Pustaka
Bahasa Indonesia
Bab
Pengaturan

Bab 14. Maybe Some Part of You Just Hates Me

Minggu lalu Alenzo MacKenzi menegaskan secara resmi kalau Devano tidak boleh menyematkan nama MacKenzi di namanya. Itu berlaku juga padanya dan calon anak mereka. Memang terdengar begitu kejam, tapi Shea menerima itu dengan lapang dada asal Devano tetap menikahinya.

Ponselnya bergetar dan senyumnya semakin mengembang ketika melihat nama Devano yang muncul. Dengan cepat dia menekan tombol hijau dan berucap kata sapa semanis mungkin.

"Sayang?! Tumben menelepon ku siang begini?"

"Kau mau makan siang bersama? Kebetulan aku baru saja selesai meeting."

Senyum merekah semakin muncul di bibirnya. Ia senang karena Devano mengajaknya, tapi bagaimana dengan Alistasia? Bukankah akan lebih baik kalau Devano mengajak Alistasia juga?

"Istrimu... Apa dia tidak ikut?"

"Tadinya aku ingin mengajak Sia, tapi dia sudah tidak ada di dalam ruangannya ketika aku ingin mengeceknya. Kurasa ia sedang makan siang bersama teman-temannya."

Semakin bahagia lah Shea mendengar penjelasan itu. Artinya dia hanya berdua bersama calon suaminya dan ini bagus karena ada banyak hal yang ingin Shea bahas bersamanya.

"Ya sudah, aku mau. Kau mau menjemput ku disini?"

"Iya. Tunggu aku 30 menit lagi."

Sambungan pun lantas terputus. Shea dengan segera merapikan penampilannya di depan kaca dan memastikan kalau dia masih cukup cantik untuk pergi makan siang bersama calon suaminya itu. Ia memberi tahu sekretarisnya kalau akan ada Devano yang datang, jadi ia menyerahkan sisa pekerjaannya pada si sekretaris. Sekalian, Shea ingin mengajak Devano memeriksakan kandungannya karena hari ini memang jadwal mereka periksa kandungan.

Setelah menunggu 30 menit, Devano pun datang. Pria itu membuka pintu ruang kerjanya dan tersenyum kecil. Shea bisa melihat raut wajah lelah yang tergambar di wajah calon suaminya itu, tapi ia rasa Devano lelah karena bekerja.

"Sudah siap?" Tanya Devano dan Shea mengangguk mantap. Dia menggandeng tangan Devano lalu berjalan beriringan bersamanya ke arah lift.

Sesampainya mereka di mobil, Shea mengatakan kepada Devano untuk ikut memeriksakan kandungannya karena Shea malu jika harus datang tanpa kehadiran calon suami, paling tidak dengan adanya Devano, orang-orang tidak akan mengecapnya sebagai wanita murahan.

Mobil yang mereka tumpangi berhenti di sebuah restoran yang menyajikan masakan jepang. Shea keluar dari mobil lalu kembali menggandeng tangan Devano agar tidak berjauhan dengan pria itu. Mereka masuk ke dalam lalu mengambil tempat untuk duduk sebelum memesan makanan. Posisi meja mereka berada tepat di tengah-tengah sehingga memudahkan bagi Devano atau Shea untuk melihat semua orang yang juga sedang makan siang di tempat ini.

"Devano, mau tidak jika malam ini kau tidur di rumahku? Aku dan bayi kita kesepian karena tidak ada dirimu. Sesekali menginap di tempatku tidak apa, kan?"

Pria itu menatap ragu. Ia berusaha untuk menolak secara halus karena Devano masih harus memperbaiki hubungannya dengan Sia. Ia tidak bisa pergi dari rumah dalam keadaan yang seperti saat ini. Alistasia bisa tambah membencinya.

"Sebentar lagi kan kita menikah, jadi bersabarlah."

"Ngomong-ngomong, apa Alistasia setuju jika aku tinggal di rumah kalian?"

Devano menggeleng kecil,"Aku sudah membicarakannya bersama Sia, tapi dia tidak merespon. Dia masih marah padaku."

Shea menghembuskan napas lelah sebelum dirinya meraih telapak tangan Devano untuk ia genggam,"Dia punya hati sekeras batu, sepertinya sulit membuat Alistasia luluh. Kau tahu sendiri kan kalau dia membenciku sejak zaman kuliah?"

Devano mengiyakan di dalam hati. Alistasia adalah perempuan pertama yang meminta dia memutus hubungan dengan Shea karena menurutnya Shea bukan perempuan baik-baik. Devano memang cukup kejam saat itu dengan mengatakan kalau Alistasia lah wanita yang buruk karena selalu mengatur hidupnya sehingga membuat Alistasia terluka dan tiba-tiba saja persahabatan mereka hancur.

