Pustaka
Bahasa Indonesia
Bab
Pengaturan

Bab 12 It Made Me Learn to Hate You

SORRY FOR TYPOS!

^ Happy reading ^

Pagi itu Alistasia menyiapkan sarapan seperti biasanya. Dia sengaja membuat lebih karena dirinya ingin berbagi dengan mertuanya yang berada di rumah sakit. Stella pasti lupa dengan sarapan karena sibuk mengkhawatirkan kondisi suaminya, jadi Alistasia berinisiatif untuk membawakan bekal kepadanya.

"Sia? Kau sudah mau pergi?"

Wanita itu diam tidak menjawab. Alistasia menutup kotak makanan tersebut lalu menaruhnya ke dalam goodie bag yang ia ambil dari lemari penyimpanan. Devano baru saja bangun dari tidur dan dia penasaran dengan keberadaan istrinya. Ia cukup terkejut karena Alistasia tidak membangunkannya seperti dulu.

Saat Alistasia hendak berjalan melewati Devano, pria itu tanpa aba-aba menarik tangannya lalu dengan tergesa-gesa mencium bibir Alistasia. Namun, Sia tidak semudah itu terpancing karena detik berikutnya, ia menampar pipi Devano.

"Aku bukan jalang yang bisa kau datangi setelah dirimu bosan dengan satu wanita, Devano. Aku bukan perempuan seperti itu!"

Dengan kasar dia mengelap bibirnya yang habis dicium paksa oleh Devano, menyisakan kebisuan yang melanda setelah tamparan itu terjadi. Devano agak kecewa, tapi lagi-lagi ia harus mengalah demi istrinya. Alistasia benar, dirinya bukan perempuan murahan yang semudah itu jatuh ke dalam pelukan pria.

Alistasia menutup pintu rumahnya dengan keadaan yang tidak baik-baik saja. Ia ingin memaki, tapi semua itu ia pendam di dalam hati. Dia tidak mau menjadi wanita penuh drama dengan membalas perbuatan Devano dengan cacian mulutnya.

Wanita itu masuk ke dalam mobil lalu menghidupkan mesinnya. Setelah di rasa siap, Sia pun menjalankan mobilnya menuju rumah sakit dimana ayah mertuanya mendapat perawatan. Ia juga perduli terhadap kondisi sang ayah mertua, maka dari itu dirinya ingin ikut merawat.

Sesampainya ia di parkiran rumah sakit, Alistasia dengan segera turun lalu membawa bekal yang sudah ia siapkan dari rumah. Dirinya berjalan dengan tak lupa tersenyum kepada setiap wajah yang ia temui walau kenyayaannya dirinya masih bersedih atas pengkhianatan yang di lakukan suaminya.

Wanita itu mengetuk pintu ruang perawatan Alenzo sebelum menekan tuasnya ke bawah. Bisa ia lihat di dalam sana, Gweny dan Gavin rupanya telah datang untuk menjenguk. Pasangan itu tampak sangat bahagia dengan kehadiran seorang bayi lucu sebagai pelengkap hidup mereka dan itu membuat Sia merasa iri.

Ia tetap memaksa untuk tersenyum dan menyapa satu persatu anggota keluarga MacKenzi yang ia temui di dalam ruangan ini.

"Selamat pagi, Sia. Lama tidak berjumpa." Gweny mendekap tubuh Sia cukup erat. Sia hanya tersenyum dan menanyakan kabar Gweny yang saat ini tinggal di luar negri.

"Uhm... Ayah, apa keadaanmu baik-baik saja sekarang?"

Alistasia menarik kursi untuk duduk di samping ranjang pasien. Alenzo hanya mengangguk pelan sambil sesekali menerima suapan dari sang istri.

"Maafkan aku karena telah--"

"Jangan. Jangan minta maaf atas sesuatu yang tidak kau lakukan, anakku. Percayalah, ini bukan salahmu," potongnya.

Alistasia menundukkan wajahnya. Dia kembali tersenyum dan berterima kasih karena Alenzo juga Stella tetap berada di pihaknya setelah mengetahui apa yang terjadi.

Wanita itu menghabiskan waktunya di dalam ruang perawatan Alenzo. Ia membelikan Stella makan siang, menyediakan air hangat dan juga membawakan pakaian ganti untuk ibu mertuanya.

