Pustaka
Bahasa Indonesia
Bab
Pengaturan

Bad boy di saf pertama

Tak ada yang lebih menenangkan bagi Alya selain suara azan subuh yang memecah sunyi.

Di waktu ketika dunia masih tertidur dan sebagian manusia bahkan lupa cara bersyukur, Alya selalu merasa paling dekat dengan Tuhannya.

Pagi itu udara terasa lebih dingin dari biasanya. Alya melangkah pelan menyusuri gang kecil menuju masjid tua di ujung jalan. Kerudungnya dirapatkan, jemarinya menggenggam tas kecil berisi Al-Qur’an saku. Ini sudah menjadi rutinitasnya sejak pindah ke lingkungan itu tiga minggu lalu—shalat subuh berjamaah, lalu duduk sebentar membaca ayat-ayat yang menenangkan hati.

Namun pagi ini, langkah Alya terhenti.

Di depan masjid, tepat di bawah lampu yang temaram, berdiri seorang pria dengan postur tinggi dan bahu lebar. Jaket hitam melekat di tubuhnya, rambutnya sedikit panjang, wajahnya dingin dan keras. Tatapan matanya tajam, seolah dunia berutang sesuatu padanya.

Alya reflek menunduk.

Entah kenapa, dadanya terasa sesak.

Pria itu… ia mengenalnya.

Bukan secara pribadi, tapi dari bisik-bisik tetangga. Dari obrolan ibu-ibu sore yang tak pernah kehabisan bahan gosip.

Raka.

Nama itu selalu disebut dengan nada setengah takut, setengah mencibir.

“Preman.”

“Anak rusak.”

“Jangan dekat-dekat sama dia."

Begitu kata mereka.

Alya menelan ludah.

Langkahnya ragu. Ia hampir saja memutar arah, tapi suara pintu masjid yang dibuka membuatnya tersadar.

Subuh hampir dimulai.

Dengan hati-hati, Alya melangkah masuk. Ia duduk di saf perempuan, mencoba menenangkan napas. Namun entah mengapa, pikirannya masih tertinggal di luar—pada sosok pria berjaket hitam itu.

Iqamah dikumandangkan.

Dan di saat itulah Alya melihat sesuatu yang membuatnya terdiam.

Raka masuk ke masjid.

Bukan ke bagian belakang.

Bukan pula duduk santai di pojok.

Ia melangkah lurus… ke saf pertama.

Alya membeku.

Pria yang disebut berandal itu berdiri paling depan. Tubuhnya tegap, wajahnya tertunduk khusyuk. Tangannya terlipat rapi, bibirnya bergerak pelan melafalkan niat.

Tak ada kesan sombong.

Tak ada aura liar.

Yang ada hanya… tenang.

Untuk pertama kalinya sejak pindah ke lingkungan itu, Alya merasa bingung.

Shalat berlangsung khidmat. Suara imam menggema lembut, dan di sela bacaan ayat, Alya sempat melirik ke arah saf depan. Raka tak bergerak sedikit pun selain yang diwajibkan. Ia seperti seseorang yang sangat memahami apa yang sedang ia hadapi—bukan manusia, melainkan Tuhan.

Selesai salam, Raka tetap duduk.

Dzikirnya panjang.

Alya menunduk, hatinya bergetar. Ia merasa bersalah telah ikut menilai seseorang dari cerita orang lain.

Selesai membaca Al-Qur’an, Alya berdiri dan hendak pulang. Namun saat melangkah keluar, hujan turun tiba-tiba. Deras. Tanpa aba-aba.

Alya terhenti di teras masjid. Ia tak membawa payung.

“Hujannya deras.”

Suara itu datang dari samping.

Alya refleks menoleh—dan jantungnya berdegup kencang.

Raka.

Jarak mereka hanya satu lengan

.

“E-eh… iya,” jawab Alya pelan.

Raka mengangguk singkat. Ia melepas jaket hitamnya, lalu—tanpa banyak bicara—menyodorkannya pada Alya.

“Pakai.”

Alya tersentak.

“Enggak, enggak usah—”

“Pakai,” ulang Raka. Nadanya datar, bukan memaksa, tapi tak memberi ruang untuk dibantah. “Kamu bisa sakit.”

