Bab 8 Pelik
Beberapa hari ini, aku benar-benar tidak mood melakukan sesuatu. Semua pekerjaan sudah aku serahkan pada Tari, juga Damar selaku HRD. Meskipun hadir di kantor, aku hanya memangku kepala dengan tangan, menatap hampa, tak melakukan apa-apa. Tidak hanya itu, tetapi ketika berpapasan dengan Tari, aku sama sekali tak berniat menyapa dirinya atau menegur tentang segala hal seperti yang biasanya aku lakukan.
Kesalahan fatal. Aku tidak tahu perasaan apa yang sering datang akhir-akhir ini. Namun, seakan ambisiku pada perusahaan ini lenyap seketika. Aku juga tak peduli lagi jika Asyifa melaporkan pada ayahnya soal tindakanku beberapa hari lalu. Semua menjadi tidak penting.
“Pak?”
Tiba-tiba saja Tari ada di hadapanku, duduk sambil memiringkan kepala dan meneliti ekspresi wajahku.
“Kamu?! Kalau masuk seharusnya—“
“Saya sudah mengetuk pintu beberapa kali, Pak. Tapi, Bapak tidak juga menyahut. Maaf kalau saya lancang masuk sebelum diizinkan. Ini, ada beberapa berkas yang harus Bapak tandatangani.” Tari menyodorkan beberapa dokumen di atas meja.
“Ya, akan saya tandatangani.”
Meski begitu, aku sama sekali belum menyentuh dokumen-dokumen tersebut. Aku hanya menghela gusar dan berwajah datar. Bahkan untuk menyuruh perempuan di hadapanku ini pergi dari ruangan saja aku tidak mampu melakukannya.
“Semua pasti ada hikmahnya, Pak. Maaf kalau saya lancang. Tapi ... saya tahu apa yang Bapak rasakan.”
Begitulah ucapnya tanpa pernah kuminta. Ia seperti berusaha untuk peduli pada seorang bos yang bahkan selalu menyusahkan, membentak dirinya tanpa ampun, melarangnya begini dan begitu. Apakah sikapnya bisa dikatakan wajar? Seharusnya dia dendam pada seorang Andra yang sudah bersikap tidak semestinya.
Sementara itu, aku tak menanggapi meskipun ada sebuah rasa lega yang hadir di hati.
“Saya permisi, Pak.”
Tari beranjak pergi dari ruanganku, tetapi sebelum mulai membuka pintu, aku menghentikannya. “Tari!”
“Iya, Pak?” sahutnya pelan dan sopan.
“S-saya minta maaf.”
Perempuan tersebut mengangguk beberapa kali dan tersenyum. Seperti biasa bahwa senyuman itu selalu saja bisa membuat perasaan aneh hadir di relungku. Apakah ia menggunakan semacam sihir? Atau entah apa itu aku tak tahu. Yang pasti, lengkungan di bibirnya begitu menenangkan.
-II-
“Halo, Pak Andra. Ini saya Pak Budi. Saya memohon maaf sebelumnya, tapi saya ingin mengatakan bahwa saya ingin membatalkan kerjasama kita terkait pembangunan dengan perusahaan Anda.”
“Apa?! Membatalkan? Pak? Tidak bisa seperti itu, dong, Pak. Saya sudah mengurus semuanya dan mengeluarkan banyak uang untuk kerjasama ini. Kenapa Anda tiba-tiba membatalkan kerjasama kita? Ini tidak etis sama sekali!”
“Sekali lagi, saya mohon maaf, Pak Andra. Saya benar-benar tidak bisa melanjutkan kerjasama kita. Saya sudah tidak tertarik lagi untuk bekerja sama dengan Anda.”
“Halo?! Halo?! Pak Budi! Hei, Berengsek!”
Satu telepon lagi-lagi kubanting dan rusak seperti sebelumnya.
“Berengsek!” teriakku sambil mondar-mandir di depan meja kerja.
