Jejak yang tak pernah hilang - 2
Kini, ia kembali sebagai orang yang berbeda—atau setidaknya mencoba.
“Lu balik lagi,” kata salah satu pria sambil menyeringai.
Raka berdiri tegak. “Gue mau lunasin.”
“Dengan apa?” tanya yang lain.
Raka mengeluarkan amplop tebal dari jaketnya. “Ini. Dan setelah itu, gue selesai.”
Mereka tertawa.
“Uang cuma satu bagian,” ujar pemimpin mereka. “Lu tahu bagian lainnya.”
Raka menegang.
“Lu bantu satu hal terakhir,” lanjutnya santai. “Setelah itu, kita anggap lunas.”
Raka mengepalkan tangan.
Bayangan Alya muncul di benaknya. Doa-doa pelan yang mungkin sedang dilantunkan perempuan itu tanpa ia tahu.
“Kalau gue nolak?” tanya Raka dingin.
Pemimpin itu mendekat, terlalu dekat. “Maka yang kena bukan lu doang.”
Ancaman itu jelas.
Raka menutup mata sejenak.
Dan saat ia membukanya kembali, ada keputusan berat di sana.
“Gue ambil,” katanya.
Malam itu, Alya shalat isya dengan hati yang gelisah.
Ia tidak tahu di mana Raka berada. Tidak tahu keputusan apa yang sedang diambil pria itu.
Namun saat ia menunduk dalam sujud terakhir, hatinya bergetar hebat.
Jaga dia…
Dan di tempat lain, Raka berdiri di ambang pintu gudang, menyadari satu hal yang membuat dadanya sesak:
Keputusan yang ia ambil malam ini
bisa menyelamatkan Alya…
atau menghancurkan semua yang sedang ia coba bangun.
Gudang itu berbau karat dan kenangan buruk.
Lampu neon menggantung miring, berkedip pelan seperti napas orang sekarat. Raka melangkah masuk dengan rahang mengeras, matanya menyapu ruangan yang sudah terlalu ia kenal—dinding penuh coretan, lantai bernoda oli, dan sudut gelap tempat keputusan-keputusan salah dulu diambil tanpa ragu.
“Tenang aja,” kata pemimpin mereka sambil menepuk pundak Raka. “Cuma ambil barang. Nggak ada darah.”
Raka tidak menjawab.
Kalimat nggak ada darah justru membuat perutnya melilit.
Satu kotak hitam diletakkan di atas meja. Kecil. Ringan. Terlalu ringan untuk sesuatu yang disebut “barang”.
“Lu antar ke alamat ini,” lanjut pria itu, mendorong secarik kertas. “Abis itu, selesai. Nama lu kita hapus.”
Raka menatap alamat itu.
Dekat.
Terlalu dekat dengan kawasan tempat Alya tinggal.
Dadanya berdegup keras.
“Kenapa gue?” tanyanya datar.
“Karena lu orang lama,” jawabnya tanpa ragu. “Dan karena lu pengen keluar.”
Raka tertawa pendek. “Keluar nggak pernah segampang itu.”
Pria itu menyeringai. “Makanya ini kesempatan terakhir.”
Hening menggantung.
Raka meraih kotak itu. Tangannya terasa dingin, seolah benda kecil itu menyerap semua keberaniannya. Saat jari-jarinya menyentuh permukaan hitam yang halus, ada suara lain yang muncul di kepalanya—bukan teriakan, bukan ancaman.
Allah Maha Mengetahui.
Ia menutup mata sekejap.
Lalu membukanya lagi.
“Gue antar,” katanya.
Di jalan, motor Raka melaju pelan.
Lampu kota terasa lebih silau dari biasanya. Setiap klakson terdengar seperti peringatan. Setiap bayangan pejalan kaki membuatnya refleks menegang.
Kotak itu tersimpan di ransel belakang. Tidak bergerak. Tidak bersuara. Tapi keberadaannya terasa menekan tulang punggung.
Raka berhenti di lampu merah.
Di kaca helmnya, pantulan wajahnya tampak asing. Mata itu lelah, penuh garis-garis keputusan yang tak pernah ia banggakan.
Ia teringat Alya—cara perempuan itu menunduk saat berdoa, suara lembutnya yang tidak pernah memaksa, tatapan jujurnya yang seolah berkata aku percaya, meski aku takut.
“Kalau lo tahu,” gumamnya, “lo bakal benci gue.”
Lampu hijau menyala.
Raka melaju.
Alya terbangun dari tidurnya dengan dada berdebar.
Jam menunjukkan hampir tengah malam.
Ia duduk, mengusap wajah, lalu menatap jendela. Angin malam berdesir, membawa dingin yang tidak biasa. Hatinya gelisah tanpa sebab yang jelas—atau mungkin terlalu jelas, tapi ia tak berani mengakuinya.
Ia mengambil wudhu.
Di sajadah, Alya berdiri lebih lama dari biasanya. Ayat-ayat yang ia baca terasa berat, seolah setiap kata menuntut kejujuran yang dalam.
