Bab 5 Rujuk
"Nadia, tunggu." Cegah Askara saat Nadia akan masuk ke dalam mobil.
"Apalagi, Mas?" balas Nadia lalu menghadap ke arah Askara.
"Siapa yang tadi dalam sambungan telepon?" tanya Askara cemburu.
"Boss aku, memangnya kenapa?" jawab Nadia, "oh iya, mungkin kamu lupa, kalau kita tidak bercerai dan bukan berarti kamu berhak mencurigai aku, Mas." Nadia lalu masuk ke dalam mobil dan menutupnya dengan sedikit keras hingga terdengar suara.
Brakkk
"Pelan-pelan, Mbak," ujar supir taksi dengan lembut.
"Ma-maaf, Pak," balas Nadia nyengir dan meminta sopir taksi segera melajukan mobilnya meninggalkan Askara yang kini masih melihatnya dari luar kaca.
Dalam perjalanan pulang, Askara terus saja menelpon Nadia. Namun, Nadia sama sekali tidak pernah mengangkatnya. Nadia lebih memilih menonaktifkan ponselnya hingga kini Nadia sudah sampai di kantor.
Rangga tersenyum ke arah saat Nadia memasuki ruangannya. Entah apa yang dipikirkan Rangga hingga hari ini Rangga sangat bahagia. Rangga meminta Nadia duduk tepat di hadapannya yang dituruti oleh Nadia.
"Bagaimana perceraian kalian?" tanya Rangga penuh semangat.
Nadia menundukkan kepala. "Gagal," jawab Nadia lesu.
Rangga bangkit dari duduknya dan menghampiri Nadia. Mengelus pundak Nadia dengan lembut dan memberinya semangat. Nadia pun, mengulas senyum ke arah Rangga yang kini berdiri di sampingnya.
"Ceritakan padaku Nadia, siapa tahu aku bisa membantu," ujar Rangga masih mengelus pundak Nadia.
"Aku hamil, Rangga," balas Nadia lesu.
"Alhamdulillah kalau kamu hamil Nadia. Lantas kenapa kamu bersedih?" tanya Rangga heran.
"Aku harus kembali dengan Mas Askara," jawab Nadia yang matanya mulai mengembung.
"Jika kamu memang ingin bercerai, bercerailah Nadia. Untuk biaya selama kamu hamil dan melahirkan. Aku berjanji akan membantu," ucap Rangga tulus.
"Terima kasih Rangga, kamu memang sangat baik. Namun, aku harus memikirkan anak yang kukandung juga Rangga." Nadia mengelus perut yang mulai buncit.
"Semua keputusan ada di tangan kamu, aku tidak bisa memaksa Nadia. Aku hanya bisa membantu kamu, jika nanti kamu butuh sesuatu bicaralah padaku. Aku akan membantu kamu Nadia." Rangga mengulas senyum yang dijawab anggukan oleh Nadia.
"Ah iya, Rangga, kita meeting lima belasan menit lagi," ucap Nadia lalu bangkit dari duduknya dan segera menyiapkan berkas-berkas.
Rangga merasa kasihan dengan Nadia. Dia masih harus kembali menahan sakit jika masih harus bersama Askara. Akan tetapi, Nadia sendiri sudah memutuskan untuk kembali dengan Askara demi anak yang dikandung. Nadia sibuk menyiapkan berkas yang akan dibawa untuk meeting, sedangkan Rangga hanya melihat kegesitan Nadia dari jarak yang tidak terlalu jauh.
Lima belas menit telah berlalu, kini Nadia dan Rangga sudah berada di ruangan meeting. Selama meeting berlangsung, Rangga terus saja memperhatikan Nadia.
Di luar kantor, Askara sudah menunggu Nadia. Entah untuk apa dia datang ke kantor Rangga. Askara sendiri baru kali ini menginjakkan kaki di kantor Rangga.
"Terima kasih Nadia," ucap Rangga setiap meeting selesai dan mereka mendapatkan hasil yang memuaskan.
"Sama-sama Rangga, sudah menjadi tugasku," jawab Nadia lalu tersenyum.
"Kamu pulanglah Nadia, istirahat. Jaga kesehatan kamu selama hamil," ucap Rangga setelah mereka sampai di ruangan Rangga.
"Ah terima kasih, tapi tidak Rangga. Aku tidak mau makan gaji buta," tolak Nadia enggan pulang awal.
"Kamu sudah bekerja keras Nadia, pulanglah. Anggap saja ini sebagai hadiah atas keberhasilan kamu." Rangga terus saja memaksa hingga akhirnya Nadia menuruti ucapannya.
