Pustaka
Bahasa Indonesia
Bab
Pengaturan

Bab 10 I'm Sorry That I Hurt You

"Aku tidak bisa bercerai dari suamiku. Karena... Karena aku hamil dan aku tidak mau membuat bayiku kehilangan ayahnya."

Bertambahlah rasa amarah Alenzo. Pria yang sudah mulai tua itu dengan cepat melangkah ke dalam kamarnya untuk menghubungi Rando demi mencari tahu lokasi pasti dimana Devano berada.

Stella kembali menangis bersama menantunya bahkan sesekali ia berkata bahwa dirinya menyesal telah membuat Sia hidup dalam kesedihan. Selama ini ia mengira jika Devano tidak akan mengulangi tingkah gilanya lagi, tapi ternyata sekarang yang terjadi jauh lebih parah. Putranya itu bahkan berani memeluk dan mencium wanita lain di saat statusnya sudah menjadi suami Sia.

Stella merasa malu atas tindakan putranya itu. Ia tidak percaya dan tidak menyangka kalau Devano memang melakukannya.

Selama beberapa jam Stella menemani Sia dan sesekali menawarkannya makan namun Sia terus menolak. Hari sudah semakin siang dan saat itu bunyi ponsel Alenzo terdengar.

Pria itu berada di ruangan yang sama dimana sang istri dan menantunya berada lantas dengan segera menjawab telepon dari seseorang yang sejak tadi membuat ia ingin memukul wajahnya.

"Kenapa kau menelpon ku?"

"Eungg... Aku... Aku ingin bertanya soal kabar ayah."

"Aku masih hidup."

"Aku tahu... Maksudku--"

"Ku dengar kau di Paris?"

"Ah, itu... Iya. Aku sedang ada pekerjaan disini."

"Pekerjaan? Aku merasa sangat menyesal karena telah salah mendidikmu, Devano."

"Apa maksud ayah?"

Helaan napas kembali terdengar demi mengurangi rasa amarah yang mulai menunjukan titik tertinggi itu. Devano pasti sudah meregang nyawa jika ia berada di dekatnya.

"Pulanglah dan bawa perempuan perusak rumah tangga itu ke rumahku. Aku benar-benar akan membunuh kalian berdua!"

Dengan cepat Alenzo mematikan ponselnya tak perduli apakah Devano akan mencoba menghubungi dirinya lagi atau tidak. Stella sedari tadi hanya dapat menatapnya tanpa mau membantah setiap ucapan yang Alenzo keluarkan. Untuk saat ini suaminya bertindak benar dengan sikap tegas kepada putra mereka dan Stella harap mata hati Devano terbuka untuk berhenti menyakiti Sia.

Sia hanya mampu duduk terdiam tanpa berniat untuk ikut bersuara seperti sang ayah mertua. Dirinya hanya sibuk memikirkan masa depannya sendiri atau bagaimana cara ia akan menjalani pernikahan ini karena jika sudah sekali berselingkuh, Devano pasti akan mengulangi hal yang sama di kemudian hari.

Dulu Sia pernah menduga dan mewaspadai situasi seperti ini, tapi dia tidak menyangka kalau dugaannya malah menjadi kenyataan. Seharusnya ia bisa melihat jika Devano masih mencintai wanita lain.

"Alen, sebaiknya kita biarkan Sia untuk beristirahat. Kasihan dia dan kandungannya." Stella tersenyum lirih demi memberi menantunya sedikit semangat Stellah mengecup keningnya sayang.

Sia yang hanya bisa terduduk diam di atas ranjang lantas semakin merasa sedih karena perlakuan Stellah yang membuatnya semakin merindukan sosok seorang ibu.

"Terima kasih, Ibu, Ayah. Aku tidak tahu harus mengadu kemana lagi jika sudah dalam keadaan terpuruk."

Stella dan Alenzo lantas semakin merasa iba. Mereka bergantian memeluk tubuh sang menantu dan menjanjikan kalau tidak ada satu pun anggota keluarga MacKenzi yang akan meninggalkannya. Setidaknya janji mereka bisa Sia pegang daripada bualan suaminya sendiri.

...

Devano menatap cemas ke arah rumah besar yang terpampang di depannya. Dirinya langsung memutuskan untuk pulang setelah ayahnya sendiri mengancamnya tidak main-main. Pria itu menjelaskan kepada Shea kalau keluarganya juga ingin bertemu dengannya, tapi Shea ketakutan.

Dia tahu siapa keluarga Devano. Shea sadar kalau dia adalah seorang perusak dan tentu saja ia tak bisa selamat begitu saja dari ancaman itu.

