4. Pria Bernama Alzaf
Beberapa hari setelah Festival Budaya Asia, kesibukan kampus kembali menyita perhatian Josie. Tugas menumpuk, deadline presentasi semakin dekat, dan sesi studi kelompok hampir setiap malam. Nathan dan Josie mulai jarang bertemu. Keduanya tenggelam dalam kesibukan masing-masing.
Sore itu, Josie berjalan cepat menuju perpustakaan pusat. Rambutnya diikat seadanya, tas selempang tergantung di bahu, dan di tangannya tergenggam dua buku referensi yang akan dikembalikannya. Matanya fokus pada ponselnya, membalas pesan dosen tentang revisi tugas.
Tanpa sadar, di tikungan lorong kampus yang mengarah ke pintu perpustakaan, Josie menabrak seseorang.
Braak!
Buku-bukunya hampir terlepas dari genggaman. Dia terhuyung ke belakang.
Namun sebelum tubuhnya benar-benar jatuh, sebuah tangan kokoh menangkap lengannya.
"Hati-hati!"
Suara berat namun lembut terdengar.
Josie menatap ke atas. Seorang pria tinggi dengan kemeja putih yang dilipat sampai siku berdiri di hadapannya. Wajahnya bersih, rambut hitamnya disisir rapi. Sorot matanya tajam, tapi ramah.
"Kamu nggak apa-apa?" tanya pria itu sambil memastikan Josie berdiri tegak.
"Eh ... iya. Maaf banget. Aku nggak lihat tadi," ucap Josie buru-buru sambil membereskan posisi tasnya.
Pria itu tersenyum tipis. "Nggak apa-apa. Untung aku juga nggak lari, jadi bisa nangkep kamu."
Josie tertawa pelan. "Wah, kamu kayak superhero."
"Nggak juga. Aku cuma mahasiswa biasa. Namaku Alzaf. Alzaf Harold. Jurusan manajemen informatika. Kamu?"
Josie mengangguk pelan. "Josie. Josephine Queeni Award. S2 manajemen bisnis."
"Oh, jadi kamu Josie? Aku pernah dengar namamu dari Nathan. Kalian satu jurusan, kan?"
Josie tersenyum. "Iya, kamu temannya Nathan?"
"Kita satu komunitas diaspora Indonesia. Tapi jarang ketemu karena jadwal kuliahku lebih banyak di gedung teknik."
Josie menoleh ke arah perpustakaan. "Aku mau balikin buku dulu. Mau ikut?"
Alzaf mengangguk. "Boleh. Aku juga mau cari jurnal. Kebetulan."
Keduanya pun berjalan berdampingan memasuki perpustakaan. Langkah mereka santai, tidak terburu-buru seperti sebelumnya.
"Kamu kayaknya terburu-buru tadi," ucap Alzaf membuka percakapan.
"Iya. Dosenku barusan minta revisi presentasi. Aku harus cari referensi tambahan."
"Kamu termasuk yang perfeksionis ya?"
Josie tertawa pelan. "Lebih ke takut nilai jelek. Aku nggak tahan lihat angka di bawah A."
Alzaf mengangguk pelan. "Aku ngerti. Tapi kadang kita juga harus kasih ruang buat diri sendiri. Nggak semua hal harus sempurna."
Josie melirik pria di sampingnya. Alzaf bicara dengan tenang, seperti seseorang yang tahu cara mengendalikan pikirannya.
Sesampainya di lantai dua, mereka duduk di salah satu meja baca. Josie mulai membuka laptop, sementara Alzaf membantu mengambilkan beberapa buku dari rak.
"Tadi kamu butuh referensi tentang apa?" tanya Alzaf sambil meletakkan tiga buku di hadapan Josie.
"Manajemen risiko organisasi. Ini lengkap banget, terima kasih."
"Sama-sama. Kalau butuh jurnal digital, aku bisa bantu cari lewat akun langganan jurusanku."
"Serius? Wah, kamu penyelamat hari ini."
Alzaf tersenyum. "Senang bisa bantu."
