Pustaka
Bahasa Indonesia
Bab
Pengaturan

BAB 1 KALA KAMU TIDAK TANDA TANGAN MALAM INI

“Kalau kamu tidak tanda tangan malam ini ayahmu masuk penjara besok pagi.”

Tangan Alara membeku di atas meja kaca hitam itu. Jari-jarinya yang dingin menggenggam pulpen dengan begitu kuat sampai buku jarinya memutih. Di depannya, selembar kontrak setebal hampir dua puluh halaman tergeletak seperti hukuman mati.

Ruangan itu terlalu sunyi untuk ukuran gedung sebesar ini.

Hanya suara hujan yang menghantam jendela tinggi apartemen penthouse dan denting samar es batu dari gelas whiskey di sudut meja.

Alara menelan ludah pelan.

“Aku tidak percaya kalian serius,” gumamnya lirih.

Pria paruh baya di sampingnya—pengacara keluarga Blackwood—tidak menunjukkan ekspresi apa pun. “Tuan Adrian tidak suka mengulang penawaran.”

Alara mengangkat wajah. Tatapannya langsung bertabrakan dengan sosok pria yang duduk di seberang meja panjang itu.

Adrian Blackwood.

Nama yang selama ini hanya ia dengar dari bisik-bisik ketakutan.

CEO Blackwood Holdings. Penguasa bisnis pelabuhan terbesar di kota. Dan, menurut rumor yang beredar di kalangan elite, seorang mafia yang tangannya mengendalikan setengah dunia bawah tanah.

Pria itu duduk santai dengan jas hitam mahal yang melekat sempurna di tubuh tinggi tegapnya. Rambut hitamnya tersisir rapi, rahangnya tajam, dan mata abu-abunya begitu dingin sampai membuat Alara merasa seperti sedang ditelanjangi hidup-hidup.

Tidak ada emosi di sana.

Tidak marah.

Tidak tergesa.

Tidak tertarik.

Seolah hidup manusia memang cuma angka yang bisa dibeli.

Adrian memutar gelas whiskey perlahan. “Aku tidak punya banyak waktu.”

Nada suaranya rendah dan datar. Tapi justru itu yang membuatnya lebih menakutkan.

Alara menarik napas panjang berusaha menenangkan dirinya. “Kamu memaksaku menikah demi menyelamatkan perusahaan ayahku?”

“Bukan.”

Jawaban itu membuatnya mengernyit.

Adrian mengangkat mata perlahan ke arahnya. “Aku memaksamu menikah untuk menyelamatkan ayahmu dari penjara. Perusahaannya sudah tidak bisa diselamatkan.”

Tubuh Alara menegang.

Sakit.

Kalimat itu terasa seperti pisau yang diputar perlahan di dadanya.

Dua bulan terakhir hidupnya runtuh satu per satu. Hutang perusahaan ayahnya terbongkar. Investor menarik dana. Rumah mereka disita. Dan tadi sore polisi datang membawa surat penyelidikan atas tuduhan pencucian uang.

Ayahnya menangis untuk pertama kali di depan Alara.

Lalu satu jam kemudian, pria bernama Adrian Blackwood mengirim mobil untuk menjemputnya.

“Kenapa aku?” tanya Alara akhirnya. “Di luar sana banyak perempuan yang lebih cocok untukmu.”

“Benar.”

“Lalu kenapa?”

Adrian diam sesaat. Tatapannya turun ke kontrak di depan Alara.

“Karena aku memilihmu.”

Jawaban singkat itu justru membuat bulu kuduk Alara meremang.

Ia membenci cara pria itu bicara. Tenang. Dingin. Seolah semuanya sudah diatur dan tidak ada seorang pun yang bisa melawan keputusan Adrian Blackwood.

Alara mendorong kontrak itu sedikit menjauh.

“Aku bahkan tidak mengenalmu.”

“Kamu tidak perlu mengenalku.”

“Aku bukan barang.”

Adrian tersenyum tipis.

Itu bukan senyum hangat. Lebih mirip peringatan.

“Aku tahu.”

“Kalau begitu berhenti memperlakukanku seperti tawanan.”

“Kalau kamu benar-benar tawanan,” katanya pelan, “kamu tidak akan diberi pilihan untuk membaca kontraknya.”

Napas Alara tercekat.

