Pustaka
Bahasa Indonesia
Bab
Pengaturan

Bab 6 I've Broken All My Promises to You

Sia baru saja menyelesaikan semua urusan rumahnya, rencananya siang ini Sia ingin pergi ke mall untuk membeli beberapa keperluan rumah.

Devano masih berada didalam kamar. Pria itu tertidur setelah membaca sebuah buku tentang bisnis dan Sia tidak berniat untuk membangunkannya. Sebenarnya Sia masih merasa kecewa karena kejadian semalam dimana Devano lagi-lagi mengacaukan kencan mereka, tapi setelah mendengar penjelasan Austin rasa kecewa itu sedikit memudar walau tidak sepenuhnya.

Wanita itu masuk kedalam kamar dan melihat suaminya tidur dalam posisi terlentang dan kacamata yang tidak terpasang dengan benar. Mungkin Devano benar-benar kelelahan sehingga terus tertidur sejak tadi.

Sia duduk dipinggiran ranjang lalu ia melepas kacamata itu dan menarunya di atas nakas. Sia mengusap rambut Devano dan tersenyum miris karena dirinya masih merasa tidak layak untuk suaminya.

"Sia?"

Wanita itu tersenyak saat suara parau milik Devano terdengar ditelinganya. Belum sempat Sia menjawab, Devano sudah lebih dulu menarik tubuhnya dan memaksa Sia untuk berbaring disebelahnya. Pria itu memeluk Sia dengan erat seolah-olah sedang menunjukan jika hanya dirinya yang boleh menyentuh Sia. Sia hanya miliknya seorang.

Jujur saja, Devano merasa cemburu saat mengetahui Austin telah berhasil mengambil kesempatan untuk bersama Sia walau hanya sebentar. Devano tahu bagaimana perasaan Austin kepada Sia sejak dahulu. Terkadang hal itulah yang membuat Devano selalu meminta Sia untuk menjauhi Austin.

"Deva, ada apa?"

"Aku merasa sangat bersalah. Aku minta maaf,Sia."

Sia mengelus lembut punggung tangan Devano yang kini melingkar dipinggang nya dan tersenyum tipis,"Aku baik-baik saja."

Tidak, Sayang. Maafkan diriku karena karena telah menghianati dirimu.

"Aku mencintaimu, Alistasia." Bisik Devano lalu ia mencium pipi istrinya dengan penuh kasih sayang. Dia tidak sedang bercanda, dirinya memang mencintai Sia namun dilain sisi dia juga memiliki perasaan lain untuk Shea didalam hatinya. Rasa cinta itu mulai terbagi dan Devano sadar jika hal itu bisa menimbulkan petaka bagi rumah tangganya dengan Sia.

"Masih ada malam-malam lain, Deva. Kita bisa pergi makan malam lain kali." Ucap Sia sambil berusaha melepaskan pelukan Devano dari tubuhnya, namun Devano menahan pinggang Sia.

Dengan cepat Devano merubah posisinya menjadi diatas Sia dan dengan cepat mencium bibirnya. Sia awalnya terkejut karena Devano dengan tiba-tiba menyerangnya. Devano jarang memaksa Sia untuk berhubungan dengannya malah tidak pernah, namun entah mengapa untuk kali ini Sia merasa berbeda. Seperti ada emosi lain yang bisa Sia rasakan dari cara Devano mencumbunya.

"Ja-jangan sekarang, Deva. Hari masih siang dan bagaimana jika nanti ada yang datang?"

"Aku tidak bisa menunggu,Sia."

Sia tidak lagi melawan saat Devano menarik pakaian atas yang ia kenakan sehingga perlahan tubuhnya menjadi polos tanpa sehelai benangpun alias naked dibawah tubuh kekar sang suami. Perlahan Devano melepaskan pakaian yang melekat pada tubuhnya.

Apa kamu akan menolak ku jika tahu kalau semalam aku telah bercinta dengan wanita lain?

Pertanyaan itu jelas hanya akan terucap didalam hatinya. Devano tahu jika tindakannya saat ini sangat tidak pantas untuk dibenarkan. Jika saja Sia atau keluarga besarnya tahu, mungkin sang ayah akan menguburnya hidup-hidup karena telah menyakiti wanita setulus dan sebaik Sia.

Sia mengalungkan tangannya dileher Devano. Bibirnya menahan desahan ketika suaminya bergerak pelan dibawah sana. Sia memang terlihat cukup amatir dalam hal bercinta karena dia tidak pernah melakukannya dengan pria lain sebelumnya. Devano lah pria pertama untuknya yang saat ini tak lain adalah suaminya.

"Kau masih polos seperti biasanya, Sia. Aku suka dengan sikapmu," Pujinya sambil terus bergerak semakin cepat dibawah sana.

Brengsek memang, karena Devano membandingkan gaya bercinta antara Sia dan Shea. Jika Shea adalah wanita agresif yang siap pengendalikan permainan ranjang, maka Sia adalah kebalikannya. Sia terkesan pemalu dan bahkan hanya untuk membuka matanya sendiri.

Sia juga memiliki ukuran dada yang lebih besar dari Shea, bahkan kulitnya tampak lebih putih. Hanya saja Sia lebih sering menolak ajakan bercinta Devano dengan alasan malu. Namun hal itu tidak lantas membuat pria itu bosan, ia malah merasa penasaran dengan istrinya.

