Pustaka
Bahasa Indonesia
Bab
Pengaturan

Bab 3 Come Back to You

Keesokan harinya

Sinar mentari pagi mengusik ketenangan pasangan suami-istri yang masih dalam suasana intim mereka, Alistasia terbangun karena bunyi alarm ponsel miliknya. Matanya membulat sempurna saat jam dilayar ponselnya menunjukan pukul 08:15. Sia langsung membangunkan Devano yang tidak kalah terkejutnya dari dirinya. Butuh waktu 15 menit untuk keduanya bersiap-siap.

"Sudah siap?"

Sia mengangguk dan meraih tas kerja miliknya sebelum melangkah keluar kamar diikuti Devano dibelakangnya.

Keduanya pergi menggunakanan mobil sport mewah milik Devano yang sudah terparkir rapi didepan halaman rumah dan bergegas meninggalkan halaman rumah mereka menuju kantor.

Sia tersenyum tipis saat mengingat malam ini adalah jadwal makan malam romantis mereka dan Sia harap tidak akan ada sesuatu yang akan menghalangi hal tersebut seperti sebelum-sebelumnya karena Sia sudah mempersiapkan diri sedemikian rupa untuk malam ini.

Sesampainya dikantor Devano dan Sia berjalan beriringan menuju ruangan masing-masing karena mereka ada meeting penting .

Beginilah kehidupan sehari-hari mereka. Jika sudah berada di lingkungan kantor, Devano dan Sia menjelma menjadi partner yang kooperatif.

Hingga akhirnya jam makan siang pun tiba Devano akan mengunjungi istrinya diruangannya untung mengajaknya makan siang bersama jika keduanya tidak sedang sibuk.

"Kau seperti matahari sayang, wajahmu bersinar sekali."

Sia hanya membalasnya dengan kekehan kecil, Devano memang sering kali memujinya dengan hal-hal konyol seperti saat ini, namun entah bagaimana Sia sangat menyukainya.

Keduanya pergi makan kerestoran yang letaknya memang tidak jauh dari kantor milik Devano.

"Sia, kau mau pesan apa?"

"Samakan saja denganmu, Deva."

Devano mengerucutkan bibirnya kesal karena sejak tiba di restoran Sia sangat sibuk dengan benda pipih kesayangannya itu. Beberapa kali Devano menghela nafasnya namun Sia tetap tidak menghiraukannya. Dengan kesal Devano mengambil paksa ponsel milik Sia yang mendapat respon tidak suka dari sang pemiliknya.

"Kembalikan ponselku, Deva. Aku sedang sibuk."

Devano menghela nafasnya sebelum akhirnya menjawab perkataan Sia " Aku sedang berada tepat didepanmu Sia, kenapa kamu sama sekali tidak menganggapku."

Sia tersenyum gemas dengan sikap suaminya yang terkadang suka berlebihan seperti saat ini "Baiklah tuan MacKenzi, sekarang bisa kembalikan ponselku." Sia tersenyum sangat manis membuat Devano akhirnya luluh juga.

"Kau curang Sia!" Devano mengerucutkan bibirnya dan mengembalikan ponsel milik sang istri.

Sia hanya terkekeh melihat Devano yang sedang merajuk saat ini. Sia langsung meraih tangan Devano dan menggenggamnya, Devano yang melihat itu pun hanya bisa menyunggingkan senyum tipis. Hingga akhirnya makanan keduanya pun datang . Keduanya memakannya dengan tenang dan sesekali berbincang. Setelah selesai keduanya bergegas meninggalkan restoran. Dan kembali ke kantor, Devano mengantar Sia sampai kedalam ruangannya. Kemudian Devano pamit pulang karena ada hal yang harus ia selesaikan terlebih dahulu dan Sia pun mengiyakan itu.

"Nanti malam datanglah kerestoran yang sudah aku persiapkan. Kita akan bertemu disana."

Devano mendekatkan wajahnya kearah Sia mengecup bibir dan kening Sia cukup lama sebelum keluar dari ruangan Sia untuk segera pergi. Devano tidak menceritakan soal dirinya mendapat undangan dari pemimpin perusahaan lain karena tidak ingin jika Sia nya merasa terabaikan. Devano sudah berencana tidak akan berlama-lama diacara tersebut. Dirinya juga sudah mempersiapkan pakaian yang akan ia kenakan nanti malam dan berencana akan membelikan istrinya bucket sebelum menemuinya nanti.

Devano menghembuskan nafas lega ketika dirinya sudah sampai didepan sebuah gedung bertingkat tinggi tempat acara itu berlangsung. Devano merapikan pakaiannya dan rambutnya sebelum akhirnya keluar dari mobilnya.

