Bab 5 I Ruined All You've Given Me
Suara dari kamar mandi membuat tidur pria itu terganggu. Perlahan tapi pasti matanya sudah terbuka dan pertama yang ia lihat adalah suasana asing yang membuat ia kebingungan.
Devano merubah posisinya menjadi duduk dan mengucek kedua matanya sambil matanya terus menatap sekeliling. Ia menemukan botol alkohol diatas sebuah meja disudut ruangan.
Devano menyibak selimut yang menutupi dirinya dan keterkejutan terlihat setelah itu ternyata dirinya sedang tidak memakai apapun dan jam di tuangan itu sudah menunjukan pukul 10 pagi.
"Sia! "
Dengan tubuh gemetar Devano turun dari atas ranjang. Dia meraih celana dan kemejanya yang berserakan dilantai dengan cepat memakainya sambil berharap ia tidak membuat masalah besar.
Pintu kamar mandi terbuka dan menampilkan sosok Shea yang baru selesai mandi rambutnya setengah basah dan wajahnya terlihat cerah.
"Selamat pagi, Vano. Kau sudah mau pulang?"
Devano tidak langsung menjawab ia masih sibuk mengancingkan kemejanya dan mencari sesuatu diatas ranjang.
"Vano... Kau kenapa?"
"Maafkan aku, Shea. Kita seharusnya tidak melakukan ini. Aku... Aku sudah menikah dan aku tidak mungkin menjalin hubungan denganmu."
Shea tampak tidak begitu terkejut. Ia tahu jika Devano memang sudah menikah karena cincin yang tersemat dijari manisnya adalah sebuah cincin pernikahan dan itu sudah menjelaskan semuanya.
"Devano, tunggu!"
Devano membalikan tubuhnya dan kembali menatap Shea yang berjalan mendekatinya, "Kau lebih mencintaiku, kan?"
Pria itu terdiam sejenak dan tidak menjawab . Shea tiba-tiba mencium bibir pria itu dan melepaskan tangannya dari pria itu, "Telepon aku nanti malam,ya?"
Devano tidak menjawab ia kembali melangkahkan kakinya untuk pulang kerumah dan menemui Sia yang sudah dipastikan sangatlah kecewa padanya.
Sia... Aku benar-benar minta maaf. Aku tidak bermaksud untuk melakukan ini.
Semalam kejadiannya terjadi begitu saja. Devano dan Shea menikmati obrolan mereka sambil ditemani sebotol alkohol yang sengaja Shea pesan untuk keduanya. Selanjutnya tidak bisa dicegah lagi saat nafsu dan alkohol sudah menguasai diri dan pikirannya. Devano tidak dapat menolak ajakan Shea untuk bercinta dikamar hotelnya.
Devano mengakui bahwa dirinya menyesal dan sangat merasa bersalah karena telah berhianat kepada cinta istrinya. Devano tidak bisa melakukan apa-apa disaat dirinya juga ingin kembali memeluk gadis itu mantan kekasihnya yang sejak dulu ia damba.
"Maafkan aku, Sia. Aku telah menodai pernikahan kita."
Mobil itu akhirnya sampai disebuah pekarang besar sebuah rumah mewah yang Devano tempati bersama Sia istrinya. Devano memarkirkan mobilnya sambil mempersiapkan hati untuk kemungkinan terburuk. Ia tidak tahu alasan apa yang akan Devano berikan jika Sia menanyakan keberadaannya semalam.
Apa aku harus jujur pada Sia? Tapi bagaimana jika Sia marah dan tidak terima.
Dengan terpaksa Devano berbohong karena ia tidak ingin membuat Sia merasa sakit hati. Ia mencintai perempuan itu dan ia tidak akan sanggup jika membuatnya menangis.
Ia membuka pintu utama dan seketika penciumannya mencium aroma makanan dari arah dapur. Sepertinya Sia sedang tidak bekerja untuk hari ini karena biasanya jam segini ia sudah berada dikantor.
