Pustaka
Bahasa Indonesia
Bab
Pengaturan

antara takut dan ingin tahu - 1

Sejak pagi itu, Alya belajar satu hal baru tentang dirinya sendiri:

ternyata menenangkan hati bukan perkara mudah ketika pikiran sudah terlanjur terpaut pada seseorang.

Ia berusaha kembali pada rutinitas. Menyapu halaman kecil di depan rumah kontrakan, menyeduh teh hangat, lalu membuka laptop untuk menyelesaikan pekerjaan lepas yang menjadi sumber penghasilannya. Semua dilakukan seperti biasa. Terlihat normal.

Namun pikirannya tidak.

Bayangan Raka berdiri di depan masjid, dengan rahang mengeras dan tangan mengepal, terus muncul tanpa diundang. Cara pria itu menahan diri—bukan dengan pergi dari masjid, tapi dengan memilih diam—meninggalkan kesan yang dalam.

Alya menghela napas, menutup laptopnya sebentar.

“Kenapa harus dia?” gumamnya pelan, entah bertanya pada siapa.

Ia tahu betul batasan. Ia perempuan. Ia datang ke lingkungan itu bukan untuk mencari cerita rumit. Ia hanya ingin hidup tenang, beribadah tanpa gangguan, dan menjaga hatinya tetap bersih.

Namun hidup sering kali tidak meminta izin sebelum menguji.

Siang itu, Alya keluar rumah untuk membeli kebutuhan dapur. Langkahnya pelan menyusuri gang. Beberapa tetangga menyapanya dengan ramah, beberapa hanya melirik sekilas—dan sebagian lagi, berbisik.

Alya sudah terbiasa dengan itu.

Namun bisik-bisik siang itu berbeda.

“Katanya ribut lagi depan masjid subuh tadi.”

“Iya, si Raka itu lagi.”

“Kasihan masjidnya, tapi ya mau gimana…”

Langkah Alya melambat tanpa sadar.

Nama itu lagi.

Ia menunduk, berpura-pura sibuk dengan ponselnya, tapi telinganya menangkap setiap kata.

“Padahal udah sering kelihatan shalat,” lanjut seseorang. “Tapi ya masa lalu tetap masa lalu.”

Alya merasakan sesuatu mengganjal di dadanya.

Ia ingin membela. Ingin mengatakan bahwa ia melihat sendiri bagaimana Raka menahan emosi, bagaimana ia memilih pergi daripada membuat keributan lebih besar.

Namun Alya diam.

Ia tahu, ini bukan tempatnya.

Belum.

Warung Bu Ratna kembali menjadi tempat persinggahan Alya. Perempuan setengah baya itu tersenyum saat melihat Alya masuk.

“Belanja apa hari ini, Mbak Alya?”

“Biasa, Bu,” jawab Alya lembut.

Saat Bu Ratna mengambilkan barang, ia melirik Alya sejenak. Tatapannya menyelidik.

“Mbak Alya… jangan tersinggung ya,” katanya pelan, seolah tak ingin didengar orang lain. “Kalau boleh saran, jangan terlalu dekat sama Raka.”

Tangan Alya berhenti meraih dompet.

“Saya nggak dekat, Bu,” jawabnya jujur.

Bu Ratna menghela napas. “Anak itu… hidupnya keras. Lingkarannya juga. Orang baik bisa ikut kebawa kalau terlalu dekat.”

Alya mengangguk pelan. “Terima kasih sarannya.”

Ia membayar belanjaannya, lalu pergi. Namun langkahnya terasa lebih berat dari saat datang.

Orang baik bisa ikut kebawa.

Kalimat itu terus terngiang.

Sore menjelang magrib, langit berubah jingga. Alya duduk di teras rumah, memegang tasbih kecil. Ia melafalkan dzikir perlahan, mencoba menenangkan pikirannya.

Ia tahu apa yang seharusnya ia lakukan.

Menjaga jarak.

Namun hatinya terasa memberontak.

Bukan karena cinta—setidaknya belum. Tapi karena rasa ingin tahu yang tak bisa ia jelaskan. Tentang luka di lengan Raka. Tentang sorot matanya yang kosong saat duduk di pojok masjid. Tentang caranya meminta maaf pagi tadi, dengan suara pelan dan tatapan menunduk.

Alya menutup mata.

“Ya Allah,” bisiknya. “Kalau rasa ini bukan kebaikan, jauhkan. Tapi kalau ini ujian… tuntun aku.”

Azan magrib berkumandang.

Alya bangkit, bersiap ke masjid.

Masjid lebih ramai dari biasanya. Anak-anak berlarian, suara sandal beradu, dan obrolan kecil memenuhi udara. Alya masuk, mengambil wudhu, lalu duduk di saf perempuan.

Matanya refleks mencari satu sosok.

Raka ada.

Ia duduk di barisan belakang, bersandar ke dinding. Wajahnya terlihat lebih lelah dari kemarin. Ada bayangan gelap di bawah matanya.

