Pustaka
Bahasa Indonesia
Bab
Pengaturan

Bab 4 A Guiltless Twisted Lie

Lanjutan bab sebelumnya

Alistasia sejak menatap pantulan dirinya didepan cermin dan sesekali ia mengukir senyuman manis karena gaun yang ia kenakan saat ini sangatlah cocok pada dirinya. Sia meraih sebuah kalung berlian dari dalam kotak perhiasan miliknya kalung pemberian Devano dan memakainya di leher, membuat tampilan Sia tampak sangat memukau.

"Oke, aku rasa aku siap."

Sia terkekeh pelan saat mengingat perkataan Devano yang memintanya menunggu di dalam restoran karena ada kejutan lain yang ingin laki-laki itu berikan. Seperti kencan remaja ingusan yang sedang di mabuk asmara, namun entah bagaimana Sia menyukainya. Bagamana pun bentuk acara kencan mereka, Sia tidak akan pernah merasa tidak puas selama semua itu pemberian Devano laki-laki yang sangat di cintainya.

Sia pergi menaiki sebuah taksi karena nanti ia akan pulang bersama Devano suaminya. Tak membutuhkan waktu lama akhirnya Sia sampai di depan restoran tujuannya. Setelah memberikan sejumlah uang kepada sang supir Sia melangkahkan kakinya menuju restoran itu. Restoran terlihat sepi karena Devano sudah menyewanya untuk mereka berdua.

Devano terkadang semanis itu

Di dalam sana ia telah di sambut oleh sang pemilik tempat Anna Parker salah satu teman Devano. Anna tersenyum lebar saat menunggu kedatangan Sia.

"Kau sangat memukau, Sia. Devano pasti akan terpesona melihat penampilanmu malam ini."

Sia hanya tertawa pelan sambil mengucapkan terimakasih dan memilih untuk duduk di sebuah kursi yang telah dihias bunga mawar favoritenya. Mata Sia menatap sekeliling dengan kagum, tempat ini benar-benar di sulap menjadi lokasi kencan romantis oleh Devano. Senyuman tak pernah luntur dari bibirnya apalagi saat dirinya mulai mendengar alunan piano yang terdengar indah di indera pendengarannya.

Kenapa Deva belum juga datang? Aku penasaran dimana dia sekarang.

Lama Sia menunggu, namun tak ada tanda-tanda jika Devano nya akan segera datang. Sia melirik pergelangan tangannya dan ternyata sudah menunjukan pukul 8 malam. Ia sudah berada disana lebih dari satu jam dan Devano belum juga datang.

Ia mulai terlihat gelisah dan bingung karena Devano tidak mengatan apapun tadi sore sebelum keduanya berpisah. Yang Sia tahu Devano memang memiliki sedikit urusan dan akan datang membawa kejutan untuknya.

"Mungkin dia masih bersiap-siap dengan kejutannya," gumam Sia. Ia tidak mau berburuk sangka kepada suaminya apalagi jika langsung merasa kecewa begitu saja.

Anna memperhatikan Sia dari pintu dapur, ia mulai merasa cemas dan mencoba beberapa kali menghubungi Devano untuk menanyakan keberadaan laki-laki itu, namun sayang sekali tidak pernah ada jawaban. Anna takut jika Sia akan menunggu terlalu lama dan dia tidak tahu harus melakukan apa.

Akhirnya Anna memilih untuk keluar menemui Sia dan duduk di hadapan wanita itu, "Sepertinya Devano membawa kejutan yang besar sehingga ia datang terlambat."

Sia hanya tersenyum dan kemudian mengangguk sebagai jawaban. Suara piano sudah tak lagi terdengar karena Sia memintanya untuk berhenti sejenak.

"Sia, kau mau langsung makan saja?"

"Ah, tidak. Aku menunggu Devano dulu."

Anna tersenyum pahit lalu ia pun kembali ke dapur. Di dalam sana ia kembali berusaha untuk menghubungi Devano lagi, tapi lagi-lagi tidak di jawab.

Waktu terus berjalan dan saat ini jam sudah menunjukan pukul 10 malam. Anna memutuskan untuk kembali menemui Sia dan mencoba mengatakan mungkin saja Devano sedang terlibat urusan yang benar-benar darurat sehingga dirinya tidak bisa hadir seperti saat ini.

