2. Percikan Awal Cinta
Keesokan paginya, sinar matahari pagi menyelinap masuk melalui jendela kamar rumah sakit. Josie duduk bersandar di ranjang pasien, mengenakan hoodie abu-abu longgar yang diberikan oleh perawat tadi malam. Rambutnya diikat asal, wajahnya masih terlihat lelah namun jauh lebih tenang dibanding semalam.
Gadis itu menatap ke luar jendela, memikirkan kejadian kemarin. Wajahnya memerah sendiri saat mengingat bagaimana dirinya, dalam kepanikan, meninggalkan Nathan tanpa rasa peduli, dan akhirnya malah diselamatkan olehnya.
Pintu diketuk pelan.
"Masuk," ucap Josie pelan.
Pintu terbuka. Nathan muncul dengan dua gelas kopi dalam tangannya. Dia memakai kaos biru tua dan celana jeans. Senyum hangat terpampang di wajahnya.
"Morning. Kupikir kamu butuh ini," katanya sambil menyodorkan satu gelas ke arah Josie.
Josie menerimanya. "Kamu datang lagi?"
"Yap. Kamu baik-baik aja, kan?"
Josie mengangguk. "Lebih baik. Karena kamu."
Nathan duduk di kursi sebelah ranjang. "Kamu nggak perlu terus bilang makasih. Serius. Siapapun juga bakal lakuin hal yang sama."
Josie menatap Nathan lama. "Tapi nggak semua orang akan lari ke dalam hutan demi cewek yang udah ninggalin dia di pinggir jalan."
Nathan tertawa pelan. "Kamu kan unik. Bisa jahilin, terus ninggalin, tapi tetap bikin orang itu balik nyelametin kamu."
Josie tersipu. "Oke, itu memang parah. Aku minta maaf, Nathan. Serius."
Nathan menatapnya dan tersenyum lembut. "Maaf diterima."
Mereka terdiam sejenak, menikmati kopi masing-masing. Suasana mulai nyaman, jauh dari panasnya konflik kemarin.
"Kalau kamu sudah pulih, kita harus makan siang bersama di kafetaria kampus. Aku traktir," ucap Nathan tiba-tiba.
Josie tersenyum. "Baiklah. Tapi kamu harus janji nggak ngorok waktu kita belajar bareng nanti."
Dua hari kemudian, suasana di Yale terasa hidup kembali. Mahasiswa lalu-lalang di tengah kampus. Josie berjalan santai di trotoar kampus menuju kafetaria di dekat gedung fakultas bisnis. Dia memakai blus putih dan celana jeans, rambutnya dikuncir rapi.
Begitu masuk ke dalam kafe, Josie langsung mencium aroma kopi dan croissant hangat. Suasana kafe itu tenang, dipenuhi mahasiswa yang sibuk mengetik atau berdiskusi.
Josie mencari meja kosong, dan matanya langsung menangkap sosok Nathan yang duduk di pojok dekat jendela, mengenakan kemeja navy dan earphone melingkar di leher. Di hadapannya ada laptop, buku catatan, dan satu gelas kopi hitam.
"Hey," sapa Josie sambil mendekat.
Nathan menoleh dan tersenyum. "Josie. Duduk sini."
Josie menarik kursi dan duduk di seberangnya. "Lagi ngerjain tugas?"
"Sedikit. Aku sedang menyusun draft buat presentasi manajemen proyek minggu depan."
Josie membuka tabletnya. "Pas banget. Aku juga baru mulai. Kita bisa diskusi bareng."
Beberapa menit kemudian, dua gelas kopi tambahan datang bersama sepiring muffin. Mereka mulai membahas tugas, bertukar referensi, dan mendiskusikan teori-teori yang saling mereka pahami.
"Menurutku, pendekatan lean management yang dibahas kemarin itu terlalu kaku untuk industri kreatif," ujar Josie.
Nathan mengangguk. "Setuju. Tapi kalau kamu lihat dari sisi efisiensi biaya, metode itu masih relevan. Kayak start-up teknologi yang butuh scalability cepat."
"Iya, tapi jangan sampai terlalu efisien sampai nggak manusiawi. Kayak perusahaan Jepang yang bikin karyawan kerja selama empat belas jam. Itu nggak sehat."
"Betul juga. By the way, kamu keren banget kalau lagi ngomongin teori begini."
Josie menatap Nathan, lalu tertawa. "Kamu juga, Nathan. Ternyata kamu nggak cuma jago ngorok."
"Hey, itu akan jadi cap seumur hidup ya?"
"Yup. Kamu akan selalu jadi 'Snore Hero' buat aku."
Nathan tertawa. "Nggak apa-apa. Asal kamu tetap senyum kayak tadi."
Obrolan keduanya mengalir tanpa terasa. Beberapa jam berlalu, dan kafe mulai sepi. Mereka menutup laptop masing-masing dan menyandarkan tubuh, merasa lebih ringan setelah sesi belajar yang padat.
"Seru juga belajar bareng kamu," ucap Josie sambil meregangkan bahu.
