Pustaka
Bahasa Indonesia
Bab
Pengaturan

Bab 11 And I Was Crying Alone Tonight

SORRY FOR TYPOS!

^ Happy reading ^

Play list : Jar of hearts - Christina Perri

"Kau hamil?"

Mata Alistasia menatap dingin ke arah Shea dengan segenap perasaan di dalam hatinya. Seharusnya dirinya tak perlu bertanya karena memang sudah bisa dipastikan kalau Shea benar-benar hamil. Ia tidak perlu merasakan sakit hatinya dua kali karena fakta itu.

Shea hanya mengangguk saja sambil mengusap perutnya. Wanita itu tidak merasakan sambil mengusap perutnya. Wanita itu tidak merasakan sakitnya terkhianati seperti yang Alistasia alami dan hal tersebut sangat amat membuat Sia ingin mencekik leher Shea dengan kedua tangannya.

"Jadi kau ingin apa?"

"Alistasia, kita sama-sama perempuan dan dari yang kudengar dari ayah mertuamu, kau juga hamil. Kau... tentu tahu apa yang aku inginkan?"

Alistasia tak berniat untuk membalas. Wanita itu dengan segera berdiri dan meminta Shea untuk mengikuti langkahnya kembali ke lantai bawah. Sudah ia putuskan, dirinya tidak akan membiarkan Devano melakukan kesalahan lagi. Jika memang benar Devano dan Shea saling mencintai, maka ia akan membiarkan suaminya untuk menikahi Shea. Sia hanya tidak ingin Devano selingkuh bahkan yang lebih parah lagi sampai meniduri perempuan lain. Cukup sampai di sini dan ia harap suaminya bisa puas dengan keputusan yang ia beri.

Ketiga orang di ruang tamu rupanya memang menunggu mereka. Dari ketiga wajah tersebut, hanya Devano yang terlihat sangat frustasi. Alistasia tidak lagi menangis, dia enggan melihat wajah sang suami bahkan rasanya sangat jijik.

"Aku sudah memutuskan..."

Alistasia mengepalkan tangannya ketika air mata ternyata masih bisa jatuh walau ia tahan sedemikian rupa. Rasanya sama seperti dulu ketika Devano lebih memilih untuk bersama Shea dan membuang dirinya, Sia seperti kembali ke masa lalu meskipun dalam keadaan yang benar-benar berbeda.

"Aku akan membiarkan Devano menikahi Shea karena wanita itu sedang hamil!"

Mata Devano membulat sempurna saat mendengar pernyataan itu keluar dari bibir istrinya. Dirinya tidak menyangka kalau Shea benar-benar memberitahu soal kehamilan itu kepada Alistasia. Betapa hancurnya hati istrinya saat ini dan Devano tak tahu apakah dia bisa memperbaiki masalah yang ia timbulkan.

"Apa katamu?! Kau...!"

Alenzo memegang dadanya yang tiba-tiba terasa sakit seperti tertusuk pisau. Napas pria itu mulai tercekat seiring dengan rasa sakit yang mendera dadanya.

"Alen!" Stella dengan cepat mendekati suaminya dan menangis karena menyadari kalau dia terkena serangan jantung lagi.

"Ayah, bertahanlah!" Devano dengan segera merangkul sang ayah dan membantunya masuk ke dalam mobil. Stella dan Sia mengikutinya.

...

Alistasia menunggu dengan perasaan yang tidak karuan. Dia duduk di kursi tunggu sambil mengusap cincin pernikahannya yang tersemat di jari manis. Bagaimana nasib dirinya ke depan? Apakah keputusannya tadi siang akan membawa ke lautan kebencian?

Bantulah aku untuk bertahan, Tuhan...

Shea sedari tadi tidak menampakan dirinya. Mungkin Devano meminta wanita itu untuk tidak datang atau memang Shea tak mau menjadi orang yang disalahkan. Alistasia tidak perduli, dia cukup khawatir dengan keadaan ayah mertuanya yang saat ini masih terbaring lemah dibatas ranjang rumah sakit.

