3. Antara Rasa dan Ragu
Awal.musim gugur.
Udara musim gugur di Kota New Haven mulai berubah dingin. Daun-daun kuning kemerahan berjatuhan, menyelimuti trotoar dan halaman kampus dengan keindahan alami yang menenangkan. Di tengah hiruk-pikuk persiapan ujian, Nathan mengajak Josie untuk makan malam di sebuah restoran kecil tak jauh dari kampus.
"Restoran ini kelihatannya sederhana, tapi masakannya luar biasa," seru Nathan saat mereka berjalan berdampingan menyusuri jalan kecil yang dipenuhi lampu jalan berwarna hangat.
Josie meliriknya. "Kamu sering ke sini?"
"Beberapa kali. Biasanya kalau lagi suntuk atau butuh suasana tenang. Aku pikir, kamu bakal suka."
Mereka pun tiba di depan restoran yang memiliki teras kecil dengan beberapa meja luar ruangan. Lampu-lampu gantung menerangi area itu dengan lembut. Di dalam, suasana lebih hangat dan anggun. Aroma roti panggang dan herba menyambut mereka.
Seorang pelayan menyambut keduanya dan mengantar ke meja di pojok dekat jendela. Di luar jendela, dedaunan berguguran perlahan seperti dalam film.
Josie duduk, menatap ke sekeliling. "Tempat ini cozy banget."
Nathan tersenyum. "Kan benar yang kubilang."
Setelah memesan makanan, spaghetti aglio e olio untuk Nathan dan salmon panggang untuk Josie, mereka mulai mengobrol.
"Jadi, gimana menurut kamu soal simulasi manajemen konflik kemarin?" tanya Nathan sambil menuang air mineral ke gelas mereka.
Josie mengangkat bahu. "Lumayan bikin stres. Tapi, kupikir aku belajar banyak tentang cara menyikapi perbedaan pendapat."
"Kamu tenang banget di depan. Aku kira kamu nggak tegang sama sekali."
"Itu karena kamu duduk di depan juga. Kamu kasih kode, 'kamu bisa' pakai mata. Aku jadi semangat."
Nathan terdiam sejenak, wajahnya tampak terkejut. Lalu dia tersenyum. "Serius? Aku kira kamu nggak merhatiin."
"Aku merhatiin semuanya, Nathan. Termasuk cara kamu buka botol air yang selalu tumpah."
Nathan tertawa, membuat suasana menjadi lebih santai. Pelayan datang membawa makanan mereka, dan keduanya mulai menikmati makan malam sambil melanjutkan obrolan.
Di sela-sela obrolan ringan, Josie merasakan sesuatu yang tak biasa. Cara Nathan menatapnya malam ini lebih lembut. Candanya terasa lebih pribadi. Tangannya kadang tanpa sadar menyentuh ujung meja yang sama dengannya.
"Kamu tahu," ujar Nathan sambil mengaduk spaghettinya.
"Sejak kita belajar bareng, hari-hariku jadi lebih menyenangkan."
Josie menatapnya. "Aku juga. Tapi kadang aku bingung."
"Bingung gimana?"
Josie menunduk sebentar, lalu menatap mata Nathan. "Kita ini teman, kan? Tapi suasana kayak gini, terasa berbeda."
Nathan tidak langsung menjawab. Dia meletakkan garpunya perlahan.
"Aku juga merasakan hal yang sama, Josie. Tapi aku nggak mau bikin kamu nggak nyaman. Aku pikir... mungkin kamu belum siap."
"Aku nggak bilang nggak nyaman. Cuma aku takut salah paham. Kamu ini hangat ke semua orang. Aku takut perasaanku, cuma satu arah."
Nathan mencondongkan tubuh sedikit ke depan. "Josie, aku nggak seperti ini ke semua orang. Kamu istimewa. Dari pertama kita ngobrol dari pertama kamu kita kenal walaupun kamu nyumbel mulutku dengan sapu tangan, tapi aku tahu, kamu berbeda."
