Bab 8 I Know I've Been Selfish
"Semoga saja anak ini akan menjadi kesayanganmu, seperti kau menjadikan aku sebagai kesayanganmu."
Devano menatap kedalam bola mata wanita itu dan mengelus pipinya dengan pelan sebelum mencium bibir wanita itu tanpa memperdulikan supir yang sejak tadi menatap keduanya.
"Aku mencintaimu, Shea. Aku janji tidak akan meninggalkanmu sendirian bersama anak kita."
Shea semakin merasa bahagia. Ia mengusap punggung tangan Devano hingga tangannya menyentuh cincin pernikahan milik Devano.
"Devano, kapan kau akan menikahiku kalau begitu? Aku juga ingin memakai cincin yang sama sepertimu."
Seketika bibir Devano kembali menipis. Pria itu duduk dengan gusar karena memang ia tidak pernah berpikir untuk menikah lagi.
"Apa kamu takut keluargamu menolak? Atau... Kau tidak mau menyakiti istrimu?" Shea berusaha memancing informasi dari Devano. Karena ia benar-benar penasaran siapa wanita itu dan dia ingin mencari tahu.
"Aku akan pikirkan cara lain. Shea, aku mencintaimu, tapi aku juga mencintai istriku. Aku tidak bisa melepaskannya."
Shea sebenarnya cemburu karena cinta Devano bukan lagi sepenuhnya miliknya. Ada perempuan lain yang menempati posisi yang sama dengan dirinya dihati Devano dan ini akan menjadi persaingan yang ketat baginya.
"Aku paham. Kalau saja kau memberiku kesempatan untuk berbicara dengannya, aku ingin meminta izin. Sesama wanita seharusnya ia mengerti posisiku."
Devano hanya tertunduk diam. Dirinya memang tidak mau melepaskan Sia karena bagaimana pun juga, Sia adalah perempuan yang sangat tulus sehingga ia tidak akan mampu untuk membuat hatinya tergores. Devano tidak akan pernah rela jika harus melepaskan Sia untuk pria lain.
"Mungkin... Setelah pulang dari Paris aku akan membawamu kerumahku untuk menjelaskan semuanya kepada istriku. Aku tidak bisa membohonginya terus menerus."
Shea tentu saja setuju. Ia mempunyai celah untuk menjadi istri Devano dan Shea tidak akan menyerah sampai ia bisa menikahi kekasihnya ini.
Mobil itu sampai kesebuah hotel mewah. Keduanya langsung bergegas masuk kedalam hotel.
Shea mengajak Devano masuk kesalah satu Suite room yang sudah dirinya pesankan untuk mereka.
"Devano, semalam saat baru saja sampai, perutku terasa mual. Rasanya menyakitkan sekali apalagi ada beberapa makanan yang membuatku ingin muntah." Ucap Shea dengan manja sambil mengelus perutnya lembut.
Devano tersenyum kecil lalu ia menundukan tubuhnya untuk mencium perut wanita itu,"Daddy meninggalkanmu dan mommy."
Shea mengusap rambut Devano dengan sayang dan perasaan bahagia. Mereka akan menjadi keluarga yang sempurna.
"Berapa kali frekuensi mual yang kamu alami, Shea?" Tanya Devano ketika kembali bertatapan dengan wanita berambut coklat itu, "Beberapa hari ini hanya dua atau tiga kali, tapi rasanya benar-benar tidak tertahankan. Belum lagi kepalaku sering pusing." Jawab Shea sambil mengerucutkan bibirnya.
Mendengar pernyataan itu membuat Devano sempat teringat sesuatu. Sia juga mengeluh hal yang sama dua hari yang lalu.
Ah, tidak mungkin! Pasti hanya kebetulan.
"Kau mau makan sesuatu atau istirahat dulu, Vano?"
"Aku akan istirahat dulu saja."
Shea tersenyum lalu ia mengecup pipi Devano sebelum mengatakan kalau dirinya akan keluar untuk membeli sesuatu.
Kesempatan itu digunakan Devano untuk menelepon istrinya. Ia jadi khawatir tentang kesehatan Sia. Semoga saja perkiraannya salah.
"Hallo, Deva?"
"Sia? Kau dimana? Dan sedang apa?"
"Aku baru saja sampai dirumah. Kau sudah sampai?"
"Iya. Disini sudah gelap, apa kau baik-baik saja disana?" Tanyanya. Suara kekehan kecil milik Sia terdengar dan itu membuat Devano sedikit merindukan istrinya.