Ia benci karena sebagian dirinya takut pada pria ini.

Bukan takut dipukul atau disakiti secara langsung.

Lebih buruk.

Takut kehilangan kendali.

Adrian memiliki aura yang membuat siapa pun otomatis tunduk. Tatapannya tajam dan dingin seperti malam musim dingin. Bahkan para pria bersenjata yang berdiri di dekat pintu tampak segan padanya.

Alara kembali melihat isi kontrak itu.

Pernikahan kontrak selama dua tahun.

Tidak boleh mengkhianati nama keluarga Blackwood.

Harus tinggal bersama Adrian.

Tidak boleh mengajukan perceraian sebelum waktu yang ditentukan.

Dan yang paling membuat dadanya sesak—

Tidak boleh jatuh cinta.

Alara mengangkat kepala cepat. “Ini lelucon?”

“Bagian mana?”

Ia menunjuk salah satu pasal. “Kenapa ada aturan seperti ini?”

“Karena cinta membuat manusia bodoh.”

Tatapan Adrian kosong saat mengatakannya.

Seolah ia bicara dari pengalaman.

Alara memperhatikan pria itu beberapa detik lebih lama.

Untuk pertama kalinya, ia menyadari sesuatu.

Di balik sikap dingin dan kuasa yang dimiliki Adrian, ada sesuatu yang gelap di matanya. Sesuatu yang tampak… rusak.

Seperti seseorang yang sudah terlalu lama hidup bersama kebencian.

“Siapa yang pernah menghancurkanmu?” pertanyaan itu lolos begitu saja dari bibir Alara.

Ruangan langsung membeku.

Pengacara di sampingnya bahkan menahan napas.

Mata abu-abu Adrian terangkat perlahan menatapnya.

Tatapan itu tajam sekali.

Berbahaya.

Untuk sesaat Alara merasa mungkin ia baru saja membuat kesalahan fatal.

Namun anehnya Adrian tidak marah.

Ia justru menatap Alara lebih lama dari sebelumnya.

“Aku mulai mengerti kenapa ayahmu sangat protektif padamu,” katanya akhirnya.

Alara mengernyit. “Apa maksudmu?”

“Kamu terlalu berani.”

“Aku hanya jujur.”

“Dan orang jujur biasanya mati lebih cepat.”

Kalimat itu diucapkan setenang membicarakan cuaca.

Alara merasakan jantungnya berdetak lebih keras.

Pria ini benar-benar berbahaya.

Bukan rumor.

Bukan gosip media.

Ia bisa merasakannya langsung.

Salah satu pria bersenjata mendekat lalu membisikkan sesuatu pada Adrian. Tatapan Adrian berubah sedikit lebih dingin.

“Keluar,” katanya singkat.

Semua orang langsung meninggalkan ruangan tanpa berani membantah.

Kini hanya tinggal mereka berdua.

Alara makin tidak nyaman.

Adrian berdiri perlahan dari kursinya. Tingginya membuat Alara refleks ikut berdiri. Pria itu berjalan mendekat dengan langkah tenang sampai hanya tersisa jarak beberapa inci di antara mereka.

Wangi kayu cedar dan whiskey memenuhi indra Alara.

Jantungnya berdebar tidak nyaman.

Adrian terlalu dekat.

Pria itu menatap wajah Alara tanpa bicara beberapa detik.

“Apa kamu takut padaku?”

Alara ingin berbohong.

Tapi matanya terlalu tajam.

“Sedikit.”

“Bagus.”

Alara menatapnya tidak percaya. “Kamu menikmati itu?”

“Ketakutan membuat orang lebih jujur.”

Alara mengepalkan tangan. “Aku bukan salah satu anak buahmu.”

“Belum.”

Nada suaranya rendah dan nyaris seperti ancaman halus.

Alara menahan napas ketika Adrian mengangkat tangan lalu menyentuh dagunya pelan. Sentuhan itu ringan, tapi cukup membuat tubuhnya menegang.

“Aku tidak akan menyakitimu selama kamu tidak melanggar aturan.”

“Dan kalau aku melanggar?”

Mata abu-abu itu menatap lurus ke dalam dirinya.

“Jangan coba cari tahu.”

Detik itu juga Alara sadar satu hal.

Ia sedang berdiri di depan monster berbaju mahal.

Dan monster itu ingin menjadikannya istri.

