BAB 3 PISTOL ITU MENEMPEL TEPAT DI PELIPIS ALARA
Moncong pistol itu menempel tepat di pelipis Alara.
Dingin.
Tangannya langsung gemetar hebat.
Pria bertopeng di depan pintu mobil mencengkeram lengannya kasar sambil menarik tubuhnya keluar ke tengah hujan. Sepatu Alara hampir terpeleset di aspal basah.
“Lepas— sakit!” desisnya panik.
Namun pria itu justru menekan pistol lebih keras ke kepalanya.
“Diam kalau mau hidup.”
Napas Alara memburu. Air hujan membasahi rambut dan wajahnya dalam hitungan detik. Di sekitar jalan yang sepi itu, suara tembakan masih bersahutan memekakkan telinga.
Lalu matanya bertemu Adrian.
Pria itu berdiri sekitar beberapa meter darinya dengan pistol di tangan kanan. Jas hitam mahalnya basah terkena hujan, rahangnya mengeras, dan mata abu-abunya kini terlihat jauh lebih gelap dari biasanya.
Berbahaya.
Sangat berbahaya.
Dua pria bersenjata sudah terkapar di dekatnya. Salah satunya tidak bergerak sama sekali.
Namun Adrian bahkan tidak melirik mereka.
Tatapannya hanya tertuju pada Alara.
“Aturannya berubah sekarang, Blackwood!” bentak pria bertopeng itu. “Turunkan senjatamu!”
Tak ada jawaban.
Adrian hanya berdiri diam.
Terlalu diam.
Itu justru membuat Alara makin takut.
Pria bertopeng itu mulai panik. Tangannya sedikit bergetar saat menarik Alara lebih dekat ke tubuhnya.
“Aku bilang turunkan senjatamu!”
Perlahan, Adrian mengangkat pistolnya sedikit.
Namun bukan untuk menyerah.
Ia justru mengarahkannya tepat ke kepala pria itu.
Alara membeku.
“Adrian…” suaranya pecah pelan.
Mata abu-abu itu bergeser padanya sesaat.
“Aku bilang jangan bergerak,” ucap Adrian dingin.
Pria bertopeng tertawa kasar. “Kau pikir aku takut mati?”
“Tidak.”
Nada suara Adrian rendah dan tenang.
“Tapi kau takut gagal.”
Detik berikutnya semuanya terjadi terlalu cepat.
Dor!
Suara tembakan meledak.
Alara menjerit refleks saat tubuh pria yang menyanderanya tiba-tiba limbung ke belakang.
Darah bercampur air hujan muncrat ke jalan.
Adrian menembak tepat di dahinya.
Tubuh pria itu jatuh keras ke aspal.
Alara langsung terduduk lemas di jalan sambil gemetar hebat. Pendengarannya berdenging. Napasnya kacau.
Ia baru saja melihat seseorang mati tepat di depan matanya.
Dan Adrian melakukannya tanpa ragu sedikit pun.
Langkah cepat menghampirinya.
Beberapa detik kemudian tubuh Alara sudah ditarik berdiri oleh Adrian.
“Kau terluka?”
Suara pria itu terdengar rendah, tapi ada sesuatu yang berbeda di sana.
Khawatir.
Tipis sekali, namun Alara menangkapnya.
Ia menatap Adrian dengan napas memburu. “Kamu… membunuhnya…”
“Aku menyelamatkanmu.”
“Kamu menembak kepalanya!”
“Karena dia menyentuhmu.”
Jawaban itu membuat Alara terdiam.
Hujan masih turun deras di antara mereka.
Untuk sesaat dunia terasa aneh.
Kacau.
Menyesakkan.
Dan Adrian berdiri tepat di tengah semua kekacauan itu seperti raja kegelapan yang tak tersentuh.
“Tuan!” salah satu pengawal berlari mendekat. “Kita harus pergi sekarang sebelum polisi datang!”
Adrian langsung menarik Alara menuju mobil lain.
“Aku bisa jalan sendiri,” protes Alara lemah.
“Tadi kau hampir diculik.”
“Aku tidak tuli.”
Pria itu membuka pintu mobil kasar lalu mendorong Alara masuk sebelum ikut duduk di sampingnya.
Mobil langsung melaju cepat meninggalkan lokasi.
Di dalam mobil suasana terasa mencekam.
