Pustaka
Bahasa Indonesia
Bab
Pengaturan

BAB 5 PISTOL KECIL ITU JATUH TEPAT DI TANGAN

Pistol kecil itu jatuh tepat di tangan Alara.

Berat.

Dingin.

Dan membuat napasnya langsung tercekat.

Ia menatap benda itu panik sebelum mengangkat wajah ke arah Adrian. “Aku bahkan tidak tahu cara pakainya!”

Namun pria itu sudah berjalan keluar kamar.

Pintu tertutup keras.

Suara alarm masih meraung di seluruh mansion.

Jantung Alara berdetak kacau.

Ia berdiri mematung beberapa detik sambil menggenggam pistol itu dengan tangan gemetar. Dari luar kamar terdengar langkah kaki berlari dan suara pria-pria berteriak memberi perintah.

Lalu—

Dor!

Suara tembakan memecah udara.

Alara refleks menutup mulutnya sendiri.

Tuhan…

Ini bukan mimpi.

Ia benar-benar berada di tengah perang mafia.

Tubuhnya bergerak mundur perlahan sampai menabrak meja kecil dekat ranjang. Kepalanya terasa penuh. Semua instingnya menyuruh pergi dari tempat ini.

Kabur.

Sekarang juga.

Namun suara Adrian tadi kembali terngiang di kepalanya.

Kalau ada orang selain aku yang buka pintu kamar ini, tembak.

Tangan Alara makin dingin.

Ia tidak mungkin menembak siapa pun.

Ia bahkan gemetar hanya memegang pistol.

Suara kaca pecah terdengar dari bawah.

Disusul teriakan seseorang.

Alara langsung tersentak panik lalu cepat masuk ke kamar mandi seperti perintah Adrian tadi. Ia mengunci pintu lalu duduk di lantai marmer dingin sambil memeluk lutut.

Pistol itu masih ada di tangannya.

Dan anehnya, memegang benda itu sedikit membuatnya merasa aman.

Beberapa menit berlalu sangat lambat.

Suara tembakan di luar masih terdengar sesekali.

Kadang dekat.

Kadang jauh.

Lalu semuanya tiba-tiba hening.

Terlalu hening.

Alara menahan napas.

Ia benci keheningan seperti ini.

Karena biasanya sesuatu yang buruk datang setelahnya.

Tok.

Tok.

Tubuh Alara langsung menegang.

Seseorang mengetuk pintu kamar.

“Nona Alara?”

Suara pria.

Bukan Adrian.

Napas Alara memburu.

“Nona, saya anak buah Tuan Adrian. Kita harus pindah sekarang.”

Tangannya mencengkeram pistol lebih erat.

Ia ingat jelas perkataan Adrian.

Kalau ada orang selain aku yang buka pintu kamar ini, tembak.

“Buka pintunya cepat!”

Nada suara pria itu mulai terdengar mendesak.

Langkah kaki lain terdengar mendekat.

Alara memejamkan mata sebentar mencoba berpikir.

Bagaimana kalau itu benar anak buah Adrian?

Bagaimana kalau ia malah menembak orang yang ingin menyelamatkannya?

Namun sebelum ia sempat memutuskan—

Brak!

Pintu kamar luar seperti dihantam keras.

Suara teriakan langsung pecah.

Dor!

Dor!

Tembakan kembali terdengar sangat dekat.

Alara tersentak hebat.

Detik berikutnya suara seseorang mengerang kesakitan di luar.

Lalu hening lagi.

Napas Alara tercekat.

Perlahan langkah kaki mendekati kamar mandi.

Tok.

Sekali ketukan.

“Alara.”

Tubuhnya langsung lemas mendengar suara rendah itu.

Adrian.

Ia cepat membuka pintu.

Dan langsung membeku.

Pria itu berdiri di depan pintu kamar mandi dengan pistol di tangan kanan dan darah menempel di kemeja hitamnya.

Rambutnya sedikit berantakan. Rahangnya mengeras. Mata abu-abunya masih terlihat dingin dan berbahaya.

Namun begitu melihat Alara, tatapan itu berubah sedikit.

“Kau baik-baik saja?”