Adrian melepaskan sentuhannya lalu kembali menjauh. “Tanda tangani kontraknya.”

Alara menggigit bibir bawahnya keras.

Ia tidak punya pilihan.

Ayahnya sedang di ujung jurang. Ibunya sakit. Mereka bahkan sudah tidak punya rumah lagi.

Kalau ia menolak…

Air mata frustrasi mulai menggenang di matanya, tapi ia mati-matian menahannya agar tidak jatuh di depan Adrian.

Ia tidak mau terlihat lemah.

Dengan tangan gemetar, Alara mengambil pulpen itu lagi.

“Kalau aku setuju,” katanya lirih, “apa kamu benar-benar akan membebaskan ayahku?”

Adrian tidak langsung menjawab.

“Aku selalu menepati janji.”

Aneh.

Entah kenapa justru kalimat itu terdengar lebih menyeramkan daripada menenangkan.

Alara menunduk menatap lembar terakhir kontrak.

Nama lengkapnya sudah tercetak di sana.

Alara Valencia.

Di samping nama Adrian Blackwood.

Seolah hidup mereka memang sudah ditakdirkan bertabrakan.

Tangannya akhirnya bergerak.

Tanda tangan itu tergores perlahan di atas kertas.

Dan tepat saat tinta terakhir selesai, Adrian berkata pelan—

“Sekarang kamu milikku.”

Napas Alara tercekat.

Ia langsung berdiri. “Jangan bicara seperti aku benda.”

Adrian menatapnya datar. “Biasakan diri.”

“Kamu benar-benar menyebalkan.”

“Aku tidak menikahimu untuk disukai.”

Alara ingin membalas, tapi ponsel Adrian tiba-tiba berdering.

Pria itu melihat layar sebentar lalu mengangkat panggilan tanpa mengalihkan tatapan dari Alara.

“Ya.”

Suasana berubah dalam hitungan detik.

Mata Adrian mengeras.

“Apa maksudmu dia kabur?”

Jantung Alara berdegup aneh mendengar nada suara itu.

Di seberang sana seseorang bicara cepat. Adrian mendengarkan beberapa saat sebelum rahangnya mengencang.

“Cari dia.”

Hening.

Lalu—

“Kalau perlu patahkan kakinya.”

Alara membeku.

Adrian memutus sambungan telepon seolah baru saja memesan makan malam biasa.

Ia mengambil jasnya.

“Ada masalah?” tanya Alara pelan.

“Bukan urusanmu.”

“Tapi aku istrimu sekarang, kan?”

Kalimat itu terdengar sinis, tapi Adrian malah berhenti bergerak.

Untuk pertama kalinya ada sesuatu yang berubah di matanya.

Sesuatu yang sulit dijelaskan.

Lalu pria itu berjalan mendekat lagi.

Kali ini lebih dekat.

Terlalu dekat.

“Tolong dengarkan baik-baik, Alara,” katanya pelan di dekat wajahnya. “Mulai malam ini, hidupmu berubah. Jangan pernah bertanya tentang bisnis yang kamu lihat. Jangan pernah ikut campur urusanku. Dan jangan pernah mencoba lari dariku.”

Napas Alara tercekat.

“Kalau aku tetap lari?”

Adrian tersenyum tipis.

Senyum dingin yang membuat darahnya membeku.

“Aku selalu menemukan apa yang menjadi milikku.”

Detik berikutnya pintu penthouse terbuka keras.

Seorang pria masuk dengan wajah panik dan pakaian penuh darah.

“Tuan Adrian—”

Tatapan pria itu langsung berhenti pada Alara.

Ragu.

Takut.

Lalu ia mendekat cepat ke Adrian dan berbisik pelan.

Namun Alara masih bisa mendengar sebagian kalimatnya.

“Orang-orang Romano menemukan gadis itu… dan mereka tahu soal wanita ini.”

Dunia seolah berhenti berputar.

Mata Adrian langsung berubah gelap.

Sangat gelap.

Perlahan, pria itu menoleh ke arah Alara.

Dan untuk pertama kalinya sejak malam dimulai, Alara melihat sesuatu yang lebih berbahaya daripada dinginnya Adrian Blackwood.

Kepanikan.

bersambung

Unduh sekarang dan klaim hadiahnya
Scan kode QR dan unduh aplikasi Hinovel