“Ya Allah,” bisiknya setelah salam, “kalau ini ujian, jangan biarkan aku buta. Kalau ini peringatan, jangan biarkan aku lalai.”
Ia terdiam.
Entah kenapa, nama Raka terasa semakin dekat dengan doa-doanya. Bukan sebagai permintaan, tapi sebagai amanah yang tak pernah ia minta, namun kini ia pikul.
Alamat itu berhenti di sebuah rumah tua di ujung gang.
Raka mematikan mesin motor. Keheningan terasa menekan. Tidak ada lampu teras, hanya satu jendela menyala redup di lantai dua.
Ia turun, melangkah pelan.
Setiap langkah terasa salah.
Pintu terbuka sebelum ia mengetuk.
Seorang pria muda menatapnya, ekspresi datar. “Lu Raka?”
Raka mengangguk.
“Masuk.”
Raka melangkah masuk—dan dadanya langsung membeku.
Di ruang tengah, duduk dua orang lain. Salah satunya ia kenal. Terlalu kenal.
“Lama nggak ketemu,” kata pria itu sambil tersenyum tipis. “Lu berubah, Rak.”
Raka menegang. “Ini bukan deal-nya.”
“Deal berubah,” jawabnya santai. “Kayak orang.”
Raka mengeluarkan kotak itu, meletakkannya di meja. “Ambil. Gue pergi.”
Pria itu menatap kotak, lalu menatap Raka lagi. “Tenang. Duduk dulu.”
Raka tidak duduk.
“Gue bilang, ambil.”
Suasana mengeras.
“Lu pikir keluar dari kami segampang shalat lima waktu?” tanya pria itu, suaranya dingin. “Lu bawa dosa banyak, Rak. Dan dosa itu nempel.”
Raka mengepalkan tangan. “Jangan ceramah ke gue.”
Pria itu tertawa pelan. “Justru gue mau ngingetin.”
Ia berdiri, mendekat. “Selama lu masih mau nurut, yang lain aman.”
“Yang lain?” Raka mengangkat wajahnya cepat.
Senyum itu melebar. “Cewek masjid itu. Alya, ya?”
Dunia berhenti.
Raka bergerak cepat—terlalu cepat.
Tangannya mencengkeram kerah pria itu, mendorongnya ke dinding. “Jangan sebut namanya.”
“Lepasin,” kata pria itu tenang. “Atau lu bikin semuanya lebih cepat hancur.”
Raka bernapas berat. Urat di lehernya menegang.
“Gue ambil barang, gue lunasin. Itu aja,” katanya parau.
Pria itu menepuk tangan Raka, perlahan. “Makanya, beresin yang ini. Abis itu, kita nggak kenal
.”
Raka melepas cengkeramannya.
Ia mundur satu langkah.
Lalu dua.
Dan akhirnya, berbalik.
Di luar, udara terasa lebih dingin.
Raka naik motor dengan tangan gemetar. Helm belum terpasang sempurna saat ia melaju meninggalkan gang itu.
Ancaman itu masih menggema.
Alya.
Nama itu berubah dari cahaya menjadi sandera.
Raka berhenti mendadak di pinggir jalan. Ia melepas helm, menunduk, napasnya tersengal.
“Astagfirullah,” bisiknya, suara pecah. “Gue salah.”
Untuk pertama kalinya setelah bertahun-tahun, ia merasa benar-benar takut. Bukan pada mereka.
Bukan pada luka.
Tapi pada kemungkinan bahwa orang yang ingin ia lindungi justru terancam karena dirinya.
Di kamar, Alya terjaga.
Ponselnya bergetar.
Nomor tak dikenal.
Ia ragu sejenak, lalu mengangkatnya.
“Halo?”
Hening.
Lalu napas berat di seberang.
“Alya,” suara itu parau. “Kalau suatu hari gue minta lo menjauh…”
Alya menegang. “Raka?”
“Kalau gue bilang itu demi lo,” lanjutnya cepat, “lo bakal dengerin?”
Jantung Alya berdentum keras. “Kamu di mana?”
“Jawab gue dulu.”
Alya menarik napas, menahan gemetar. “Aku nggak tahu apa yang kamu hadapi. Tapi aku tahu… menjauh bukan selalu jawaban.”
Hening panjang.
“Gue kotor, Alya,” katanya lirih. “Dan kekotoran gue mulai nyentuh lo.”
Air mata Alya jatuh. “Kalau kamu mau berubah, jangan jalan sendirian.”
Suara di seberang terdiam.
Lalu sambungan terputus.
Alya memeluk ponsel itu di dada, menangis tanpa suara.
Sementara di jalan yang gelap, Raka menatap kosong ke depan—menyadari satu hal yang membuat langkahnya terasa semakin berat:
Untuk benar-benar menjadi imam,
ia harus berani memutus masa lalu.
Dan masa lalu
tidak pernah pergi tanpa perlawanan.