Hari sudah malam dan ia masih termenung di luar ruangan tanpa ada niatan untuk pulang.

Tanpa ia ketahui, sedari tadi Devano berdiri di balik dinding dan menatapnya penuh penyesalan. Devano baru mengetahui soal kehamilan Alistasia dan harusnya sekarang mereka sedang berbahagia berdua, bukannya saling menarik diri dan pergi. Sia tidak mau bertemu dengannya dan dia tahu kalau memang sewajarnya ia bersikap begitu. Devano sudah begitu menyakiti perasaannya dan ia tidak tahu apakah Sia mau memaafkannya lagi.

Dengan segenap keberanian pria itu berjalan mendekati istrinya yang duduk sambil melamun. Ia berjongkok di depan tubuh Alistasia lalu dengan cepat ia menggenggam telapak tangannya.

"Sayang, ayo kita pulang. Kau--"

"Aku tidak mau melihatmu, Devano. Pergi dari hadapan ku," Dengan pelan Sia menarik kedua tangannya yang digenggam oleh sang suami, tapi Devano menolak. Pria itu tetap menggenggam erat telapak tangannya.

"Ini salahku. Aku tidak jujur padamu dan semuanya menjadi kacau. Kumohon Sia, beri aku kesempatan untuk--"

"Kau mau menikah dengannya, kan? Silahkan. Lakukan semua yang kamu inginkan karena aku tidak peduli. Setelah aku melahirkan anakku, surat perceraian akan segera datang. Kita akan bercerai."

Deg!

Alistasia melepaskan genggaman tangan Devano lalu wanita itu berdiri dari hadapan pria yang sedari dulu ia cintai. Hatinya terasa perih, tapi dia tidak mau menjadi bodoh dengan membiarkan Devano menginjak-injak dirinya. Jika perceraian adalah jalan satu-satunya, maka Alistasia akan menuruti perintah ayah mertuanya.

Devano terpaku di tempatnya ketika mendengar perkataan itu keluar dari bibir sang istri. Dirinya tidak menyangka kalau Sia benar-benar ingin bercerai disaat mereka akan memiliki anak. Bagaimana ini? Di satu sisi dia juga tidak bisa membiarkan Shea sendirian karena itu pun juga tengah mengandung. Tidak mungkin Devano meninggalkan Shea begitu saja.

Pria itu dengan cepat mengejar Alistasia yang hampir mendekati parkiran mobil. Devano memeluk tubuh wanita itu dengan penuh kasih lalu tangannya pun tak ketinggalan untuk mengusap perut istrinya yang kini telah mengandung,"Aku mencintaimu, Sia. Aku tidak akan pernah menceraikan mu. Aku tidak bisa melakukannya."

"Kau penipu, Devano. Kau tidak mencintaiku!" Alistasia menyentak tangan Devano yang melingkari pinggangnya, lalu ia berbalik menatap Devano dengan kumpulan air mata yang siap jatuh membasahi pipinya.

"Kalau kau memang mencintaiku, kau tidak mungkin meniduri perempuan lain. Kau tidak mungkin membohongiku soal malam itu dan yang paling penting... Tidak mungkin seorang pria mencintai dua wanita di saat yang bersamaan. Tidak... Mana ada rumus seperti itu."

Wanita dengan hati yang rapuh itu lantas pergi meninggalkan Devano menggunakan kendaraannya. Alistasia butuh waktu untuk berpikir dan dia tidak mau menjadi stres hanya karena memikirkan kebodohan sang suami.

Sia mengusap air matanya yang terus berjatuhan. Dirinya tidak tahu kenapa semua kesialan seperti datang bertubi-tubi.

"Devano... Kau tidak mencintaiku, kau tidak pernah mencintaiku sebentar saja..."