Tangan Alara masih gemetar tanpa bisa dikendalikan. Bayangan darah di jalan tadi terus muncul di kepalanya.
Ia menunduk menatap jemarinya sendiri yang basah dan dingin.
Lalu tiba-tiba sebuah sapu tangan hitam dilempar ke pangkuannya.
Alara mengangkat wajah.
Adrian duduk bersandar sambil menatap lurus ke depan.
“Bersihkan wajahmu.”
Nada suaranya kembali datar seperti biasa.
Alara menggenggam sapu tangan itu pelan. Masih ada aroma samar cologne Adrian di sana.
“Kamu selalu seperti itu?” tanyanya lirih.
“Seperti apa?”
“Membunuh orang tanpa merasa apa-apa.”
Hening beberapa detik.
“Kalau aku ragu tadi,” jawab Adrian akhirnya, “yang mati sekarang mungkin kamu.”
Alara menggigit bibir bawahnya.
Ia tahu pria itu benar.
Tapi tetap saja…
Normal manusia bukan seperti ini.
“Berapa banyak orang yang sudah kamu bunuh?” pertanyaan itu keluar pelan.
Mata Adrian akhirnya bergeser menatapnya.
Dingin.
“Jangan tanya hal yang tidak ingin kamu dengar jawabannya.”
Perut Alara terasa tidak nyaman.
Ia memalingkan wajah ke jendela.
Kota malam masih dipenuhi hujan dan lampu kabur. Mobil mereka melaju cepat melewati jalanan kosong dengan dua mobil pengawal di depan dan belakang.
Semua terasa tidak nyata.
Kemarin ia masih bekerja di galeri seni kecil sambil memikirkan tagihan rumah sakit ibunya.
Sekarang?
Ia menikah dengan mafia dan nyaris ditembak di jalan.
“Kenapa mereka mengincarku?” tanyanya lagi pelan.
“Kau alat untuk menyerangku.”
“Karena aku istrimu?”
“Iya.”
Alara tertawa kecil pahit. “Aku bahkan belum sehari jadi istrimu.”
“Di duniaku, itu sudah cukup.”
Nada suaranya dingin sekali.
Alara memejamkan mata lelah.
Ia mulai membenci dunia Adrian bahkan sebelum benar-benar masuk ke dalamnya.
Sekitar tiga puluh menit kemudian mobil akhirnya memasuki gerbang besi hitam raksasa.
Mata Alara sedikit melebar.
Di balik gerbang itu berdiri mansion besar bergaya modern yang tampak lebih seperti benteng pribadi daripada rumah.
Penjaga bersenjata berjaga di setiap sudut.
Lampu taman menyala redup di tengah hujan.
Mobil berhenti tepat di depan pintu utama.
Salah satu pelayan langsung membuka payung besar saat Adrian turun lebih dulu.
Alara ikut keluar perlahan.
Ia langsung terpaku melihat mansion itu lebih dekat.
Besar.
Mewah.
Dingin.
Persis seperti pemiliknya.
“Masuk,” ujar Adrian singkat.
Begitu memasuki rumah, hawa hangat langsung menyambut mereka. Interior mansion itu didominasi warna hitam, abu, dan cokelat gelap.
Elegan.
Tapi terasa tanpa kehidupan.
Tak ada foto keluarga.
Tak ada dekorasi hangat.
Rumah ini terlihat seperti tempat seseorang tinggal sendirian terlalu lama.
Seorang wanita paruh baya mendekat cepat. “Tuan Adrian.”
Tatapan wanita itu langsung jatuh ke Alara yang basah kuyup.
“Oh Tuhan…”
“Siapkan kamar untuknya,” kata Adrian.
“Baik, Tuan.”
“Aku bisa urus sendiri,” sela Alara cepat.
Wanita itu tersenyum lembut. “Saya Clara, kepala pelayan di sini.”
Alara mengangguk kecil sopan.
Sudah lama ia tidak melihat senyum tulus malam ini.
“Bawa dia ke kamar utama,” lanjut Adrian.
Alara langsung menoleh cepat. “Kamar utama?”
“Iya.”
“Aku tidak mau sekamar denganmu.”
Clara langsung terlihat canggung.
Namun Adrian tetap tenang. “Kita suami istri.”
“Kontrak.”
“Di mata orang lain tetap sama.”