Namun demi cintanya kepada Devano, Shea mengesampingkan rasa takutnya dan berkata kalau dirinya siap untuk kemungkinan terburuk. Kalau perlu, ia akan mengatakan kalau dirinya sedang berbadan dua agar tidak ada siapapun yang akan melukainya.

"Vano, apa kau siap?"

"Siap untuk mati? Entahlah..."

Devano menelan ludahnya dengan susah payah sebelum dirinya melangkah masuk ke dalam rumah tempat dia dibesarkan.

Keadaan mansion cukup sepi di luar. Ia mengira kalau para pelayan memang tidak bekerja. Namun, langkahnya terhenti ketika mata coklatnya melihat dengan jelas ada sebuah mobil yang sangat familiar telat terparkir di depan pintu garasi.

Sia disini?

Tiba-tiba perasaan Devano menjadi semakintidak karuan. Kakinya terasa begitu berat saat akan kembali melangkah apalagi saat dirinya melihat seorang pelayan mendatanginya dan mengatakan kalau ia sudah di tunggu sejak kemarin.

Shea bergelayut di lengan Devano tanpa sadar kalau yang ia dekap merupakan suami dari wanita lain. Devano hendak melepas, tapi Shea enggan karena dia masih dalam suasana ketakutan.

Sesampainya mereka di dalam rumah, bisa Devano lihat kalau ayahnya berdiri membelakanginya dan sang ibu yang duduk tanpa mau menoleh.

"A-ayah... Ibu?"

Alenzo menoleh pelan dan begitu mata mereka bertemu, Devano bisa melihat ada api yang membara dari cara ayahnya menatapnya.

"Berani juga kau membawa dia kesini."

"A-ayah. Aku--"

BUGH!

Devano tak sempat menyelesaikan kalimatnya karena pukulan di pipi kiri lantas menghantamnya saat Alenzo berjalan cepat ke arahnya.

Pukulan itu cukup kuat sehingga membuat Devano jatuh di atas lantai dengan posisi yang memalukan.

Ia memegangi sudut bibirnya yang membiru dan matanya memancarkan ketidakpercayaan karena sang ayah telah memukulnya.

Alenzo meraih kerah baju Devano dan mencengkramnya,"Dasar kau anak kurang ajar! Aku tidak percaya telah membesarkan seorang bajingan sialan di dalam rumahku!"

Devano mencoba berdiri dan ingin melepaskan cengkraman ayahnya yang benar-benar seperti ingin menghabisinya. Dia tidak tahu bagaimana ayahnya mengetahui soal Shea dan mengapa semuanya tiba-tiba terjadi?

Stella yang melihat kejadian itu pun tetap tidak bisa berbuat apa-apa. Kalau dulu ia adalah orang pertama yang akan menjadi tameng untuk anak-anaknya, hari ini ia membiarkan Alenzo anak mereka. Stella tahu kalau Devano memang sangatlah bersalah dan ia pantas mendapatkan pukulan yang tak seberapa dari hati yang patah.

"Maaf...." Hanya itu kata yang bisa Devano keluarkan dan hal tersebut membuat Alenzo semakin murka. Ia melepas cengkraman tangannya dari kerah baju Devano lalu menatapnya dengan penuh emosi.

"Kalian memang tidak punya hati! Terutama kau, Devano! Aku tidak pernah mengajarimu untuk mempermainkan wanita apalagi itu istrimu! Apa kau terlalu tolol untuk mengartikan semua ini?!"

Devano menundukan kepalanya, sedangkan Shea bersembunyi di belakang tubuh Devano dengan sedikit gemetar. Dirinya takut, benar-benar ketakutan.

"Kau bukanlah putraku! Aku tidak sudi memiliki putra yang tidak tahu di untung sepertimu! Jangan sekali-sekali kau menyematkan nama MacKenzi di namamu. Karena aku membuangmu dari keluarga ini!"

Wajah Devano mendongak menatap sang ayah yang sedang marah kepadanya. Hal itu sedikit mencubit hati Devano karena ia tidak bisa dan tidak akan pernah sanggup tanpa cinta dari kedua orangtuanya.

Pria itu dengan cepat bersimpuh di bawah kaki ayahnya sembari meminta maaf. Devano benar-benar kalut dan ia tidak tahu harus bagaimana sekarang karena saat ini situasi telah mendorong ia ke dalam jurang penyesalan.

"Aku mohon maafkan aku, ayah! Ini memang salahku dan seharusnya aku tidak melukai Sia! Kumohon jangan seperti ini."