Josie menutup wajahnya sebentar, malu. "Ya Tuhan, kamu selalu bawa-bawa insiden bus itu."
Nathan tertawa. "Nggak akan pernah kulupa. Tapi bukan itu intinya. Aku suka kamu, Josie. Dan bukan cuma karena kamu pintar atau lucu. Tapi karena kamu, kamu bikin aku merasa diterima."
Josie terdiam. Hatinya berdetak lebih cepat.
"Aku ... aku juga suka kamu, Nathan. Tapi aku takut hubungan ini akan merusak persahabatan kita kalau ternyata salah satu dari kita berubah pikiran."
"Kalau kita terus takut, kita nggak akan pernah tahu, kan?" seru Nathan lembut.
"Aku nggak minta jawaban malam ini. Aku cuma mau kamu tahu, perasaanku nyata."
Malam itu, mereka menyelesaikan makan malam dengan perasaan campur aduk. Ada rasa hangat, ada juga keraguan.
Saat berjalan pulang, Nathan tidak lagi bicara banyak. Tapi ketika mereka tiba di gerbang apartemen Josie, dia berkata,
"Apapun yang kamu putuskan nanti, aku tetap ingin jadi orang yang ada di sisi kamu."
Josie mengangguk. "Terima kasih, Nathan. Aku ... butuh waktu. Tapi kamu penting buat aku."
Nathan tersenyum. "Aku akan tunggu."
Dan malam itu, saat Josie menatap langit dari balkon apartemennya, dia tahu, perasaannya pada Nathan bukan sekadar rasa nyaman. Tapi juga sesuatu yang mungkin tumbuh menjadi lebih. Namun hatinya masih ragu, apakah Nathan sungguh akan tetap bertahan, atau hanya seperti daun musim gugur, indah namun tak lama.
Beberapa hari kemudian.
Festival Budaya Asia yang digelar setiap tahun di Yale University selalu menjadi sorotan. Mahasiswa dari berbagai negara Asia memperkenalkan budaya mereka melalui tarian, makanan, musik, pakaian, dan pertunjukan khas.
Tahun ini, Josie dan Nathan ikut serta dalam booth budaya Indonesia. Mereka mengenakan batik, membawa berbagai camilan tradisional seperti kue lapis, onde-onde, dan risoles, serta menghias stan dengan kain tenun dan wayang kecil.
Josie mengenakan kebaya modern berwarna marun dan kain batik parang cokelat keemasan. Rambutnya disanggul elegan dengan sentuhan bunga melati kecil. Nathan mengenakan batik lengan panjang warna biru tua berpadu dengan celana kain hitam. Dia terlihat gagah, senyum hangatnya tak henti menghiasi wajah saat menyambut pengunjung.
“Josie, kamu cantik banget hari ini,” bisik Nathan saat mereka baru saja selesai menata stan.
Josie tersipu. “Makasih. Kamu juga ganteng banget pakai batik. Kayak duta kebudayaan."
"Harus dong. Demi Indonesia," seru Nathan sambil memberi salam tiga jari gaya pencak silat.
Kegiatan berjalan meriah. Mahasiswa dari berbagai negara berdatangan mencoba makanan khas, berfoto, dan berbincang soal budaya. Josie melayani pengunjung dengan ramah, menjelaskan arti motif batik, sejarah wayang kulit, dan filosofi gotong royong.
Namun, kegembiraan itu mulai terganggu ketika seorang mahasiswa asal Korea Selatan, bernama Jiho, menghampiri booth mereka.
"Wow, this food is amazing," ujar Jiho dalam bahasa Inggris.
"Are you the chef?"
Josie tertawa. "No, I'm just the promoter. But thank you!"
Mereka pun berbincang cukup lama. Jiho memuji batik yang dikenakan Josie dan terus bertanya tentang budaya Indonesia. Nathan, yang sedang mengatur speaker kecil untuk pertunjukan musik gamelan, mulai melirik ke arah mereka. Matanya mengkerut.
