Pustaka
Bahasa Indonesia
Bab
Pengaturan

5. Persaingan Ketat Empat Kesatria

Nama Josie semakin dikenal di kalangan mahasiswa Indonesia di Yale University. Tidak hanya karena kecerdasannya dalam bidang akademik, tapi juga karena kemampuannya memimpin dan mengorganisasi berbagai kegiatan komunitas.

Josie dikenal ramah, cekatan, dan mampu menjembatani perbedaan pendapat dengan bijaksana.

Ketika komunitas mahasiswa Indonesia merancang acara besar bertajuk, Warna Nusantara, Pameran Batik dan Kerajinan Tangan Indonesia, tak ada keraguan sedikitpun untuk menunjuk Josie sebagai ketua pelaksana.

"Josie, kami semua sepakat. Kamu yang paling cocok jadi penanggung jawab pameran ini," seru Hezra Arion, mahasiswa hukum, dalam rapat persiapan di ruang serbaguna kampus.

Josie, yang duduk di ujung meja bundar, mengangguk dengan senyum percaya diri. "Terima kasih atas kepercayaannya. Aku terima tanggung jawab ini. Tapi kita butuh kerja tim yang kuat. Aku nggak bisa jalan sendiri."

Nathan, yang duduk di samping Josie, ikut mengangkat tangan. "Aku siap bantu logistik dan teknis. Aku pernah urus proyek seni pas SMA."

"Aku pegang dokumentasi dan layout ruangan," sahut Alzaf tenang.

"Aku bisa handle legalitas peminjaman aula kampus dan perizinan dari pihak universitas," tambah Hezra.

"Dan aku bisa bantu bagian dekorasi!" seru Carol Anderson penuh semangat, sahabat Josie yang dikenal supel dan penuh ide kreatif. Carol mengenakan scarf batik motif mega mendung yang menarik perhatian.

"Wah, ini tim impian," Josie tertawa.

"Kalau gitu, kita mulai breakdown tugas dan timeline-nya."

Hari-hari berikutnya dipenuhi dengan rapat, survei lokasi, pemilihan kain batik dari berbagai daerah di Indonesia, serta koordinasi dengan diaspora seni budaya Indonesia di Amerika Serikat. Josie tampak sibuk hampir setiap hari, namun energinya tidak pernah surut.

Di aula kampus yang akan menjadi lokasi pameran, Josie dan tim berdiri sambil membawa blueprint layout ruangan.

"Adrian, kamu pikir meja kayu ini cukup kuat buat tempat koleksi topeng Bali?" tanya Josie pada Adrian Zafazel, mahasiswa teknik yang bergabung belakangan.

Adrian, yang tengah memeriksa kekokohan meja, mengangguk. "Kalau dilapisi alas kaca tambahan, cukup. Aku bisa bikin dudukan tambahan dari bahan ringan tapi kuat."

"Perfect. Nanti kirim ukuran ke Carol ya, biar disesuaikan sama background dekorasinya," seru Josie.

Carol, sambil menggulung pita kain batik untuk hiasan dinding, menimpali, "Tenang aja, aku udah siapin tema warna merah-marun dan emas. Biar kesannya mewah dan tetap etnik."

Sementara itu, Nathan dan Alzaf tampak bekerja di sisi berlawanan ruangan. Nathan tengah menggantungkan bendera merah putih dan poster pahlawan nasional, sedangkan Alzaf mengatur projector dan sambungan listrik untuk sudut presentasi budaya.

Sesekali tatapan mereka bertemu. Dingin. Saling mengukur.

Josie yang menyadari ketegangan itu, menarik napas panjang.

"Kalian oke aja, kan?" tanyanya saat menghampiri keduanya.

Nathan tersenyum tipis. "Oke, asal kamu nggak jauh dari aku."

Alzaf hanya menanggapi dengan anggukan singkat. "Semuanya terkendali."