Devano berjalan dengan mengendap-ngendap karena ia tidak ingin Sia menyadari kepulangannya. Pria itu melihat sang istri tengah mengocok telur dan memasukan beberapa bumbu kedalamnya. Sepertinya Sia memang tidak menyadari kepulangannya dan Devano memanfaatkan kesempatan ini untuk meminta maaf.
Dengan gerakan cepat Devano berdiri dibelakang tubuh istrinya dan mendekapnya dengan erat tubuh Sia yang bisa dibilang lebih berlekuk daripada Shea.
"Sayang, aku minta maaf...."
Sia tersenyak pelan saat merasakan pelukan itu secara tiba-tiba. Hati Sia kembali perih saat mengetahui jika suaminya baru pulang saat jam telah menujukan hampir pukul 11. Ingin rasanya ia memaki dan meneriaki suaminya, tapi Sia bukan tipe wanita seperti itu. Ia tidak suka mengomel apalagi memaksakan kehendaknya. Tidak, Sia tidak di didik demikian.
"Kau sudah makan? Kebetulan tadi aku bangun kesiangan dan aku sedang menyiapkan makanan."
Devano sedikit terkejut karena istrinya tetap bertutur kata lembut kepadanya setelah apa yang terjadi tadi malam. Perasaan nyeri itu semakin terasa dihati Devano karena mengetahui istrinya tidak marah sama sekali kepadanya.
Devano mencium tengkuk Sia yang beraroma manis seperti vanilla. Ia memejamkan matanya karena sekelebat bayangan semalam kembali muncul dan membuatnya lagi-lagi merasa sangat bersalah.
"Semalam aku--"
"Tidak apa-apa." Sia membalikan tubuhnya.
"Aku sudah mendengarnya dari Austin jika semalam kau terjebak diluar kota karena mobilmu mogok."
Bibir Devano lantas terkunci. Dahinya mengerut dalam saat Sia menyebut nama Austin.
"Austin? Dia memberitahumu?"
Sia mengangguk pelan walapun sebenarnya ia sangat kecewa karena Devano tidak pulang.
Sia merasa aneh saat penciumannya mencium aroma lain dari kemeja Devano dan ia menduga jika ini adalah parfume berbeda.
"Deva... apa kau mengganti parfume mu?"
Devano dengan segera mengendus bau tubuhnya sendiri lalu ia menggeleng cemas, "A-aku tidak menggunakan parfume apapun. Semalam dipanti jompo tidak sengaja ada nenek tua yang memelukku sebagai ucapan terimakasih katanya."
Sia tidak mengetahui kemana Devano pergi semalam ia hanya tahu jika suaminya ada sedikit urusan diluar kota.
Ia terpaksa berbohong lagi demi menutupi kenyataan pahit yang semalam terjadi. Bukan parfume orang asing melainkan Shea lah yang menyebabkannya. Mereka berciuman panas dan tubuh Shea menempel erat padanya dimalam itu.
"Sia... Aku akan mandi dulu, kamu selesaikan saja acara memasakmu dan tunggu aku."
Devano mencium kening istrinya lalu ia dengan segera pergi untuk menghilangkan setiap jejak pada tubuhnya agar Sia tidak menaruh kekecewaan pada dirinya.
Sia menatap kepergian Devano dengan sendu ia tahu jika Devano tengah berbohong kepadanya.
Wanita itu tahu jika parfume yang menempel pada tubuh suaminya adalah parfume yang digunakan wanita modern zaman sekarang. Tidak mungkin ada nenek dipanti jompo menggunakan parfume semahal itu, anak kecil pun tahu jika parfume sewangi dan semahal itu hanya digunakan untuk pesta dan acara penting.
Namun Sia tidak memikirkannya lebih lanjut. Ia akan menerima apapun selama Devano nya tidak meninggalkan dirinya lagi seperti dulu.
...