Alenzo menggeleng tegas

"Mulai detik ini, hanya Alistasia yang boleh menyandang nama MacKenzi dan ia akan tinggal di rumah ini selamanya. Aku yang akan mengurus perceraian kalian dan jangan harap kau bisa bertemu dengan Alistasia ataupun anakmu," Tukasnya dengan nada datar.

Alistasia?

Shea membatin di dalam hati. Apa dirinya tidak salah dengar? Baru saja ia mendengar nama seorang perempuan yang begitu ia kenal sejak masa kuliah. Satu-satunya perempuan yang berani meminta dirinya untuk menjauhi Devano. Alistasia adalah istrinya Devano selama ini?

Ocehan demi ocehan Alenzo itu terasa seperti angin lalu untuknya karena Shea merasa aneh seketika. Kenapa bisa Alistasia menikah dengan Devano? Bagaimana awal ceritanya karena yang Shea tahu, Sia dan Vano pernah berkelahi sampai menyebabkan persahabatan mereka sempat putus.

"Ayah, hentikan."

Shea dengan segera menoleh ke arah kanan dan matanya membulat sempurna saat ia melihat perempuan berambut pendek tengah berdiri di anak tangga dengan mata yang sembab akibat menangis. Dia pasti telah mengetahui tentang perselingkuhan ini dan tentu saja itu melukai hatinya yang rapuh.

"Aku ingin berbicara denganmu, Shea. Hanya berdua."

Suara itu menyiratkan ribuan rasa sakit yang hanya bisa Sia rasakan. Awalnya Stella berniat untuk menyusul, tapi Alenzo memberi kode untuk tidak ikut campur dalam masalah ini.

Devano tak bisa berkata apapun lagi, disaat ia berniat mendekati istrinya, Alenzo menarik bahunya menjauh.

"Jangan berani mendekati Alistasia tanpa seizin ku! Aku memperingati mu!"

Dengan semua perasaan yang tertahan di dalam hati, Devano menuruti ucapan sang ayah yang tidak mau lagi menerimanya.

Alistasia tidak menatap matanya, wanita itu lebih senang melirik benda lain daripada memandangnya seperti dulu.

Aku menyakitimu, Sia. Tolong maafkan aku...

Shea berjalan mengikuti Alistasia yang masuk ke sebuah kamar. Mereka berdua duduk di atas sofa yang bersebrangan dengan kesunyian yang menyeruak.

"Sejak kapan kau mulai mendekati suamiku?" Tanya Sia dengan penekanan di setiap kata-katanya.

Shea menghela napasnya sebelum menyiapkan kata-kata yang hendak ia ucapkan.

"Aku dan Vano tidak sengaja bertemu sebulan yang lalu. Itu terjadi begitu saja dan--"

"Apa kau tahu dia pria yang sudah menikah? Tidakkah kau melihat cincin di jarinya saat itu?"

Pertanyaan Alistasia sedikit membuatnya malu. Shea memeng melihat cincin pernikahan itu, tapi ia tetap melakukan hubungan terlarang tanpa perduli apakah hal itu akan menyakiti hati perempuan lain.

"Aku tidak berniat, Sia. Kau tahu sendiri kan kalau dulu aku dan Vano adalah sepasang kekasih?"

"Tapi aku istrinya!" Suara Sia mulai meninggi. Matanya memancarkan rasa sakit dan kecewa yang bisa Shea lihat. Apa yang akan terjadi setelah ia merebut suamindari istrinya? Apakah Tuhan akan memberinya hukuman instan?

Namun Shea tidak bisa mundur. Bayinya membutuhkan Devano dan ia tidak mau melepas pria itu dengan mudah.

"Alistasia... Devano masih mencintaiku, tidakkah kau melihatnya?"

Sia ingin sekali muntah mendengar pernyataan konyol itu, tapi dia menahan amarahnya di dalam hati. Ia tidak ingin terlihat sangat menyedihkan dengan menunjukan kesedihannya karena telah dikhianati.

"Aku tidak mau tahu. Devano adalah suamiku dan aku berhak atas dirinya daripada kau! Aku minta agar kau pergi menjauh dari Devano sebelum aku--"

"Tidak bisa, Sia. Kau harus mau membagi suami denganku."

Kerutan di dahi Alistasia mulai bermunculan. Shea mengusap perutnya sendiri sembari menatap Alistasia dengan agak berani,"Di dalam sini telah tumbuh benih Devano. Kami akan segera memiliki bayi dan kumohon..."

"Aku menginginkan suamimu juga, Sia."

Unduh sekarang dan klaim hadiahnya
Scan kode QR dan unduh aplikasi Hinovel