Pustaka
Bahasa Indonesia
Bab
Pengaturan

5.DEBAR NANO-NANO

Mengingat Mbak Rita pengin rujuk, ditambah cara memandang Mas Reza. Aku tahu, ia mengharapkan mantan suaminya kembali. Dada seakan kembali menyempit membayangkan itu semua.

-----

Kupandangi wajah Caca, tidur tanpa melepas mukenah. Setelah salat berjamaah selesai, ia pun langsung melepaskan lelah. Kehadiran bidadari kecil ini membuat hidup berwarna. Namun, sekaligus hambar mengingat hubunganku dengan ayahnya.

Sambil menyalahkan TV, aku menyetrika pakaian, terdengar salam Mas Reza dari mesjid.

Ia langsung duduk di sofa, sambil menyeruput kopi, kebiasaanya setiap malam.

"Udah siap ngejelasin isi pesanku tadi siang?"

Pertanyaannya tak menghentikan pergerakan tanganku. Tatapnya mulai tak sabar, aku memilih membereskan lipatan terakhir, pura-pura tak menghiraukannya.

"Zahrah?"

Mas Reza memanggil lembut. Aku berpindah, duduk dua sofa di antaranya.

"Ceritalah tentang Danar!" ujarnya setelah mematikan TV.

Aku terdiam lama, merangkai kata tepat dalan hati.

"Sebaiknya, Mas, bertanya. Semua tentang Mas Danar, sama yang diceritakan Reno."

Ia mengernyit, kaget. Adik ketigaku itu sempat cerita, Mas Reza cari informasi tentang Mas Danar, sebelum kepulangannya kemarin.

Aneh! Seperti bukan Mas Reza, yang tak pernah kepo tentangku.

Lelaki bertubuh proporsional itu mendekat, ia duduk setengah meter.

Kembali aliran darah seakan berpacu, jantung pun mulai tak terkendali, ketika aroma parfum menusuk hidung, pun netranya memorandakan ketenanganku.

Perlahan Mas Reza melepas baju koko, menyampirkan di sandaran sofa, kaos berlengan pendek nampak sebagai dalaman.

Lama kami terdiam, hanya suara kipas angin terdengar, menyesapi pikiran masing-masing.

"Bagaimana engkau mencintai seseorang?" tanyanya memecah keheningan dan memindai wajahku dengan tatap entah.

Aku membalas gelisah netranya, debaran aneh menjalari setiap persendian tubuh.

"Menyebut namanya dalam doa," jawabku berusaha datar sambl memegang tengkuk tiba-tiba menegang, untuk menyeimbangi irama jantung menghentak keras.

"Siapa lelaki yang kau cintai selain dari keluargamu?"

Mas Reza meletakkan tangan pada sandaran sofa tempat dudukku.

Jemari mulai dingin, aku membenahi ikatan rambut terasa longgar.

Di rumah memang tak mengenakan jilbab kecuali ada tamu bukan mahram.

"Orang yang telah dihalalkan Allah," jawabku menatap wajah teduh itu.

Kedua tangannya tiba-tiba meraih kedua tanganku, lalu menciumnya lama, lama sekali.

Gemuruh di dada menggelegar, jantung terpompa keras, hembusan nafasnya menghangat pada tanganku yang beku.

Sementara menikmati debar aneh di dada, perlahan tangan kanannya meraih kepala, sedang tangan lain merangkul pundakku, bibirnya diletakkan di kening.

Secara naluria, aku menutup mata merasai hangat sentuhannya.

Tak kurasakan tubuh sudah berada dalam pelukannya, erat, erat sekali.

Detak jantung memompa cepat, debaran ini bukan milikku saja.

Kubiarkan mata terus terpejam, menikmati belainnya di rambut. Debar indah kini nyata seakan tak ingin berhenti sampai di sini.

Jam sebelas malam belum mampu lelap, balik kanan-kiri mencari posisi nyaman. Namun, kejadian tadi menghilangkan rasa kantuk. Mengingatnya, membuat bibirku menarik ulasan senyum.

Notif pesan WA seketika membuat kaget dari lamunan.

Mas Reza

[Bisakah ke kamarku, Zahrah?]