Alya ragu. Jaket itu pasti milik satu-satunya yang ia punya.

“Terus kamu…?”

Raka melirik hujan. “Aku biasa.”

Alya akhirnya menerima jaket itu dengan tangan gemetar. Hangat. Bukan hanya karena kainnya, tapi karena perasaan aneh yang menyelinap ke dadanya.

“Terima kasih,” ucap Alya tulus.

Raka mengangguk lagi. “Balikin kapan-kapan.”

Tanpa menunggu jawaban, ia melangkah menembus hujan. Tubuhnya basah dalam hitungan detik, tapi langkahnya tetap tenang, seolah hujan tak berarti apa-apa.

Alya berdiri terpaku.

Di tangannya, jaket hitam itu terasa berat.

Hari itu, Alya pulang dengan hati yang tak sama.

Ia sadar, mungkin…

tak semua badboy seburuk cerita orang.

Dan mungkin,

tak semua lelaki yang kasar di luar, rusak di dalam.

Di sudut langit yang masih kelabu, Alya tak tahu—

pertemuannya dengan Raka pagi itu bukan kebetulan.

Itu adalah awal dari sebuah perjalanan.

Tentang iman.

Tentang luka.

Dan tentang seorang badboy… yang kelak akan menjadi imamnya.

Hujan masih turun ketika Alya tiba di rumah kontrakan kecilnya. Jaket hitam itu masih melekat di tubuhnya, basah di bagian lengan, tapi hangat di dada. Alya berdiri beberapa detik di depan pintu, menatap kain gelap itu seolah sedang memegang sesuatu yang bukan miliknya.

Perasaan asing.

Ia baru mengenal Raka pagi ini. Bahkan belum bisa dibilang kenal. Tapi jaket itu… terlalu personal untuk diberikan pada orang asing.

Alya melepasnya perlahan, menggantungnya di kursi. Tangannya sempat berhenti, jemarinya meremas ujung lengan jaket itu tanpa sadar.

“Kenapa dia baik?” gumam Alya lirih.

Pertanyaan itu berputar-putar di kepalanya sepanjang pagi.

Lingkungan tempat Alya tinggal memang tenang, tapi tidak ramah gosip. Sejak hari pertama ia pindah, nama Raka sudah menjadi peringatan yang diulang-ulang oleh hampir semua orang.

Terutama oleh Bu Ratna, pemilik warung di ujung gang.

“Kalau ketemu anak itu, mending menjauh aja, Mbak Alya,” katanya waktu itu sambil menimbang gula.

“Mukanya aja serem. Masa lalunya juga… ah, pokoknya nggak baik.”

Alya hanya tersenyum sopan saat itu. Ia bukan tipe orang yang mudah percaya pada cerita orang lain. Tapi pagi ini—setelah melihat Raka di saf pertama, setelah menerima jaketnya—cerita-cerita itu terasa tidak utuh.

Ada potongan yang hilang.

Dan Alya penasaran.

Siang itu, Alya kembali ke masjid. Bukan untuk shalat—waktu dzuhur masih lama—melainkan untuk mengembalikan jaket.

Ia membawa jaket itu di dalam tas kain, dilipat rapi. Setiap langkahnya terasa ragu, tapi ia meyakinkan diri bahwa ini hal yang benar. Ia tak ingin berutang kebaikan, apalagi pada seseorang yang bahkan belum ia kenal.

Masjid tampak lengang. Hanya ada beberapa orang tua yang duduk di teras, mengobrol pelan. Alya mengedarkan pandangannya, mencari sosok berjaket hitam yang pagi tadi berdiri tegap di saf pertama.

Tak ada.

Alya menghela napas kecil. Mungkin Raka tak selalu di masjid. Mungkin subuh saja.

Saat ia hendak berbalik, suara berat terdengar dari belakang.

“Kamu nyari siapa?”

Alya terkejut. Ia menoleh cepat.

Raka berdiri dua langkah di belakangnya.

Kali ini tanpa jaket. Kaos gelap membalut tubuhnya, menampakkan bekas luka tipis di lengan. Wajahnya tetap dingin, tapi tidak menakutkan seperti yang sering diceritakan orang-orang.

“Ah… itu,” Alya gugup. “Aku mau balikin jaket.”

Ia mengeluarkan jaket hitam dari tas, menyodorkannya dengan kedua tangan.

