Retak yang tak terlihat
Pagi datang tanpa memberi rasa lega.
Raka duduk di sudut masjid, lebih awal dari biasanya. Wajahnya terlihat tenang dari luar, tetapi pikirannya kusut seperti benang yang ditarik paksa. Ia memandangi sajadah kosong di depannya, mendengarkan lantunan ayat Al-Qur’an dari imam yang mengalun pelan.
Namun satu pun kata tak benar-benar masuk.
Ancaman semalam masih menempel di dadanya, berat, dingin, dan nyata.
Alya.
Nama itu kini bukan sekadar perasaan.
Ia telah menjadi titik lemah.
Raka menunduk lebih dalam saat doa dibaca. Tangannya mengepal di atas lutut, seolah menahan sesuatu yang ingin meledak dari dalam.
“Ya Allah,” bisiknya tanpa suara. “Kalau Engkau mau hukum aku, jangan lewat dia.”
Alya datang terlambat pagi itu.
Langkahnya ragu saat memasuki halaman masjid. Matanya mencari-cari, dan seperti biasa, ia menemukannya—Raka duduk di tempat yang sama, punggungnya tegak, wajahnya menghadap kiblat.
Namun ada yang berbeda.
Aura pria itu terasa lebih dingin.
Lebih tertutup.
Alya menghela napas, lalu melangkah masuk. Ia tidak menyapa, tidak mendekat. Hanya duduk beberapa saf di belakang, berusaha menenangkan hatinya sendiri.
Panggilan telepon semalam terus terngiang.
Kalau suatu hari gue minta lo menjauh…
Alya memejamkan mata. Ada rasa takut yang belum pernah ia kenal sebelumnya—takut kehilangan, tapi juga takut bertahan.
Selesai shalat, Raka berdiri lebih cepat.
Ia hampir pergi begitu saja, sampai suara langkah kecil menghentikannya.
“Raka.”
Namanya terdengar lembut, tapi cukup kuat untuk membuatnya berhenti.
Ia menoleh perlahan. Alya berdiri beberapa langkah di belakangnya, menatap dengan mata yang tidak menuntut, hanya khawatir.
“Ada yang ingin kamu sampaikan?” tanya Alya pelan.
Raka menggeleng cepat. “Nggak.”
Jawaban itu terlalu cepat. Terlalu keras.
Alya mengangguk, menerima—meski jelas tidak sepenuhnya percaya. “Kalau begitu… jaga diri.”
Kalimat itu sederhana.
Justru itu yang membuat dada Raka terasa sesak.
Ia tidak menjawab. Hanya mengangguk singkat, lalu melangkah pergi.
Alya memandangi punggungnya yang menjauh, perasaan tidak enak merayap perlahan. Ia tahu, ada dinding yang sedang dibangun. Dan ia tidak tahu apakah ia diizinkan berada di sisi yang sama.
Siang hari, Mira kembali muncul.
“Kamu kelihatan kayak orang kurang tidur,” katanya sambil menyodorkan minuman.
Raka menerimanya tanpa bicara.
“Gue dengar mereka mulai nyebut nama cewek itu,” lanjut Mira hati-hati.
Raka langsung menegakkan tubuh. “Dari mana lo tahu?”
“Jaringan lama,” jawab Mira. “Dan itu artinya serius.”
Raka memejamkan mata. “Gue salah.”
“Sekarang bukan waktunya nyesel,” Mira menatapnya tajam. “Lu harus mutusin. Total.”
Raka tertawa getir. “Kalau semudah itu, gue udah pergi dari dulu.”
Mira terdiam. “Lu jatuh cinta?”
Raka tidak menjawab.
Dan keheningan itu sudah cukup sebagai jawaban.
Sore menjelang, Alya berjalan pulang sendirian.
Langit mendung, udara terasa berat. Di pertigaan gang, ia berhenti sejenak—bukan karena lelah, tapi karena perasaan sedang diawasi.
Ia menoleh.
Kosong.