"Aku juga. Kita harus sering-sering kayak gini. Siapa tahu bisa bikin nilai tugas kuliah naik."
Josie tersenyum kecil. "Siapa tahu juga ... bikin hati tenang."
Nathan meliriknya sekilas, lalu kembali menatap cangkirnya. "Aku nggak nyangka liburan kacau itu bisa bikin aku kenal sama kamu."
"Aku juga. Kalau kamu nggak ngorok, mungkin kita nggak akan pernah ngobrol."
"Dan kalau kamu nggak nyumpel mulutku ... ya, mungkin aku nggak bakal tahu kalau kamu bisa jadi temen diskusi seasyik ini."
Mereka saling berpandangan. Lalu sama-sama tertawa.
Sejak hari itu, pertemuan di kafetaria kampus menjadi kebiasaan baru bagi Josie dan Nathan. Mereka tidak hanya berteman, tapi juga saling mendorong satu sama lain untuk berkembang di dunia akademis. Dan dari percakapan demi percakapan itu, benih-benih rasa mulai tumbuh pelan, tapi pasti.
Hari-hari menjelang ujian tengah semester di Yale terasa seperti pusaran waktu bagi mahasiswa program S2. Perpustakaan utama kampus menjadi tempat paling ramai kedua setelah kafetaria. Josie, yang biasanya lebih suka belajar sendiri, kini punya teman belajar baru, Nathan.
Sejak pertemuan mereka di kafe, Nathan mengajak Josie untuk belajar bersama menghadapi ujian mendatang. Keduanya membuat jadwal tetap setiap Senin, Rabu, dan Jumat sore, mereka akan duduk di sudut lantai dua perpustakaan, dekat jendela yang menghadap ke taman.
"Kamu yakin kita bisa fokus belajar kalau kamu terus bercanda?" tanya Josie suatu sore sambil membuka laptopnya.
Nathan mengangkat alis. "Justru itu rahasia biar otak nggak panas. Nggak mau kan tiba-tiba meledak karena belajar terlalu serius?"
Josie tertawa pelan. "Aneh, tapi masuk akal."
Nathan mengeluarkan catatan dan beberapa buku referensi. "Oke. Hari ini kita bahas analisis bisnis dan studi kasus manajemen krisis, ya?"
"Sip. Tapi kamu yang mulai. Aku mau lihat kamu beneran ngerti atau cuma gaya aja."
"Tantangan diterima," jawab Nathan penuh percaya diri.
Pria itu mulai memaparkan poin demi poin, menjelaskan teori dengan gaya santai tapi tetap tajam. Sesekali dua menyisipkan contoh lucu, seperti membandingkan strategi perusahaan dengan drama percintaan Korea.
"Misalnya ya, kalau perusahaan A terlalu cepat ekspansi, itu kayak orang baru jadian seminggu udah ngajak nikah. Potensi gagal tuh gede banget."
Josie tertawa. "Oke, itu penjelasan manajemen paling nggak biasa yang pernah aku dengar."
"Tapi kamu ngerti kan?"
"Iya, justru jadi inget terus. Kamu kayaknya cocok jadi dosen stand-up."
Belajar bersama Nathan membuat waktu terasa cepat berlalu. Mereka tidak hanya saling membantu memahami materi, tapi juga mulai mengenal sisi pribadi masing-masing. Nathan sering menceritakan masa kecilnya di Jakarta.
"Hari-hari berikutnya keduanya semakin sering bersama. Tak hanya di perpustakaan, tapi juga makan malam setelah belajar, atau sekadar berjalan-jalan di taman kampus.
Suatu sore yang mendung, mereka duduk di bangku taman usai belajar.
"Nathan, kamu sadar nggak, setiap kali kita belajar, kamu selalu berhasil bikin aku ketawa?"
Nathan meliriknya. "Mungkin itu caraku bertahan. Dunia kadang berat, jadi harus ada alasan buat tersenyum."
Josie menunduk pelan. "Terima kasih, ya. Aku baru nyadar akhir-akhir ini kamu bikin hari-hariku lebih ringan."
Nathan tak langsung menjawab. Dia hanya menatap langit kelabu, lalu berkata pelan, "Dan kamu bikin hidupku lebih teratur. Aku jadi lebih semangat belajar, lebih fokus."
Josie menoleh, dan keduanya bertukar pandang. Tak ada kata, tapi ada sesuatu yang mengalir di antara mereka.
Di perpustakaan malam itu, ketika sedang menutup buku, Nathan berkata,
"Kalau kita bisa saling dorong kayak gini terus, aku yakin kita lulus dengan nilai terbaik."
"Dan mungkin bukan cuma nilai yang kita dapet," ucap Josie perlahan.
Nathan menatapnya, terkejut, lalu tersenyum. "Ya. Mungkin lebih dari itu."
Di antara tumpukan buku, cahaya lampu lembut, dan tawa yang terus tumbuh, hubungan Josie dan Nathan mulai berkembang. Bukan lagi sekadar teman belajar, tapi dua hati yang perlahan saling menemukan kenyamanan.
Dan semua itu berawal dari sebuah dengkuran di musim panas.
