Pustaka
Bahasa Indonesia

ISTRI VS MANTAN

60.0K · Tamat
KAFOM RONA
46
Bab
1.0K
View
9.0
Rating

Ringkasan

Zahrah Maulidia, gadis miskin berusia dua puluh empat tahun. Ikut membantu keuangan keluarga dan sekolah adik-adiknya dengan bekerja pada laundry milik kerabat ibu di kota. Reza Rahardi, duda tiga kali cerai. Menikah dengan Zahrah karena keinginan sang putri yang merupakan anak didik privat Zahrah. Ikatan yang diawali tanpa saling mengenal, berakibat tidak seperti rumah tangga pada umumnya selama dua tahun. Semua berbeda ketika mamah sang putri, mantan isteri Reza meminta rujuk kembali. Apakah Zahrah di hati suaminya? Ataukah Reza masih mengharap pada sang mantan? Ke mana pria maskulin itu melabuhkan pilihan? Selanjutnya Caca, setelah enam tahun berlalu dan telah menginjak usia remaja, terjebak dalam kubangan dosa yang menyebabkan kepergian tiba-tiba orang-orang yang dicintainya. Mampukah Caca bertaubat di tengah dahsyatnya ujian hidup? Pun sanggupkah gadis belia itu memperjuangkan cintanya pada lelaki masa lalu ibu sambungnya?

Romansa

1. CEMBURU

"Aku pengen memperbaiki hubungan kembali, Mas? Kita sebaiknya balikan saja."

Tanpa sengaja aku mendengar percakapan Mas Reza dengan Mbak Rita -mantan istrinya- ketika Caca, putri mereka meminta diantar ke kantor ayahnya.

Belum sempat mendengar jawaban Mas Reza, Caca menarik lenganku. Gadis cilik berusia enam tahun itu, begitu semangat ingin menunjukkan hasil kerja sekolah pada sang ayah.

"Eh, ada mamah rupanya," ucap Caca setelah memberi salam, lalu mencium punggung tangan Mbak Rita. Cepat dibalas pelukan dan ciuman dari wanita berpakain formal nan modis itu.

Caca berpindah ke Mas Reza, menyalami, bergelayut manja, kemudian mengeluarkan sebuah buku gambar dari tas sekolah. Mas Reza memberi apresiasi, Mbak Rita ikut menambahkan pujian. Sesekali tertawa bersama.

Aku duduk di sofa terpisah, memperhatikan serta ikut terseyum. Ada desiran aneh menjalar di hati, mengingat perkataan Mbak Rita sebelum masuk. Apalagi melihat mereka seperti ini, hati terasa ngilu. Nampak seperti keluarga utuh di mataku.

Ah, siapa sih aku?

Pengharapan ini tak boleh banyak apalagi sampai lebih. Mas Reza menikahiku bukan keinginan dirinya, melainkan Oma dan Caca yang meminta.

***

"Zahrah, Caca demam, ia terus mencarimu. Datanglah di rumah sekarang." telepon Oma di seberang.

Sebagai karyawan paruh waktu, segera meminta izin kepada pemilik laundry tempatku bekerja. Dengan cemas kulajukan motor matic yang mulai pudar warnanya menuju rumah Caca di atas rata-rata.

Salsabila Putri, dipanggil Caca, berumur empat tahun. Oma -ibu Mas Reza- ingin cucunya lebih dini mengetahui baca tulis Al-Qur'an, sebelum pelajaran-pelajaran lainnya antri untuk diketahui.

Pendapat yang bagus menurutku pada era serba digital sekarang ini.

Berbekal alumni sekolah agama, tiga kali sepekan sepulang kerja, aku privat ke rumahnya setelah waktu Asar. Tiga hari pula, mengajar TPA di masjid dekat kontrakanku.

Caca anak pintar, cepat memahami materi Iqra yang kuajarkan. Hampir sebulan berinteraksi, membuat kami dekat, mungkin sejak bayi, ia tak pernah merasakan kasih sayang dari ibu kandung dan aku terbiasa menjaga adik-adik waktu kecil, membuat kami cepat akrab.

Menurut cerita Oma, ibunya pergi dua bulan setelah ia lahir. Mengejar karir, kemudian menikah dengan seorang pengusaha kaya.

