Bab 1 Selamat Hari Pernikahan
Tiga bulan sebelumnya.
Hari ini adalah tepat sembilan bulan pernikahannya dengan Alistasia. Devano menikahi sahabatnya sendiri.
Wanita itu berniat menyiapkan sebuah hadiah anniversary untuk suaminya yang masih tertidur di atas ranjang mereka.
Betapa membahagiakannya pernikahan ini apalagi disaat Devano juga mengatakan kalau dirinya mencintai Alistasia seperti perempuan itu mencintai Devano.
Diam-diam Alistasia duduk di atas ranjang lalu mengusap rambut berantakan Devano. Bibirnya mendekati telinga sang suami sebelum berbisik lembut,"Happy Anniversary Deva."
Tak lama setelah bisikan itu, sudut bibir Devano mulai menampakkan seulas senyum manisnya yang dulu mampu menggoda para gadis. Mata coklatnya perlahan terbuka dan wajah sang istri adalah yang pertama kali Devano lihat.
"Selamat hari pernikahan yang ke sembilan bulan, Sia."
Pria itu lantas mengecup bibir istrinya lalu membawa Alistasia ke dalam pelukannya. Devano benar-benar mencintai istri sekaligus sahabatnya ini dan berjanji untuk tidak membuatnya kecewa.
"Apa kau mau ku buatkan sesuatu yang enak untuk sarapan?"
Alistasia menaruh telapak tangannya di atas dada Devano dan menatap wajah rupawan suaminya yang selalu ia cintai sejak masih remaja. Devano hanya menyunggingkan senyum sebelum ia menyampirkan rambut yang menutupi kening Alistasia.
"Aku mau memakan mu saja."
"Hmm, kau selalu saja seperti ini. Ya sudah, aku buatkan sarapan paling spesial untukmu ya?"
Alistasia bangkit dari atas tubuh Devano lalu ia berjalan keluar kamar untuk membuat sarapan spesial di pagi hari ini, sedangkan Devano tetap bergulung di dalam selimut dan kembali menikmati tidurnya. Beberapa saat kemudian, suara ponselnya berdering kencang membuat Devano terpaksa terbangun lagi.
Ia menggerutu sejenak sebelum mencari ponselnya yang tergeletak di atas ranjang. Tanpa melihat siapa yang menelepon, pria itu lantas menjawab panggilan tersebut.
"Ya, halo?"
"Kenapa, Rio? Kau menelepon pagi sekali?"
Dengusan sebal terdengar di seberang sana, tapi Devano tidak memedulikannya. Matanya kembali terpejam dan yang ia inginkan hanyalah kembali tidur.
"Devan, kau dapat undangan."
"Undangan apa? Dari siapa?"
"Versace.Inc. Peresmian pemimpin baru mereka."
"Kapan acaranya?"
"Besok malam jam 8."
Mata Devano lantas terbuka sempurna. Ia lagi-lagi merasa kesal karena sekretarisnya selalu seperti ini.
Maksudnya, hari ini adalah peringatan yang ke sembilan bulan pernikahannya dan rencananya Devano hendak mengajak Alistasia kencan besok malam.
"Rio, aku punya rencana untuk besok malam. Kenapa tidak kau saja yang menghadirinya?"
"Tidak bisa, Devano. Utusannya bilang jika ingin kau sendiri yang menghadiri acara itu."
Devano terduduk di atas ranjang sambil memijat kepalanya. Ia melirik foto pernikahan antara dirinya dan Alistasia yang terpajang di dinding kamar sebelum dirinya kembali berpikir keras.
"Kapan acaranya dimulai?"
"Sebelum jam makan malam. Kau bisa datang sebentar saja, setidaknya temui pemimpin baru mereka."
"Oke, aku akan datang sebentar."
"Baiklah, Devan. Ngomong-ngomong jangan lupakan meeting pagi ini."
Devano hanya bergumam sebelum sambungan telepon itu terputus.
Pria itu menaruh ponselnya ke atas meja lalu ia melangkah keluar kamar untuk melihat istrinya di dapur.
Sesampainya ia di pintu dapur, bisa Devano lihat kalau Alistasia tengah sibuk memerhatikan buku yang ia yakini merupakan resep-resep memasak dan istrinya itu pasti tengah mencoba untuk membuat menu sarapan baru.
