Bab 6 Pilihan Yang Sulit
"Jawab, Mas," rengek Silvi seperti anak kecil.
"Tidak," jawab Nadia, "iya, 'kan Mas?" Nadia menoleh ke arah Askara.
Kini Askara dalam kebingungan. Antara Nadia atau Silvi. Itu pilihan yang sulit untuk Askara.
Mayang yang mendengar keributan di kamar Askara, segera melihat keadaan sang menantu kesayangan. Ternyata kedatangan Mayang digunakan Silvi agar mencegah Askara pergi dari rumah. Dengan wajah melas Silvi meminta Mayang membujuk Askara.
"Bu, aku mau Mas Askara tetap tinggal di rumah ini." Silvi memohon pada Mayang.
"Memangnya apa yang dikatakan Askara?" Mayang tampak bingung.
"Mas Askara mau pindah, Bu." Nadia menjawab sebelum Silvi bercerita.
"Benar begitu Askara?" tanya Mayang.
Askara bingung. Dia harus pergi atau tetap tinggal di rumah. Sesaat Askara menatap Nadia lalu beralih ke Silvi.
"I-iya, Bu," jawab Askara terbata saking takutnya dengan tatapan tajam Mayang terhadapnya.
"Nadia itu kembali hanya ingin membuat ibu naik darah." Mayang terlihat kesal dengan kehadiran Nadia saat ini.
"Bukan Nadia yang menginginkan kembali, tapi Mas Askara. Kalau memang kamu tidak mau pindah rumah, aku akan pergi sendiri Mas, dan anak yang kukandung sepenuhnya adalah anakku. Ingat Mas, aku akan tetap melanjutkan perceraian kita jika kamu memilih tinggal di rumah ini." Ancam Nadia dengan tegas.
Enak saja setiap hari harus menelan ucapan sadis dari Mayang. Bahkan tidak hanya itu, Silvi pasti akan terus membuat Nadia semakin terasa terhina di rumah itu. Keputusan Nadia kali ini tidak bisa diganggu gugat. Jika Askara memilih tinggal maka Nadia akan bertindak tegas.
"Bagaimana, Mas?" tanya Nadia karena Askara tidak kunjung menjawab.
"Jika kamu berat meninggalkan rumah ini. Aku yang akan pergi bersama dengan anak kita." Nadia terus mendesak Askara.
Lama terdiam akhirnya Askara membuka mulutnya. Askara telah memutuskan apa yang akan dia ambil. Saat Askara mulai membuka mulut, Silvi dan Mayang menatapnya dengan tegang menunggu jawaban dari Askara.
"Aku memilih …."
Askara menggantung ucapannya dan sesekali menatap ke arah Silvi dan Nadia.
"Pergi dari rumah ini." Jawaban Askara membuat Silvi dan Mayang langsung kecewa dan juga marah.
"Benarkah keputusanmu itu, Mas?' Silvi memastikan.
Askara mengangguk dan Nadia tersenyum penuh kemenangan. Akhirnya Nadia bisa membuat Askara lebih memilihnya daripada Silvi.
Askara menggandeng tangan Nadia keluar dari kamar itu dengan menenteng kedua koper mereka. Silvi yang merasa sudah tidak ada cara lain selain mengancam, langsung masuk ke dalam dapur dan mengambil sebuah pisau. Silvi berlari sebelum Askara dan jadi benar-benar meninggalkan rumah itu.
"Tunggu!" Silvi mencegah Askara dan Nadia pergi.
Pisau tajam itu mengarah ke perut Silvi yang sudah mulai membuncit. Tanpa peduli dengan apa yang akan terjadi jika dirinya benar-benar menusukkan pisau itu di perutnya. Dengan tangan gemetar, Silvi terus melakukannya.
"Aku akan menusukkan pisau ini jika kamu pergi, Mas!" Silvi mengancam.
Askara mulai panik, begitu pun dengan nadia. Apalagi Mayang, wajahnya berubah menjadi pucat pasi saat Silvi berbuat nekat.
"Berhenti Silvi!" teriak Askara saat pisau itu semakin mendekat.
Dengan cepat Askara mengambil pisau tersebut dan membuangnya. Kemudian Askara memeluk Silvi erat. Bukan karena cinta, tetapi Askara tidak ingin mengorbankan nyawa yang sama sekali tidak bersalah.
Nadia menjadi bingung antara memaksa Askara atau mengasihani Silvi. Jika dia tetap nekat meminta Askara pergi, pasti Silvi akan benar-benar membunuh anak yang dikandungnya.
"Huhuhu." Silvi menangis dalam pelukan Askara.
