Bab 6. Kepleset
Mei terbangun di pagi hari dan merasakan tubuhnya seperti remuk semua. Tak hanya tubuhnya yang terasa sakit semua ia juga mendapati dirinya yang berada didalam selimut tidak menggunakan sehelai benang pun.
Matanya melebar tak kala melihat sesosok pria yang tengah tertidur pulas membelakangi dirinya. Meiyang sadar telah terjadi hal yang tidak-tidak segera mengedarkan pandangannya ke segala arah. Dengan cepat mei memunguti pakaian yang berserakan di lantai.
Setelah mengenakan pakaian nya. Dengan menahan rasa perih di area sensitifnya mei segera pergi dari kamar itu. Mei yang merasa frustasi bahkan tidak sadar jika anting yang ia gunakan lepas sebelah dan terjatuh diatas baju Fengying yang berada di lantai.
"apa yang sudah kamu perbuat Jenn. ibu dan bapak pasti akan sangat kecewa padamu. dasar bodoh kamu mei." mei tak henti-hentinya mengumpat dirinya sendiri karena kecerobohan nya sendiri.
Dengan cepat mei menuju kamarnya. Namun langkahnya terhenti saat ia teringat bahwa ia baru saja keluar dari kamar nomor 2006 tapi tepat dihadapannya adalah kamar no 2006. Tunggu jadi ada dua kamar yang memiliki nomor yang sama?.
Tanpa pikir panjang mei langsung mengambil kunci yang ada di dompetnya dan membuka pintu kamar didepannya. Dan pintu kamar pun terbuka. "Jadi ini adalah kamarku yang sebenarnya, tapi kenapa aku bisa masuk ke kamar itu. Dan nomornya.."mei bahkan tidak sempat melihat wajah pria yang tidur dengan nya itu. Ia pikir ini adalah kesalahannya jadi tidak mungkin jika meminta pria itu untuk bertanggung jawab.
"seharusnya aku bisa lebih berhati-hati. kenapa aku bisa salah masuk kamar sih. dan sekarang aku sudah tidak... hiks.. hiks.. hiks.. " mei menangis didalam kamar mandi sambil menggosok tubuhnya menggunakan kasa mandi dengan kasar. bahkan kulitnya sudah terlihat sedikit memerah tapi mei tetap terus menggosok tubuhnya.
Mei merasa jijik dengan tubuhnya sendiri. Ia berpikir kalau dirinya adalah wanita kotor karena sudah kehilangan kehormatan nya yang selama ini ia jaga. ia mungkin tidak memiliki sebuah harga diri lagi untuk dibanggakan.
"eh yuri... mei mana. sih kok belum nongol-nongol dari tadi. apa dia masih tidur?"
"aku juga tidak tau, bagimana kalau kita samperin dia aja kekamar."
"ayo dah... sekalian kita bawain dia sarapan siapa tau dia masih sakit." saran dani yang di angguki oleh yuri.
Fengying yang terganggu dengan suara ponselnya yang terus berdering sedari tadi akhirnya bangun. Dengan perasaan yang kesal Fengying mengangkat panggilan telepon nya.
"kenapa.. ganggu orang tidur aja" ketusnya.
"woy bangun.. ini udah siang ingat kita balik ke negara kita sore ini, apa kamu udah lupa apa?" teriak Felix dari seberang sambungan telepon.
"ah.. sial aku lupa, tutt... tutt... tutt... " dengan seenaknya Fengying mematikan panggilan teleponnya. tanpa memikirkan perasaan orang di seberang panggilan teleponnya.
"dasar sialan.." Felix memaki Fengying karena memutus panggilan telepon seenaknya.
"kenapa?" tanya chen yang penasaran.
"dimatiin" sahutnya dengan raut wajah kesalnya.
"yaudah lah santai aja Fengying kan emang gitu orangnya. suka seenaknya sendiri." komentar Bryan yang sudah hafal dengan sifat sahabatnya itu.
Mereka bersahabat sejak kecil. Kemana-mana selalu bersama. Mereka bahkan terlihat seperti saudara kandung. Karena orang tua mereka adalah para pebisnis yang terkenal dan saling menjalin kerjasama membuat mereka menjdi sangat dekat. Dan memiliki hubungan yang susah untuk dijelaskan atau mungkin dipahami oleh orang lain.
"Dani.... yuri..." panggil mei lirih.
"Hemmm.." sahut mereka bersamaan.
"aku mau pulang!"
"loh kenapa mei, kan kita baru sampai kemaren masa usah mau pulang aja." ucap dani.
"aku kangen bapak sama ibu."
"kita belum ada dua hari di sini Jenn, masa kamu udah kangen aja sama mereka." komentar yuri.
