BAB 2 RUANGAN ITU MENDADAK TERASA LEBIH SEMPIT
Ruangan itu mendadak terasa lebih sempit.
Alara masih berdiri di tempatnya ketika pria berdarah tadi menundukkan kepala pada Adrian dengan napas memburu. Udara di penthouse berubah tegang dalam sekejap, seperti sebelum badai besar menghantam.
Mata abu-abu Adrian tetap tertuju pada Alara.
Dingin.
Tajam.
Namun sekarang ada sesuatu lain di sana. Sesuatu yang bahkan lebih mengganggu daripada ancaman.
Kalkulasi.
Seolah otaknya sedang bergerak cepat memikirkan sesuatu yang tidak dipahami Alara.
“Apa maksudnya mereka tahu soal aku?” tanya Alara pelan.
Tak ada jawaban.
Adrian justru berjalan melewatinya menuju meja bar. Ia menuang whiskey baru tanpa terlihat tergesa sedikit pun. Padahal pria yang datang tadi jelas hampir pingsan karena panik.
“Tuan,” ucap pria itu lagi, lebih pelan kali ini. “Kita harus pindahkan Nona Alara sekarang.”
Alara menoleh cepat.
“Pindahkan?”
Adrian meneguk whiskey-nya sekali sebelum akhirnya bicara. “Keluar.”
“Tapi—”
“Sekarang.”
Nada rendah itu langsung membuat pria tersebut diam. Ia menunduk lalu pergi bersama dua pengawal lain yang sejak tadi berjaga di luar.
Pintu menutup.
Sunyi lagi.
Namun kali ini sunyinya terasa lebih menyeramkan.
Alara memeluk dirinya sendiri tanpa sadar. “Seseorang mau membunuhku?”
“Belum.”
Jawaban Adrian membuat napasnya tercekat.
“Belum?”
“Kalau mereka benar-benar mau membunuhmu, kamu tidak akan sempat sampai ke gedung ini.”
Alara menatapnya tidak percaya. “Kamu bicara seolah itu hal biasa.”
“Memang biasa.”
Pria itu mengatakan kalimat mengerikan itu sambil meletakkan gelasnya dengan tenang.
Alara mulai sadar bahwa dunia Adrian benar-benar berbeda dari dunianya.
Di dunia pria itu, ancaman pembunuhan terdengar biasa seperti rapat bisnis.
Ia menggeleng pelan. “Aku tidak mengerti apa yang sebenarnya terjadi.”
“Kamu tidak perlu mengerti.”
“Aku sudah terlibat sekarang.”
“Karena itu aku akan menjagamu tetap hidup.”
Nada suara Adrian tetap datar, tapi entah kenapa kalimat itu membuat jantung Alara berdegup aneh.
Ia membenci dirinya sendiri karena sedikit merasa aman mendengarnya.
“Siapa Romano?” tanyanya hati-hati.
Mata Adrian langsung berubah dingin lagi.
“Musuh.”
“Musuh bisnis?”
“Hm.”
“Kamu mafia ya?”
Pertanyaan itu membuat suasana kembali hening.
Adrian menatapnya beberapa detik tanpa ekspresi. “Kalau aku bilang iya?”
Alara berusaha terlihat tenang walau tenggorokannya mengering. “Setidaknya aku tahu aku baru saja menikahi psikopat.”
Anehnya, Adrian malah mengembuskan napas pendek seperti hampir tertawa.
Sangat tipis.
Hampir tidak terlihat.
Namun itu cukup membuat Alara terpaku.
Pria ini ternyata masih manusia.
Sedikit.
“Kalau aku psikopat,” katanya pelan, “kamu sudah menangis dari tadi.”
“Siapa bilang aku tidak mau menangis?”
“Karena kamu terlalu keras kepala.”
Alara mendengus pelan. “Dan kamu terlalu suka mengontrol orang.”
“Itu cara bertahan hidup.”
Jawaban itu terdengar terlalu cepat. Terlalu otomatis.
Seolah Adrian memang hidup di dunia yang memaksanya menjadi monster.
Sebelum Alara sempat membalas, ponselnya tiba-tiba bergetar di dalam tas.
Nama ibunya muncul di layar.
Dadanya langsung sesak.
Ia cepat mengangkat telepon itu. “Ibu?”
“Alara…” suara wanita itu terdengar lemah dan gemetar. “Kamu di mana, Nak?”
“Aku baik-baik saja.”