Terkutuklah Devano karena telah mempermainkan hati wanita.

...

Satu bulan kemudian

Satu bulan telah berlalu sejak malam dimana Devano berselingkuh dengan mantan kekasihnya. Semua tampak baik-baik saja dan beruntung Shea tidak mengganggunya lewat sambungan telepon ataupun pesan singkat. Meski awalnya Devano merasa kecewa namun dilain sisi ia pun merasa lega karena hubungannya dengan Sia baik-baik saja.

Saat ini dirinya tengah berada dikantor sedang sibuk membaca dokumen-dokumen penting milik perusahaannya. Hari ini Devano lembur karena padatnya jadwal meeting serta pekerjaan yang belum juga selesai, namun itu tidak membuat Devano lelah. Sia sudah pulang lebih dahulu beberapa jam sebelumnya menggunakan taksi karena ia mengeluh sakit dan pusing. Awalnya Devano ingin mengangarnya namun Sia menolak karena ia tahu suaminya sedang banyak pekerjaan akhir-akhir ini.

Ditengah keseriusannya membaca dokumen penting milik salah satu partner bisnisnya , pintu ruangan terbuka.

Ia menoleh kearah pintu dan terkejut saat melihat Shea muncul didepan sana.

"Shea? Sedang apa kamu disini?"

Shea tersenyum manis dan buru-buru menutup pintu ruangan Devano agar tidak ketahuan oleh pegawai pria itu, karena ada beberapa pegawai yang mengambil lembur seperti kekasihnya.

"Sebulan tidak bertemu dan ternyata benar-benar membuatku rindu. Mengapa kau tidak pernah mengirimiku pesan atau menelpon? Aku selalu menunggumu satu bulan ini."

Devano menggeleng dan ia menatap cemas kearah tirai ruangannya yang belum ditutup, "Bagaimana kau tahu kantorku, Shea?"

"Aku mencari tahu soal dirimu lewat pamanku, Vano. Beruntung karena pamanku menyimpan semua file relasi kerjanya dan aku menemukan profilmu disana."

"Shea, seharusnya kita tidak bertemu disini. Bagaimana jika ada orang lain yang melihat kita?"

"Kau takut jika istrimu memergoki kita berdua?" Shea berbicara dengan nada yang menyiratkan ketidaksukaannya. Sebenarnya Shea tidak berniat merusak rumah tangga siapapun namun ia membutuhkan masa depan dan dirinya mau jika Devano lah yang menjadi masa depannya. Ia tidak perduli bagaimana ucapan orang lain nanti.

"Aku akan menemuimu besok. Nanti kita aka--"

"Aku hamil."

"Apa...kau...kau apa?"

Cup!

Shea mencium bibir Devano secara tiba-tiba . Devano tidak dapat menolak dan seketika akal sehatnya kembali hilang. Ia mendekap tubuh Shea dan tangannya menekan tengkuk Shea agar memperdalam ciumannya.

"Bajingan sialan!"

Diluar ruangan, seseorang tampak mengintip dari jendela. Tangannya terkepal erat saat melihat Devano tengah berciuman dengan wanita yang bukan istrinya.

Wajah tampan pria itu memerah menahan amarah serta mata hitamnya berkilat marah sampai-sampai ia ingin sekali memukul wajah pria brengsek itu saat ini juga.

"Kau pecundang paling payah yang pernah aku lihat, Devano. Akan ku buat kau menyesal karena telah menyia-nyiakan Sia. Aku akan segera merebut Sia darimu."

...

Hoekk! Hoekk!

Sia memuntahkan segala isi dalam perutnya kedalam kloset saat ia tengah memakan pancake blueberry kesukaannya ditengah malam yang sunyi ini.

Sia sudah merasakan perasaan mual dan pusing ini sejak tiga hari yang lalu ia menduga jika dirinya tengah hamil-- mengingat ia terlambat datang bulan.

Setelah menekat tombol flush Sia beranjak dari posisinya. Sedari siang dirinya benar-benar merasa tidak enak badan dan Sia benar-benar berharap jika semua ini dikarenakan dirinya hamil. Ia menginginkan seorang anak untuk melengkapi keluarga kecilnya.

Buru-buru ia membuka laci tempat dimana ia menyimpan alat tes kehamilan. Sia sengaja ia simpan untuk berjaga-jaga jika diperlukan. Jika benar dirinya hamil Sia akan memberitahukan kepada Devano sebagai kejutan untuk suaminya ketika Devano pulang nanti.

"Semoga hasilnya positif..."

Sia memejamkan matanya sembari menunggu hasil dari alat tes kehamilan itu. Sudah sepuluh bulan dirinya menantikan kehamilan dan semoga saja hasilnya sesuai dengan apa yang ia harapkan.

Wanita itu membuka matanya disaat dirasa sudah waktunya untuk melihat hasilnya. Sia berdoa sekali lagi sebelum matanya menatap pada alat tes kehamilan itu yang mana tertera dua garis merah diatasnya.

"Aku hamil!"

Unduh sekarang dan klaim hadiahnya
Scan kode QR dan unduh aplikasi Hinovel