Namun langkahnya dipercepat. Jantungnya berdetak lebih cepat dari biasanya. Ia menenangkan diri dengan dzikir pelan, mencoba mengusir prasangka yang mungkin berlebihan.
Tapi firasat itu tidak pergi.
Dari kejauhan, seseorang memperhatikannya. Tidak mendekat. Tidak menghalangi. Hanya memastikan.
Nama Raka terlintas di benak Alya.
Dan untuk pertama kalinya, ia bertanya dalam hati:
Masalah apa yang sebenarnya sedang ia bawa… sampai bayangannya saja terasa menakutkan?
Alya menyadari dirinya diikuti saat azan magrib berkumandang.
Bukan karena langkah yang terlalu dekat, tapi karena langkah itu terlalu rapi. Selalu ada jarak yang sama. Selalu berhenti ketika ia berhenti. Selalu bergerak ketika ia bergerak.
Ia menahan diri untuk tidak menoleh terlalu sering.
Tenang, katanya pada diri sendiri. Jangan panik.
Namun setiap kali ia berbelok, bayangan itu tetap ada—di ujung penglihatan, di pantulan kaca toko, di sela-sela cahaya lampu jalan yang mulai menyala.
Alya mempercepat langkah.
Gang menuju rumah terasa lebih panjang dari biasanya.
Di tempat lain, Raka berdiri di bengkel tua, menatap motor yang setengah dibongkar. Tangannya sibuk, pikirannya tidak. Ponsel di sakunya bergetar sejak beberapa menit lalu.
Nama Alya muncul.
Raka menatap layar itu cukup lama sebelum akhirnya menjawab.
“Assalamualaikum,” suara Alya terdengar tertahan.
“Waalaikumsalam,” jawab Raka cepat. “Kenapa?”
“Aku… merasa nggak sendirian.”
Jantung Raka seakan berhenti berdetak. “Di mana lo sekarang?”
“Di gang rumah. Hampir sampai.”
“Dengerin gue,” katanya tegas, nada yang jarang Alya dengar. “Masuk ke rumah tetangga terdekat. Sekarang.”
“Ada apa, Raka?”
“Lakuin aja.”
Alya menelan ludah. Ia berbelok cepat, mengetuk pintu rumah Bu Rahmi—tetangga yang sering menyapanya setiap pagi.
Pintu terbuka.
Alya masuk dengan napas terengah.
“Kenapa, Nak?” tanya Bu Rahmi kaget.
“Boleh… boleh aku numpang sebentar?”
Bu Rahmi mengangguk tanpa banyak tanya.
Raka melesat keluar dari bengkel.
Motor dinyalakan dengan kasar. Ia melaju tanpa helm, tidak peduli angin atau tatapan orang-orang. Satu nama berdengung di kepalanya.
Alya.
Dari balik jendela rumah Bu Rahmi, Alya mengintip pelan.
Ia melihatnya.
Seorang pria berdiri di ujung gang. Tidak menutup wajah. Tidak berusaha kabur. Matanya menatap lurus ke arah rumah Bu Rahmi—ke arahnya.
Tatapan itu dingin.
Seperti sedang menghitung.
Alya mundur cepat, dadanya berdebar hebat.
Tangannya gemetar saat meraih ponsel.
“Raka,” bisiknya, “dia ada di luar.”
“Jangan keluar,” perintah Raka singkat. “Gue hampir sampai.”
“Aku takut.”
Kata itu akhirnya keluar.
Raka mengencangkan rahangnya. “Gue tahu.”
Pria di ujung gang mengangkat ponselnya, menempelkan ke telinga.
Alya melihat bibirnya bergerak.
Beberapa detik kemudian, ponsel Alya bergetar.
Nomor tak dikenal.
Ia menatap layar itu seolah sedang menatap jurang.
“Jangan diangkat,” suara Raka terdengar di telinganya.
Panggilan itu berhenti.
Lalu pesan masuk.