Hari beranjak sore dan sedari tadi Devano memang tak menampakan diri. Alistasia menjelaskan kepada Stellah kalau dirinya akan pulang ke rumah dan akan kembali lagi esok hari, tapi Stella mengatakan pada Alistasia untuk beristrirahat saja karena ada janin yang harus di perhatikan.

"Tidak apa-apa, nak. Lagipula Gweny dan Gavin akan ada disini untuk menemaniku. Kau pulang dan beristirahatlah dulu."

Stella memeluk erat tubuh Sia sebelum mencium keningnya dengan sayang. Wanita itu benar-benar berperan sebagai ibu yang baik dan Sia bersyukur karena ia mengenal Stella sebagai ibu mertuanya. Setidaknya hal itu sedikit mengobati rasa rindunya kepada sang ibu yang sudah lama meninggal.

"Kalau begitu aku pulang dulu, Mom, Dad."

"Pulanglah ke Mansion. Kau akan aman disana," Pinta Alenzo. Alistasia hanya menggeleng kecil sembari tersenyum lirih.

"Tidak apa-apa, ayah. Aku akan pulang ke rumahku sendiri."

Alistasia lantas berbalik keluar dari kamar. Wanita itu menghembuskan napas lelah saat akhirnya ia harus kembali pulang dan bertemu dengan suaminya lagi, Devano.

Mobil yang ia kendarai melaju dengan kecepatan sedang ke arah rumahnya. Sedari tadi ia tak berhenti untuk berusaha tenang dan tak terpancing oleh apapun yang bisa membuat dia teralihkan.

Dua puluh menit kemudian, sampailah ia di halaman rumah yang tidak begitu luas. Alistasia melihat mobil lain yang terparkir dan ia yakin jika sedari tadi Devano tidak pergi atau memang pria itu menunggunya.

Ia membuka pintu rumah yang tidak di kunci lalu melangkah ke dalam. Benar saja, ketika ia masuk, Devano telah berdiri di dekat rak sepatu sembari tersenyum padanya.

"Kau sudah makan? Aku sudah menyiapkan makan malam--"

"Aku tidak lapar. Kau makan saja dengan Shea," Tolaknya halus.

Devano menahan lengan Sia yang ingin menjauh darinya dan itu membuat Alistasia kembali marah. Ia menyentak tangan Devano dengan mata yang berkilat penuh emosi.

"Jangan sentuh aku, Devano. Aku tidak sudi!"

Pria itu memang sakit hati, tapi ia tak bisa membalas perkataan Alistasia karena ini memang kesalahannya. Ia selingkuh bahkan membuat selingkuhannya hamil. Istri mana yang akan rela melihat hal itu terjadi?

"Alistasia, aku mencintaimu."

"Cinta? Cinta seperti apa hingga kau tega mengkhianati ku? Hah?! Jawab!"

Alistasia memukul dada Devano dengan tenaganya yang nyaris habis. Ia menangis karena Devano tak bisa membuktikan arti cinta yang ia katakan. Sia kecewa, setelah sekian lama ia berpikir kalau dirinya memiliki Devano sepenuhnya... Dirinya tetap gagal. Ia kalah oleh pikirannya sendiri. Alistasia terlalu jauh berekspektasi sehingga membuatnya merasa benar-benar tertampar oleh kenyataan kalau cinta sang suami bukan miliknya.

"Aku... Sia, aku..."

"Aku ingin bertanya, Devano. Apa kau mencintai Shea dan bayinya?" Suara itu sangatlah bergetar. Devano bisa merasakan ribuan luka hanya dari cara Alistasia berkata, tapi ia memang seorang bajingan karena telah membuat semuanya kian memburuk.

"Kau tidak bisa menjawab? Maka aku artikan itu sebagai iya. Aku membencimu, Devano."

Pria itu mulai kehabisan cara untuk bisa kembali meluluhkan hati Alistasia sehingga membuatnya gelap mata. Devano menarik kedua tangan istrinya lalu menguncinya di belakang tubuh. Ia mendorong tubuh Alistasia sehingga sedikit membentur dinding lalu tanpa basa-basi dia kembali mencium paksa bibir Alistasia.

Sia berteriak di dalam ciuman mereka. Dia menolak tentu saja setelah diperlakukan seperti seorang wanita murahan. Air matanya meleleh seiring dengan perasaan marah dan jijik yang bercampur di dalam hatinya.

Pergolakan Alistasia kian melemah karena kepalanya tiba-tiba pusing. Perlahan kekuatannya hilang digantikan dengan matanya yang tampak memejam.