Waktu Caca berumur satu tahun, ayahnnya -Mas Reza- menikah dengan seorang gadis. Alasan belum pengalaman mengurus anak, istri meminta cerai pada usia tujuh bulan kebersamaan mereka.

Mas Reza kembali menikah seorang janda beranak satu, di usia Caca dua tahun. Sayang, itupun hanya bertahan sepuluh bulan, alasannya pun hampir sama, anak-anak tak sepaham.

Getir Oma bercerita pada saat itu ketika aku selesai mengajar Caca.

Caca langsung bangun memeluk saat aku masuk ke kamar, seorang pria maskulin duduk di sisi tempat tidur yang kuperkirakan ayahnya. Ini pertama kali melihat langsung sosok di bingkai foto ruang tamu rumah megah itu. Selama ini selalu keluar kota tugas kantor katanya.

"Bunda suapin buburnya, ya, Sayang? Caca mengangguk bersamaan mulut terbuka.

Merasa sudah cukup makanan masuk ke perut Caca, kuminumkan paracetamol sirup di atas nakas samping tempat tidurnya. Selang beberapa menit, ia terlelap dalam gendonganku.

***

"Bunda ... Bunda ...!" Suara Caca menyadarkanku dari lintasan waktu dua tahun lalu, mereka semua menatap ke arahku.

"Kenapa, Sayang? Tadi bunda nggak dengar," ucapku mencubit gemes pipinya.

"Mamah ngajakin kita makan di restoran. Bunda ikut, ya?" ajak Caca bergelayut manja. Aku menariknya naik ke pangkuan.

"Iyya, Zahrah. Aku menang tender hari ini sekalian juga rayain keberhasilan Caca dapet nilai bagus. Kita makan-makan, yuk!"

Mbak Rita mengulas senyum manis, tangannya membelai rambut Caca. Sedang Mas Reza berdiri meletakkan map ke meja kerjanya.

"Maaf, Mbak. Bukannya nggak mau. Terlanjur janji sama Raina -adikku- ada pemeliharaan mesin hari ini di rumah loundry," ucapku memasang wajah menyesal.

Sebenarnya Raina bisa mengurus semua itu, tapi aku menjadikannya alasan. Serasa tak sanggup melihat kebersamaan Mas Reza dengan mantannya. Seperti ada yang teremas di balik dada, perih.

Caca memajukan mulut tanda tak setuju, kulirik Mas Reza menatapku lama di balik meja kerjanya.

"Insya Allah, lain kali bunda ikut."

Aku menaikkan jari telunjuk dan jari tengah sebagai tanda kesungguhan pada Caca.

Setelah lama membujuk Caca, akhirnya bersedia ikut juga tanpaku. Maafkan bunda, Nak, aku ingin melindungi rasa tulus ini dengan cara tak melihat moment-moment ayahmu dengan mantannya.

Kami berpisah di persimpangan, karena arah tujuan berbeda. Aku mengendarai mobil sendiri, hadiah Mas Reza di ulang tahun pernikahan pertama, pun saat itu membelikan sebuah rumah di tengah kota yang akhirnya kujadikan rumah laundry.

Tidak cukup satu tahun, rumah Laundry ini berkembang pesat. Sebahagian hasilnya merenovasi rumah orang tua di kampong dan menyekolahkan saudara-saudaraku. Sementara ke dua adikku yang sementara kuliah sebagai pengelola, aku tinggal memantau saja.

Mas Reza suami baik, pekerja keras, dewasa, lembut, dan rupawan. Hanya satu kekurangannya, kami bukan keluarga intim seperti keluarga lain. Dua tahun bersama ia tak pernah menyentuhku, kami tidur di kamar masing-masing.

Awalnya aku maklumi, pernikahan ini memang terjadi murni karena Caca. Tapi, setelah kepindahan Mbak Rita di kantor Mas Reza lima bulan lalu, kekhawatiran menguasaiku. Apalagi dengar-dengar suaminya sudah meninggal.

Aku selalu berusaha berbaik sangka, dengan meyakinkan diri, pekerjaanlah mereka intens bertemu. Namun, kalimat tadi siang dari mulut Mbak Rita langsung, seketika keyakinan itu terbantahkan.

