1. Perjalanan Musim Panas
Musim panas akhirnya tiba di Kota New Haven, di Negara Bagian Connecticut. Matahari bersinar cerah, menyapu langit biru tanpa awan. Angin bertiup ringan, mengayun lembut pepohonan yang berjajar rapi di sepanjang jalan kota.
Setelah berminggu-minggu penuh tekanan kuliah dan tugas-tugas berat di Yale University, Josephine Queeni Award atau yang biasa dipanggil Josie, akhirnya memutuskan untuk mengambil waktu sejenak untuk dirinya sendiri.
Pagi itu, Josie bangun lebih awal dari biasanya. Dia memasukkan pakaian dan kebutuhan ringan ke dalam tas ransel abu-abu tuanya. Tiket bus sudah dibelinya secara online dua hari sebelumnya. Destinasinya bukan tempat mewah atau resort terkenal, melainkan kota kecil di luar New Haven yang katanya memiliki danau jernih dan pemandangan hijau yang menyegarkan. Bagi Josie, ketenangan jauh lebih berharga dari keramaian.
Apartemennya yang mungil di dekat kampus ditinggalkannya dalam keadaan rapi. Dengan kacamata hitam bertengger di atas kepala dan headphone menggantung di leher, Josie naik ke bus umum yang akan membawanya menuju tujuan.
Gadis itu memilih duduk di kursi dekat jendela, berharap bisa menikmati pemandangan selama perjalanan. Bus masih cukup kosong. Josie membuka novel yang dibawanya dan mulai membaca dengan tenang. Namun, ketenangannya tak berlangsung lama.
Seorang pria tinggi dengan rambut agak berantakan naik ke bus. Matanya terlihat lelah, dan ransel besar tergantung di bahunya. Dia berjalan menyusuri lorong, lalu berhenti di samping kursi Josie.
"Maaf, ini kosong?" tanyanya singkat.
Josie mendongak. Pria itu tampan, dengan mata tajam dan garis rahang tegas. Tapi Josie bukan tipe orang yang mudah terpikat hanya dari penampilan.
"Iya, silakan," jawab Josie sambil sedikit menggeser tasnya.
Pria itu duduk, menghela napas panjang, lalu menyandarkan kepalanya dan langsung tertidur. Josie sempat melirik sekilas, lalu kembali pada bukunya. Namun tak sampai lima menit, suara dengkuran mulai terdengar. Pelan di awal, lalu semakin lama semakin keras.
"Astaga ...." gumam Josie.
Gadis itu mencoba tetap fokus membaca, namun suara dengkuran itu seperti mesin bor. Beberapa penumpang lain mulai melirik. Josie menutup bukunya dan menyikut pelan lengan pria itu.
"Maaf, hey ... kamu ngorok," bisiknya.
Tak ada respons.
"Halo?" Josie menepuk lengannya sedikit lebih keras.
Pria itu tetap tertidur pulas. Dengkurannya bahkan semakin parah. Dengan kesal, Josie membuka tasnya, mengambil sapu tangan kecil berwarna merah muda, dan tanpa banyak berpikir, dia menyumpal mulut pria itu yang sedikit terbuka.
"Nah, sekarang akhirnya diam," katanya puas.
Beberapa detik berlalu. Dengkuran itu berhenti. Josie menghela napas lega dan bersandar kembali di kursinya.
Namun, ketenangan itu hanya bertahan sebentar. Tiba-tiba, pria itu tersedak kecil dan langsung bangun.
"Pfh—apa ini?!" teriaknya, mencabut sapu tangan dari mulutnya.
Josie tertawa terbahak-bahak, tak bisa menahan diri.
"Maaf ya, suara kamu kayak traktor rusak! Aku cuma pengin tidur tenang!"
"Kamu nyumpel mulut orang? Gila! Itu bisa dibilang penyerangan!"
"Penyerangan? Yang nyerang pendengaran siapa duluan, huh?" Josie membalas tajam.
"Kamu nggak sopan!" bentak pria itu.
"Kamu yang tidur nggak tahu diri!"
Pertengkaran itu semakin panas. Penumpang mulai berbisik-bisik, beberapa menyuruh mereka diam. Tapi keduanya tak menggubris. Hingga akhirnya, sopir bus menghentikan kendaraan mendadak.
"Keluar kalian berdua! Sekarang!" bentak sang sopir dari depan.
Josie dan pria itu saling pandang. "Apa?"
"Keluar atau saya panggil polisi!" ancam sang sopir.
Dengan berat hati, mereka turun dari bus di pinggir jalan yang sepi, dikelilingi pepohonan rimbun.
"Lihat kan? Ini semua salah kamu!" seru Josie sambil menyilangkan tangan.
"Salah aku? Kamu yang menyumpal mulut orang pakai sapu tangan pink lucu itu!"
Josie mendengus. Pria itu menenangkan diri, lalu mengulurkan tangan.
"By the way, saya Nathan. Nathan Eldom Aharon. Saya dari Indonesia. Sama kayak kamu, kan?"
