Bab 9 But Right Now I Wanna be Not Okay
Seorang pria memegang erat amplop berwarna coklat yang sejak tadi ia genggam dengan pandangan ragu. Ia tahu jika dirinya melakukan hal ini akan banyak kehebohan yang terjadi dan mungkin bisa menjadi lebih parah dari yang ia pikirkan. Ini ibarat melemparkan bom ke tengah kerumunan, dan hasilnya akan melukai banyak orang yang tidak bersalah.
"Ini demi kebahagiaan, Sia. Devano bukanlah laki-laki yang baik untuknya dan aku akan membuat ia membenci Devano walau ini terdengar gila."
Dengan kemantapan hati ia turun dari rumah dan berjalan kedepan pagar besar mansion itu. Seseorang menghampirinya yang sepertinya adalah seorang penjaga.
"Jangan berikan kepada siapapun kecuali Tuan besar MacKenzi. Ini khusus untuknya."
"Anda siapa?"
"Tolong, sampaikan saja paket ini kepada Tuan besar kalian." Setelah mengatakan itu pria misterius itu pun pergi.
Ini kali kedua pria itu melakukan aksinya sebelumnya ia pernah memberikan bukti kepada Tuan Mackenzi soal wanita yang tak lain adalah mantan kekasih Devano yang hamil dan akhirnya menggugurkan kandungannya. Dan alhasil Alenzo menentang pernikahan Devano dan Alistasia.
Dan pria itu setuju jika seorang iblis tidak patut di sandingkan dengan seorang malaikat. Devano terlalu bajingan untuk wanita berhati baik bak malaikat seperti Sia. Hal itu yang membuat pernikahan keduanya tidak di dasari restu Alenzo.
"Sia... Ini yang terbaik untukmu."
...
Sia sedang berada di kamar ketika ia mendengar suara ponselnya berdering.
Ia dengan segera meraih benda itu dan kemudian melihat siapa yang menghubunginya siang ini. Napas wanita itu sedikit terhenti saat matanya dapat menangkap nama sang ayah mertua yang tertera di layar ponselnya.
"Ayah Alen? Kenapa dia tiba-tiba meneleponku?" Tentu saja Sia terkejut. Pasalnya sejak pernikahannya dengan Devano, tak pernah ia sekalipun menerima telepon dari Alenzo.
Tanpa banyak pertimbangan Sia mengangkat telepon tersebut dengan sedikit gugup tentu saja.
"Ha-halo, Ayah?"
"Sia? Apa kau sedang bersama Devano?"
"Tidak. Devano sedang ada pekerjaan di Paris dan kemungkinan akan pulang beberapa hari lagi. Ada apa, Ayah?"
Alenzo terdiam sejenak di sebrang sana. Seperti sedang memikirkan sesuatu yang tidak Sia ketahui. Sia sempat bingung saat tidak mendapat jawaban apapun dari Alenzo.
"Ayah? Apa ada sesuatu?"
"Bisakah kau datang ke mansion ku sekarang? Ada hal yang ingin ku bicarakan denganmu. Ini menyangkut urusan kau dan Devano."
Bisa ia rasakan jika ada sesuatu yang salah terjadi. Sia dengan cepat mengiyakan dan ia akan segera pergi ke mansion utama sekarang. Wanita itu menyimpan kembali ponselnya ke dalam tas sambil tak sengaja matanya menangkap kotak kejutan kecil yang ingin ia berikan kepada suaminya. Sia selalu membawa kotak tersebut bersamanya. Ia tidak ingin kehilangan kotak tersebut.
Tak membutuhkan waktu lama mobil yang ia tumpangi berhenti di sebuah mansion besar dengan halaman yang luas. Seseorang membukakan pagar itu untuknya sambil membungkukan sedikit badan denga hormat.
Sia berhenti tepat di depan sebuah garasi kemudian ia turun dari mobil tersebut. Dengan satu tarikan napas, wanita itu melangkah masuk kedalam rumah tempat dimana Devano tumbuh untuk menemui sang ayah mertuanya.
Di dalam sana dirinya melihat kalau Alenzo dan Stella tampak sedang beradu argumen entah tentang apa. Bisa ia lihat kalau ada guratan kekesalan dafi dahi Alenzo.
"Aku tidak tahan dengan tingkah anak itu! Kenapa dia selalu membuat masalah setiap hari?!"
Stella memijat kepalanya pelan lalu tanpa sadar matanya menangkap sosok Sia yang sedang berdiri kebingungan.
"Sia?!" Stella berlari kecil kearah Sia dan langsung memeluk erat sang menantu.