Mereka pun tenggelam dalam suasana belajar. Sesekali keduanya berbagi pandangan soal teori bisnis dan sistem informasi, lalu tertawa kecil saat menemukan istilah yang membingungkan.
Setelah satu jam berlalu, Josie menutup laptopnya sejenak dan meregangkan tangan.
"Alzaf, boleh tanya sesuatu?"
"Tentu."
"Kamu bilang tadi kenal Nathan. Kamu sering ngobrol sama dia?"
"Kadang. Kita pernah satu proyek komunitas, bantu orientasi mahasiswa baru dari Asia Tenggara. Tapi aku nggak terlalu dekat. Kenapa nanya begitu?"
Josie ragu sejenak, lalu tersenyum tipis. "Nggak, cuma penasaran aja."
"Kalian kelihatan dekat."
"Iya. Tapi akhir-akhir ini kita sibuk banget. Jadi agak renggang."
Alzaf mengangguk paham. "Sibuk itu bisa jadi ujian buat hubungan apapun. Tapi kalau hubungan itu kuat, pasti tetap bertahan."
Josie menghela napas. "Aku harap begitu."
"Dan kalau kamu butuh teman belajar atau sekadar ngobrol soal teori manajemen yang bikin pusing, aku selalu ada di lantai dua perpustakaan ini tiap sore."
Josie menatapnya. "Makasih ya, Alzaf. Kamu orang yang menyenangkan."
Alzaf tersenyum. "Kamu juga, Josie."
Matahari sore mulai redup di balik kaca jendela perpustakaan. Mereka melanjutkan belajar dalam hening yang nyaman. Hari itu, Josie tak hanya mendapat referensi akademik, tapi juga kenalan baru—yang mungkin, suatu saat, akan punya arti lebih.
Beberapa minggu berlalu sejak Josie bertemu Alzaf di perpustakaan. Sejak saat itu, keduanya sering terlihat bersama. Mereka duduk berdampingan di kantin kampus, mengobrol hangat di perpustakaan, hingga berkolaborasi dalam beberapa tugas lintas jurusan. Alzaf, dengan pembawaannya yang tenang dan cerdas, membuat Josie merasa nyaman.
Nathan mulai merasakannya. Perubahan itu. Perbedaan dalam kebersamaan mereka. Dulu, Josie selalu menunggu Nathan untuk makan siang. Sekarang, dia sering melihat Josie duduk bersama Alzaf belakangan ini. Dulu, Josie mengajak Nathan ke perpustakaan. Sekarang, Josie sudah punya partner belajar baru.
Suatu hari, di koridor kampus, Nathan melihat Josie dan Alzaf tertawa bersama sambil berbagi earbuds mendengarkan musik dari ponsel.
Nathan menyipitkan mata, lalu mendekat.
"Pagi-pagi udah senyum-senyum. Ada yang lucu?" tanyanya sambil berdiri di depan mereka.
Josie terkejut, lalu tersenyum. "Oh, hai Nathan. Ini cuma lagu lucu dari playlist yang dikirim Alzaf."
"Nathan," sapa Alzaf sopan, mengangguk.
"Alzaf," balas Nathan datar.
"Kayaknya kita semua lagi sibuk ya akhir-akhir ini. Tapi sempat juga dengerin lagu viral."
Josie merasakan tensi di antara dua pria itu.
"Nathan, kamu mau gabung? Kita mau ke kafetaria. Mau ikut?" tanya Josie mencoba mencairkan suasana.
Nathan menatap tajam Alzaf sebelum tersenyum pada Josie. "Tentu. Aku juga lapar. Kebetulan kamu belum sarapan kan, Josie?"
"Ehm ... iya."
Ketiganya pun berjalan bersama. Sepanjang perjalanan, Nathan berusaha menjaga posisi di samping Josie. Setiap kali Alzaf hendak berbicara, Nathan menyela dengan pertanyaan lain kepada Josie, seolah-olah ingin mengambil kembali ruang yang sempat hilang.
Di meja makan, Nathan mulai mendominasi percakapan.