Serasa ada yang menusuk-nusuk benda lunak di dalam dada. Sakit tapi tak berdarah.

"Bunda, lusa kan libur? Kita pergi jalan-jalan, yuk," ajak Caca di meja makan malam sambil memainkan sendok melihat ke arahku.

"Maafkan aku, Sayang. Bunda mau ke rumah nenek besok," jawabku pelan.

Mas Reza tampak mengernyit menatap ke arahku, mungkin heran, sebab tidak biasanya tak berdiskusi dengannya terlebih dahulu.

Horee ... Caca, ikut!"

"Bunda berangkat sendiri, Sayang. Caca sama ayah saja, ya? lagian, Caca, kan, tadi siang udah jalan- jalan sama mamah." Aku mengelus rambutnya.

Mas Reza menatapku lamat, pelan ia mengunyah makanannya.

"Bunda, sekarang nggak sayang lagi sama Caca."

Gadis kecil itu berlari meninggalkan makanannya yang belum habis, gegas aku mengikuti menuju kamarnya.

Lama membujuk, akhirnya anak itu tertidur setelah aku berjanji untuk membatalkan keberangkatan.

Pelan aku keluar dan menutup kamar Caca, bermaksud membenahi bekas makan.

Kaget, nampak Mas Reza di dapur, duduk di meja makan memegang ponselnya. Kulihat meja sudah rapi, piring dan bekas memasakku tadi sudah bersih semua. Tidak biasanya.

Aku memilih duduk di kursi lalu menuangkan air ke gelas dari teko, terasa air pahit lewat tenggorokan. Bayangan percakapan mereka tadi siang tak henti berputar di kepalaku, seperti kaset yang direview terus.

Lemah rasanya membayangkan kemungkinan akan terjadi.

"Sepertinya akhir-akhir ini kamu ada masalah?" tanya Mas Reza lembut dengan tatapan sama.

Aku sedikit kaget mendengar pertanyaannya. Selama ini kami hanya membahas masalah Caca, londry, Oma, dan bapak-ibu. Hampir tak pernah bicara masalah hati.

"Aku hanya rindu aja, Mas, sama ibu."

Kuberanikan diri membalas tatapnya. Jantungku terasa langsung berpacu, mengingat kami tak pernah saling menatap lama.

Mas Reza menelisik setiap inci wajahku, mungkin mencari kebenaran dari ucapan yang melewati gendang telinganya.

"Bukankah dua pekan lalu, bapak-ibu baru pulang, mereka nginap lima hari. Kok tiba-tiba rindu lagi, ya?"

Dia mengingatkanku dengan bahasa candaan, disertai intonasi tetap lembut.

"Mas ...! Selain karena rindu sama bapak-ibu, aku juga rindu suasana kampung halaman."

Mudahan-mudahan jawabanku membuatnya percaya dari alasan sebenarnya.

"Bukan karena menghindari sesuatu?" Netranya menyelidik.

"Bukan," jawabku singkat.

"Tapi aku tak menemukan koneksi antara ucapan dengan matamu." Lekat bola matanya memindai wajahku.

Dahiku refleks terlipat menantang matanya, pun diri langsung tersulut, kalimat terakhir sukses membuat hatiku merontah.

Bukan karena dugaannya sudah benar. Tapi ... Sekuat tenaga kutahan air mata agar tak tumpah.

‘Kalau memang, Mas, tahu hati seseorang melalui mata, kenapa nggak tahu kalau aku menyimpan rasa untukmu? Kenapa engkau tak tahu kalau aku mencemburuimu? Kenapa engkau tak tahu kalau aku mau dibutuhkan bukan sebagai ibu Caca saja, tapi sebagai istrimu? Kenapa ...?’

Ah, sudahlah! Semua kalimat itu hanya kusimpan di hati saja, tak sanggup merangkainya lewat bibir.

"Maaf, Mas, aku mengantuk.

Kuputuskan mengakhiri obrolan. Takut pertahanan ini lemah di hadapannya.

Aku berlalu tanpa menunggu persetujuannya, samar terdengar suaranya memanggil, ia pasti heran dengan perubahan sikapku yang tiba-tiba.

Air mata yang sedari tertahan, kini bebas mengalir di kamar. Kututup mulut dengan bantal, berharap Caca dan Mas Reza tak mendengar.