"Tinggallah di sini Askara, ibu janji akan memperlakukan Nadia dengan baik," ucap Mayang dengan mulut manisnya yang sama sekali tidak sesuai dengan isi hatinya.
"Maaf, Bu. Askara tidak bisa." Askara menolak dengan lembut.
"Silvi, aku akan menjemputmu besok. Untuk saat ini aku akan pergi bersama dengan Nadia. Percayalah jika aku tidak akan membohongimu," ucap Askara seraya meyakinkan Silvi.
"Nadia, kita akan tetap pergi." Askara menatap Nadia yang kini juga sedang memandang Askara dan Silvi saling berpelukan.
Melihat adegan pelukan itu, Nadia biasa saja. Toh dia bertahan bukan karena cinta. Melainkan seseorang yang sangat berarti dalam hidupnya. Malaikat kecil yang akan memberikan kebahagiaan baginya kelak.
"Tapi, Mas …."
"Percaya padaku Silvi. Aku akan menjemputmu dan tidak akan meninggalkan kamu begitu saja. Jadi, jaga anak kita baik-baik, jika kamu tidak bisa menjaga anak kita. Aku akan sangat membencimu." Askara mengancam.
Alden datang membawa seorang wanita untuk diperkenalkan kepada Mayang. Sejak Silvi selingkuh Alden pun bertekad untuk pindah rumah. Bagi Alden rumah itu sudah seperti tempat yang sangat menjijikkan.
Alden menggandeng tangan wanita berhijab masuk ke dalam rumah itu. Ya, mereka telah menikah satu Minggu yang lalu secara siri tanpa sepengetahuan Mayang. Saat Alden dan Kumala berada di ambang, terdengar suara keributan di dalam. Merasa malu dengan keluarga yang sama sekali tidak pernah harmonis, Alden memilih untuk mengurungkan niatnya, mengenalkan Kumala pada Mayang.
"Loh, Mas. Kok nggak jadi?" Kumala bertanya saat Alden mengajaknya masuk ke dalam mobil.
"Di dalam sedang tidak baik-baik saja," jawab alden lalu menyalakan mobilnya.
"Emm, baiklah," jawab Kumala lalu memasangkan sabuk pengaman.
Mobil berwarna putih itu keluar dari gerbang. Askara dan Nadia juga baru saja melangkah melewati pintu depan dan akan masuk ke dalam mobil. Silvi pun hanya meratapi nasibnya dan hanya bisa mengadu pada Mayang.
Mayang memeluk Silvi dengan erat dan mengelus perut buncit Silvi. Sesekali Mayang melirik ke arah pintu dengan penuh harap jika Askara akan kembali. Namun, nyatanya yang terdengar adalah suara deru mobil keluar dari gerbang rumahnya.
"Bu, Mas Askara benar-benar tidak peduli denganku lagi. Lebih baik aku mati saja," ucap Silvi dalam pelukan Mayang.
"Kamu jangan bodoh dong Silvi, kamu itu lebih hebat dari Nadia. Harusnya kamu bisa berpikir janganlah berbuat hal konyol semacam itu." Mayang terlihat kesal dan melepaskan pelukannya lalu keyakinan Silvi jika dirinya bisa mengambil Askara dari Nadia.
Silvi yang mendapat dukungan dari Mayang kembali menjadi kuat dan akan mengambil Askara dari Nadia bagaimanapun caranya. Jika Askara tidak bisa Silvi miliki maka Nadia juga tidak boleh memilikinya, itu janji Silvi dalam hatinya.
"Bersikap tenang dan jangan pernah grusa-grusu Silvi. Lihat Nadia, contoh dia dalam menghadapi masalah. Dia berpikir terlebih dahulu sebelum bertindak, tidak seperti kamu."
Tanpa sadar ucapan Mayang menyentil hati Silvi. Kini Silvi memanyunkan bibirnya mendengar Mayang memuji Nadia.
'ternyata sakit juga dibeda-bedakan,' gumam Silvi dalam hatinya.
Namun, Silvi sama sekali tidak peduli. Bahkan dia akan sangat bahagia jika Nadia sakit hati atau bahkan hidupnya hancur.
Di dalam mobil yang melaju melewati hiruk-pikuk jalan raya, Nadia hanya diam dan tidak berbicara sama sekali. Dia kepikiran dengan apa yang Askara katakan pada Silvi. Benarkah jika Askara akan membawa Silvi pindah.
"Mas," panggil Nadia dan Askara pun menoleh.
"Iya," jawab Askara.
"Apakah benar ucapanmu tadi, Mas?" tanya Nadia dengan pandangan menatap ke depan.
"A-aku …."