Josie tertegun. Dia menyambut tangan itu dengan enggan. "Josie. Josephine Queeni Award. Dan ya, aku juga dari Indonesia. S2 Manajemen Bisnis di Yale."
Nathan terkekeh pelan. "Ya ampun. Aku juga dari jurusan itu. Dunia sekecil ini ya."
Josie menatapnya heran. "Serius? Aku belum pernah lihat kamu."
"Aku juga. Tapi mungkin kita beda kelas atau sibuk sendiri."
Sunyi sebentar. Mereka menyadari satu hal.
"Kita ... nggak tahu ini di mana, kan?" tanya Nathan pelan.
Josie melihat sekeliling. Jalanan sunyi. Tak ada bangunan atau papan petunjuk.
"Oke. Ini buruk."
Nathan membuka tasnya, mengambil sebatang coklat. "Kamu mau?"
Josie ragu, tapi akhirnya mengambilnya. "Thanks."
"Minum? Aku punya soda."
"Tentu," ujar Josie, mulai mencair.
Mereka duduk di pinggir jalan, mengunyah coklat dan berbagi minuman kaleng.
"Jadi ... kamu selalu seimpulsif ini? Menyumpal mulut orang asing di tempat umum?" tanya Nathan sambil tertawa pelan.
"Hanya kalau orang itu mendengkur kayak monster!"
Keduanya tertawa. Meski awalnya saling benci, kini ada percikan keakraban yang aneh.
Tak lama, sebuah sedan hitam melintas. Josie berdiri dan melambaikan tangan.
"Hey! Tunggu! Bisa minta tumpangan?" serunya.
Nathan masih duduk. "Tunggu dulu, kita nggak tahu ini siapa."
Pria di dalam mobil menurunkan jendela. "Mau ke kota? Masuk aja."
Josie tanpa pikir panjang membuka pintu belakang dan masuk.
"Josie! Kita nggak tahu dia siapa!"
"Good luck, Nathan. Semoga kamu ketemu truk traktor yang bisa jemput kamu. Bye!" ejek Josie sambil melambaikan tangan.
Nathan berdiri, marah dan bingung. "Josie! Kupikir kita sudah berteman!"
Josie hanya tersenyum puas dan mobil pun melaju, meninggalkan Nathan sendirian di tepi jalan.
Nathan menghela napas, mengencangkan tali ranselnya.
"Oke, Nathan. Jalan kaki, atau kamu jadi sarapan tupai."
Sang pria pun mulai melangkah menyusuri jalan panjang, tak menyangka bahwa pertemuannya dengan gadis aneh bernama Josie itu akan mengubah hidupnya selamanya.
Sementara itu, di dalam mobil, Josie duduk diam. Pria pengemudi itu tidak banyak bicara. Matanya sesekali melirik ke spion.
Josie merasa sedikit tidak nyaman. Tapi dia mencoba menenangkan diri.
"Namanya juga sopir lokal, mungkin memang cuek," gumamnya dalam hati.
Namun ada perasaan ganjil yang mulai tumbuh. Dan Josie belum tahu bahwa keputusannya meninggalkan Nathan bisa berakhir sangat berbeda dari yang dirinya bayangkan.
Josie masih duduk di kursi sebuah mobil sedan hitam yang kini melaju kencang di jalanan sempit, diapit hutan di kiri dan kanan. Awalnya dia merasa lega bisa mendapatkan tumpangan. Tapi semakin jauh mereka melaju, rasa tak nyaman mulai merayap perlahan ke dadanya.
Mobil itu mulai masuk ke jalan kecil berbatu, jauh dari jalan raya utama. Pepohonan semakin lebat, dan tak ada rumah atau bangunan sama sekali.
Josie menatap ke luar jendela. "Maaf, Pak ... Ini bukan jalan ke kota, kan?"
Pengemudi itu tak menjawab. Tangannya menggenggam erat setir, matanya tetap menatap jalan.
"Pak?" ulang Josie, nada suaranya mulai waspada.
Akhirnya si pria menjawab, suaranya berat dan pelan. "Tenang saja, Nona. Kita sedang lewat jalan pintas."
Josie mengernyit. "Tapi sepertinya ini bukan jalur utama, Saya kenal daerah ini."
Si pengemudi mendengus pelan, lalu tiba-tiba mengeluarkan sebotol kecil dari dashboard. Dengan satu tangan, dia membuka tutup botol dan mulai menenggak isinya. Bau alkohol menyengat langsung memenuhi kabin.
Josie membelalak. "Pak! Bapak mabuk?"
Pria itu terkekeh. "Cuma sedikit. Supaya tetap semangat nyetir."
Josie langsung meraih tasnya. "Saya minta turun. Sekarang."
Pengemudi itu menoleh setengah, tatapannya sudah mulai kabur. "Tenang saja, Nona. Kita sebentar lagi sampai. Jangan ribut."