"Josie, kamu udah lihat jadwal simulasi minggu depan? Aku dapet giliran bareng kamu. Kayaknya kita harus latihan bareng lagi kayak dulu."
"Serius? Aku belum buka email kampus tadi pagi."
"Kalau kamu sempat sore ini, aku bisa temenin kamu belajar."
Alzaf yang sedari tadi diam menyisip kopi perlahan.
"Aku juga sempat diskusi sama Josie soal simulasi kemarin malam. Kita lagi cari bahan bacaan juga."
Nathan tersenyum sinis. "Wah, kamu cepat juga ya. Tapi biasanya Josie cocok banget belajar gaya interaktif. Bener, kan, Josie?"
Josie bingung harus merespons apa. Dia hanya menatap kedua pria itu bergantian.
Setelah makan siang usai, Nathan berjalan bersama Josie menuju ruang kelas.
"Kamu nyaman belajar sama dia?" tanya Nathan tiba-tiba.
"Sama Alzaf? Ya ... nyaman. Dia pintar, sabar, dan bisa kasih perspektif baru."
"Tapi kamu tahu kan, kita juga udah punya ritme belajar yang pas. Aku cuma ... takut kamu kebingungan kalau kebanyakan gaya belajar."
Josie menghentikan langkahnya. "Nathan, kamu kenapa sih?"
Nathan menunduk sebentar, lalu menatap Josie dalam. "Aku cuma ... nggak suka lihat kamu terlalu dekat sama orang lain. Terutama kalau itu bikin aku kayak bukan siapa-siapa."
Josie terdiam.
"Kita belum pernah ngomongin ini, Josie. Tapi kamu tahu aku punya perasaan sama kamu. Aku serius. Dan sekarang, aku ngerasa kehilangan kamu pelan-pelan."
Josie menarik napas panjang. "Aku nggak pernah bermaksud ninggalin kamu, Nathan. Tapi ... aku juga nggak mau hidupku berputar cuma di satu orang. Aku butuh ruang untuk mengenal orang lain juga."
Nathan tertunduk. "Aku ngerti. Tapi aku nggak akan tinggal diam. Aku bakal tetap ada di dekat kamu. Karena aku tahu siapa yang benar-benar tulus."
Hari-hari berikutnya, Nathan selalu berusaha hadir di mana pun Josie berada. Dia datang lebih pagi ke perpustakaan, membawakan kopi favorit Josie. Nathan juga sengaja duduk di kelas lebih awal dan menyiapkan tempat duduk untuk Josie. Bahkan saat gadis itu dan Alzaf terlihat sedang berjalan bersama, Nathan dengan santai menyusul dan bergabung, seolah semuanya kebetulan.
Alzaf mulai menyadarinya.
Suatu sore, saat Josie sedang ke toilet, Nathan dan Alzaf berdiri di luar ruang diskusi.
"Kamu suka sama dia ya?" tanya Nathan tiba-tiba.
Alzaf menatapnya tenang. "Aku menghargai Josie. Dan aku ingin mengenalnya lebih jauh."
"Josie bukan orang yang bisa dimiliki cuma karena kamu sabar dan pintar," sinis Nathan.
"Dan kamu pikir Josie milikmu karena kamu datang lebih dulu?"
Nathan mendekat. "Aku nggak akan biarkan kamu rebut Josie dariku."
Alzaf menatap mata Nathan. "Kalau Josie milikmu, kamu nggak perlu takut kehilangan. Kalau bukan, kamu nggak bisa memaksanya untuk tinggal."
Josie keluar dari toilet dan mendapati keduanya berdiri saling diam.
"Ada apa dengan kalian?" tanyanya.
Keduanya tersenyum bersamaan. "Nggak ada apa-apa," jawab mereka nyaris serentak.
Di tengah pertarungan diam-diam antara dua hati, Josie mulai menyadari bahwa hidupnya perlahan berubah. Dan kini, dia harus menghadapi pilihan yang tak pernah dirinya duga akan datang secepat ini.