"T-ttapi-"
"udah tidak ada tapi-tapian pokoknya kita nikmati jalan-jalan kita disini oke. kalau kamu kangen bapak sama ibu mu kan kamu bisa teleponan sama mereka."
"bener tu kata yuri. lebih baik kita nikmati dulu liburan sebentar ini. kan kita bentar lagi bakal kepisah masa kamu gak mau nikmati kebersamaan kita yang tinggal bentar ini. nanti kalau aku sama yuri udah tinggal di Jakarta dan mulai kuliah kita bakal jarang ketemu loh."
Meski harus melalui perdebatan yang sedikit alot. Akhirnya dani dan yuri berhasil membujuk mei agar tetap di Jakarta dengan dalih demi persahabatan mereka.
Namun hal aneh yang tertangkap oleh mata yuri "meikok cara jalan kamu agak aneh gak kayak biasanya." tanyanya setelah mengamati cara jalan mei yang tidak seperti biasanya.
Deggg....
Jantung mei seperti ingin loncat keluar karena berdetak saking cepatnya. Pertanyaan yang dilontarkan sahabat nya yuri membuatnya seketika mati kutu dan memikirkan alasan yang tepat untuk menjawabnya.
Bahkan saat ini Jeki juga ikut memperhatikan dirinya dengan seksama yang membuat mei semakin ingin lari pulang ke Jogja kalau bisa.
"tadi aku kepleset pas dikamar mandi habis selesai mandi." jawabnya asal yang penting masuk akal menurut nya. Dan kepleset seperti nya adalah satu-satunya alasan yang tepat untuk saat ini.
"aduh mei masa usah gede masih aja kepleset sih" ucap dani.
"ya kan habis mandi licin lantainya kena air bego" komentar yuri.
Untung saja kedua sahabatnya itu percaya dengan alasan yang mei berikan tanpa curiga.
Dikamar Fengying yang sedang memunguti pakaiannya melihat sebuah anting. "anting siapa ini, apa ini milik gadis yang tadi malam" gumamnya sambil memegang anting-anting itu.
Tak ingin ambil pusing Fengying memasukan anting-anting itu kedalam kopernya dan bersiap untuk pergi ke bandara. Di bandara ke tiga temannya sudah menunggu kedatangannya.
"lama banget sih si Fengying. dua jam lagi kan kita bakal terbang tapi dia masih belum nongol aja."
"sabar chen, mungkin si Fengying pakai ritual mandinya, makanya lama kayak kamu gak tau dia aja." sahut Bryan.
Sedangkan Felix ia sibuk sendiri dengan gawai nya. Felix sibuk mengecek pasar saham dan tidak memperdulikan kedua temannya yang duduk bosan di sebelahnya.
"kamu gak bosan apa lihat pasar saham terus"
"aduh chen, dia itu Felix orang yang paling giat bekerja diantara kita jadi gak usah kamu tanya pasti jawabannya juga kamu udah tau" lagi-lagi Bryan menyahuti chen. Karena Felix tidak peduli dengan perkataan kedua sahabatnya yang menurut nya tidak penting itu.Tak berapa lama jeno datang dan menghampiri mereka.
"Lama amat sih kamu fengying."
"sorry bro.. habis tadi malam aku kerja lembur sih"
"maksud mu apa? gak biasanya kamu kerja lembur" tanya Bryan yang heran karena fengying kerja lembur.
"Bukannya kamu semalam lagi pening ya, tumben banget kerja lembur" Felix menyambung ucapan Bryan.
"bukan lembur kerja yang kayak begitu, dasar stupid, yang aku maksud lembur kerja itu olahraga fisik sama orang, dan ngomong-ngomong wanita yang kalian kirim tadi malam lumayan juga." ucapan yang baru fengying katakan langsung membuat ketiga sahabatnya diam seribu bahasa hingga chen menjawab "kami gak ada nyewa wanita buat masuk kamarmu!"
Degggg....
Fengying terdiam ketika mendengar jawaban yang di lontarkan chen "jadi siapa wanita yang aku ajak kerja lembur semalam?"
"mana kita tau" sahut mereka bertiga kompak sambil mengangkat kedua bahu mereka.
'Sial amat sih hidupku. mana dia masih perawan lagi. kalau dia hamil gimana? eh tapi gak ah aku kan cuma melakukannya satu malam mana mungkin dia langsung hamil kan. astaga aku harus apa sekarang. kenapa tiba-tiba aku merasa bersalah. ah tapi sudahlah lagian juga aku akan kembali ke china sekarang. kalau takdir ingin mempertemukan kita lagi, aku akan minta maaf kepada nya nanti atau mungkin aku akan bertanggung jawab nanti. Mungkin.......'
.
.
(...)
