Bab 4 Hamil
Askara mengajak Nadia pergi ke restoran di mana dulu Askara meminta Nadia menjadi istrinya. Askara ingin Nadia mengingat masa indah mereka berdua. Namun, sepertinya Nadia malah merasa risih mendatangi tempat itu.
"Ayo kita turun," ajak Askara lalu membuka pintu mobil.
"Aku mau pulang," tolak Nadia sambil memainkan ponselnya.
"Sebentar saja, Nadia," pinta Askara penuh harap.
Dengan terpaksa Nadia keluar dari mobil dan mengikuti langkah Askara yang kini berjalan masuk ke restoran tersebut. Mereka kini berjarak hanya beberapa langkah. Askara menunggu Nadia dengan tersenyum bahagia, berharap jika Nadia akan berubah pikiran untuk bercerai darinya.
Nadia sendiri berjalan sangat lambat. Mengingat masa itu membuat Nadia semakin sakit. Cintanya memang masih dalam, hanya saja hati terlanjur terluka.
"Buruan Sayang," ucap Askara mengulas senyum saat Nadia berada di depannya.
Hati Nadia bergemuruh, ingin rasanya dia meluapkan emosinya saat itu juga. Jika Nadia tega, saat ini juga dia akan menghajar wajah Askara hingga babak belur. Sayangnya Nadia masih memiliki jiwa kemanusiaan. Jadi, Nadia masih bisa menahan marah.
"Mau pesan apa, Sayang?" tanya Askara setelah memanggil pelayan.
"Terserah kamu aja," jawab Nadia sekenanya.
"Ya sudah kalau terserah aku," jawab Askara lalu memesankan makanan untuk mereka berdua.
Sembari menunggu pesanan datang. Aksara mengajak Nadia ngobrol santai sebelum Askara berbicara pada niat awal Askara mengajak Nadia jalan berdua. Nadia sendiri, sejak tadi enggan menatap menatap wajah Askara, karena setiap Nadia memandang wajah Askara selalu saja teringat tentang pengkhianatannya.
"Nadia, aku ingin kita jangan bercerai," ujar Askara menatap lekat wajah Nadia.
Nadia menatap Askara tajam. "Aku tetap ingin bercerai, silahkan tanda tangan." Nadia menyerahkan kertas itu kembali.
"Aku tidak akan tanda tangan Nadia. Aku ingin kita kembali menjadi suami istri," ujar Askara menolak kertas yang diberikan Nadia.
"Aku ingin kita tetap bercerai," jawab Nadia ketus. "Kalau kamu mengajakku ke sini hanya untuk meminta kita rujuk. Aku tidak mau, Mas. Aku tetap ingin kita cerai," kekeh Nadia lalu bangkit dari duduknya dan akan segera pergi.
Saat Nadia berbalik badan. Ternyata makanan yang mereka pesan sudah datang. Nadia sempat akan meninggalkan tempat itu. Namun, Askara meminta Nadia agar makan terlebih dahulu sebelum pergi.
"Ayo duduk, kita makan bersama terlebih dahulu. Aku janji tidak akan membahas hal perceraian kita," ucap Askara.
Perut Nadia seperti diaduk-aduk saat makanan itu lewat di depannya. Merasa tidak tahan dengan bau tersebut. Nadia merasa pusing, lalu dia akan melangkah ke toilet. Namun, baru mulai melangkah Nadia tiba-tiba pingsan.
"Nadia, bangun Sayang," ucap Askara begitu khawatir.
Askara berusaha membangunkan Nadia, tetapi tidak kunjung sadar. Askara mengangkat tubuh Nadia dan membawanya pergi ke rumah sakit. Wajah Nadia benar-benar terlihat pucat saat ini.
"Nadia, kamu harus bertahan. Semoga kamu baik-baik saja," ucap Askara selama perjalan menuju rumah sakit.
Mulut Askara tidak berhenti mengucap doa, agar Nadia baik-baik saja. Jika Nadia sampai kenapa-napa, Askara tidak akan memaafkan dirinya sendiri. Andai tadi Askara tidak memaksa Nadia untuk ikut bersamanya, mungkin Nadia akan baik-baik saja. Askara sangat menyesal telah melakukan kebodohan yang hanya mengikuti egonya sendiri.