Ia mencengkram kemudi mobil cukup erat ketika sekelebat bayangan masa lalu kembali menyeruak di dalam pikirannya. Sia merasa hancur dalam sekejap, apalagi ketika mengetahui kalau wanita yang membuat Devano mengkhianatinya adalah masa lalu pria itu sendiri.

"Kau hanya tidak tahu, Deva... Aku lebih dulu hancur sebelum ini!"

Wanita itu memukul dadanya beberapa kali karena rasa sakit kembali membuat hati dia terluka. Ada sesuatu yang Sia sembunyiin dan tak ada seorang pun yang tahu. Sesuatu yang membuat Devano menjadi semakin merasa bersalah padanya.

Mobil itu akhirnya berhenti tepat di depan rumah sederhananya. Alistasia keluar dari mobil itu dengan sisa air mata di pipinya. Ia melangkah tanpa tenaga ke dalam rumah. Pikirannya kosong dan dia takut kalau hal itu akan menguasai kesadarannya.

"Aku hanya ingin sendirian. Tidak perlu siapapun di sampingku..."

Wanita itu lalu melangkah ke dalam kamar untuk beristirahat. Mungkin besok pagi ia akan menjenguk mertuanya karena malam ini yang dirinya inginkan hanyalah menyendiri.

Setelah membersihkan dirinya, Alistasia kemudian berbaring di atas ranjang dalam posisi menyamping. Matanya terasa begitu berat dan dia ingin tidur untuk melupakan kesedihannya sejenak walau tak ada yang menjamin kalau besok pagi ia akan kembali tersenyum.

Di tengah malam yang sunyi itu, pintu kamarnya terbuka. Devano pulang untuk melihat kondisi istrinya. Ia memang pria bajingan yang tidak tahu malu, tapi jujur saja... Devano memang mencintai Alistasia. Ia tidak mau kehilangan wanita itu apalagi kini ada seorang bayi yang tumbuh di dalam perutnya. Bagaimana bisa Devano membiarkan Alistasia melewati semuanya sendirian. Dia juga menginginkan bayi yang Sia kandung.

Dengan gerakan hati-hati ia ikut berbaring di belakang tubuh sang istri. Di dekapnya tubuh Alistasia dari belakang sambil mengecupi pelipis wanita itu.

Devano mengusap permukaan perut Sia dengan sayang. Apa mungkin bayi di dalam kandungan Alistasia juga ikut cemburu kearena cintanya telah terbagi kepada yang lain?

"Daddy loves you, little sunshine. I won't leave you alone..."

Tanpa Devano ketahui, air mata Alistasia jatuh membasahi pipi. Wanita itu sebenarnya telah terbangun sejak mendengar pintu kamar dibuka, tapi ia tetap berpura-pura seperti orang tidur karena terlalu menyakitkan untuk bertatapan dengan suami yang telah tega mengkhianatinya.

Tangannya terkepal erat di balik selimut yang ia kenakan. Sia tidak tahu cara untuk menyikapi ini karena dia telah kehabisan akal. Hatinya kembali merasakan pedih setelah mendengar kalimat itu terucap di bibir Devano.

Kamu bahkan tidak mencintai anak kita, Devano. Kau menginginkan Shea dan bayinya.

Batin Alistasia kembali memberontak mendengar perkataan Devano. Seberapa besar luka yang telah Devano torehkan kepadanya, tapi kenapa semudah itu Devano meminta maaf seakan-akan kata maaf akan menyelesaikan segalanya.

"Sia, aku benar-benar mencintaimu. Aku tak akan meninggalkanmu sendirian bersama anak kita. Aku akan selalu ada di sampingmu, sayangku. Kau bidadari ku."

Teruslah membual, suamiku. Satu-satunya yang membuatku yakin kalau kau memang mencintaiku adalah dengan meninggalkan Shea.

Unduh sekarang dan klaim hadiahnya
Scan kode QR dan unduh aplikasi Hinovel