Pustaka
Bahasa Indonesia
Bab
Pengaturan

Bab 2 Our Marrigae Life

Drrt! Drrt!

Devano meraih ponsel dari balik saku celananya saat benda itu bergetar. Adrio menelepon dan sudah bisa di tebak kalau sekretarisnya itu ingin memastikan kalau dirinya benar akan datang ke acara besok sore.

"Devan, aku menelepon--"

"Jangan khawatir. Semua sudah terencana dengan baik. Aku akan datang kesana selama dua puluh menit lalu menjabat tangan si pemimpin baru kemudian pamit pulang karena aku ada kencan spesial dengan istriku. Paham?"

Terdengar dengusan kesal di seberang sana membuat sudut bibir Devano terangkat sedikit.

"Tidak perlu kamu jelaskan sedetail itu, brengsek! Apa kau berniat pamer?"

Devano hanya menjawabnya dengan gumaman kecil lalu ia mematikan ponselnya. Setelah itu, Devano berpamitan pada Diana untuk kembali ke kantor karena dia masih ada meeting sore nanti.

...

Di tempat lain, tampak seorang perempuan berambut coklat panjang tengah menyusun beberapa berkas yang sedari satu minggu lalu membuatnya pusing. Dia tidak bisa tidur nyenyak karena urusannya pada perusahaan yang nyaris bangkrut ini sangatlah banyak. Beruntung karena adik dari ayahnya mau membantu dengan menyuntikkan dana kepada perusahaannya, jadi ia mampu untuk kembali dan meneruskan usaha keluarga yang sudah berjalan cukup lama ini.

"Nona Shea, ada telepon dari Tuan Noah."

"Oh, ya?"

Shea Kanaka Miller, perempuan berusia 26 tahun. Ia dulu adalah seorang model terkenal di London sebelum dirinya terpaksa melepaskan karirnya demi meneruskan perusahaan milik ayahnya yang hampir bangkrut. Jika bukan karena permintaan terakhir ayahnya, Shea mana mungkin mau bekerja di perusahaan seperti ini apalagi bukan merupakan keinginannya.

"Ada apa, paman Noah?" Tanyanya ketika menerima telepon dari pamannya.

"Ah, tidak. Paman hanya ingin tahu kabarmu hari ini, nak."

"Sejauh ini aku masih disibukkan dengan kertas-kertas membosankan dan terkadang aku merindukan untuk berjalan di catwalk."

Noah tertawa di seberang sana. Dia mengatakan kepada keponakannya kalau bekerja di perusahaan tidak seburuk yang Shea kira.

"Kau akan baik-baik saja, Shea. Jangan lupa untuk terus tersenyum pada acara penyambutan mu besok malam. Siapa tahu kau menemukan jodoh."

Shea tertawa kecil menanggapi lelucon sang paman. Ia hanya mengiyakan dan berusaha memberikan yang terbaik kepada keluarganya. Untuk masalah jodoh, Shea tidak berharap banyak. Ia belum bisa melupakan seseorang di masa lalunya dan itu membuat ia sulit menjalin hubungan dengan pria lain yang berupaya untuk mendekatinya.

Sambungan itu akhirnya terputus setelah Noah mengatakan kalau dia punya pekerjaan lain. Shea menutup gagang telepon itu lalu ia beranjak untuk kembali ke dalam ruangan kerjanya.

Sejenak wanita itu memikirkan soal kejadian di masa lalu dimana ia sempat menjalin hubungan dengan seorang pria bahkan terkesan terlalu jauh karena ia sempat hamil. Shea tidak menampik kalau dirinya menyesal karena telah mengugurkan calon anaknya dengan alasan terlalu cepat menjadi orangtua. Ia tidak pernah merasa baik dan jika waktu masih bisa diputar, Shea ingin mempertahankan bayi itu daripada menggugurkannya.

Wanita itu membuka laci meja kerja dimana dia menyimpan beberapa barang berharga di dalamnya. Ia mengambil sebuah bingkai foto di dalam laci itu lalu diusapnya pelan foto lama tersebut.

Itu adalah salah satu kenangan Shea dan mantan kekasihnya saat sedang berada di taman hiburan. Di dalam foto itu mereka tertawa dan saling merangkul seperti pasangan yang sangat bahagia. Shea penasaran, bagaimana kabar pria itu sekarang? Dirinya benar-benar memutus semua komunikasi dengan teman-teman di masa lalunya termasuk pria itu. Ia bertanya-tanya apakah lelaki yang dulu pernah berkata akan bertanggung jawab padanya itu sudah berbahagia atau mungkin sama seperti dirinya... Merana menunggu takdir Tuhan yang lain.