Nadia kini sudah dibawa ke ruang pemeriksaan. Askara menunggu Nadia di luar ruangan. Merasa menjadi lelaki yang tidak berguna bagi orang yang dia sayangi, Askara mengusap wajahnya dengan kasar.
"Hah!" Aksara melempar tangannya kasar.
Seorang dokter keluar dan memberikan selamat kepada Askara. Kabar tidak terduga itu membuat Askara tersenyum penuh kebahagiaan. Di mana Nadia kini mengandung anaknya. Buah hati yang selama hampir dua tahun mereka rindukan. Aksara berharap, kabar kehamilan ini membuat Nadia bisa membatalkan perceraian merek.
"Nadia." Askara tersenyum ke arah Nadia yang masih terbaring lemas.
Askara memegang tangan Nadia, lalu menciumnya dengan hangat. Nadia ingin menolak, tetapi dia urungkan karena masih ada perawat di sana. Askara juga mencium kening Nadia, lalu mengelus perut yang masih rata milik Nadia dengan lembut dan penuh kasih sayang.
"Kamu ngapain Mas?" tanya Nadia yang masih belum tahu jika dirinya hamil.
"Kamu hamil, Sayang. Kita akan punya anak," jawab Askara penuh kebahagiaan.
"A-aku hamil," lirih Nadia yang diiringi dengan tetesan air mata.
"Iya, Sayang, kamu hamil." Askara mengelus pucuk kepala Nadia.
Tangis Nadia semakin pecah. Di saat pernikahan itu diambang perceraian, ternyata Tuhan berkehendak lain. Di mana sekarang Nadia mengandung buah hati mereka.
"Tidak, ini anakku dan bukan anak kita. Aku akan tetap melanjutkan perceraian kita," ujar Nadia yang kekeh untuk bercerai.
Nadia bangkit dari brankar dan segera keluar dari ruangan itu. Askara sempat mencegah Nadia, tetapi Nadia sama sekali tidak mengindahkan ucapan Askara. Ada rasa bahagia dan juga sedih saat Nadia tahu jika dirinya sedang mengandung. Kemudian Nadia memesan taksi untuk segera pulang.
"Biar aku antar," ucap Askara saat Nadia akan naik taksi.
"Tidak perlu, aku sudah membayar taksi ini." Nadia masuk ke dalam mobil dan langsung menutup pintu.
Askara hanya bisa menatap kepergian Nadia. Aksara berjanji pada dirinya sendiri jika akan menemani Nadia selama hamil hingga melahirkan. Jika Nadia nanti tetap ingin bercerai, Askara akan menerimanya dengan lapang dada. Askara memutuskan untuk pulang setelah mobil yang dinaiki Nadia sudah hilang dari pandangannya.
****
Tiga bulan setelah kejadian hari itu. Nadia dan Askara datang dalam sidang mediasi. Dalam kesempatan ini Askara membujuk Nadia agar mengundurkan perceraian mereka hingga anak mereka lahir demi buah hati mereka. Nadia akhirnya menerima permintaan Askara untuk terakhir kalinya sebelum mereka bercerai, yaitu menunda perceraian hingga Nadia melahirkan.
"Aku antar kamu pulang," ucap Askara saat Nadia Nadia menolak karena dia juga harus kembali ke kantor untuk meeting.
"Tidak perlu, aku akan naik taksi saja." jawab Nadia ketus.
"Apa kamu tidak ingin memperbaiki hubungan kita?" tanya Askara saat Nadia akan memesan taksi.
"Jangan bahas ini lagi. Aku sudah menunda perceraian kita. Jadi, berhenti membahas hal yang bisa membuatku mengingat hal menyakitkan itu," ucap Nadia dengan nada menekan.
"Baiklah, aku minta maaf," balas Askara dengan terpaksa.
Ponsel Nadia berbunyi, segera Nadia mengangkatnya dan menjauh dari Askara. Ada rasa cemburu saat Nadia mengangkat telepon dan menjauh dari Askara. Bahkan rasa penasaran pun muncul dalam benak Askara saat Nadia begitu bahagia saat berbicara di sambungan telepon.
Wajah Nadia saat ini berubah menjadi ceria. Padahal tadi saat Nadia bersama Askara, sekali saja Nadia tidak pernah tersenyum. Bahkan menatap Askara saja merasa sebal.
"Siapa yang sudah menggantikan aku dalam hatimu, Nadia?" Pertanyaan itu muncul dalam benak Askara.