Jangan bikin ribet. Kami cuma mau lihat.
Alya menutup mata.
Tubuhnya terasa lemas.
Motor Raka berhenti mendadak di mulut gang.
Ia turun, berjalan cepat. Tatapannya tajam, penuh amarah yang ditahan paksa. Pria di ujung gang menoleh, tersenyum tipis saat melihat Raka.
“Cepat juga,” katanya santai.
Raka berdiri di hadapannya. “Ini salah lo.”
“Bukan,” jawabnya ringan. “Ini konsekuensi.”
Raka mengepalkan tangan. “Jauhi dia.”
Pria itu mendekat setengah langkah. “Selama lu nurut, dia aman.”
Raka menahan diri. Urat di pelipisnya berdenyut.
“Ini peringatan,” lanjut pria itu sambil melangkah mundur. “Bukan serangan.”
Ia berbalik, berjalan pergi tanpa tergesa.
Raka berdiri membeku, menatap punggung itu menghilang di tikungan.
Alya keluar setelah semuanya terasa sepi.
Ia melihat Raka berdiri sendirian di tengah gang. Punggungnya kaku. Bahunya tegang.
“Raka…”
Ia menoleh.
Wajahnya berubah seketika saat melihat Alya—marah, takut, lega, semuanya bercampur.
“Gue bilang jangan keluar,” katanya tertahan.
“Aku nggak apa-apa,” jawab Alya pelan. “Tapi aku butuh tahu.”
Raka terdiam.
Untuk pertama kalinya, ia tidak tahu harus berkata apa.
“Apa yang sebenarnya sedang kamu hadapi?” tanya Alya, matanya berkaca-kaca. “Dan kenapa rasanya… aku ikut diseret?”
Raka menatap tanah.
Jawaban itu berat. Terlalu berat untuk malam yang sudah cukup menakutkan.
“Aku nggak minta diselamatkan,” lanjut Alya lirih.
“Aku cuma minta jujur.”
Raka mengangkat wajahnya.
Di matanya, ada keputusan yang perlahan terbentuk—keputusan yang akan mengubah semuanya.
“Kalau gue jujur,” katanya parau, “lo mungkin benci gue.”
Alya menggeleng. “Lebih baik benci daripada buta.”
Keheningan jatuh di antara mereka.
Dan di atas gang sempit itu, doa-doa yang dulu terasa jauh kini menggantung—menunggu apakah akan dijawab dengan cahaya, atau luka.
Malam semakin larut, tapi gang itu belum sepenuhnya tenang.
Raka berdiri beberapa langkah dari Alya, seolah jarak itu adalah satu-satunya hal yang masih bisa ia kendalikan. Lampu jalan memantulkan bayangan mereka ke tembok—dua sosok yang berdiri berhadapan, sama-sama rapuh dengan cara yang berbeda.
“Masuk,” kata Raka akhirnya. “Di luar nggak aman.”
Alya mengangguk. Mereka masuk ke rumahnya tanpa banyak kata. Ruang tamu kecil itu terasa sempit oleh keheningan yang berat. Alya duduk di kursi kayu, kedua tangannya saling menggenggam di pangkuan. Raka tetap berdiri.
Seperti orang yang siap pergi kapan saja.
“Aku nggak akan muter-muter,” kata Alya pelan. “Tadi kamu bilang, kalau jujur aku mungkin benci.”
Raka menelan ludah. “Iya.”
“Coba,” Alya mengangkat wajahnya. “Biar aku yang nentuin.”
Kalimat itu sederhana, tapi menghantam keras.
Raka menghela napas panjang, lalu duduk di kursi seberang—masih menjaga jarak. Tangannya bertumpu di lutut, jemarinya bergetar halus.
“Gue punya masa lalu,” katanya akhirnya. “Bukan yang bisa ditutup pake doa semalam.”
Alya diam. Ia tidak memotong.
“Gue pernah hidup di tempat yang salah,” lanjut Raka. “Ngambil keputusan salah. Nyakitin orang. Dan ninggalin banyak urusan yang belum selesai.”