Alya menunduk cepat. Ia tak ingin ketahuan memperhatikan.

Namun entah bagaimana, Alya bisa merasakan—Raka juga menyadari keberadaannya.

Shalat magrib berlangsung singkat. Selesai salam, Raka tak langsung pergi. Ia tetap duduk, menunduk lama.

Alya ragu. Ia ingin segera pulang. Menjaga jarak. Tapi langkahnya tertahan ketika ia melihat seorang anak kecil berlari dan hampir tersandung tepat di depan Raka.

Refleks, Raka meraih anak itu.

“Pelan,” katanya, suaranya jauh lebih lembut dari yang Alya bayangkan.

Anak itu tersenyum polos, lalu berlari pergi lagi.

Alya tercekat.

Sesuatu di dadanya menghangat—dan sekaligus membuatnya takut.

Karena semakin ia melihat, semakin runtuh tembok yang ia bangun sendiri.

Dan Alya tahu, ini berbahaya.

Selesai shalat, Alya berdiri dan berjalan cepat ke arah keluar. Ia tidak ingin terlalu lama di sana. Tidak ingin memberi ruang pada perasaan yang belum jelas arahnya.

Namun baru beberapa langkah, suara itu memanggilnya.

“Alya.”

Satu kata.

Satu nama.

Alya berhenti.

Ia menoleh perlahan.

Raka berdiri beberapa langkah di belakangnya. Jarak mereka cukup aman—tidak terlalu dekat, tidak pula terlalu jauh.

“Ada apa?” tanya Alya pelan.

Raka terlihat ragu. Seolah kata-kata di kepalanya tak mau keluar dengan mudah.

“Jaketnya…” katanya akhirnya. “Masih kamu pakai?”

“Iya,” Alya mengangguk. “Kalau kamu mau, aku bisa balikin sekarang.”

Raka menggeleng. “Nggak. Bukan itu.”

Ia terdiam sejenak, lalu menambahkan, “Makasih pagi tadi.”

Alya mengernyit. “Untuk apa?”

“Udah… bikin gue inget tempat gue,” jawab Raka lirih.

Alya menelan ludah. Dadanya bergetar halus.

“Sama-sama,” katanya akhirnya.

Hening kembali menyelimuti mereka.

Raka melangkah mundur setengah langkah.

“Hati-hati pulang.”

Itu saja.

Raka berbalik dan pergi, meninggalkan Alya berdiri dengan perasaan yang semakin sulit ia pahami.

Malam itu, Alya pulang dengan satu kesadaran yang membuatnya gelisah:

Ia mungkin bisa menjaga jarak secara fisik.

Namun hatinya—

sudah mulai melangkah lebih dekat dari yang ia sadari.

Malam semakin larut, tapi Alya belum juga terlelap.

Ia berbaring menghadap langit-langit kamar, mendengarkan suara kipas angin yang berputar pelan. Jaket hitam itu tergantung di balik pintu, diam namun terasa hadir. Alya memejamkan mata, berusaha memaksa pikirannya berhenti.

Namun satu kalimat Raka terus terulang di kepalanya.

“Udah bikin gue inget tempat gue.”

Alya menelan ludah.

Ia tak bertanya apa maksud Raka. Tapi kalimat itu terdengar seperti pengakuan—bahwa pria itu sedang berjuang keras agar tak kembali ke jalan yang salah.

Dan entah mengapa, Alya merasa takut… sekaligus tersentuh.

“Ya Allah,” bisiknya lirih. “Jangan biarkan aku salah langkah.”

Ia menarik selimut, mencoba tidur.

Pagi datang tanpa memberi ruang bagi kegelisahan untuk reda.

Alya bangun dengan kepala sedikit berat. Setelah shalat subuh di rumah—ia sengaja tidak ke masjid pagi itu—Alya menyibukkan diri dengan pekerjaan. Ia menulis, mengedit, menenggelamkan diri dalam layar laptop agar tak punya waktu memikirkan hal lain.

Namun menjelang siang, ketukan di pintu membuatnya terkejut.

Alya menoleh. Siapa yang datang?

Ia bangkit, membuka pintu perlahan.

Seorang perempuan muda berdiri di depannya. Wajahnya tegas, matanya tajam. Rambutnya diikat rapi, pakaiannya sederhana tapi rautnya keras.

“Kamu Alya?” tanyanya tanpa senyum.

“Iya,” jawab Alya ragu. “Ada apa?”

Perempuan itu menatap Alya dari ujung kepala sampai kaki, lalu mendengus pelan.

“Aku Mira.”

Nama itu tak berarti apa-apa bagi Alya, tapi nada suaranya membuat Alya waspada.

“Aku cuma mau bilang satu hal,” lanjut Mira, mendekat setengah langkah. “Jangan sok jadi penyelamat.”

Unduh sekarang dan klaim hadiahnya
Scan kode QR dan unduh aplikasi Hinovel