Pustaka
Bahasa Indonesia
Bab
Pengaturan

4. APAKAH RASA INI SAMA?

"Ada yang nyariin, Mbak! Penting katanya, bisik Angga ketika aku sedang menata meja menyiapkan makan siang untuk para tamu dan kerabat.

Aku mengangguk, namun tak menghiraukan. Mengingat adikku yang baru tamat SMP itu, sering bercanda.

"Cepetan, Mbak! Ntar tamunya pulang." Tak beranjak Angga menunggu.

"Serius, ni? Cacanya mana? Kok ditinggal pona'annya?"

"Itu, Caca sama tamu yang nyariin, Mbak." Angga menunjuk keluar.

Dahiku mengernyit, tumben Caca mau diambil sama orang baru?

Aku menyelip keluar di antara keramain kerabat. Ibu terlihat duduk di ruang tengah berbincang dengan tetamu, sedang di bawah tenda pengantin yang telah terpasang tiga hari lalu. Banyak keluarga laki-laki bercengkrama antar mereka

Kucari sosok Caca, jantung ini kembali bergeser saat melihat anak itu duduk di pangkuan Mas Reza.

Di sebelahnya ada bapak, om-om dari keluarga ayah-ibu, dan Mas Danar.

Tampaknya mereka serius melepas temu kangen dengan saling berbagi cerita.

Kulihat Angga tertawa cekikin dekat Mas Reza.

Tuh, kan? Dia mengerjaiku lagi.

Lalu tanpa sadar aku mengedarkan pandangan mencari anggota tim Mas Reza, sepertinya tidak ada, refleks sku langsung mengucap syukur dalam hati.

Maafkan Ya, Allah, bukannya tak menginginkan tamu, tapi hati ini belum mampu ikhlas melihat Mas Reza bersama mantannya.

"Dari tadi datang, Mas?"

Aku mendekat, Mas Reza menyodorkan tangan. Utung otakku bereaksi cepat. Gegas meraih tangan itu dan kepala kundukkan takzim ke punggung tangannya.

Benar-benar aneh ini Mas Reza. Sudah datang lebih awal dari rencana. Eh, sekarang nyodorin tangan untuk takzim.

Padahal sebelumnya tak pernah memberi kesempatan. Pura-pura lupalah, sibuklah, nggak ngelihatlah.

Ah, sudahlah! Mudah-mudahan ini awal baik untuk hubungan yang rumit ini.

Semua keheranan itu terkalahkan dengan debar yang semakin meningkat. Mas Reza tak melepas tangan itu, kemudian kembali mengenggamnya di depan keluarga.

Bullyan kerabat melihat suasana itu sontak terdengar seperti nyanyian.

"Rindu, ni, ye!"

"Efek lama nggak ketemu!"

"Pengantin lama pun nggak mau kalah!"

Beginilah situasi kampung, pasti beda di kota.

Entah bagaimana menggambarkan warna wajahku sekarang. Mas Reza malah senyum, sambil menatap lekat, lalu kian menguatkan genggaman ketika aku bereaksi ingin lepas.

Sepintas kutangkap dengan ekor mata, Mas Danar menatap ke bawah.

"Udah, udah ...! Antar suamimu masuk! Dia butuh istirahat," titah bapak.

Kami pun permisi, lalu melangkah masuk.

Caca menggelayut di gendongan sang ayah dan Angga membawa koper Mas Reza, sementara aku masih seperti magnet di tangannya.

Mas Reza singgah sowan ke ibu dan kerabat lain, sebelum kuantar ke kamar.

"Kata bunda besok ayah baru datang, kok ...?"

Caca meminta penjelasan tentang kedatangan ayahnya yang tanpa pemberi tahuan lebih dahulu.

"Rindu ayah, udah nggak ketahan, ma Caca dan bunda. Jadinya, janji dipercepat, deh."

Pria umur kepala tiga itu mengulas senyum, kemudian memeluk Caca, netranya tak lepas dariku.

Kalau ia bersikap aneh terus begini, bisa-bisa aku periksa di poli jantung.

"Mas, tidur di sini aja, ntar Zahrah ke kamar Raina," ucapku mengingat kami tak sekamar di rumah.

"Percuma dong, aku ninggalan kerjaan, kalau ... kamu ....

Mas Reza menjawab terpotong, kemudian menarik lenganku duduk di sisinya.

Tatap pria itu tak mampu kumaknai. Nyaris tak sanggup bernafas stabil dalam posisi sedekat ini dengannya.

"Jangan kemana-kemana dong, Bunda! Kan, asyik, kalau ada ayah dan bunda di sini"

"Tuh, kan. Caca aja tahu. Masak ka-."

"Oke, oke. Bunda kalah. Dua lawan satu, sih."

Refleks mereka tertawa bersamaan.

Acara nikahan Raina selesai kemarin. Kami OTW kembali ke rumah. Kali ini Mas Reza menyetir mobil, Reno pulang duluan dengan alasan tak ingin ninggalin rumah laundry lama-lama.

Berhubung karena perjalanan agak jauh. Aku duduk di tengah bersama Caca.

Bibir mungil itu tak henti bercerita tentang pangalaman, hal-hal dia suka, dan apa saja yang menarik di pikirannya

"Ayah, kapan-kapan kita ke rumah kakek-nenek lagi, Caca suka banget, deh." Ia memeluk boneka pandanya.

"Iyya Sayang, pasti itu," jawab Mas Reza melempar senyum ke arahku.

"Oh, ya, Om Danar bilang, Caca cantik seperti bunda.

Aku dan Mas Reza langsung tersedak, batuk pun hampir bersamaan.