Tubuh Alistasia terjatuh tepat ke dalam pelukan Devano-- membuat pria itu terkejut. Devano dengan segera menggendong istrinya kembali ke dalam kamar lalu ia mengecek keadaan Alistasia kewat peralatan kesehatan yang ia punya di rumah. Sebelumnya Devano juga menghubungi seorang kenalannya yang merupakan seorang dokter kandungan untuk dapat memeriksa Sia secara detail dan temannya akan datang satu jam lagi.

"Kau akan baik-baik saja, Sayang. Kau hanya demam."

Pria itu turun ke dapur untuk menyiapkan secangkir teh hangat beserta roti isi kepada Alistasia. Dengan langkah terburu-buru dia menaiki tangga dan sesampainya ia di depan pintu kamar, Alistasia rupanya telah terbangun. Wanita itu duduk sambil melamun.

Devano mendekatinya lalu menaruh nampan itu ke atas meja kecil yang terletak di samping ranjang.

"Makanlah ini. Aku tahu kau belum makan sejak tadi."

Pria itu menyodorkan sepiring roti isi ke hadapan Alistasia, tapi wanita itu hanya diam tanpa mau membalas perkataannya.

"Sia, aku mohon--"

"Aku benar-benar membencimu, Devano. Aku tidak menyangka kau juga menganggap ku sama seperti Shea! Aku bukan pelacur yang bisa kau nikmati begitu saja!"

Devano menaruh kembali piring itu ke atas meja. Ia meraih tubuh Alistasia yang bergetar karena tangisan lalau dengan pelan ia kecup pundak wanita itu.

"Maaf. Aku tahu ini salahku, tapi aku ingin kau tahu kalau aku lebih mencintaimu, Alistasia. Aku menginginkanmu dan anak kita."

Menangislah Alistasia setelah mendengar ucapan itu. Ia tidak bisa percaya, tapi di satu sisi dia memang membutuhkan suaminya selalu. Berpisah dari Devano merupakan mimpi buruknya, tapi dia juga tidak sanggup jika harus membagi pria itu dengan wanita lain.

"Kau juga mencintai dia, Devano. Aku tahu kau mengakuinya."

Devano menghapus lelehan air mata dari sudut mata sang istri lalu ia mulai berkata jujur akan apa yang ia rasakan.

"Aku tahu aku bajingan, brengsek, dan semacamnya. Aku salah, tapi Sia... Shea juga sedang hamil. Aku harus bagaimana?"

Alistasia mengepalkan tangannya.

"Demi anak itu... Aku rela kau menikahinya. Namun, maafkan aku... Kita harus bercerai setelah aku melahirkan anakku."

Bagai tersambar petir rasanya setelah mendengar kalimat itu.

Bercerai? Sia ingin meninggalkan aku?

"Aku tidak mau, Sia. Aku tidak mau menceraikan mu!"

"Itu pilihanmu! Nikahi perempuan itu dan ceraikan aku, atau kau lupakan Shea beserta anaknya dan jalani hidup bersamaku. Hanya itu pilihanmu, Devano."

"Tidak!"

Keduanya tersentak dan seketika mereka menoleh ke arah pintu dimana Shea tengah berdiri dengan wajah terluka.

"Devano, kau telah berjanji untuk tidak meninggalkan aku. Kemana janji mu itu? Anak kita juga membutuhkan mu, aku tidak peduli jika orang lain membencinya!"

Wajah Alistasia memanas saat melihat perempuan perusak rumah tangganya ini telah berani mendatangi rumahnya dan berteriak.

Ketika ia berniat untuk berdiri, Devano menahan tangannya dan meminta Sia untuk tetap di atas ranjang.

Pria itu memejamkan matanya untuk berpikir kemudian dia menatap Sia penuh rasa bersalah dan ia yakin kalau wanita itu akan membencinya kemudian hari.

"Sia... Maafkan aku, tapi aku harus menikah dengan Shea demi anak kami."

Pupus sudah harapannya untuk mendapatkan cinta sejati dan sebuah keluarga bahagia. Tubuhnya melemas dengan sisa kepercayaan yang semakin pudar di dalam hatinya. Sia melepaskan tangannya dari Devano lalu ia menggeleng pelan.

"Baik, Devano... Selamat bertemu di pengadilan delapan bulan lagi."

Unduh sekarang dan klaim hadiahnya
Scan kode QR dan unduh aplikasi Hinovel