“Kata polisi penyelidikan ayahmu dihentikan sementara. Apa itu benar?”
Alara terdiam.
Tatapannya perlahan beralih ke Adrian yang sedang memperhatikannya dari kejauhan.
Pria itu benar-benar menepati janjinya secepat ini.
“Iya,” jawab Alara lirih. “Ayah aman sekarang.”
Suara tangis kecil terdengar dari ujung sana.
“Syukurlah… Ibu takut sekali…”
Alara menggigit bibir menahan emosinya sendiri.
Ia ingin bilang semuanya akan baik-baik saja.
Tapi ia bahkan tidak yakin hidupnya sendiri masih baik-baik saja.
“Alara?” suara ibunya kembali terdengar. “Apa kamu menangis?”
“Tidak.”
“Kamu bohong.”
Alara menutup mata sesaat.
Seumur hidup, ibunya selalu bisa tahu kapan ia sedang hancur.
Namun sekarang ia tidak bisa mengatakan kebenaran.
Bahwa demi menyelamatkan keluarga mereka, ia baru saja menjual hidupnya pada pria paling berbahaya di kota.
“Aku cuma capek,” katanya akhirnya.
Setelah beberapa menit menenangkan ibunya, Alara memutus sambungan telepon perlahan.
Saat ia mengangkat wajah, Adrian masih berdiri di tempat yang sama.
Memperhatikannya.
“Ayahmu akan dipindahkan ke rumah sakit yang lebih aman malam ini,” katanya.
Alara mengernyit. “Kenapa?”
“Ada kemungkinan Romano akan menggunakannya untuk memancingku.”
Tubuh Alara langsung menegang.
“Karena aku?”
“Karena sekarang kamu istriku.”
Kalimat itu terdengar begitu possessive sampai membuat dadanya berdebar tidak nyaman.
“Aku bahkan belum tahu kenapa kamu memilihku.”
Adrian diam sesaat.
Lalu ia berjalan mendekat lagi.
“Kamu benar-benar ingin tahu?”
“Iya.”
Tatapan abu-abu itu turun ke wajahnya. “Karena ayahmu pernah bekerja untuk ayahku.”
Alara membeku.
“Apa?”
“Dua puluh tahun lalu.”
“Itu tidak mungkin.”
“Kenapa?”
“Ayahku cuma akuntan biasa.”
“Sebelum bangkrut, iya.”
Alara menggeleng pelan. “Ayahku tidak pernah bilang soal itu.”
“Banyak hal yang tidak pernah dia bilang.”
Nada suara Adrian berubah sedikit lebih dingin.
Alara langsung menangkap perubahan itu.
“Kamu membenci ayahku?”
“Tidak.”
“Tapi?”
Adrian menatap jendela hujan beberapa detik sebelum menjawab.
“Dia membuat kesalahan besar.”
Perut Alara terasa tidak nyaman.
Ada sesuatu yang disembunyikan pria ini.
Sesuatu yang berhubungan dengan masa lalu keluarga mereka.
Dan entah kenapa, Alara merasa semua ini bukan kebetulan.
Pernikahan ini.
Kebangkrutan ayahnya.
Romano.
Semua terlalu terhubung.
“Apa ini balas dendam?” tanyanya perlahan.
Mata Adrian kembali menatapnya.
Lama.
“Kalau iya?”
Alara tercekat.
Dadanya tiba-tiba terasa panas oleh marah dan takut sekaligus.
“Kamu menghancurkan keluargaku demi balas dendam?”
“Aku menyelamatkan mereka.”
“Kamu memaksaku menikah!”
“Aku memberimu pilihan terbaik yang tersisa.”
Alara tertawa pendek penuh emosi. “Pilihan? Hidup bersama mafia dingin yang bahkan tidak punya hati?”
Kalimat itu menggantung di udara.
Salah.
Ia langsung sadar dirinya kelewatan.
Tatapan Adrian berubah sangat dingin.
Namun pria itu tidak marah.
Justru itu lebih buruk.
Ia melangkah mendekat sampai Alara refleks mundur satu langkah.
Tapi Adrian lebih cepat.
Tangannya menahan pinggang Alara sebelum gadis itu sempat menjauh lagi.
Napas Alara tercekat.
“Lepaskan.”
“Kalau aku tidak punya hati,” bisik Adrian rendah di dekat wajahnya, “ayahmu sudah membusuk di sel tahanan malam ini.”
