Bab 7 Lying is lying. It's Never Okay
Devano melepaskan jasnya ketika ia sudah berada didalam rumah. Dirinya melirik jam dinding yang sudah menunjukan pukul dua malam dan sudah bisa dipastikan jika Sia sang istri sudah tertidur. Untung saja Devano memiliki kunci cadangan rumahnya.
Devano menyandarkan kepalanya dibantalan sofa ruang tamu sambil memijit pelipis nya frustasi. Kepalanya seperti ingin pecah jika memikirkan langkah apa yang harus ia ambil nanti. Shea kini telah mengandung anaknya hasil dari hubungan satu malam yang mereka lakukan satu bulan lalu.
"Ya Tuhan... Aku harus apa sekarang?"
Ingin rasanya Devano menelepon ayah atau ibunya sekarang untuk meminta solusi, tapi sayang hubungannya dengan keluarganya sudah tidak seperti dulu. Bahkan sang ayah melarangnya datang berkunjung, Devano hanya boleh datang jika Alenzo telah mati. Betapa buruknya, kan?
Devano selalu membuat masalah dalam hidupnya, tidak ada yang ia lakukan dengan benar selama ini.
Devano tidak tahu bagaimana cara mengatakan pada Sia soal kehamilan Shea dan rasanya ia tidak pernah sanggup untuk mengatakannya.
"Ayah memang benar... Aku bukan pria yang pantas untuk Sia."
Devano memejamkan matanya sambil tangannya meremas rambutnya karena rasa sesal di dalam dada. Entah bagaimana ini akan berlanjut karena semua sudah sangat terlambat untuk diperbaiki. Devano tidak mungkin meminta Shea untuk menggugurkan kandungannya karena biar bagaimanapun bayi itu adalah darah dagingnya. Bagaimana mungkin Devano tega membunuhnya?
"Apa yang harus aku lakukan?"
Devano menghembuskan napas lelah berulangkali. Dia tidak mungkin menelantarkan bayi itu atau menyembunyikan aib sebesar itu. Ia akan membuat kedua orang tuanya marah dan kecewa untutuk kesekian kalinya akibat perbuatannya. Devano tidak membicarakan tentang dirinya, namun tentang nama baik dan kehormatan keluarganya terutama Sia. Apa yang akan wanita itu lakukan jika mengetahui kalau Devano telah membuat kacau pernikahan mereka?
"Sia... Aku benar-benar minta maaf padamu. Aku tak bisa menjadi suami yang kau harapkan."
...
Sia bangun pagi-pagi sekali karena ia ingin menyiapkan kejutan spesial untuk sang suami. Tadi malam Sia tidak sempat melakukan itu karena ia sudah lebih dulu tertidur karena rasa kantuknya. Ditambah Devano yang pulang sangat larut.
Wanita itu menyimpan alat tes kehamilan itu didalam sebuah kotak kecil dan membungkusnya dengan kertas kado cantik dan pita kecil yang berwarna senada sebagai hadiah untuk Devano. Sia memeluk kotak kecil itu dengan perasaan haru dan bahagia. Ia penasaran apa yang akan Devano katakan setelah mengetahui kalau mereka akan segera memiliki anak.
Saat wanita itu melangkah keluar kamar, bisa ia lihat jika Devano sudah bangun dan sedang berbicara dengan seseorang diponsel. Siapa yang menelepon pagi-pagi buta seperti ini?
Sia menyimpan kotak kecil itu dibelakang tubuhnya dan memperhatikan Devano yang berdiri membelakangi pintu balkon.
"Ya, baiklah. Hari ini aku akan kesana menyusulmu. Tunggu aku dilokasi."
Pria itu mematikan sambungan teleponnya dan berbalik. Ia tersentak saat mendapati Sia tengah berdiri tepat dibelakangnya.
"Sia... Sejak kapan kau berdiri disitu?"
Sia menggeleng kecil dan ia menyimpat rapat-rapat kotak kecil itu dibalik badannya.
"Sepertinya... Kau mau pergi?" Tanya Sia dengan nada yang agak pelan. Devano lantas memberinya dengan tatapan bersalah dan penuh penyesalan. "Sayangnya iya. Siang ini aku harus berangkat ke Paris karena ada urusan dengan rekanku disana. Apa kau keberatan jika aku pergi?"
Sia dengan cepat menggeleng walau sebeneranya ia merasa sangat keberatan. Ia ingin segera memberikan kotak hadiah itu kepada Devano, namun lagi-lagi ia harus menundanya.
