergetar. “Dan sekarang lihat kamu.”
Raka menyandarkan tubuh ke tembok. “Gue masih hidup.”
“Itu bukan jaminan!” bentak Mira. “Mereka nggak main-main, Rak. Utang lo bukan cuma uang.”
Keheningan jatuh.
Raka menutup mata. “Gue tahu.”
“Dan sekarang ada cewek itu,” lanjut Mira lebih pelan. “Kamu mau nyeret dia juga?”
Raka membuka mata cepat. “Jangan libatin Alya.”
“Makanya selesaiin!” Mira hampir menangis.
“Sebelum semuanya makin hancur.”
Raka mengangguk pelan. “Gue akan berusaha.”
Sore itu, Raka kembali ke tempat yang paling ia hindari.
Gudang lama.
Tempat pertama ia belajar memukul sebelum berpikir.
Tempat ia belajar bahwa rasa takut bisa dikalahkan dengan kekerasan.