Dilain sisi
Didalam kamar Devano langsung menghubungi Austin adalah salah satu sahabatnya dan Sia dulu. Ketiganya bersahabat saat kuliah. Dan setelah Sia memutuskan pergi persahabatan merekapun akhirnya putus.
"Hallo, Dev?"
"Kapan kau menelepon--"
"Aku terpaksa berbohong karena aku tahu kalau aku jujur, maka Sia akan kecewa berat. Apa yang kau lakukan? Mengapa kau tega membiarkannya sendirian?"
Devano berjalan dan mengunci pintu kamarnya lalu ia duduk dengan frustasi dipinggir ranjang,"Tidak ada, hanya... Urusan kecil."
"Kau memang pembohong ulung. Aku melihatmu disana berdua, dipinggiran jalan seperti orang kurang ajar."
"Apa maksudmu?"
Helaan napas panjang terdengar disebrang sana dan Devano kembali merasakan gelisah,"Kau dan Shea aku melihat kalian berdua bersama semalam. Dan sepertinya kau pergi ke hotel bersama dia. Dan saat itu aku tengah dalam perjalanan dan tak sengaja melihat kalian berdua disana."
Devano memejamkan matanya dan kepalanya mulai terasa pusing. Karena saat ini ada orang lain yang mengetahui rahasia tadi malam dan ini bukan berita bagus mengingat Austin adalah orang yang lumayan dekat dengannya dan juga Sia.
"Aku mohon Austin, jangan katakan apapun pada Sia. Aku tahu aku salah dan aku--"
"Kenapa baru menyesal sekarang? Kau tahu aku menjemput Sia dihalte bus semalam dalam keadaan hujan deras dan dia sedang kedinginan disana sendirian dan itu sudah begitu malam. Apa yang kau lakukan disaat itu terjadi? Berhubungan seks dengan manyan gilamu itu? Buka matamu, Deva. Kau tidak mencintai Sia dengan tulus, kau menjadikan dia bayang-bayang mantanmu itu dan--"
"Tutup mulutmu, brengsek! Aku mencintai Sia dan aku menginginkan dia. Kau tahu apa soal hubungan kami?" Rahang Devano mengeras ia terlihat begitu marah. Sebelah tangannya terkepal kuat saat mendengar kalimat itu keluar dari mulut sahabatnya.
"Sebut itu pada dirimu sindiri,Deva! Jika kau memang mencintai dan menginginkan Sia, kau tidak akan pernah mungkin selingkuh darinya. Kalau kau memang cinta kepadanya tidak mungkin kau terus menerus membuatnya kecewa dan bahkan tega membiarkannya sendiri ditengah malam yang berbahaya seperti itu! Aku sudah mempringatimu sejak awal, Deva. Jangan pernah menikahi Sia jika dirimu tidak benar-benar mencintainya. Karena apa? Kau hanya akan menyakiti dan membunuh jiwa nya secara perlahan. Pikirkan lagi semuanya, Devano. Kau pria, dan buktikan jika dirimu memang pantas disebut pria dengan meninggalkan wanita yang tidak kau cintai!"
Devano langsung mematikan sambungan teleponnya dan melemparkan ponselnya keranjang. Ia menutup wajahnya dengan kedua telapak tangannya dan benar-benar menyesali semua yang terjadi. Namun tidak dapat dipungkiri jika dirinya masih mencintai Shea dan berharap untuk kembali bersatu dengan wanita itu. Bagaimana dengan Sia? Apa Devano harus jujur soal perasaannya yang kembali tumbuh untuk Shia dan menceraikan wanita itu?
Tidak. Devano juga mencintai Sia dan ia tidak mau melepaskan perempuan itu karena Devano memang menginginkan Sia. Ia memang pria brengsek, tapi apakah dirinya memang patut untuk disalahkan?
"SIALAN!" Ia berteriak kesal karena masalah semakin bertambah rumit tanpa ia sadari.
"Tidak apa-apa... Ini hanya hubungan satu malam. Aku tidak akan melanjutkannya lagi."