Proyek kerjasama pembangunan yang seharusnya memberikan keuntungan besar bagi perusahaanku dan perusahaan si berengsek Budi, tiba-tiba saja ia batalkan tanpa alasan yang jelas. Semua ini seakan menikam tanpa alasan. Aku yakin sekali bahwa hal ini karena perusahaan kompetitor yang memberikan hasutan kepada dia sehingga akhirnya si Budi membatalkan kerjasama kami.
Pengecut! Sebuah perusahaan seharusnya tidak menggunakan cara kotor seperti itu. Seharusnya mereka membuktikan bahwa mereka juga bisa maju dan berkembang melalui kerja keras. Kerja yang nyata, bukan bermain hasut dan menjatuhkan perusahaan lain. Dan betapa bodohnya juga si Budi yang bisa terkena hasutan iblis seperti mereka. Benar-benar tidak etis dan tidak bermoral.
“Pak. Maaf, klien atas nama Ibu Satia baru saja membatalkan—“
“Hentikan, Tari! Saya tidak mau mendengar keluhan kamu soal klien yang membatalkan pengajuannya atau kerja samanya. Saya tidak peduli lagi!”
“Baik. Maaf, Pak.”
Tari melangkah pergi dari hadapanku. Terdengar kenop pintu berputar, tetapi lagi-lagi aku merasa sangat bersalah telah membentak perempuan tersebut. Selama beberapa tahun ini, rasa bersalah ketika membentak karyawan tidak pernah menghantuiku. Namun, kenapa sekarang malah lebih sering kurasakan?
“Tari!”
Perempuan dengan rambut sepunggung itu membalikkan badannya setelah berhasil membuka pintu.
“Ada apa, Pak?”
“Menurut kamu, apa yang salah dari saya?”
Sebelum menjawab pertanyaanku, Tari mengembuskan napas panjang. “Tidak ada yang salah, Pak. Tapi, kadang Anda terlalu memaksakan sesuatu. Anda terlalu memaksakan kehendak yang berada di luar kendali Anda. Coba Anda lebih bijak lagi, Pak, untuk hal itu.” Ia pun melanjutkan langkah untuk kembali ke ruangannya.
Seperginya Tari dari ruanganku, pintu lagi-lagi diketuk.
“Masuk!”
Ternyata Damar. Firasatku tidak enak kalau pria itu datang tiba-tiba tanpa kuperintahkan.
“Ada apa, Damar?” tanyaku kemudian seraya memijat pelipis.
“Ini laporan saya, Pak.” Ia memberikan sebuah dokumen dan aku mengambilnya dengan segera.
Kubaca laporan Damar. Kinerja perusahaan bersama dengan sumber daya manusianya benar-benar menurun. Mereka seenaknya pergi meninggalkan perusahaan yang sudah berjasa menyambung hidup mereka. Mereka seenaknya keluar tanpa alasan. Mengundurkan diri tanpa alasan yang jelas.
“Laporan macam apa ini, Damar?!” Aku membanting kertas ke lantai, lalu menginjaknya hingga kotor. Semua perihal pelik ini benar-benar memusingkan kepalaku hari ini. Masalah demi masalah datang menghampiri.
“Saya permisi, Pak.” Damar enyah dari pandanganku.
Aku yakin ini adalah ulah Asyifa. Ya, benar. Perempuan jalang yang tidak tahu aturan, semena-mena, selalu ingin mendapatkan sesuatu dengan instan. Tidak ingin berusaha, tidak mau berkorban, selalu hidup enak dan tidak pernah merasakan bagaimana rasanya hidup menggelandang.
-II-
Aku duduk berhadapan dengan Pak Hartono di ruang tamu rumahnya. Sejak beberapa menit datang dan duduk dengannya, ia belum juga buka suara. Tua bangka itu masih sibuk dengan rokok pipa dan koran yang ia baca yang menutupi wajahnya. Sementara itu, aku juga tidak peduli. Aku mengedarkan pandangan ke sekitar.
