13. So Let Me Just Give Up
BUDAYAKAN LIKE SEBELUM MEMBACA?
SORRY FOR TYPOS
^ Happy reading ^
Play list : Jessica Benko - A soulmate who wasn't meant to Be
•
•
•
Sejak hari dimana Devano mengeluarkan keputusan menyakitkan itu, hubungannya dengan Alistasia semakin di ujung tanduk. Mereka tidak lagi saling menyapa setiap pagi ataupun sebelum tidur-- lebih tepatnya lagi Alistasia menghindar setiap kontak yang dibuat Devano. Bukan hanya itu, Sia juga memblokir nomor pria itu dan memutus hubungan begitu saja. Mereka tampak seperti dua orang asing yang tinggal di dalam satu rumah.
Hari-hari berlalu dan pernikahan antara Devano dan Shea akan segera di gelar. Pria itu sempat mengatakan pada Sia kalau ia akan mengadakan pesta kecil-kecilan di rumah mereka, tapi Alistasia tak peduli. Wanita itu hanya diam seakan itu menjadi jawaban yang pantas untuk didapatkan Devano.
Pagi itu ia tengah menyiapkan sarapan seperti biasanya. Sia hanya mengenakan gaun tidur tipis dengan rambut yang ia gulung di atas kepala. Kandungannya sudah berusia dua bulan saat ini dan dia senang karena janin di dalam perutnya tumbuh sehat. Walau sesekali ia merasakan mual dan lapar, tapi Sia tidak mengeluh. Wanita itu tetap sabar dan mengurus dirinya sendiri tanpa bantuan siapapun.
Alenzo dan Stella selalu meneleponnya setiap hari untuk menanyakan kabar bahkan sesekali memintanya untuk tinggal di mansion keluarga MacKenzi. Namun Alistasia dengan sopan menolak, ia tidak ingin membuat siapapun kerepotan dengan keadaannya, jadi dia memutuskan untuk tetap tinggal di rumahnya sendiri sampai perceraian itu datang.
Jika mengingat cerai, kerapuhan hatinya selalu diuji. Sia sering diam-diam menangis ketika mengingat kalau pernikahan impiannya akan segera berakhir. Suami yang ia kira mampu membawanya ke negri dongeng lah yang membuat semua mimpinya hancur. Tidak ia sangka Devano bisa bersikap bajingan seperti itu.
Alistasia menghembuskan napas panjang untuk menetralkan rasa sakit yang meremas hatinya. Ia mencuci tangan lalu dibawanya piring berisi makanan itu ke atas meja. Sia tetap menjalankan perannya sebagai seorang istri dengan menyiapkan makanan dan mencuci pakaian suaminya, tapi untuk urusan lain... Sia tidak melakukannya. Ia pikir sudah ada Shea yang akan menggantikan semua itu, jadi dia tidak mau terlibat lebih jauh lagi.
Wanita berambut pirang itu kembali ke wastafel lalu mencuci piring-piring kotor bekas dia memasak tadi. Ia lalu membuat segelas susu ibu hamil untuk dirinya sendiri.
Alistasia tidak menyadari kalau sedari tadi Devano berdiri secara sembunyi-sembunyi hanya untuk menatapnya saja. Pria itu begitu merindukan pelukan sang istri bahkan senyum lebarnya. Dua bulan tanpa kehangatan rumah tangga benar-benar membuat Devano menjadi gila. Ia mencintai Sia, tapi wanita itu tak lagi peduli pada cintanya atau bisa dikatakan kalau Sia sedang belajar untuk membencinya.
Ditatapnya tubuh sang istri yang semakin hari makin menggoda itu apalagi akhir-akhir ini Alistasia sering mengenakan gaun tidur tipis yang membuatnya sangat seksi. Devano frustasi karena tidak bisa menyentuh sang istri dengan bebas seperti dulu. Selalu ada tembok penghalang yang membuat ia kesulitan menjalin komunikasi bersama Alistasia.
Devano mengusap wajahnya pelan sebelum melangkah ke dalam ruang makan. Ia tidak berani menyapa Sia karena Devano tahu jika istrinya pasti tidak akan pernah menoleh atau sekedar hanya menatap matanya saja. Namun, ia merindukan Alistasia dan bayi dalam kandungannya. Devano tidak bisa terus bersikap tidak peduli karena nyatanya dia sangat amat peduli pada kehamilan wanita itu walau tidak dapat dipungkiri kalau perhatiannya juga terbagi kepada bayi di dalam kandungan wanita lain yang akan segera menjadi istrinya juga.