"Maafkan kami, Sia. Seharusnya ini memang tidak terjadi."
Sia bisa merasakan jika airmata Stella jatuh membasahi pundaknya dan ia semakin di buat bingung dan beberapa foto yang tergeletak di atas meja.
"Sebenarnya... Ada apa, Mom?"
Stella memegang kedua pundak Sia sebelum akhirnya meraih tangannya dan membantunya duduk di atas sofa.
"Aku memanggilmu kemari karena ada hal yang ingin ku bicarakan. Ini mengenai suami bajinganmu itu!"
Sia mwngerutkan keningnya ketika Alenzo menyebut putranya sendiri sebagai bajingan. Alenzo meraih tiga buah foto dari atas meja lalu tanpa aba-aba ia memberikannya pada Sia.
"Foto ini di ambil seseorang di kantor. Itu jelas sekali Devano dan..."
Mata Sia mulai berair dengan hatinya yang seperti diremas-remas oleh sesuatu yang tajam. Foto itu menunjukan sesuatu yang benar-benar menyakiti hatinya.
Devano, suami yang ia percayai tengah memeluk dan berciuman panas dengan wanita lain! Semua itu bahkan terjadi di dalam ruang kerja Devano sendiri. Semua itu seperti bom mati untuknya.
Sia tahu siapa wanita itu hanya dari sisi sampingnya saja. Itu Shea, cinta lama Devano yang kembali hadir menghantui pernikahannya dengan Devano.
"Siapa perempuan itu, Sia? Apa kau menyembunyikan sesuatu selama ini? Devano telah lama berselingkuh?" Tanya Alenzo. Suaranya cukup membuat Sia ketakutan, tapi sebenarnya ia takut karena apa? Sia pun baru tahu sekarang. Apa yang sebenarnya terjadi?
"Aku... Aku tidak tahu apapun, Ayah. Deva... Deva tidak mungkin melakukan ini!"
"Seseorang menyampaikan pesan dalam bentuk surat. Ia mengatakan kalau satu bulan lalu Devano mulai berselingkuh. Ia tidur dengan perempuan itu!"
Tangis Sia semakin pecah saat ia membaca dengan jelas isi surat yang ditulis oleh seseorang tersebut. Ada tanggal spesifik yang tertera dan itu semakin membuat ia sakit hati.
Devano melakukannya di malam kencan mereka. Pria itu berselingkuh tanpa tahu kalau Sia telah menunggunya di malam dingin yang diiringi hujan deras. Devano menghancurkan kepercayaan yang Sia berikan untuknya!
"Ti-tidak... Hiks... Hiks... Deva tidak mungkin melakukannya..."
Tangan Sia bergetar saat ia memeluk tubuhnya sendiri. Tangis wanita itu pecah dan Stella pun langsung memeluk tubuhnya erat. Stella tahu jika Sia telah menjadi yatim piatu sejak ia memutuskan kembali ke negara asalnya. Jadi sudah bisa dipastikan jika hanya kepadanya Sia mencari perlindungan.
"Aku memilihmu, anakku. Jangan menangis," Stellah menghapus airmata di sudut mata Sia sembari mengusap punggungnya pelan. Siapa yang tidak sakit hati ketika melihat suami sendiri ternyata sudah menghianati cintanya? Kemana ucapan manis yang Devano katakan padanya?
"Alistasia..."
Sia menghapus airmatanya dan menoleh kearah ayah mertuanya.
"A-ada apa, ayah?"
"Aku ingin kau bercerai dari Devano. Jangan teruskan pernikahan tidak sehat kalian."Sia menundukkan wajahnya. Ia tidak bisa. Dirinya tidak bisa melakukan itu karena dia masih sangat mencintai Devano dan juga... Ada nyawa lain yang membutuhkan sesosok ayah. Sia tidak bisa egois dengan memikirkan soal perasaannya sendiri. Anaknya butuh seorang ayah dan dia tidak bisa memutuskan untuk bercerai.
Wanita itu merogoh tas tangannya lalu ia mengeluarkan sebuah kotak yang sudah dibungkus secantik mungkin.
"Apa ini?" Tanya Stella sembari meraih kotak itu. Sia hanya diam, tetapi air matanya tetap turun membasahi pipi.
Stella dengan cepat membuka kotak itu untuk melihat isinya. Matanya membulat sempurna saat dirinya menemukan sebuah alat test kehamilan dan itu menunjukan dua garis merah yang mana artinya Sia memang sedang mengandung.
"Aku tidak bisa bercerai dari suamiku. Karena... Karena aku hamil dan aku tidak mau membuat bayiku kehilangan ayahnya."