Alara menatap matanya.
Dekat sekali.
Dan untuk sesaat, ia melihat sesuatu di sana.
Kelelahan.
Kesepian.
Lalu semuanya hilang lagi tertutup dingin yang biasa.
Adrian melepaskannya perlahan.
“Tuan.”
Suara pengawal dari luar pintu memecah suasana.
“Mobil sudah siap.”
Adrian mengangguk kecil tanpa mengalihkan pandangan dari Alara.
“Kita pergi sekarang.”
“Ke mana?”
“Rumah.”
Alara hampir tertawa sinis mendengar kata itu.
Rumah?
Ia baru menikah satu jam lalu.
Dan sekarang pria ini bicara seolah semuanya normal.
“Aku tidak punya pakaian.”
“Kamu akan dibelikan.”
“Aku tidak mau tinggal denganmu.”
“Kamu sudah tanda tangan kontrak.”
Alara menatap frustrasi ke arah lain. “Aku membencimu.”
“Aku tahu.”
Jawaban santai itu justru makin membuatnya kesal.
Beberapa menit kemudian mereka turun menuju parkiran pribadi gedung.
Empat mobil hitam sudah berjajar di sana bersama belasan pria bersenjata.
Alara langsung berhenti berjalan.
“Ini berlebihan.”
“Tidak.”
“Aku bukan presiden.”
“Kamu target potensial.”
Nada Adrian tetap datar seolah hal itu normal.
Pria itu membuka pintu mobil untuknya.
Alara masuk dengan enggan.
Sepanjang perjalanan, hujan semakin deras membasahi kaca mobil. Kota malam tampak kabur oleh lampu dan genangan air.
Adrian duduk di sampingnya sambil membaca sesuatu di tablet hitam.
Diam.
Dingin.
Membuat Alara makin sadar bahwa hidupnya benar-benar berubah malam ini.
Tiba-tiba mobil depan mengerem mendadak.
Brak!
Mobil mereka ikut berhenti keras.
Tubuh Alara terdorong ke depan sebelum Adrian refleks menariknya kembali.
“Apa yang terjadi?” tanya Alara panik.
Belum sempat ada jawaban—
Dor!
Suara tembakan memekakkan telinga.
Alara menjerit kecil refleks.
“Turun!” bentak salah satu pengawal dari depan.
Adrian langsung menarik tubuh Alara merunduk ke bawah kursi tepat saat suara tembakan lain menghantam kaca mobil.
Craaaak!
Kaca antipeluru retak.
Napas Alara memburu.
Ia gemetar hebat.
Ini nyata.
Tuhan…
Ini nyata.
Adrian tetap tenang luar biasa di tengah kekacauan itu. Ia mengambil pistol dari balik jasnya dengan gerakan cepat dan presisi.
“Tetap di bawah,” katanya dingin.
Alara mencengkeram lengan jas Adrian tanpa sadar. “Jangan pergi…”
Kalimat itu lolos begitu saja.
Mata Adrian turun ke wajahnya.
Untuk sepersekian detik, tatapan dingin pria itu melembut tipis.
Sangat tipis.
Lalu suara ledakan lain terdengar dari luar.
Adrian melepaskan genggaman Alara perlahan.
“Kunci pintunya.”
“Adrian—”
Pria itu sudah keluar dari mobil.
Suara tembakan langsung pecah semakin brutal di luar sana.
Alara menutup mulutnya sendiri menahan napas.
Ia bisa melihat samar bayangan pria-pria bersenjata di tengah hujan deras.
Dan di antara semuanya—
Adrian berdiri paling depan.
Tenang.
Mematikan.
Seperti iblis yang memang lahir untuk dunia penuh darah itu.
Dor!
Dor!
Dua pria jatuh hampir bersamaan.
Alara membeku melihatnya.
Tidak ada keraguan di wajah Adrian saat menarik pelatuk.
Tidak ada rasa takut.
Seolah kekerasan memang bagian alami dirinya.
Lalu tiba-tiba—
Seseorang membuka pintu mobil belakang.
Alara menoleh cepat.
Seorang pria asing bertopeng sudah berdiri di sana sambil mengarahkan pistol tepat ke kepalanya.
“Dapat kau.”
Dunia Alara berhenti.
Dan dari luar mobil, suara Adrian berubah untuk pertama kalinya malam itu.
Penuh amarah mematikan.
“JANGAN SENTUH DIA!”
Bersambung