Alara mengangguk cepat walau wajahnya pucat.

“Itu darah siapa?”

“Bukan darahku.”

Jawaban itu seharusnya melegakan.

Entah kenapa malah membuat perut Alara mual.

“Orang tadi…” suaranya pelan. “Dia bukan anak buahmu ya?”

“Bukan.”

Adrian melirik pistol kecil di tangan Alara.

“Kau tidak menembak.”

“Aku takut salah.”

Tatapan pria itu bertahan beberapa detik di wajahnya.

Lalu ia berkata pelan, “Bagus.”

Alara mengernyit. “Bukannya kamu suruh aku tembak?”

“Aku ingin lihat apakah kau panik atau berpikir.”

Jawaban itu membuatnya kesal.

“Aku bukan salah satu tes psikopatmu!”

Namun Adrian justru terlihat sedikit tenang mendengar nada marah Alara kembali muncul.

Seolah fakta bahwa gadis itu masih bisa membentaknya berarti semuanya baik-baik saja.

“Tembakan sudah berhenti?” tanya Alara.

“Untuk sementara.”

“Berapa orang yang masuk?”

“Enam.”

Tubuh Alara menegang. “Dan sekarang?”

“Tidak ada yang tersisa.”

Darah Alara terasa dingin.

Cara Adrian mengucapkannya terlalu tenang.

Ia bahkan tidak perlu menjelaskan apa maksudnya.

Tidak ada yang tersisa.

Berarti semuanya mati.

Adrian memperhatikan perubahan wajah Alara lalu berjalan mendekat sedikit.

“Kau mau muntah?”

“Aku…” Alara menelan ludah keras. “Aku cuma belum terbiasa mendengar orang mati seperti angka.”

“Biasakan.”

“Aku tidak mau terbiasa!”

Emosi di suara Alara akhirnya pecah.

Adrian diam menatapnya.

“Kalau aku mulai menganggap semua ini normal,” lanjut Alara dengan napas gemetar, “aku akan jadi sama gilanya dengan kalian.”

Tatapan abu-abu Adrian sedikit menyempit.

Namun bukannya marah, pria itu justru terlihat memikirkan sesuatu.

Lalu perlahan ia mengangguk kecil.

“Bagus.”

Alara bingung. “Apa?”

“Aku tidak butuh wanita yang menikmati darah.”

Kalimat itu membuat Alara diam.

Entah kenapa ada sesuatu dalam nada suara Adrian yang terdengar jujur.

Sangat jujur.

Tiba-tiba Adrian mengangkat tangan menyentuh pipi Alara pelan.

Refleks gadis itu menegang.

“Kau pucat.”

“Aku hampir kena serangan jantung.”

“Tidak. Kau masih cukup galak untuk hidup lama.”

Alara menatapnya tidak percaya.

“Kamu bercanda?”

“Aku sedang mencoba.”

Itu mungkin percobaan bercanda paling buruk yang pernah ia dengar.

Namun anehnya justru membuat ketegangan di dadanya sedikit berkurang.

Sedikit.

Ponsel Adrian kembali berdering.

Pria itu langsung mengangkatnya.

“Apa?”

Wajahnya mengeras lagi.

“Kapan?”

Hening beberapa detik.

Lalu mata abu-abunya berubah jauh lebih dingin.

“Aku akan ke sana.”

Telepon diputus.

“Ada apa lagi?” tanya Alara lelah.

“Ayahmu hilang.”

Dunia Alara langsung runtuh.

“Apa?”

“Sekitar dua puluh menit lalu listrik rumah sakit padam. Saat cadangan menyala, ayahmu sudah tidak ada.”

Napas Alara memburu hebat.

“Tidak… tidak mungkin…”

“Ada orang dalam yang membantu.”

“Ayahku diculik?”

“Kemungkinan besar.”

Tubuh Alara langsung limbung sedikit.

Adrian cepat menangkap lengannya sebelum ia jatuh.

“Aku harus cari dia,” bisik Alara panik. “Aku harus pergi—”

“Dan melakukan apa?”

“Aku tidak tahu!”

Air mata akhirnya jatuh juga.

Pertama kali malam ini.