Josie menggeser tubuhnya ke pintu, mencoba membuka, namun terkunci dari dalam. Dia memencet tombol pengunci pintu, tapi tidak bereaksi.
"Buka kunci pintunya, Pak. Saya serius. Saya minta turun."
Pria itu berhenti tertawa. Suaranya berubah dingin. "Duduk saja. Kalau kamu diam, semuanya akan baik-baik saja."
Jantung Josie berdegup kencang. Kepalanya mulai dipenuhi rasa takut. Dia merogoh ponselnya, berusaha mengirim pesan darurat, namun sinyal di daerah itu sangat lemah.
"Sial ... come on, come on ...."
Tiba-tiba, mobil berhenti di tengah jalan setapak yang dikelilingi semak belukar. Si pria mematikan mesin mobil dan berbalik menghadap Josie.
"Kita istirahat dulu. Kamu pasti capek, kan?" katanya sambil menyeringai.
"Saya bilang, buka pintunya! Sekarang!" bentak Josie.
"Jangan keras kepala, Nona. Saya hanya mau kita bisa berbicara lebih dekat."
Pria itu mulai membuka pintu mobilnya dan keluar, berjalan ke sisi belakang. Josie panik. Dia menggedor-gedor kaca, mencoba memecahkannya. Tapi tidak berhasil.
Ketika pria itu membuka pintu belakang tempat Josie duduk, gadis itu menjerit dan menendangnya.
"Jangan mendekat! Kalau tidak, saya akan teriak!”
"Teriak saja, Nona. Tidak akan ada yang bisa mendengar suaramu di hutan ini," jawab pria itu, tertawa licik.
Josie berontak, menggigit tangan pria itu sekuat tenaga.
"Arrggghh! Dasar perempuan gila!"
Josie berhasil mendorong pria itu hingga terjatuh ke tanah, lalu berlari keluar mobil, menerobos semak belukar tanpa arah. Ranselnya tertinggal, tapi nyawanya lebih penting.
Josie terus berlari, ranting-ranting mencakar kulit tangannya, bajunya robek di beberapa bagian. Tapi dia tidak peduli. Napasnya memburu, tangis mulai menggenang di matanya.
"Tolong! Adakah orang di sini? Tolong saya!"
Dari kejauhan, Nathan yang sedang berjalan dengan ransel besar di pundaknya, mendengar teriakan samar dari arah hutan.
Sang pria berhenti, mencoba menangkap suara itu lagi.
"Tolong ...! Nathan! Tolong aku!"
Nathan membelalak. "Josie?"
Tanpa pikir panjang, pria itu melempar ranselnya ke tanah dan mulai berlari menuju arah suara.
Josie yang kelelahan akhirnya tersandung akar pohon dan terjatuh. Dia meringkuk di balik semak, tubuhnya gemetar.
Tiba-tiba, dari balik pepohonan, suara langkah kaki cepat terdengar. Josie menahan napas, takut jika itu si pengemudi tadi.
Namun sesosok tubuh tinggi muncul. Mata Josie membelalak. "Nathan?"
"Josie! Astaga, kamu kenapa?"
Josie langsung bangkit dan memeluk Nathan erat, tubuhnya gemetar hebat.
"Orang itu mabuk. Dia mau nyakitin aku."
Nathan memeluk balik, menepuk punggung Josie dengan lembut. "Tenang, kamu udah aman sekarang. Aku di sini."
Nathan mengeluarkan ponselnya. Kali ini, sinyal tampak lebih kuat.
"Aku telepon 911 sekarang. Kita kasih lokasi kita."
Beberapa menit kemudian, suara sirine terdengar samar. Polisi datang dengan dua mobil. Josie dan Nathan menunjukkan lokasi pria itu, yang kini sudah tertidur mabuk di dalam mobilnya.
Petugas segera menangkap dan memborgolnya. Josie dibawa ke rumah sakit untuk pemeriksaan dan pemulihan psikologis, sementara Nathan menemani dengan sabar.
Di ruang tunggu rumah sakit, Josie duduk dengan selimut menutupi pundaknya. Matanya masih sembab. Nathan duduk di sebelahnya, memegang secangkir coklat panas.
"Makasih, Nathan," ucap Josie pelan.
Nathan menoleh. "Untuk apa? Aku cuma lari ke arah suara kamu."
"Kamu nyelametin aku. Aku ninggalin kamu di jalan, tapi kamu ... kamu dateng untuk aku."
Nathan tersenyum tipis. "Aku nggak bisa ninggalin orang yang mungkin mulai aku suka."
Josie tertegun, memandangi Nathan. Hati yang tadinya dicekam rasa takut, perlahan mulai hangat.
Hari itu, bukan hanya bahaya yang dihadapi Josie, tapi juga pelajaran besar, kepercayaan bisa salah tempat, tapi kebaikan kadang datang dari orang yang semula kita remehkan.
Dan Nathan, tanpa sadar, telah melangkah lebih dekat ke hati Josie daripada yang pernah dirinya bayangkan.