Jantung kembali memompa cepat bersama debaran tiba-tiba menciptakan dingin seketika.

[Ada apa, Mas?]

Tanda centang tak berubah warna.

Aku menunggu lima menit, belum terbaca.

Kuputuskan ke kamarnya, pelan membuka pintu yang memang tidak pernah dikunci.

Terlihat dalam remang lampu, Mas Reza terbaring dengan menggunakan selimut, HP ia letakkan di dada.

Aku memilih berbalik ke kamar, mengira lelaki pembawa debar itu sudah tidur.

"Zahrah, kemari?" Suaranya berat memanggil.

Ragu menguasaiku, ia memencet tombol ke lampu terang, yang berada di sisi tempat tidur.

"Kemarilah!"

Aku menurut masuk, ia mengubah posisi menjadi duduk, lalu menarik lenganku.

"Sepertinya aku lagi nggak enak badan, Zahrah." Tanganku dialihkan ke keningnya.

Sontak aku kaget. "Mas, kenapa nggak bilang?" Panik, suhu badannya panas sekali.

Kenapa tak terasa ketika ia menarik tanganku tadi?

Tergesa ke dapur, aku mengambil air dalam termos, handuk kecil, dan obat di penyimpanan.

"Mas, minum obat!" kataku sambil mengompres keningnya.

Mendengar dengkuran halus, obat aku simpan di atas nakas.

Aku terbangun setelah melihat cahaya dari jendela.

Mengumpulkan kesadaran, inikan bukan ...? Mas Reza mana? Pasti dia yang memindahkan tubuh ini dari kursi semalam.

Kuperiksa semua badan. Utuh, bahkan selimut menutup rapi.

"Udah bangun?"

Mas Reza muncul dari kamar mandi, memakai kaos oblong dan celana pendek di atas lutut.

Aku membalikkan badan, mengingat tak pernah melihatnya seperti ini.

"Mas, sudah sembuh?" ucapku sambil bangun dari tempat tidur.

Perlahan ia mendekat, harum sampo menyeruak sensitif hidungku.

"Sengaja aku gak bangunin salat, kufikir kamu lagi berhalangan karena banyak alat wanita di atas mejamu."

Tidak! Ia pasti melihat pembalut di meja kamarku, belum sempat tersimpan kemarin sore.

Wajah serasa bagai berlapis, ngapain juga Mas Reza ke sana? Tumben.

"Mau kemana?" tanyanya melihatku hendak beranjak.

"Mau lihat Caca," ucapku ingin mengakhiri zona debar ini.

"Caca udah salat, tidur kembali, capek katanya."

Mas Reza duduk di sisiku. Jantung pun mulai tak terkendali lagi.

"Mau masak sarapan, Mas, alasanku lagi.

Perlahan ia menarik tanganku, ketika aku sudah berdiri.

"Mulai sekarang, aku pindah ke kamarmu atau kamu yang kemari." Ia tak menggubrisku.

Terasa ada aliran menghangat di balik debar jantung, mendengar rangkaian kalimatnya.

Kembali aku duduk, menajamkan pendengaran. Takut, jangan-jangan aku salah paham.

"Ma-maksud, Mas?"

Pembicaraan kami terpotong dengan suara ketukan pintu.

Mas Reza menahan tanganku saat hendak beranjak,

"Biar aku saja. Kamu tunggu di sini!" katanya.

Sosok jangkung itupun menuju pintu, setelah memakai celana panjang menutup betis.

Cepat merapikan spring bed yang kutempati tidur semalam, tak henti bibir melengkung membentuk bulan sabit, membayangkan ia memopongku dan tidur seranjang dengannya.

Lama Mas Reza belum muncul, bermaksud keluar untuk mengetahui siapa yang datang.

Kakiku langsung terpaku di lantai, air mata berkumpul di pelupuk, siap kapan saja meluncur tanpa persetujuan.

Ngapain mereka sepagi ini kemari?

Mbak Rita bersama teman yang kulihat di pantai. Duduk di sofa tamu paling kanan. Sementara Mas Reza di sofa paling kiri. Sofa kami berbentuk liter L.

Entah apa topik perbincangan mereka.