Nadia lalu bangkit dari duduknya dan akan segera pulang. Rangga selalu peka dengan keadaan Nadia. Rangga akan mengantarkan Nadia pulang. Namun, saat mereka berdua sampai di depan pintu kantor, terlihat Askara duduk di kursi sedang memainkan ponselnya.
Aksara bangkit dari duduknya dan segera menghampiri Nadia untuk mengajaknya kembali ke rumah. Menceritakan semuanya dengan Mayang jika Nadia mengandung anak Askara. Dengan senang hati Nadia menerima tawaran Askara. Nadia juga ingin membuktikan jika dirinya bukan wanita mandul seperti apa yang Mayang pernah ucapkan.
"Nadia, berhati-hatilah," ucap Rangga saat Nadia meninggalkan kantor yang dijawab anggukan oleh Nadia.
"Dia sangat baik padamu," ucap Askara cemburu.
"Iya," jawab Nadia datar.
"Nadia, aku masih mencintaimu." Askara meraih tangan Nadia dan akan menciumnya.
"Jangan bicara tentang cinta." Nadia segera melepas tangannya.
"Apa kamu sudah tidak mencintaiku?" tanya Askara masih menatap lekat wajah wanita yang dikhianati.
"Apakah perlu aku menjawab, Mas!" Ketus Nadia. "Jika kamu mengajakku kembali ke rumah hanya untuk membahas hal yang bagiku tidak penting ini. Lebih baik aku tidak usah kembali ke rumahmu." Sebal Nadia lalu akan membuka pintu mobil.
"Bu-bukan begitu Nadia … baiklah, aku tidak akan membahas tentang itu lagi," ucap Askara lesu.
Askara melajukan mobilnya menuju rumah. Dalam perjalanan Nadia dan Askara hanya saling diam. Tidak ada sepatah kata pun yang keluar dari mulut mereka, sedangkan Nadia lebih memilih memainkan ponselnya.
Sesampainya mereka di rumah. Mayang terlihat sedang duduk bersama dengan Silvi sambil bersenda gurau. Kedatangan Nadia saat ini membuat Mayang dan Silvi langsung diam dan tercengang. Kehamilan Silvi sudah terlihat sangat besar, mungkin sudah berjalan enam bulan lebih.
"Mas, ngapain kamu bawa Mbak Nadia kembali?" tanya Silvi dengan nada marah.
"Ah iya, kami tidak jadi bercerai," ucap Askara seraya meraih tangan Nadia yang disambut baik oleh Nadia.
"Apa maksud kamu Askara, kalian tidak jadi bercerai?" tanya Mayang yang masih tidak percaya dengan keputusan Nadia dan Askara kembali rujuk.
"Iya Bu, kami tidak jadi bercerai," jawab Nadia.
"Mas, jelaskan apa maksud kamu. Kenapa kalian tidak jadi bercerai?" Mata Silvi langsung memerah ingin menangis, tetapi masih Silvi tahan.
"Nadia, hamil," jawab Askara tersenyum ke arah Nadia.
"Ha-hamil? Mbak Nadia hamil? Kamu pasti berbohong 'kan, Mbak?" Silvi masih belum percaya, begitupun dengan Mayang mulutnya ternganga mendengar pernyataan Nadia hamil.
"Ayo Mas, kita masuk," ajak Nadia, "aku merindukan kamar kita." Nadia menarik lengan Askara.
Askara merasa bahagia dengan perlakuan Nadia hari ini. Mungkin menurut Askara Nadia benar-benar merindukan belaiannya. Sayangnya itu hanya ucapan Nadia saja demi membuat Mayang dan Silvi semakin panas.
"Nadia, Sayang. Bolehkah kita melakukan itu?" tanya Askara saat mereka sudah sampai di kamar.
"Tidak. Aku masih belum bisa melakukan hal itu denganmu," jawab Nadia yang membuat hati Askara langsung patah saat itu juga.
"Ta-tapi, bukankah tadi kamu … ah ya sudah, kamu istirahat. Aku akan menunggumu istirahat, di sini," ucap Askara mencoba tersenyum.
"Aku ingin bicara sesuatu padamu, Mas," ucap Nadia ikut duduk di sofa di samping Askara.
"Bicaralah," jawab Askara.
"Aku ingin kita pindah dari rumah ini," ucap Nadia menatap manik mata Askara.
"Tidak!" teriak Silvi dari luar kamar yang mendengar ucapan Nadia dan Askara. "Aku tidak mau kita pindah, Mas," ucap Silvi.
"Aku tidak memintamu ikut pindah, aku hanya mengajak Mas Askara, bukan kamu!" Ketus Nadia lalu bangkit dari duduknya.
"Mas, apa kamu akan menuruti keinginan Mbak Nadia?" Silvi meraih tangan Askara.