Dengan langkah yang seperti seorang pencuri, Devano mendekati istrinya lalu didekapnya tubuh Alistasia dari belakang.
"Harumnya tercium sampai kamar," Ucap Devano sembari mengecup leher Alistasia seperti pria mesum.
Alistasia yang tengah memegang buku lantas tersenyum kecil dan ia mengusap lengan suaminya yang mendekap tubuhnya itu.
"Kau selalu berlebihan. Aku baru memotong beberapa bahan makanan saja."
"Aku berbicara soal harum tubuhmu, sayangku."
Devano membalikan tubuh Alistasia lalu ia mencium bibir istrinya dalam keadaan belum mandi ataupun menggosok gigi. Memang terdengar menjijikan, tapi anehnya Alistasia tidak pernah menolak ciumannya bahkan terkesan sangat mendamba daripada Devano sekalipun. Mungkin ini arti cinta yang di katakan oleh orang-orang.
"Deva, aku ingin membuat sarapan. Sebentar saja...."
"Hmm, tapi aku tidak bisa menunggu terlalu lama."
Alistasia mengusap pipi suaminya sebelum mendorong Devano untuk duduk di atas kursi makan,"Kau bisa menunggu disini atau pergilah mandi. Aku akan menyiapkan sarapan spesial untukmu."
Devano tersenyum kecil lalu ia mengangguk,"Baiklah. Aku akan mandi dulu dan Sia... Malam ini pakailah sesuatu yang seksi."
Pria itu mengedipkan sebelah matanya sebelum ia beranjak kembali ke dalam kamar untuk mandi. Menikmati hangatnya pagi bersama orang yang dicinta ternyata bisa sebahagia ini. Devano memang masih punya sedikit masalah dengan ayahnya, tapi tak mengapa. Nanti juga mereka akan baikan sendiri.
Sewaktu Devano berkata kalau ia ingin menikahi Alistasia, Alenzo adalah orang pertama yang menentangnya. Pria itu mengatakan kalau Devano terlalu brengsek untuk perempuan baik-baik seperti Alistasia. Pria tua itu mengatakan kalau Devano mesti mencari gadis yang sempat ia hamili dan cari kebenaran soal kehamilan gadis itu. Alenzo merasa kalau perempuan itu hanya berbohong soal menggugurkan kandungan, maka dari itu Alenzo bersikeras meminta Devano menemui gadis itu.
Devano hanya tidak suka jika sang ayah selalu berusaha ikut campur. Bukti sudah sangat jelas tentang bayi yang telah digugurkan itu dan Devano tidak berniat mencari tahu meski di dalam hatinya masih sempat memikirkan soal mantan kekasih yang dulu selalu ia puja di depan orang lain.
Kini dia sudah memiliki Alistasia. Dia istri sekaligus sahabat untuk selamanya. Devano tidak pernah berniat untuk menanyakan kembali soal gadis masa lalunya itu karena yang Devano tahu, Alistasia tidak menyukai jika ia berbicara soal mantan kekasih. Devano hanya ingin hubungannya dengan Alistasia baik-baik saja dan semoga Tuhan membantunya untuk bisa bahagia seperti saudara kembarnya yang sudah menemukan seseorang yang tepat bagi dirinya.
...
Siang itu Devano berangkat ke sebuah restoran dimana dia akan mengajak sang istri berkencan. Devano ingin memastikan sekali lagi kalau acara kencannya akan berlangsung sempurna seperti harapannya.
Restoran yang ia pilih merupakan salah satu restoran milik kenalannya Diana Scottz. Dan di tempat ini lah dirinya melamar Alistasia sebagai istrinya.
"Kau tenang saja, Devano. Semuanya sudah sangat siap, tinggal kau mengajak istrimu besok malam. Aku juga sudah menyewa pemain piano paling terkenal untuk membuat kencan kalian semakin romantis."
"Terima kasih, Di. Aku harap istriku suka dengan kencan kali ini setelah sebelumnya aku selalu mengacaukan acara kencan kami," Balas Devano dengan sedikit ringisan. Benar, ia tidak pernah menjalani kencan yang sukses karena selalu saja ada hambatan maupun kecerobohan yang ia buat. Semoga saja besok malam semuanya berjalan sesuai dengan apa yang ia harapkan.
"Semoga segalanya berjalan sesuai dengan harapan." Devano membathin. Ia ingin sekali membuat sedikit kejutan romantis untuk Alistasia istrinya.