Buru-buru kuserahkan air botol mineral yang telah kubuka tutupnya dan mengambil sendiri untukku. Sementara laju mobil kurasakan berjalan pelan. Tampak Mas Reza meneguk air di botol sampai setengah.

"Terus, Om Danar, bilang apa lagi?"

Mas Reza bertanya, sepertinya penasaran.

Pria ganteng itu menelisik wajahku lewat kaca spion depan, tiba-tiba ada perasaan risih menekan.

Kuberdoa dalam hati, mudah-mudahan Caca tak salah ucap.

"Om Danar bilang kalau besar nanti Caca harus seperti bunda. Pinter, penurut, baik, sayang keluarga, terus sholihah."

Laju mobil terasa semakin pelan. Debar gelisah mulai muncul di dada. Sekuat hati kuabaikan dan bersikap datar. Toh aku dan Mas Danar tidak ngapa-ngapain.

"Oh, ya? Emang Om Danar belum punya adek seperti Caca?"

"Kata Om Danar, belum. Pengantin seperti tante Raina aja belum. Katanya, susah nyari seperti bunda."

Kali ini aku yang tersedak keras.

Mobil tiba-tiba berhenti. Untung jalanan belum terlalu ramai, kalau iyya, klakson pasti bersahut-sahutan dari belakang.

Mas Reza menghabiskan air mineral, mengambil nafas lalu membuang kasar. Perlahan ia memijit keningnya.

"Ayah, kenapa? Sakit?” Caca mendekat, memastikan keadaan sang ayah, pun aku melakukan hal sama.

"Trus, Om Danar bilang apalagi?" Mas Reza masih bertanya.

"Udah, ah, ceritanya. Entar ayah tambah sakit kepala kalau dilanjut."

"E-enggak, Sayang. Bukan cerita Om Danar membuat kepala ayah sakit. Ka-karena kerjaan ayah aja," jawab Mas Reza terbata, bibirnya menarik senyum dipaksakan.

"Oo, kirain .... " Caca tersenyum ceria kembali.

"Om Danar bilang Caca dan ayah beruntung banget dapetin bunda. Jadi, Caca dan Ayah harus jagain bunda baik-baik, jangan dibikin nangis, dan jangan tinggalin sendiri."

Caca menjeda kalimatnya, "Ya ..., udah, itu aja. Caca capek ceritanya," lanjutnya menatap lurus ke depan.

"Ayah, Bunda, kita pergi makan di sana, yuk?"

Tangannya kemudian menunjuk warung sekitar lima meter di depan, aku melirik jam di tangan, hampir Duhur. Pantas Caca minta makan.

Aku menunggu reaksi Mas Reza, sepertinya lagi memikirkan sesuatu.

Lelaki berpostur tegap itu, turun dari mobil, membuka pintu tengah kemudian menarik Caca dalam gendongannya.

Dan ia pun menyodorkan tangan ke arahku.

Sontak aku gugup mendapat perlakuan seperti ini. Seperti di drama-drama korea yang lagi naik daun.

Debar kembali berlomba seperti pertunjukan pacuan kuda.

Kusambut tangan kekar itu, lalu turun dari mobil. Sepintas orang yang melihat kami, pasti mengira seperti pada pasangan pada umumnya, bila kemana-mana bergandengan tangan, layaknya kami sekarang.

Jangan tanya keadaan jantungku saat ini, seperti suara knalpot sudah diracing, bising, dan bikin mumet.

Meski kecil, aku berharap dalam hati, cukup diri saja yang tahu, alangkah gaduhnya jantung di balik kulit ini.

Sambil menikmati hidangan di warung lumayan besar, Caca makan sambil terus berceloteh.

Suara notif pesan WA berbunyi beberapa kali, aku merogoh ponsel dalam tas selempangku, sepertinya penting.

Dahiku refleks mengernyit mengetahui pengirim pesan. Mas Reza!

Pesan pertama.

[Kamu harus jalaskan cerita Caca.]

Pesan ke dua.

[Kamu utang penjelasan tentang Danar kepadaku.]

Pesan ke tiga.

[Kamu harus ceritakan! Kenapa Danar begitu tahu tentangmu?]

Kupandangi wajah yang berjarak seukuran meja di depan, netranya fokus menekuri ponsel.

Notif pesan masuk lagi.

[Nggak usah lihat-lihat! Balas aja tu pesan!]

Aku menatap layar dalam tempo lama sambil berfikir, entah bagaimana membalasnya.

[Ntar di rumah aku jelasin semuanya.]

Ya, hanya itu yang kutulis sebagai pesan balasan buatnya, otakku tiba-tiba buntu untuk mencerna.

Perlahan kuangkat kepala memindai wajah pembuat debar itu dengan netra, mencari arti pesan aneh yang jauh dari biasanya.

Baru pertama juga ngirim pesan, langsung berbahasa ketus.

Apakah Mas Reza merasakan hal sama? Seperti aku melihat ia bersama mantannya? Ataukah hanya sekedar mempertahankan harga diri kelakian? Ketika ada pria memuja wanita yang telah ia nikahi?

Kami melanjutkan perjalanan setelah melakukan salat jamaah qasar di masjid kami singgahi. Kurang lebih jam lima nanti sore tiba di rumah.

Di mobil Mas Reza tak seantusias tadi mendengar cerita Caca. Kata, Oo, iya, dan tidak, paling sering keluar dari bibirnya. Sementara aku merangkai kalimat dalam hati, yang akan keluar dari bibir untuk memberi penjelasan tentang Mas Danar sesampai rumah nanti.

Huft keringat dingin membasahi tanganku, sesaat bertemu tatap menghujam dari pemilik mata teduh namun gelisah itu.

Unduh sekarang dan klaim hadiahnya
Scan kode QR dan unduh aplikasi Hinovel