Raka menatap jaket itu beberapa detik, lalu menggeleng pelan.

“Nanti aja.”

Alya mengernyit. “Tapi—”

“Pakai aja kalau masih hujan,” potong Raka singkat. “Atau taruh di rumah. Aku ambil sendiri.”

Nada suaranya datar. Tidak kasar, tapi juga tidak hangat.

“Oh… baik,” jawab Alya pelan.

Keheningan jatuh di antara mereka.

Alya bingung harus berkata apa. Raka juga diam. Tatapannya lurus ke depan, seolah Alya hanya bagian kecil dari pemandangan yang lewat.

Namun sebelum Alya bisa berpamitan, Raka kembali bicara.

“Kamu baru pindah.”

Itu bukan pertanyaan.

“Iya,” jawab Alya. “Tiga minggu.”

Raka mengangguk singkat. “Pantes.”

“Pantes?” Alya refleks mengulang.

“Kamu masih berani ke masjid sendirian,” katanya pelan.

Alya terdiam. Ada nada lain di suara Raka kali ini—bukan meremehkan, melainkan… khawatir?

“Aku aman-aman aja,” jawab Alya lembut.

Raka menoleh. Untuk pertama kalinya, ia benar-benar menatap Alya. Bukan tatapan tajam, melainkan dalam. Seolah sedang menimbang sesuatu.

“Lingkungan sini nggak sebersih kelihatannya,” katanya. “Hati-hati pulang malam.”

Itu saja.

Tak ada lanjutan. Tak ada basa-basi.

Raka kemudian melangkah pergi, meninggalkan Alya dengan perasaan yang sulit dijelaskan.

Sore itu, Alya duduk di kamarnya sambil menatap jendela. Hujan sudah reda, menyisakan bau tanah yang lembap. Ia membuka mushaf kecilnya, tapi ayat-ayat di depannya tak benar-benar ia baca.

Pikirannya kembali ke satu hal.

Bekas luka di lengan Raka.

Bukan luka kecil. Itu luka yang pernah dalam.

Entah kenapa, dada Alya terasa sesak membayangkannya.

“Ya Allah,” bisiknya pelan. “Kalau memang dia orang baik… jaga dia.”

Doa itu meluncur begitu saja. Tanpa alasan. Tanpa kepentingan.

Dan Alya sendiri terkejut karena ia mendoakan seseorang yang nyaris tak ia kenal.

Malam tiba dengan cepat.

Alya kembali ke masjid untuk shalat isya. Kali ini, masjid lebih ramai. Suara anak-anak kecil berlarian bercampur dengan obrolan pelan jamaah.

Raka ada.

Ia duduk di pojok, menyandarkan punggung ke tiang masjid. Wajahnya terlihat lelah. Tatapannya kosong, seolah pikirannya jauh dari ruangan itu.

Beberapa orang melirik ke arahnya, lalu berbisik. Alya melihatnya. Dan entah kenapa, hatinya tak nyaman.

Shalat dimulai.

Kali ini Raka tidak di saf pertama. Ia memilih di barisan tengah.

Alya memperhatikannya dari jauh. Gerakannya tetap khusyuk, meski ada beban yang jelas terlihat di bahunya.

Selesai shalat, Alya melihat seorang pria menghampiri Raka. Wajahnya keras, bicaranya cepat. Nada suaranya meninggi.

Alya tak mendengar jelas, tapi melihat Raka mengepalkan tangan.

Situasi terasa tegang.

Beberapa detik kemudian, Raka berdiri dan pergi begitu saja, meninggalkan masjid.

Alya membeku di tempatnya.

Ada sesuatu yang berat di langkah Raka tadi.

Sesuatu yang… gelap.

Malam itu, Alya pulang dengan perasaan tak tenang.

Ia sadar satu hal:

Raka bukan hanya badboy yang salah dinilai.

Ia adalah seseorang yang sedang berperang—

dengan masa lalunya,

dengan lingkungannya,

dan mungkin… dengan dirinya sendiri.

Dan tanpa Alya sadari,

ia sudah melibatkan perasaannya terlalu jauh untuk sebuah pertemuan singkat.

Unduh sekarang dan klaim hadiahnya
Scan kode QR dan unduh aplikasi Hinovel