Seminggu menjelang pameran, aula sudah mulai terisi kain batik dari Solo, Pekalongan, Cirebon, dan Papua. Wayang, ukiran, tenun Sumba, serta kerajinan perak dari Yogyakarta juga menghiasi meja-meja display.

"Josie, kamu luar biasa," puji Hezra saat mereka sedang menata koleksi songket dari Sumatera.

Josie tertawa pelan. "Kita semua luar biasa. Aku cuma bagian dari tim ini."

"Tapi kamu yang bikin semuanya jadi terarah. Bahkan Nathan dan Alzaf bisa kerja bareng, walau ... ya, kadang kayak ada badai kecil di antara mereka."

Josie mengangguk. "Aku juga bisa lihat itu. Tapi aku harap mereka bisa saling menghargai demi satu tujuan yang sama."

Sore itu, saat Josie sedang menyusun katalog acara, Carol menghampirinya dengan segelas kopi panas.

"Kamu kelihatan capek. Minum dulu."

Josie tersenyum. "Thanks, Carol. Kamu penyelamatku hari ini."

"Dan aku juga penasaran. Kamu ... condong ke siapa? Nathan atau Alzaf?"

Josie terdiam beberapa detik. "Entahlah. Nathan seperti matahari pagi yang hangat tapi kadang terlalu silau. Alzaf seperti bulan malam yang tenang tapi terlalu jauh untuk dijangkau."

Carol tertawa pelan. "Puitis. Tapi kamu harus mulai jujur sama diri sendiri. Karena semakin kamu diam, mereka semakin tersiksa."

Josie menatap katalog di tangannya. "Mungkin setelah pameran ini selesai, aku akan mulai jawab pertanyaan itu."

Di antara batik, lampu gantung, dan senyum-senyum tersembunyi, kisah mereka bertumbuh bersama. Dan pameran budaya itu bukan hanya soal memperkenalkan Indonesia, tapi juga panggung bagi hati-hati yang sedang mencari rumahnya masing-masing.

Suatu sore, kafetaria kampus mulai ramai oleh mahasiswa yang baru saja menyelesaikan kelas siang. Suara tawa, dentingan sendok, dan obrolan penuh semangat mengisi udara. Di salah satu meja pojok dekat jendela kaca besar, empat pria Indonesia duduk dalam satu lingkaran yang tidak biasa.

Hezra menaruh nampan makan siangnya dan menghela napas.

"Akhirnya, bisa duduk sebentar," ujarnya sambil menarik kursi.

Adrian menyusul duduk di sebelahnya. "Gila. Kegiatan pameran ini bikin gue lebih capek dari ikut kompetisi hukum internasional."

Nathan yang sudah duduk lebih dulu, hanya mengangguk pelan. Alzaf, seperti biasa, diam dengan ekspresi datarnya.

Hezra mulai membuka pembicaraan, melirik ke arah Nathan lalu ke Adrian.

"Kalian sadar nggak sih ... semakin lama kita kerja bareng, semakin kelihatan kualitas Josie?"

Adrian mengangguk. "Dia itu kayak punya energi yang nggak habis-habis. Kadang gue ngerasa malu sendiri, cuma bantu sedikit tapi dia bisa handle lima hal sekaligus."

Nathan menghentikan gerakan sendoknya.

Alzaf tetap menatap kopi hitam di depannya.

"Dan Josie selalu senyum. Nggak pernah ngeluh. Bahkan waktu background pameran batik sempat sobek, dia masih bisa tenang dan nemu solusi dalam lima menit," tambah Hezra.

Adrian tersenyum simpul. "Gue nggak akan bohong. Sejak itu, gue mulai ngerasa beda kalau ngeliat Josie."

Nathan mencengkeram garpunya. Alzaf menghela napas perlahan.

"Lo juga, Hez?" tanya Adrian.

Hezra tertawa singkat. "Lo pikir cuma Lo? Kita semua di sini tahu Josie bukan cewek biasa. Tapi ya ... kita juga tahu, dia deket banget sama dua orang di sini."

