BAB 4 IBUKU
“Ibuku.”
Suara Adrian rendah dan dingin, tapi cukup membuat dada Alara terasa sesak.
Hujan masih mengetuk kaca jendela kamar besar itu. Lampu redup di sudut ruangan membuat bayangan wajah Adrian tampak lebih tajam, lebih gelap.
Alara berdiri mematung beberapa langkah darinya.
“Ayahku… menghancurkan hidup ibumu?” tanyanya perlahan.
Adrian meneguk whiskey sekali sebelum menjawab. “Dia membuat ibuku percaya pada sesuatu yang tidak pernah nyata.”
“Aku tidak mengerti.”
“Karena kau tidak hidup di masa itu.”
Alara menggenggam ujung kaus basahnya pelan. Kepalanya terasa penuh sejak malam tadi. Pernikahan kontrak. Penembakan. Rahasia keluarga.
Dan sekarang ini.
“Ayahku bukan orang jahat,” katanya pelan, lebih seperti meyakinkan dirinya sendiri.
Tatapan Adrian terangkat padanya.
“Ayahku juga dulu berpikir begitu tentang Fernando Valencia.”
Nama ayahnya terdengar asing saat keluar dari mulut Adrian.
Alara menelan ludah.
“Apa sebenarnya hubungan mereka?”
Hening sesaat.
Lalu Adrian berjalan mendekat perlahan. Langkahnya tenang, tapi entah kenapa selalu membuat Alara tegang.
“Dua puluh tahun lalu,” ucap Adrian, “ayahmu bekerja untuk keluarga Blackwood.”
“Ayahku cuma akuntan.”
“Dan ibuku jatuh cinta pada akuntan itu.”
Napas Alara tercekat.
Mata Adrian tidak menunjukkan emosi saat mengatakan itu. Justru itu yang membuat semuanya terasa lebih berat.
“Mereka menjalin hubungan diam-diam selama hampir tiga tahun.”
“Tidak mungkin…”
“Menurutmu aku berbohong?”
Alara cepat menggeleng. “Bukan begitu. Aku cuma…”
Sulit percaya.
Ayahnya selalu terlihat sangat mencintai ibunya. Bahkan saat perusahaan bangkrut dan hidup mereka runtuh, Fernando Valencia tetap memperlakukan istrinya dengan lembut.
Pria seperti itu meninggalkan wanita lain sampai bunuh diri?
Kepala Alara terasa pening.
“Ayahku bilang dia dan ibuku bertemu saat masih muda.”
“Benar.”
“Lalu bagaimana dengan ibumu?”
Tatapan Adrian berubah dingin lagi.
“Ayahmu meninggalkannya.”
Jawaban itu singkat.
Terlalu singkat untuk luka sebesar itu.
Alara memandang Adrian beberapa detik lebih lama. Ia mulai mengerti sesuatu malam ini.
Pria ini bukan cuma dingin.
Ia terluka.
Dan luka itu membentuknya menjadi seseorang yang sekarang berdiri di depannya.
“Kamu membenci ayahku,” bisik Alara.
“Aku membenci apa yang dia lakukan.”
“Itu beda.”
“Hm.”
Untuk pertama kalinya Adrian tidak membantah.
Alara mengembuskan napas panjang. “Lalu kenapa menikahiku? Kalau semua ini tentang balas dendam, seharusnya kamu senang melihat keluargaku hancur.”
Adrian menatapnya lurus.
“Aku pernah ingin begitu.”
Jawaban jujur itu membuat jantung Alara berdegup aneh.
“Tapi?”
“Lalu aku melihatmu.”
Alara mengernyit bingung.
“Apa hubungannya denganku?”
“Kau berbeda dari ayahmu.”
Kalimat itu menggantung di udara beberapa detik.
Alara tidak tahu kenapa, tapi mendengarnya membuat dadanya terasa hangat sekaligus tidak nyaman.
Adrian memalingkan wajah lebih dulu lalu meletakkan gelasnya di meja.
“Ayahmu membuat banyak musuh saat bekerja untuk keluargaku.”
“Ayahku akuntan, bukan gangster.”
“Di duniaku, orang yang memegang uang jauh lebih berbahaya.”
Alara terdiam.
Ia mulai sadar ada begitu banyak sisi kehidupan ayahnya yang tidak pernah ia ketahui.
Dan itu menakutkan.
Tiba-tiba ponsel Adrian bergetar.
Pria itu melihat layar sebentar sebelum mengangkatnya.
“Apa?”
Wajahnya langsung mengeras.
“Aku bilang jangan sampai ada kebocoran.”
Suara di seberang terdengar panik walau Alara tidak bisa mendengar jelas.
Adrian berjalan sedikit menjauh ke dekat jendela.
“Kalau Romano bergerak lagi malam ini, tembak di tempat.”
Nada suaranya dingin sekali.
Tanpa emosi.
Setelah sambungan terputus, Alara langsung bertanya, “Apa yang terjadi?”
“Rumah sakit ayahmu dijaga ketat sekarang.”
“Berarti memang ada ancaman?”
Adrian tidak menjawab langsung.
Dan itu sudah cukup jadi jawaban.
Perut Alara terasa mual.
“Ini semua gara-gara aku…”
“Tidak.”
Mata abu-abu Adrian kembali tertuju padanya.
“Ini karena mereka ingin membuatku kehilangan kendali.”
“Kamu punya banyak musuh?”
“Sangat banyak.”
Jawaban santai itu membuat Alara frustrasi.