Lama berfikir, sebaiknya melayani sebagai tamu, terus mandi, berkemas, dan keluar dengan alasan apa lah.

Agar ada ruang nafas pada dada yang sekarang ini sedang mencekik.

"Silakan dicicipi, Mbak, Mbak."

Kupersilahkan mereka setelah meletakkan tiga gelas minuman dan dua toples kue sisa acara Raina, lalu duduk di tengah.

Meski terasa sesak di balik dada, kuusahakan berbincang sedatar dan ala kadarnya, kendati tak yakin mampu duduk lama di antara mereka.

Aku pamit ke dalam dengan alasan mengurus Caca, padahal ingin melanjutkan rencana yang telah tersusun tadi.

Saat berdiri, Mas Reza kembali menggenggam tanganku, sambil menatap lekat.

"Duduklah, Zahrah! Caca belum bangun."

Mas Reza menarik duduk agak dempet dengannya.

Aku berusaha melonggarkan genggaman tangan pria pembawa debar itu. Namun, tangan kekarnya semakin merekat, bahkan genggaman tangan kami, ia letakkan di atas pahanya sambil bercerita santai.

Bukan cuma aku saja, merasakan suasana kaku, terlihat Mbak Rita, pun nggak sesantai tadi bersama temannya.

Belum habis minuman yang tersaji, mereka pamit pulang.

Aku bernafas lega, tapi tidak enak hati juga.

Wait! Kenapa wanita nyaris sempurna itu bersikap aneh? Kemana kelembutan yang kubenci itu? Mungkinkah ada sesuatu yang terjadi?

Mas Reza mengantar mereka sampai pintu, aku pun demikian.

Setelah mobil Mbak Rita berlalu, Mas Reza mengunci pintu.

"Makasih, Zahrah, untuk semuanya."

Ia kembali mencium tanganku, hangat, masih dalam genggamannya.

Aku bingung memaknai ucap itu. Terima kasih untuk apa? Karena melayani tamunya? Atau membuat mantan istrinya cemburu?

Mengingat Mbak Rita pengin rujuk, ditambah cara memandang ke Mas Reza, aku tahu ia mengharapkan mantan suaminya kembali.

Dada seakan menyempit kembali membayangkan itu semua.

Ayah, ngapain cium tangan Bunda?”

Caca mendekat, boneka beruang dalam gendongan, suara seraknya khas orang bangun tidur.

"Tangan, Bunda, nggak papa, kan?"

Gadis kecil itu meniup tanganku, Mas Reza tersenyum. Aku hanya menggeleng melihatnya sambil duduk bertopang pada lutut menyamakan tinggi dengan Caca.

"Tangan bunda nggak sakit, Sayang. Ayah menciumnya sebagai tanda terima kasih. Tlah merawat, memasak, dan menjaga kita," jawab Mas Reza, pun mengikut menyamakan posisi.

"Makasih, Bunda. Caca sayang banget sama, Bunda."

Kini Caca gantian mencium tanganku.

"Bunda juga, sayang Caca."

Aku melakukan hal sama, mencium tangan mungil itu lalu memeluknya erat.

"Ayah, juga mau."

Tangan kekar nan panjang itu meraih tubuhku dengan Caca dalam pelukannya.

"Udah, ah, Caca lapar."

"Aduh, aku belum masak, Sayang."

Aku menepuk jidat.

"Ayah udah masak, kok." Mataku membulat tak percaya.

"Taraa!"

Mas Reza membuka tudung saji, nasi goreng sosis daging tinggal disantap.

"Wow! Ayah pinter masak juga rupanya. Tapi, masih enakan masakan Bunda!" sela Caca diantara kunyahanya.

"Ntar, ayah ajak bunda tanding masak, buat nentuin siapa yang terenak," jawab Mas Reza bercanda sambil melirikku.

"Ayah, nggak bakalan menang, Caca setuju sama Om Danar, masakan bunda paling enak."

Mas Reza seketika tersedak, lalu meminum air cepat, wajahnya memerah.

Entah kenapa ia selalu begitu kalau mendengar nama Mas Danar. Toh, aku dan Reno telah menjelaskannya.

Unduh sekarang dan klaim hadiahnya
Scan kode QR dan unduh aplikasi Hinovel