"Berapa lama perginya?"
"Aku janji hanya beberapa hari. Tidak lebih dari seminggu," jawabnya sambil mencium kening Sia dengan sayang. Sia tersenyum masam dan ia cepat-cepat berbalik masuk kedalam kamar mandi untuk menyimpan kembali hadiah kecil itu sampai kepulangan Devano dari Paris.
Devano mematung ditempatnya saat Sia telah masuk kedalam kamar mandi. Dia melirik ponselnya dengan miris karena lagi-lagi ia berbohong. Shea menghubunginya dan mengatakan kalau ia ingin Devano menemaninya ke Paris karena ingin memeriksakan kandungan disana. Shea tahu kalau ia memaksakan kehendak untuk berduaan dengan Devano dikota yang sama dimana seluruh keluarga Devano tinggal, maka itu akan menjadi masalah besar. Jadi ia pergi tanpa memberitahukan Devano terlebih dahulu.
Aku mencintaimu, Sia. Maaf karena telah menghianatimu.
...
Sia memarkirkan mobilnya dihalaman perusahaan milik sang suami tempat dimana ia juga bekerja. Sia membawa tasnya dan keluar dari mobil.
Ketika ia berada dilobby perusahaan, Sia berpapasan dengan Austin yang ternyata baru saja datang.
"Sia? Tumben sekali kamu datang terlambat?"
Sia tersenyum tipis,"Aku baru selesai membantu Devano mengepak pakaiannya. Dia berangkat ke paris hari ini."
"Paris?"
Sia mengangguk tanpa menaruh rasa curiga, sedangkan Austin tampak memikirkan sesuatu. Semalam wanita simpanan Devano datang entah untuk apa dan sekarang ia mendengar kabar jika Devano pergi ke Paris karena sesuatu. Apa-apaan semua kebetulan ini? Jangan-jangan Devano menikahi Shea tanpa sepengetahuan Sia. Bisa saja kan mengingat Devano memang gila?
"Austin, kenapa malah melamun? Kau sendiri sedang apa disini?" Austin terlonjak kaget dan buru-buru menyusul Sia yang sudah berjalan lebih dulu. Austin tidak perduli jika Devano memang memiliki rencsna untuk menikah lagi atau tidak, ia hanya ingin Sia bahagia bagaimana pun caranya. Sebenarnya sulit membuat Sia bisa membenci Devano mengingat betapa baiknya hati yang wanita itu miliki. Bisa saja Sia pasrah dengan keadaan asalkan Devano nya tidak meninggalkannya.
Mereka berpisah saat Sia sudah masuk kedalam ruangannya. Sia menaruh tasnya dan mendudukan dirinya diatas kursi kerjanya sambil memikirkan bagaimana cara memberikan kejutannya nanti.
"Apa aku minta bantuan Austin? Atau sebaiknya ku lakukan sendiri? Sia mengelus perutnya dan menggeleng ini adalah kejutan paling spesial ia harus memikirkan nya sendiri.
"Tumbuh yang sehat ya,nak. Mommy dan Daddy menyayangimu."
...
Disudut kota lain tampak dua orang pasangan terlarang sedang berpelukan di bandara. Devano baru saja sampai dan ternyata sudah ada Shea yang menunggunya disana. Shea segera memeluk Devano kekasihnya seperti sedang melepas rindu.
Devano pun tak kalah erat memeluk tubuh Shea. Sebenernya ia senang akan memiliki anak, namun dirinya bingung bagaimana cara menjelaskannya pada Sia.
"Aku senang kau benar-benar menyusulku kemari. Kukira kau tidak akan datang"
Devano tersenyum tipis,"Aku juga ingin melihat anakku di dalam sini, Shea."
Ia mengelus lembut perut wanita itu dengan tulus, membuat Shea merasa sangat bahagia. Walaupun sebenarnya ia sadar semua itu salah namun hatinya tetap menginginkan Devano sebagai masa depannya.
"Ayo kita pergi kehotel. Aku sudah memesankannya untukmu."
Devano mengangguk lalu ia membawa kopernya dan berjalan mangikuti Shea yang ternyata membawa mobil. Mereka bercanda ria sambil mengulang masa-masa indah ketika sedang berpacaran dulu. Shea bahkan menyinggung kehamilannya dulu dan beruntung Devano mau memaafkannya dan mengulang kembali semuanya dari awal lagi.