“Kamu ngomong seolah semua ini normal!”
“Karena memang normal bagiku.”
Alara mengacak rambutnya kasar. “Aku benci hidupmu.”
Tatapan Adrian sedikit menyipit.
“Kau baru melihat permukaannya.”
Dan entah kenapa kalimat itu terdengar seperti peringatan.
Hening kembali memenuhi kamar.
Alara mulai merasakan dingin karena pakaian basahnya masih menempel di tubuh. Adrian memperhatikannya sebentar sebelum berjalan ke arah lemari besar.
Ia mengambil sebuah kaus hitam dan celana training.
“Pakai ini.”
Alara menangkap pakaian itu refleks. “Ini punya kamu?”
“Hm.”
“Aku tidak punya pilihan ya?”
“Jarang.”
Alara mendelik kesal, tapi tetap masuk ke kamar mandi.
Beberapa menit kemudian ia keluar dengan pakaian Adrian yang kebesaran. Kaos hitam itu jatuh sampai pertengahan pahanya dan aroma samar cologne pria itu masih melekat di kain.
Saat keluar, Adrian sedang duduk di sofa sambil membaca sesuatu di tablet.
Namun pria itu langsung mengangkat kepala.
Tatapannya berhenti beberapa detik pada Alara.
Dan Alara tiba-tiba merasa salah tingkah.
“Kebesaran,” gumamnya.
“Itu memang tujuan kaus tidur.”
Nada Adrian tetap datar, tapi mata abu-abunya masih mengawasinya terlalu lama.
Alara cepat duduk di sisi lain sofa.
Perutnya tiba-tiba berbunyi kecil.
Ia langsung menutup mata malu.
Astaga.
Adrian menatapnya beberapa detik sebelum berdiri tanpa bicara.
“Kamu mau ke mana?” tanya Alara.
“Kalau manusia lapar, mereka makan.”
“Kamu serius mau ambil makanan sekarang?”
“Aku tidak suka suara itu.”
Alara mengernyit. “Suara apa?”
“Perutmu.”
Untuk pertama kali malam itu, Alara hampir tertawa.
Hampir.
Beberapa menit kemudian Adrian kembali membawa nampan makanan sederhana.
Sup hangat, roti panggang, dan teh.
Alara benar-benar tidak menyangka pria seperti Adrian akan membawa makanan sendiri.
“Kamu bikin aku bingung,” gumamnya pelan.
“Kenapa?”
“Kamu bisa sangat menyeramkan, lalu tiba-tiba…” ia melirik nampan itu, “…begini.”
Adrian duduk di depannya. “Aku tidak pernah bilang aku monster setiap waktu.”
“Bisa saja kamu sedang meracuniku.”
“Kalau aku mau membunuhmu, aku tidak perlu pakai sup.”
Alara mendelik lagi.
Dan Adrian… nyaris tersenyum.
Tipis sekali.
Namun cukup membuat jantung Alara berdebar aneh.
Cepat-cepat ia memalingkan wajah dan mulai makan.
Setelah beberapa suapan, tubuhnya terasa sedikit lebih tenang.
Walau pikirannya tetap kacau.
“Apa semua orang di rumah ini takut padamu?” tanyanya tiba-tiba.
“Hm.”
“Kamu bangga?”
“Aku terbiasa.”
Jawaban itu terdengar lebih sepi daripada sombong.
Alara diam beberapa saat sebelum bertanya lagi, “Kamu tidak punya teman?”
Tatapan Adrian langsung terangkat.
“Aku punya bawahan.”
“Itu bukan teman.”
“Teman membuatmu lemah.”
“Kamu selalu ngomong soal lemah dan kuat.”
“Karena dunia memang seperti itu.”
Alara memperhatikannya diam-diam.
Ia mulai mengerti kenapa Adrian jadi pria sedingin ini.
Lingkungannya membentuknya begitu.
Kesepian membentuknya begitu.
Tiba-tiba lampu kamar berkedip sebentar.
Alara langsung menoleh.
“Apa itu normal?”
Belum sempat Adrian menjawab—
Brak!
Suara keras terdengar dari lantai bawah.
Alara refleks berdiri.
Detik berikutnya alarm keamanan berbunyi nyaring di seluruh mansion.
Wajah Adrian langsung berubah dingin mematikan.
Ia berdiri cepat lalu membuka laci meja samping ranjang dan mengambil pistol hitam.
Jantung Alara langsung berdetak kacau lagi.
Pintu kamar terbuka kasar.
Salah satu pengawal muncul dengan napas memburu.
“Tuan Adrian, mereka menerobos gerbang belakang!”
Tatapan Adrian berubah gelap.
Sangat gelap.
“Berapa orang?”
“Belum pasti.”
Adrian langsung memasukkan pistol ke balik pinggangnya lalu menoleh ke arah Alara.
“Masuk kamar mandi.”
“Apa?”
“Sekarang.”
Nada suaranya tidak memberi ruang bantahan.
“Tapi—”
“Alara.”
Untuk pertama kali pria itu menyebut namanya dengan nada begitu rendah sampai membuat tubuhnya membeku.
“Aku tidak akan mengulang.”
Napas Alara tercekat.
Di luar sana suara tembakan mulai terdengar samar.
Dan saat Adrian berjalan melewatinya menuju pintu, pria itu berhenti sepersekian detik.
Lalu berkata tanpa menoleh—
“Kalau ada orang selain aku yang buka pintu kamar ini, tembak.”
Dan Adrian melempar pistol kecil ke arah Alara.
Bersambung