“Aku tetap tidak mau.”
Tatapan Adrian turun ke wajahnya beberapa detik.
Lalu ia berkata pelan, “Kalau kau tidur sendiri malam ini, kemungkinan besar kau tidak akan bisa tidur nyenyak.”
“Apa maksudmu?”
“Romano tahu wajahmu sekarang.”
Darah Alara terasa dingin lagi.
Adrian melangkah mendekat sedikit.
“Dan mereka akan mencoba lagi.”
Tidak ada ancaman dalam suaranya kali ini.
Hanya fakta.
Itu justru lebih menakutkan.
Alara menelan ludah pelan.
“Aku benci saat kamu benar.”
“Aku terbiasa.”
Ia mendelik kesal.
Namun sebelum sempat membalas, Adrian tiba-tiba mengangkat tangan menyentuh pipi Alara pelan.
Alara langsung membeku.
Ibu jarinya mengusap goresan kecil di dekat rahang Alara akibat serpihan kaca tadi.
Tatapan Adrian berubah sedikit lebih tajam.
“Kau terluka.”
“Cuma lecet.”
“Tetap harus dibersihkan.”
Nada suaranya rendah dan tenang.
Terlalu dekat.
Alara membenci efek aneh yang muncul setiap pria itu menatapnya seperti sekarang.
Seolah dunia di sekitar mereka menghilang sesaat.
Lalu Adrian menarik tangannya kembali.
“Clara.”
“Ya, Tuan?”
“Ambil kotak P3K.”
Beberapa menit kemudian Alara duduk di sofa besar kamar utama sambil menahan napas saat Clara membersihkan luka kecil di wajahnya.
Kamar Adrian ternyata jauh lebih besar dari apartemen lamanya.
Minimalis.
Gelap.
Dan sangat rapi.
Tidak ada barang pribadi selain beberapa jam tangan mahal dan rak buku besar.
“Sedikit perih, Nona,” ujar Clara lembut.
Alara meringis kecil.
Pintu kamar terbuka.
Adrian masuk setelah berganti pakaian hitam bersih. Rambutnya masih sedikit basah, membuat penampilannya justru terlihat lebih berbahaya.
Mata Alara refleks memperhatikannya.
Dan Adrian menyadarinya.
Tatapan mereka bertemu sepersekian detik sebelum Alara cepat memalingkan wajah.
Memalukan.
Kenapa ia malah gugup?
“Semua aman?” tanya Adrian pada salah satu pengawal di belakangnya.
“Untuk sementara, ya Tuan.”
“Perketat penjagaan.”
“Baik.”
Setelah pengawal pergi, Clara ikut pamit meninggalkan mereka berdua.
Kini suasana kembali sunyi.
Alara berdiri perlahan. “Aku mau pulang.”
Jawaban itu langsung membuat Adrian menatapnya.
“Tidak.”
“Ayah dan ibuku pasti butuh aku.”
“Mereka lebih aman tanpa kau di dekat mereka sekarang.”
“Aku bukan tahanan.”
“Kau target.”
“Aku tetap manusia, Adrian!”
Nada suara Alara akhirnya pecah oleh emosi.
Pria itu diam menatapnya beberapa detik.
Lalu berjalan mendekat perlahan.
“Dan karena kau manusia,” katanya rendah, “aku tidak akan membiarkan mereka memakai kau untuk menghancurkanku.”
Kalimat itu terdengar possessive sekali.
Alara mengerutkan kening. “Kenapa aku merasa ini bukan cuma soal bisnis?”
Tatapan Adrian berubah tipis.
Sangat tipis.
Namun cukup untuk membuat Alara sadar ia menyentuh sesuatu yang sensitif.
“Apa sebenarnya hubungan keluargaku denganmu?” tanyanya pelan.
Hening.
Lalu Adrian berkata lirih—
“Ayahmu pernah menyelamatkan nyawaku.”
Alara membeku.
“Apa?”
“Tapi setelah itu… dia juga menghancurkan hidup seseorang.”
Jantung Alara langsung berdegup lebih keras.
“Seseorang siapa?”
Adrian menatapnya lama.
Terlalu lama.
Dan saat pria itu akhirnya membuka suara, nada dinginnya terasa jauh lebih gelap dibanding sebelumnya.
“Ibuku.”
Bersambung