“Ayahku bisa mati karena aku…”

Adrian menatap wajahnya beberapa detik.

Lalu untuk pertama kalinya sejak mereka bertemu, pria itu menarik Alara ke dalam pelukannya.

Pelukan itu membuat Alara membeku.

Tubuh Adrian hangat. Dadanya keras. Aroma cologne dan hujan masih melekat samar di dirinya.

Dan yang paling mengejutkan—

Pria itu memeluknya erat.

Seolah benar-benar mencoba menenangkannya.

“Ayahmu belum mati,” bisik Adrian rendah di dekat kepalanya. “Selama aku masih bernapas, Romano tidak akan menyentuh keluargamu.”

Suara itu tenang sekali.

Penuh keyakinan berbahaya.

Dan entah kenapa Alara mempercayainya.

Ia membenci kenyataan itu.

Perlahan Alara mencengkeram bagian depan kemeja Adrian tanpa sadar.

Pria itu diam beberapa detik sebelum tangannya mengusap belakang kepala Alara pelan.

Gerakan kecil yang terlalu lembut untuk seseorang seperti Adrian.

“Kamu selalu menyelesaikan masalah pakai kekerasan?” tanya Alara lirih sambil masih menunduk.

“Hampir selalu.”

“Itu menyedihkan.”

“Aku tidak pernah bilang hidupku menyenangkan.”

Alara memejamkan mata sebentar.

Ia masih takut pada Adrian.

Sangat takut.

Namun untuk pertama kali, ia juga mulai melihat sisi lain pria itu.

Sisi yang tidak diperlihatkan pada dunia.

Dan itu justru lebih berbahaya.

Karena semakin ia melihatnya, semakin sulit membenci Adrian sepenuhnya.

Beberapa menit kemudian Adrian melepaskan pelukannya perlahan.

“Kita pergi sekarang.”

“Ke mana?”

“Mencari ayahmu.”

Alara langsung mengangkat wajah. “Aku ikut.”

“Tidak.”

“Aku tidak akan tinggal di sini sendirian!”

“Kau tetap target.”

“Aku juga anaknya!”

Tatapan mereka bertabrakan.

Keras kepala melawan keras kepala.

Akhirnya Adrian mengembuskan napas pendek.

“Kau akan tetap di dekatku.”

Itu bukan izin.

Lebih seperti aturan baru.

Namun Alara terlalu panik untuk memperdebatkannya.

Beberapa menit kemudian mereka berjalan cepat melewati lorong mansion yang masih dipenuhi pengawal bersenjata.

Beberapa bagian rumah terlihat rusak akibat baku tembak tadi.

Darah bahkan masih terlihat di lantai marmer dekat tangga.

Alara langsung memalingkan wajah.

Adrian menangkap reaksinya tanpa bicara.

Lalu tiba-tiba pria itu menggenggam tangan Alara.

Hangat.

Kuat.

Alara menoleh kaget.

“Apa?”

“Kau gemetar.”

“Aku tidak butuh digandeng.”

Namun Adrian tidak melepas tangannya.

“Anggap saja aku tidak suka kau berjalan terlalu jauh dariku.”

Kalimat itu membuat jantung Alara berdetak aneh lagi.

Ia membenci efek pria ini pada dirinya.

Benar-benar membenci.

Mereka akhirnya sampai di garasi bawah tanah.

Deretan mobil hitam sudah menunggu.

Salah satu pengawal mendekat cepat. “Lokasi terakhir Tuan Fernando terlacak di pelabuhan timur.”

Tatapan Adrian langsung berubah dingin mematikan.

Pelabuhan timur.

Alara bisa merasakan perubahan atmosfer hanya dari cara semua orang langsung tegang mendengar tempat itu.

“Ada apa dengan pelabuhan timur?” tanyanya pelan.

Mata Adrian perlahan menoleh padanya.

Dan untuk pertama kali malam itu, Alara melihat sesuatu yang mirip kemarahan bercampur kekhawatiran di mata abu-abu tersebut.

“Itu wilayah Romano.”

Bersambung

Unduh sekarang dan klaim hadiahnya
Scan kode QR dan unduh aplikasi Hinovel