Sia lagi-lagi hanya tersenyum pahit dan ia akhirnya memutuskan untuk pulang.

"Aku antar ya, Sia?"

"Tidak, usah. Aku akan naik taksi saja."

"Tapi ini sudah malam sekali. Bagaimana jika--"

Sia menggeleng dan dengan cepat dan segera memakai kembali mantel berwarna coklat miliknya sebelum melangkahkan kaki untuk pergi.

Sia berjalan cukup cepat meninggalkan restoran itu dengan kehampaan. Matanya mulai terasa panas dan memerah hingga akhirnya ia menangis. Entah mengapa hal ini bisa membuat dirinya merasa sangat sedih, tapi sekali lagi Devano kembali mengacaukan kencan mereka.

Sia duduk dibangku sebuah halte dengan wajah pucat serta airmata yang tidak henti-hentinya mengalir. Ia belum makan malam dan sekarang jam makan malam sudah sangat telat. Ia tersentak saat mendengar suara gemuruh petir dari atas langit dan diiringi rintikan air hujan yang membuat malam ini semakin terasa dingin. Sia menghosokan kedua tangannya kemudian meniumnya agar tetap terasa hangat. Tidak ada satu pun taksi yang melintas di hadapannya. Apakah ini sudah terlalu malam untuk menaiki transportasi umum?

"Ya Tuhan... Devano, kau dimana?"

Sia merapatkan kembali mantel berwarna coklat yang ia kenakan itu karena ia masih merasa kedinginan. Apa yang membuatnya merasa menggigil selain suhu yang dingin? Jawabannya adalah kesepian. Devano tak ada di sampingnya untuk memeluknya padahal seharusnya mereka sedang kencan romantis di restoran.

"Tidak apa, Deva. Aku tetap mencintaimu meskipun kamu membuatku kecewa ribuan kali."

...

Dilain sisi

Sepasang manusia tampak saling menghangatkan tubuh di tengah dinginnya cuaca luar. Angin kencang disertai guyuran air hujan yang berjatuhan membuat suasana malam mereka sangatlah panas.

Pria itu berkeringat dengan geraman yang sesekali keluar dari bibirnya. Tak pernah berhenti ia bergerak di atas tubuh wanita yang sudah terkulai lemah di bawahnya, bahkan bertambah sangat erotis.

"Engghh! Vano! Oh tidak jangan pernah berhenti aku mencintaimu."

Rancauan itu semakin membuat Devano merasa gila. Ia semakin membercepat gerakannya.

Bibir mereka kembali bersentuhan saling memangut dan mengecap satu sama lain.

"Shea...shit! Aku sangat mencintaimu,sayang!" Devano pun turut berucap tanpa menyadari kalau ucapannya dan prilakunya itu dapat menyakiti hati wanita lain yang saat ini menunggunya di tengah malam yang sepi dan dingin diluar sana.

Devano tidak akan pernah menyadari jika ia telah melupakan janjinya pada sang istri yang tengah kecewa karena harapan semu yang kembali ia berikan.

Keduanya saling meneriaki nama satu sama lain saat sampai pada pelepasan mereka. Devano kembali menumpahkan benihnya didalam tubuh penuh keringat Shea tanpa memikirkan resiko dari apa yang akan terjadi.

"Hmm, kamu tidak pernah berubah. Aku mencintaimu Vano."

Devano tersenyum kecil lalu ia kembali mencium bibir tipis Shea penuh damba dan ia tak akan pernah berhenti untuk melakukan ini. Dirinya telah jatuh kembali. Ia jatuh kedalam pelukan Shea untuk kedua kalinya.

Mata coklat Shea tidak sengaja menatap jari manis Devano. Matanya mengerjap beberapa kali saat menyadari ada cicin pernikahan tersemat dijari manis kekasihnya ini. Itu sempat membuat ia ragu, tapi Shea tidak akan menyerah kali ini. Shea kembali mengingatkan Devano.

" Devano... Jangan pernah tinggalkan aku demi siapapun. Aku tidak akan pernah melepaskanmu lagi."

Unduh sekarang dan klaim hadiahnya
Scan kode QR dan unduh aplikasi Hinovel