Nathan menatap langsung ke mata Hezra. "Kalau kalian tahu, kenapa masih bicara kayak gini?"

Hezra mengangkat bahu. "Nggak ada yang salah suka sama seseorang. Yang salah itu kalau kita nyakitin dia demi ego kita sendiri."

"Gue setuju," sambung Adrian.

"Kita semua di tim yang sama. Acara ini tinggal seminggu lagi. Gue nggak akan ganggu apapun sebelum itu selesai. Tapi setelahnya, mungkin gue bakal ngomong langsung sama Josie."

Nathan menoleh ke arah jendela. "Lakukan sesukamu. Tapi jangan jadikan Josie target atau sebuah taruhan."

Alzaf akhirnya angkat bicara. Suaranya tetap tenang namun tegas. "Josie bukan kompetisi. Kalau kalian mau maju, maju sebagai pria yang tulus. Bukan yang cemburuan."

Suasana sempat hening. Namun kemudian Adrian tertawa pelan. "Liat nih, empat cowok dewasa bisa duduk di satu meja dan ngebahas cewek dengan cara terhormat. Gue bangga."

Hezra mengangkat gelas jusnya. "Untuk Josie. Yang bikin empat pria kehilangan akal tapi tetap jaga akhlak."

Keempatnya mengangkat gelas masing-masing. Terdengar tawa pelan namun ketegangan tetap mengendap.

Hari-hari berikutnya, pameran batik dan kerajinan Nusantara mulai memasuki tahap akhir persiapan. Josie terlihat semakin sibuk, tapi tetap bisa mengatur semuanya dengan cekatan. Di tengah kesibukannya, dia juga menyadari perubahan perilaku dari keempat pria itu.

Nathan lebih sering datang pagi-pagi hanya untuk membantu pemasangan lighting. Alzaf selalu memastikan seluruh aliran listrik dan teknologi berjalan sempurna. Adrian menyumbangkan ide kreatif untuk booth interaktif. Sementara Hezra menyelesaikan semua dokumen legal dan surat-menyurat tanpa diminta.

Josie berdiri di tengah aula, memandangi mereka semua dengan perasaan campur aduk.

Carol menghampirinya sambil membawa map proposal.

"Kamu dikelilingi empat kesatria, Josie. Nggak takut pusing?"

Josie tertawa pelan. "Justru itu masalahnya, Carol. Aku bingung karena semuanya baik dan tulus dengan caranya masing-masing."

"Tapi kamu pasti punya satu yang paling kamu tunggu kabar darinya. Yang paling kamu cari saat kamu lelah."

Josie terdiam. "Mungkin ... aku tahu. Tapi aku belum siap membuat satupun dari mereka kecewa."

Suatu malam, setelah semua persiapan hari itu selesai, Josie duduk di bangku taman kampus sambil menatap langit New Haven yang mulai gelap. Tak lama, suara langkah kaki terdengar.

"Kamu belum pulang?" suara Nathan.

Josie menoleh dan tersenyum. "Baru mau. Tapi bintang malam ini cantik."

Nathan duduk di sampingnya. Hening sejenak sebelum dia bicara.

"Aku tahu aku bukan satu-satunya yang punya rasa ke kamu. Tapi aku cuma mau kamu tahu, apapun keputusan kamu nanti ... aku akan tetap ada buat kamu."

Josie menoleh menatap Nathan. Matanya lembut. "Terima kasih, Nathan. Aku hargai itu."

Nathan tersenyum, lalu berdiri. "Pulang yuk, udah mulai dingin."

Malam itu, Josie menyadari satu hal meski keempat pria itu menyimpan rasa yang sama, mereka semua memilih untuk tidak merusak acara besar ini. Semua diam, bukan karena menyerah, tapi karena menghormati dirinya.

Dan itulah alasan mengapa hatinya semakin berat memilih. Karena masing-masing punya cara mencintai yang sama dalam diam, sama dalam tenang.

Unduh sekarang dan klaim hadiahnya
Scan kode QR dan unduh aplikasi Hinovel