"Kenapa lama banget ngobrolnya? Dia nanya tentang budaya atau nanya nomor telepon?" gumam Nathan pelan.
Josie tampak tertawa lepas saat Jiho bercerita sesuatu. Nathan pura-pura sibuk dengan tumpukan brosur, tapi sesekali dia melirik ke arah mereka dengan ekspresi tak tenang.
Tak lama setelah Jiho berpamitan, Nathan menghampiri Josie.
"Seru ya ngobrolnya?" tanyanya datar.
Josie mengangkat alis. "Lho, kamu cemburu?"
Nathan tertawa kaku. "Siapa yang cemburu? Aku cuma tanya."
"Oke, kalau kamu bilang gitu," balas Josie sambil menyusun kembali toples kue.
Beberapa menit kemudian, seorang mahasiswi asal Jepang bernama Yui datang ke booth dan menyapa Nathan dengan antusias. Mereka saling mengenal dari kelas Bahasa Asia Timur. Yui memuji batik Nathan dan mengatakan ingin belajar lebih banyak tentang budaya Indonesia.
Nathan dengan senang hati menjelaskan makna motif-motif batik dan mengajak Yui mencoba onde-onde. Josie yang melihat dari balik meja mulai merasa dadanya panas.
"Lama banget ngajarin onde-onde. Mau sekalian ngajarin main angklung juga?" gerutunya dalam hati.
Nathan tertawa bersama Yui. Saat gadis itu menyentuh lengan Nathan dengan akrab, Josie tak tahan lagi. Dia berpura-pura sibuk di ujung stan, merapikan brosur yang sebenarnya sudah rapi.
"Kamu kenapa?" tanya Nathan ketika Yui pergi.
"Nggak kenapa-kenapa," jawab Josie singkat.
Nathan mengangkat alis. "Kamu cemburu ya?"
"Cuma kamu yang boleh nanya gitu ya?"
Mereka saling menatap. Beberapa detik, sunyi di antara keduanya.
"Oke, kita berdua emang cemburu," ujar Nathan akhirnya.
Josie menghela napas. "Tapi kenapa kita nggak ngomong aja terus terang?"
"Karena kita takut? Takut kalau salah ngomong, semua jadi aneh."
Josie mengangguk pelan. "Tapi malah jadi lebih aneh kalau kita terus pura-pura."
Suasana sempat canggung. Namun panggilan MC untuk para peserta tampil membuyarkan ketegangan. Josie dan Nathan maju bersama memperkenalkan budaya Indonesia di atas panggung. Mereka menjelaskan tentang batik, musik angklung, dan bahkan memainkan satu lagu daerah bersama kelompok pelajar Indonesia lainnya.
Saat berdiri berdampingan di atas panggung, Josie melirik Nathan. "Kalau kita bisa satu panggung begini, mungkin kita juga bisa hadapi rasa ini bareng."
Nathan menatapnya, lalu tersenyum tipis. "Aku setuju. Tapi kita perlahan aja."
Usai acara, keduanya duduk di tangga aula sambil menikmati sisa makanan dari stan. Langit malam di atas Yale cerah, bintang-bintang bertaburan.
"Hari ini aneh ya?" seru Josie sambil memakan sisa risoles.
"Aneh, tapi aku senang. Karena akhirnya kita tahu ternyata kita sama-sama ngerasain satu rasa."
"Iya. Meskipun lewat rasa cemburu."
Nathan tertawa. "Kadang hati butuh digelitik dikit biar sadar."
Josie bersandar pelan di bahu Nathan. "Boleh nggak kita tetap berteman meski mungkin kita mulai jatuh cinta?"
Nathan membalas dengan tenang, "Kita bisa mulai dari teman dan lihat ke mana hati kita membawa."
Dan di bawah langit Yale yang tenang, keduanya diam-diam berharap, bahwa langkah yang dimulai dari tumpukan batik dan onde-onde, akan membawa mereka ke arah yang lebih indah.