“Urusan seperti apa?” tanya Alya hati-hati.
Raka mengangkat wajahnya. Matanya gelap. “Urusan yang kalau gue ceritain detailnya, lo nggak bakal mau duduk satu ruangan sama gue.”
Dada Alya terasa sesak, tapi ia bertahan. “Aku nggak minta detail.”
Keheningan kembali jatuh.
“Orang-orang dari masa lalu itu,” lanjut Raka lirih, “mereka belum selesai sama gue. Dan sekarang… mereka tahu lo ada.”
Alya menghela napas gemetar. “Karena aku dekat sama kamu.”
Raka mengangguk pelan. “Karena itu gue minta lo menjauh.”
“Dan kalau aku nggak mau?”
Raka terdiam lama. Terlalu lama.
“Aku nggak mau jadi alasan kamu kembali ke tempat gelap itu,” kata Alya, suaranya mulai bergetar.
“Tapi aku juga nggak mau jadi orang yang kabur saat ujian datang.”.
Raka menatapnya cepat. “Ini bukan ujian kecil, Alya.”
“Aku tahu,” jawabnya. “Makanya aku pengen jalanin dengan sadar.”
Raka menggeleng, frustasi. “Lo terlalu baik buat ini.”
Alya tersenyum kecil, pahit. “Dan kamu terlalu keras ke diri sendiri.”
Beberapa menit berlalu tanpa kata
.
Di sela keheningan itu, Alya berdiri dan mengambil sajadah. Ia membentangkannya di sudut ruangan, lalu menoleh ke Raka.
“Kamu belum shalat isya, kan?”
Raka terdiam. Ia lupa. Atau mungkin sengaja melupakan.
Alya tidak memaksa. Ia berdiri di samping sajadahnya sendiri.
“Aku nggak bilang shalat bakal nyelesain semuanya,” kata Alya pelan. “ setidaknya… kita nggak ngadep ini sendirian.”
Raka menatap sajadah itu lama.
Lalu, dengan langkah berat, ia berdiri dan mengambil air wudhu di kamar mandi kecil rumah itu.
Malam itu, mereka shalat dalam ruangan yang sama. Tidak berdampingan. Tidak saling melihat. Tapi untuk pertama kalinya, dalam arah yang sama.
Saat doa, Raka menahan napas. Ada rasa malu yang menusuk—malu karena berdiri di hadapan Tuhan dengan masa lalu yang belum sepenuhnya ia tinggalkan.
Kalau Engkau mau ambil semuanya dariku, doanya lirih, ambil aku dulu. Jangan dia.
Air mata jatuh tanpa suara.
Selesai shalat, Alya melipat sajadah. Raka masih duduk, menunduk.
“Aku nggak minta janji,” kata Alya lembut. “Aku cuma minta satu hal.”
Raka mengangkat wajahnya. “Apa?”
“Kalau kamu merasa bahaya itu makin dekat,” lanjut Alya, “jangan mutusin aku sepihak. Ajak aku bicara.”
Raka mengangguk pelan. “Gue nggak bisa janji bakal jadi orang baik.”
Alya menatapnya tenang. “Aku nggak minta itu.”
“Hanya orang yang mau berubah,” lanjut Raka.
Alya tersenyum kecil. “Itu sudah cukup untuk hari ini.”
Di luar rumah, sebuah motor berhenti sejenak di ujung gang.
Seseorang menatap ke arah rumah Alya, memastikan lampu masih menyala.
Lalu ia mengirim pesan singkat.
Mereka makin dekat. Waktunya dipercepat.
Di dalam rumah yang sederhana itu, Raka dan Alya tidak tahu apa yang sedang disiapkan untuk mereka.
Yang mereka tahu hanyalah satu hal:
Retakan itu sudah terlihat.
Dan jika tidak dijaga, ia akan pecah—bukan hanya di hati, tapi di hidup mereka berdua.