Lima menit berlalu, ia melipat koran dan meletakkannya di meja.
“Kamu pasti sudah tahu kenapa saya memanggil kamu ke sini, Andra,” cetusnya dengan sorot mata tajam. Ia menyeringai.
“Saya tidak tahu, Pak.”
Tua bangka itu menyesap rokoknya dengan khidmat, lalu berkata, “Pecat sekretarismu. Pecat perempuan bernama Tari itu dari perusahaanmu.”
Aku tertawa remeh mendengar perintahnya yang tidak masuk akal. “Kenapa Bapak yang memerintah saya? Bukankah saya bos di perusahaan saya sendiri?”
“Benar. Kamu memang bos di perusahaanmu. Tapi ... apa kamu lupa, Andra, kalau saya investor yang paling banyak memberikan modal untuk pengembangan perusahaanmu? Bagaimana kalau saya—“
“Sebenarnya kenapa, Pak? Kenapa Anda ingin saya memecat Tari? Dia sangat cocok dengan posisinya. Saya tidak setuju jika Anda meminta saya memecat orang seperti Tari. Tapi, jika—“
“Dengarkan, Andra!”
Aku terkesiap oleh bentakan si tua bangka. Ingin sekali kucekik lehernya sampai mati di tempat, tetapi tentu saja itu tidak bisa aku lakukan. Aku bukan kriminal.
“Saya tidak mau tahu! Kamu harus memecat perempuan jalang itu untuk Asyifa. Kalau tidak, saya berjanji perusahaanmu akan gulung tikar secepatnya. Tidak ada toleransi! Ini perintah mutlak!”
Tak merespons lagi, aku segera pergi meninggalkan si tua bangka.
Semoga kamu cepat mati, Tua Bangka!
-II-
Pulang dari rumah Pak Hartono, aku menuju rumah sakit. Tujuanku adalah satu, yaitu mengetahui siapa sebenarnya orang yang selalu dibesuk Tari di rumah sakit tersebut.
Setelah menambatkan mobil, aku melangkah buru-buru ke lantai atas, ruang ICU. Aku masih ingat di kamar mana Tari pernah masuk. Mengendap-endap, aku memelankan langkah kaki sehingga derap sepatuku tak bersuara, hening.
Meski sangat ingin mengetahuinya, tetapi ruangan itu ditutup, tirai-tirai di jendelanya pun tak ada celah sama sekali. Aku menghela napas gusar, rencanaku mungkin gagal. Namun, seorang suster tiba-tiba saja keluar dari ruangan tersebut. Tak menyangka, aku ingat sekali dengan wajah suster itu.
“Anda siapa?” Ternyata ia tak mengingatku sama sekali.
“Oh, saya keluarga dari orang di ruangan ini,” ucapku sambil berdeham.
“Oh, begitu. Anda mau masuk, Pak?”
“Baik.”
Suster tersebut mengangguk dan turun ke lantai bawah.
Sangat pelan, kubuka pintu ruangan tempat seseorang yang selalu Tari besuk dirawat. Kenop pintu hampir tidak bersuara, tetapi terus kubuka dengan pelan.
Aku menyembulkan kepala ke dalam ruangan begitu pintu baru terbuka seperempatnya. Membelalak bukan main.
Tidak mungkin.
Ya, setelah mengetahui hal tersebut, tak mungkin aku tega memecat perempuan itu sesuai yang diperintahkan oleh Pak Hartono. Tidak bisa. Meskipun kadang suka membentak, marah-marah, membuatnya menangis dan bersedih, tetapi aku masih punya hati dan pikiran. Tak bisa, benar-benar tidak bisa. Bagaimanapun juga, aku pernah merasakan hidup yang pahit seperti apa yang ia alami sekarang.
Apa yang harus kulakukan? Apakah aku harus memperhatankan Tari hanya karena perasaan simpati pada diriku? Ataukah mengorbankannya demi kelancaran bisnis dan perusahaanku?
Tua bangka itu pasti tak punya hati.
-II-