Devano tidak berhenti menatap wajah teduh Sia yang sibuk bolak-balik untuk menyajikan sarapan ke atas meja sebelum akhirnya Devano memberanikan diri untuk menyapa perempuan itu.
"Sia, apa kandunganmu--"
"Dia baik-baik saja."
Devano mengunci bibirnya kembali mendengar perkataan dingin itu. Ia mengepalkan tangan karena rasa rindu yang semakin membuncah di dalam hatinya. Ia tidak ingin seperti ini, dia menginginkan hubungan yang sebenarnya.
Lamunan Devano terhenti ketika melihat Sia tiba-tiba mendekati wastafel lalu memuntahkan cairan dari dalam perutnya. Pria itu dengan cepat menggeser kursi dan berlari ke arah Alistasia untuk membantu istrinya tersebut.
"Masih mual, sayang?"
Jika Devano mengingat, mungkin ini baru pertama kalinya dia memperhatikan Alistasia yang seperti ini. Selama dua bulan Sia menghindar darinya sehingga Devano tidak tahu apakah wanita itu mengalami mual dan lapar.
"Jangan sentuh!" Alistasia menepis pelan tangan Devano yang hendak memegang bahunya. Walau tenaganya melemah, Alistasia masih sadar kalau dia tidak ingin membuat usahanya dalam menjahui Devano menjadi berantakan. Dirinya tidak mau terlihat lemah di depan pria itu.
"Kau--"
"Aku tidak mau kau menyentuhku. Enyahlah!" Perlahan Devano kembali menurunkan tangannya yang ingin mendekap Alistasia. Kakinya mundur satu langkah ketika mata Alistasia menyiratkan kebencian yang begitu mendalam padanya.
"Apa kau sangat membenciku, Sia?"
Alistasia memejamkan matanya sebelum kembali menatap sang suami yang berdiri penuh rasa bersalah dan penyesalan.
"Aku membencimu sampai rasanya..."
Wanita itu memegang dadanya sendiri sebelum terisak,"Sampai rasanya aku ingin membunuh diriku sendiri karena pernah mencintaimu! Aku menyesal akan pernikahan ini dan aku harap kau menemukan kebahagianmu bersama Shea."
Setelah mengucapkan kata itu, Sia pergi meninggalkan Devano sendirian di dalam dapur. Wanita itu menaiki tangga lalu masuk ke dalam kamarnya sendiri untuk kembali mengontrol emosinya yang kini naik ke ubun-ubun. Ia kesal dan frustasi jika mengingat lagi soal pengkhianatan yang dilakukan Devano apalagi kini tinggal menghitung hari sebelum Devano dan Shea menikah. Ia tidak ingin peduli, tapi sayang... Hatinya tidak pernah sejalan dengan pikirannya. Ketika ia berusaha keras untuk merelakan, hatinya memberontak sehingga menimbulkan rasa sakit yang tidak terlihat oleh mata.
Alistasia tidak pernah sesakit ini dalam mencintai seseorang, tapi rupanya Devano membuktikan padanya kalau tidak ada keindahan dalam mencintai seseorang atau sesuatu. Jika diperbolehkan, Alistasia ingin hidup tanpa cinta daripada harus menanggung beban pengkhianatan seperti ini. Risiko mencintai adalah yang paling berat dan bodohnya dia menelan semua itu bulat-bulan.
...
Rutinitas yang ia lakukan siang ini cukup membuat pikiran Shea sedikit pecah. Ia tidak bisa berhenti tersenyum dan terkadang berdebar-debar karena sebentar lagi ia akan benar-benar menikah dengan pria pujaannya sejak masa kuliah. Shea tahu kalau akan ada banyak rintangan yang akan ia hadapi, mengingat kalau sebelumnya Devano sudah menikah dengan seorang perempuan masa lalunya.
Mereka akan menghadapi polemik rumah tangga yang tidak biasa, belum lagi memikirkan orang tua Devano yang tidak sekalipun menyetujui pernikahan ini.
Minggu lalu Alenzo MacKenzi menegaskan secara resmi kalau Devano tidak boleh menyematkan nama MacKenzi di namanya. Itu berlaku juga padanya dan calon anak mereka. Memang terdengar begitu kejam, tapi Shea menerima itu dengan lapang dada asal Devano tetap menikahinya.