"Vano, aku merindukanmu...."

Dipeluknya erat bingkai foto itu sambil memandangi pemandangan di luar jendela yang tampak sangat memukau untuknya.

...

"Devano, please... Ini kantor dan juga kita masih dalam jam kerja. Apa kata para pegawai mu jika melihat kita berduaan terus?"

Alistasia sesekali menatap kesal kepada suaminya yang tidak beranjak dari kursi di hadapannya. Devano dengan setia memandangi wajah cantik Alistasia yang sedang disibukkan dengan beberapa berkas desain untuk produk baru mereka di tangannya. Namun itu tidak membuat ia langsung membenci suaminya, Alistasia hanya agak kesal.

"Tidak apa-apa. Kita sedang merayakan hari jadi yang ke enam bulan. Apa itu salah?"

Alistasia menahan senyumnya lalu ia mencubit kedua pipi Devano karena gemas,"Tapi nanti mereka mengira kalau kita sedang berbuat mesum."

Devano dengan cepat meraih kedua tangan Alistasia lalu mengecupnya bergantian. Dia sedang jatuh cinta dan istrinya adalah penyebab kenapa ia bisa jadi sangat mencintai seseorang.

"Aku mencintaimu."

Senyum lebar terlukis di bibir Alistasia. Ia memajukan tubuhnya lalu dikecupnya bibir Devano sekilas untuk membalas pernyataan cinta pria itu.

Devano tidak perlu mendengar pengakuan Alistasia lagi karena dirinya sudah tahu kalau Alistasia memang mencintainya sejak mereka masih remaja. Pria itu merasa lengkap dengan kehadiran Sia di sampingnya dan Devano sempat merutuki kebodohannya dulu karena tak mau mengakui perasaan yang Alistasia punya dan lebih memilih menjauhinya. Apalagi dulu saat kuliah Alistasia pernah menentang hubungannya Devano dengan mantan kekasihnya dulu. Ia benar-benar menyesal karena telah menjauhi Alistasia atas sesuatu yang benar dilakukan oleh wanita itu.

"Sia, besok malam kita akan pergi makan malam romantis di restoran. Aku sudah menyiapkan semuanya dan kuharap kencan kita kali ini tidak seburuk sebelumnya."

Wajah terharu langsung tercipta di wajahnya. Alistasia mengangguk kecil dan berterima kasih kepada Devano. Semua usaha Devano untuk membuatnya merasa spesial benar-benar sukses menjadikan pernikahan ini seperti hal nya di dalam dongeng. Walau mereka punya satu masalah dengan orangtua Devano, tapi tidak mengapa.

"Terima kasih, Deva... Kau benar-benar suami yang romantis."

Devano tersenyum kecil melihat keceriaan yang timbul diwajah istrinya.

Sampai saat ini memang ayahnya belum mau bertemu dengannya dengan alasan Devano terlalu membangkang. Berbeda dengan ibunya, Stella, yang sangat perhatian dan terkadang menanyakan kabar mereka.

Malam hari datang begitu cepat. Kepulangan mereka diwarnai dengan canda tawa karena Alistasia mengatakan beberapa hal lucu soal teman setim nya. Seasana itu semakin membuat hubungan mereka semakin hangat. Alistasia sangat menyukai saat-saat dimana ia bisa tersenyum dan tertawa bersama Devano-- pria yang sedari dulu merupakan impian terbesarnya.

"Deva, ini memang hari yang berat karena kita harus mengerjakan banyak dokumen ditambah ada beberapa kendala saat di kantor. Kuharap besok akan menjadi sesuatu yang indah."

Alistasia menyentuh punggung tangan Devano yang masih memegang stir lalu mengusapnya pelan. Wanita itu sebenarnya merasakan sesuatu yang tidak enak, tapi dia tak mau mengatakannya kepada Devano karena menurutnya tidak begitu penting untuk dibahas.

"Sia, kau adalah segalanya untukku. Rasa lelahku bukanlah apa-apa jika itu kulakukan untuk kebahagiaan mu."

Bibir Alistasia menyunggingkan senyuman manis yang mampu meluluhkan hati pria lemah seperti Devano. Betapa ia mencintai pria ini dan Alistasia harap cintanya kepada Devano tak akan menjadikan petaka untuk hidupnya.

"Berjanjilah untuk tetap seperti ini, Deva. Berjanjilah kalau kau akan tetap mencintaiku."

"Aku bersumpah, Sia. Cinta hanya milikmu seorang."

Unduh sekarang dan klaim hadiahnya
Scan kode QR dan unduh aplikasi Hinovel