Sejenak Devano melirik jam tangannya yang masih menunjukan pukul 5 sore, dan ia punya waktu sekitar dua jam lagi sebelum pergi ke kencan spesialnya dengan Sia. Devano sudah memperhitungkan semuanya dan ia yakin kalau kali ini ia tidak akan mengacaukannya lagi.

Devano melangkahkan kakinya masuk kedalam lift yang sudah ada beberapa orang didalamnya. Beberapa dari mereka menyapanya yang hanya dibalas senyuman dan anggukan kepala. Jujur saja Devano tidak menyukai acara membosankan seperti ini.

Pintu lift terbuka dan bisa Devano lihat banyak sekali orang disana yang berpakaian serupa dengannya rapi dan berwibawa dengan jas. Devano melangkahkan kaki mencari sosok pria paruh baya yang memintanya datang secara langsung keacara ini.

Sambil mencari sosok itu Devano berjalan menuju meja yang menyediakan berbagai macam makanan ringan dan juga minuman. Devano meraih segelas wine dan menegukknya perlahan.

"Tuan MacKenzi?"

Devano menoleh kearah sumber suara dan mendapati pria paruh baya yang wajahnya cukup mirip dengan colleganya yang sejak tadi dicarinya. Devano meletakan kembali gelasnya dan menjabat tangan pria itu.

"Bagaiaman kabar anda tuan MacKenzi?"

Devano tersenyum simpul sebelum akhirnya menjawab "Seperti yang anda lihat saat ini " laki-laki paruh baya itu pun membalas dengan anggukan. Keduanya kembali terdiam sampai akhirnya Devano membuka suaranya.

"Namaku Noah Miller, aku paman dari calon pemimpin baru perusahaan, anak dari mendiang kakakku."

Devano menganggukan kepalanya dan berusaha tersenyum sopan walaupun sesungguhnya ia sudah mulai risih dengan suasana seperti ini.

"Terlalu banyak hal tak terkendali semenjak kepergian kakakku, termasuk keadaan perusahaan. Beruntung jika putrinya bersedia menggantikan posisi ayahnya." Laki-laki itu berucap tanpa memikirkan reaksi apa yang akan Devano berikan.

"Kalau boleh tahu, mendiang Tuan Miller terkena penyakit apa?"

"Penyakit turunan keluarga. Kakakku lahir dalam keadaan jantung yang lemah dan itu membuatnya sering sakit-sakitan." Laki-laki itu menunduk sedih

"Syukurlah ada penerus untuk bisnis keluarga kalian."

"Ya benar, Shea sangat membuat kami tertolong."

Devano mengernyitkan dahinya dalam ketika mendengar nama itu dari bibir Noah. Nama itu seakan membawa kembali kenangan masa lalu dimana ia pernah berada disuatu perasaan yang sangat membahagiakan.

"Siapa? Shea?"

Devano berusaha memastikan pendengarannya dan entah perasaan bodoh darimana Devano berharap jika itu adalah Shea yang sama dengan mantan kekasihnya dulu.

"Ya, benar. Shea Kanaka Miller, keponakan cantikku yang bersedia yang kehilangan karrirnya sebagai model hanya untuk meneruskan bisnis keluarga."

Napas Devano tertahan. Kepalanya terasa begitu aneh saat sekelebat bayangan masalalu itu kembali muncul dan membuat hatinya terasa semakin sesak ingin melepaskan rasa rindu dan kesal yang bercampur aduk menjadi satu setelah sekian lama terkubur menanti sebuah kedatangan.

"Shea...Shea itu?"

Noah ingin menjawab pertanyaan Devano namun suara Mc sudah terdengar dari alat pengeras suara diruangan tersebut mengalihkan perhatian semuanya. Noah pun pamit dari hadapan Devano untuk memberkan pidato penyambutannya.

Devano terdiam ditempat. Kepalanya begitu terasa pusing dan ia benar-benar penasaran dengan penampilan Shea yang sekarang setelah perpisahan mereka 7 tahun yang lalu.

Benarkah dia Shea itu? My sweety bunnyku?

Kepala Devano kembali menoleh saat tepukan riuh dari seisi ruangan, ia segera menatap kedepan dan matanya semakin melebar saat mendapati Shea yang berada disana. Shea terlihat semakin cantik dengan balutan gaun berwarna putih yang ia kenakan. Wajahnya dipoles dengan sentuhan tangan profesional membuat penampilannya malam ini semakin sempurna. Dan senyumannya masih terlihat mempesona dimata Devano sama seperti dahulu dan itu membuat kinerja jantung Devano semakin tidak karuan.

Hati Devano kembali mendambakan sosok cantik yang sedang tersenyum didepan sana, ia benar-benar merindukan kebersamaan mereka yang harus terpisahkan karena alasan konyol.

Unduh sekarang dan klaim hadiahnya
Scan kode QR dan unduh aplikasi Hinovel