Dulu Devano menjauhi Alistasia karena ia ingin menegaskan kepada perempuan itu kalau mereka hanya bersahabat, jika tak perlu ikut campur dalam urusan percintaannya. Tidak disangka hal tersebut membuat Alistasia pindah ke Korea. Devano pikir dia tidak akan pernah bertemu dengan Alistasia lagi, tapi takdir berkata lain.

Wanita itu malah mendapat promosi ke kantor milik Devano. Hal itu lah yang menjadikan dia seperti sekarang ini.

"Vano? Hei?"

Pria itu kembali tersadar dari lamunannya setelah mendengar suara Shea memanggilnya. Awalnya wanita itu menunjukan kebingungan melihat Devano yang lebih sering melamun, tapi sekali lagi ia berpikir kalau pria itu hanya lelah akan pekerjaannya.

"Kau tidak dengar tadi aku bilang apa?"

"Memangnya kau mengatakan apa?" Tanyanya kembali. Shea menggeleng kecil sebelum menjelaskan kalau dia benar-benar ingin Devano tidur di rumahnya malam ini. Shea tidak mau sendirian lagi dan ia mengharuskan Devano untuk sesekali tinggal dengannya walau sebentar lagi hari pernikahan mereka digelar.

Pria itu mengangguk ragu. Untuk saat ini dia belum bisa berjanji kepada Shea, tapi nanti... Ia akan memenuhi permintaan wanita itu setelah Alistasia mau memaafkannya.

Tak lama kemudian, pesanan mereka pun datang. Ada beberapa masakan jepang yang tersaji dan semuanya merupakan pilihan Shea. Wanita itu mengaku kalau ia sangat menginginkan makanan jepang.

Ketika sedang asyik menyantap makanan, mata coklat milik Devano tak sengaja mendapati kehadiran seorang wanita yang sangat ia kenal. Rambut pirang dengan gaya anggunnya-- siapa lagi kalau bukan Alistasia?

Dia tidak datang sendirian melainkan bersama seorang pria yang juga Devano kenal, Austin.

Emosi lantas langsung membumbung tinggi di atas kepalanya melihat kenyataan kalau Alistasia duduk berhadapan dengan Austin dan tampak tertawa bersamanya. Ia cemburu, tentu saja sangat cemburu karena Sia tak pernah sekalipun tersenyum jika berada di rumah. Namun bersama Austin, ia bisa tertawa lepas.

Tempat mereka berada di ujung dan sepertinya keduanya tidak mengetahui kalau dia juga tengah berada di tempat ini.

Devano hendak berdiri, tapi Shea dengan cepat menahan langkahnya.

"Tidak, Vano. Jangan kesana," Pintanya dengan suara yang kecil. Selain akan memancing keributan, Shea tidak mau merasa terabaikan dengan kehadiran istri pertama calon suaminya itu. Ia ingin Devano tetap berada disini apapun yang terjadi.

"Alistasia--"

"Dia juga sedang makan siang! Hanya makan siang bersama temannya! Apa yang salah?!" Kali ini ada sedikit nada bentakan yang terselip dari nada bicaranya dan itu membuat Devano kembali duduk ke atas kursinya. Ia menahan gejolak kebencian dan cemburu buta di dalam hatinya. Devano makan tidak tenang karena memikirkan kedekatan antara Austin dan Alistasia, wanitanya.

Sia hanya milikku. Dia selamanya milikku!

Jiwa seorang MacKenzi semakin mendominasi dirinya saat ini. Tangan Devano terkepal erat karena kecemburuan yang membakar habis kesabarannya apalagi ketika dirinya melihat Austin tampak menyampirkan rambut Alistasia yang berjatuhan di wajahnya.

"Sialan!"

Shea tersentak saat tiba-tiba Devano berdiri lalu mengambil langkah lebar ke arah meja paling ujung dimana Alistasia dan Austin berada.

Dengan cepat Shea mengikuti pria itu dan berniat menghentikan aksi gilanya, tapi ia kalah cepat. Devano lebih dulu menarik bahu Austin lalu menghantam wajahnya dengan tinjuan yang ia punya.

"AHH! Devano, apa yang kau lakukan?!" Alistasia membulatkan matanya saat melihat sang suami tiba-tiba muncul dan langsung memukul wajah Austin seperti orang gila.

"Dia milikku, brengsek! Jangan berusaha merebut Sia dariku!"

Austin tidak menyerah begitu saja. Dia mendorong tubuh Devano yang berada di atasnya lalu dengan cepat ia berbalik memukuli wajah sahabatnya itu sehingga seisi restoran menjadi kacau karena aksi keduanya.

Pria keturunan MacKenzi itu menendang perut Austin lalu mencengkram erat kerah lehernya dengan satu tangan.

Alistasia tak tinggal diam, dia menahan tangan Devano yang ingin kembali melayangkan pukulan, tapi suaminya itu gelap mata. Tanpa sadar Devano menyentak tangan Alistasia cukup kuat sehingga membuat tubuh wanita itu menghantam ujung meja lumayan keras.