"Aku baik-baik saja dan aku juga sudah makan malam bersama Austin. Kebetulan ia mengajakku."
Devano menunjukan ekspresi ketidaksukaannya ketika tahu kalau sang istri menikmati makan malam dengan Austin, sahabatnya sendiri.
Sialan! Apa Austin berniat merebut Sia dariku?!
"Kenapa kau bersamanya?" Tanya Devano dengan agak kesal.
"Dia tahu jika aku belum makan malam dan dia bilang akan mentraktirku dan akhirnya aku menerima ajakannya."
"Hanya berdua?"
"Ada apa? Ada... Sesuatu yang salah?" Tentu saja Sia merasakan sesuatu yang tidak biasa dari cara Devano berbicara. Ada apa antara Devano dan Austin? Mereka berdua terlihat aneh hari ini.
"Tidak. Tidak ada. Ya sudah, istirahatlah."
Devano lantas memutuskan sambungan telepon dan menatap pantulan dirinya di cermin. Ternyata Austin memang mencari kesempatan untuk merebut Sia darinya. Ia harus memperingati sahabat gila nya itu sebelum Sia benar-benar jatuh ke pelukan pria lain.
"Sia hanya milikku. Aku tidak akan memberinya kepada siapapun!"
...
Ditengah malam itu Sia terbangun karena rasa mual yang tidak tertahankan. Segera ia melangkah kedalam kamar mandi dan memuntahkan segala isi perutnya agar rasa mual itu juga hilang. Sia agak sedikit terengah-engah saat akhirnya rasa mual nya mengilang. Ini memang terasa menyakitkan. Namun dilain sisi ia sangat menikmati saat-saat seperti ini. Ia berharap jika Devano ada disini untuk membantunya meredakan rasa mual, tapi sayang ia harus menunda keinginannya itu.
"Sabar, ya sayang. Daddy akan segera pulang dan kalian akan bertemu. Mommy harap kau baik-baik saja disini."
Diusapnya lembut perutnya yang masih terlihat rata. Sia berharap dengan kehadiran anak mereka mampu membuat hubungannya dengan Devano semakin erat.
...
Keesokan harinya
Devano dan Shea sudah berada disebuah rumah sakit di Paris. Ia akan menemani pemeriksaan kandungan Shea disalah satu dokter kandungan terbaik dikota itu.
Dokter kandungan itu mengatakan kepada keduanya jika kandungan Shea baik-baik saja dan sudah bisa dipastikan jika Shea akan berusaha menjaganya sebaik mungkin.
Meski harus melewati saat menyakitkan seperti mual, pusing dan lapar namun Shea seperti menikmatinya selama ada Devano disampingnya seperti saat ini. Ia ingin Devano selalu menemaninya seperti ini.
Keduanya mengunjungi sebuah cafe dan beristirahat sejenak disana sebelum melanjutkan rencana mereka pergi ke tempat wisata setelahnya.
Shea tengah berada dibarisan antrian untuk memesan dan lagi-lagi kesempatan itu digunakan Devano untuk menghubungi Sia istrinya.
Benerapa kali ia mencoba, tapi tak ada jawaban sehingga akhirnya Devano menyerah. Ia berpikir untuk menelepon sang ayah , biar bagaimanapun tidak dapat Devano pungkiri ia merundukan orangtuanya setelah Alenzo melarang dirinya untuk datang ke mansion.
Devano pun akhirnya mencari nama sang ayah lalu menekan tombol hijau. Berharap jika Alenzo mau berbicara kepadanya.
"Kenapa kau meneleponku?"
Tanpa diduga ternyata Alenzo menjawab panggilannya. Devano membenarkan posisi duduknya karena tiba-tiba saja perasaannya menjadi tidak tenang.
"Eungg... Aku... Aku ingin bertanya soal kabar ayah."
"Aku masih hidup."
"Aku tahu... Maksudku--"
"Kudengar kau di Paris?"
"Ah, itu... Iya. Aku sedang ada pekerjaan di sini."
"Pekerjaan? Aku merasa sangat menyesal karena telah salah mendidikmu, Devano."
"Apa maksud ayah?"
Helaan napas terdengar dari seberang sana dan entah kenapa hal itu membuat Devano semakin merasa tidak tenang.
"Pulanglah dan bawa perempuan perusak rumahtangga itu kerumahku. Aku benar-benar akan membunuh kalian berdua!"