"Akhh! Ya Tuhan... Sakit!"

Wanita itu dengan segera memegang perutnya yang terbentur ujung meja. Rasa sakit yang ia alami berubah menjadi sepuluh kali lebih menyakitkan saat ia merasakan sesuatu tampak berusaha keluar dari tubuhnya.

Rintihan itu tak ayal membuat Devano menghentikan aksi gilanya. Pria yang juga sudah babak belur itu lantas menoleh ke belakang dan terkejut saat melihat istrinya yang telah bersimpuh di atas lantai sambil memegang perutnya.

"Ya Tuhan! Sia, Sia!"

Devano buru-buru mendekati istrinya lalu tanpa aba-aba dia langsung menggendong tubuh Alistasia yang lemas sebelum membawanya ke dalam mobil. Calon bayi mereka dalam masalah dan jika sesuatu terjadi, Devano tak akan pernah bisa memaafkan dirinya sendiri.

Shea hanya bisa diam menatap kepergian calon suaminya. Kepalan tangannya perlahan terbentuk saat menyadari kalau Devano terlihat sangat mencintai Alistasia daripada dirinya.

"Semoga kau senang dengan apa yang telah kau lakukan, Shea. Semua ini tidak akan terjadi jika bukan karena dirimu!"

Ia menoleh ke kiri saat melihat Austin berjalan sedikit tertatih-tatih menjauhinya. Pria itu memberi tatapan permusuhan yang sangat kentara dan hal tersebut sempat membuat Shea ketakutan untuk dijauhi semua orang.

Wanita itu memeluk dirinya sendiri demi menghilangkan perasaan takut itu. Ia terduduk di atas kursi lalu mencoba menenangkan dirinya yang dihantui rasa bersalah.

"Benturan memang cukup kuat, tapi beruntung karena janinnya bisa terselamatkan. Apa yang kau lakukan padanya, Devan?!"

Devano mengusap rambutnya kasar karena ia hampir membunuh calon anaknya yang masih berupa daging kecil. Ia menggeleng pelan sebelum meninggalkan dokter bernama Jessyln itu untuk melihat keadaan sang istri di dalam ruang perawatan.

Di dalam, Devano melihat kalau Sia baru saja menangis terbukti dari pipinya yang basah oleh air mata.

"Sia, maafkan aku. Aku tidak bermaksud untuk menyakitimu dan bayi kita."

"Bayi kita? Sejak kapan dia menjadi milikmu juga? Dia bayiku dan kau tidak berhak terlibat di dalam kehidupannya!"

Devano hendak menarik kedua tangan Alistasia, tapi sayang karena wanita itu menepis tangannya yang hendak menggapai dirinya.

"Sekali saja, sayang... Beri aku kesempatan sekali lagi. Aku mohon padamu."

"Kesempatanmu sudah tidak ada lagi sejak kau memilih Shea. Maaf, aku tidak mau membagi apa yang aku punya pada siapapun. Aku memilih mundur karena kau yang melepas ku tanpa kau sadari."

Devano merasa tertampar dengan balasan itu. Wajah Alistasia tidak menunjukkan sebuah tanda kalau dirinya mau memaafkan kesalahan yang ia buat dan Devano dibuat semakin menggila karenanya.

"Aku mencintaimu, Alistasia. Aku--"

"Tapi kau mencintai wanita lain. Tidak, aku tidak mau menjadi pelampiasan cintamu saja, Devano. Aku tidak pernah sudi!"

Pria itu kembali terdiam. Alistasia tidak mau mendengar penjelasannya lagi dan itu artinya memang tidak ada titik terang dalam hubungan mereka. Apa ia benar-benar harus menceraikan Alistasia begitu saja?

"Aku tidak mau, Sia. Tak akan pernah ku ceraikan dirimu apalagi jika itu untuk menyenangi si brengsek Austin. Tidak akan pernah!" Balasnya yang mana langsung membuat Alistasia tertawa sambil menangis.

"Lucu. Kau sangat lucu, Devano sayang."

Pria itu menatap ke arah mata Alistasia yang berkaca-kaca tapi ia tidak berniat mengatakan apapun lagi.

"Kenapa harus aku yang di kekang? Kenapa aku tidak bisa mengekang suamiku juga? Kenapa? Oh, aku tahu... Kau tidak pernah puas jika harus menjalani kehidupan seks dengan satu wanita dan itu merupakan kesalahan ku karena aku masih terus menyimpan rasa untukmu. Kamu menggelikan dan aku membencimu karena itu," Sia mengusap wajahnya kasar sebelum akhirnya ia memberanikan diri untuk memberi tatapan bak wanita jalang.

"Kalau begitu aku juga mau sepertimu, Deva. Aku mau selingkuh dan tidur dengan laki-laki lain. Supaya kita berdua impas."

Unduh sekarang dan klaim hadiahnya
Scan kode QR dan unduh aplikasi Hinovel