Bab 7 Setegar Batu Karang
“Saya butuh gaji saya bulan ini, Pak.”
“Gaji? Tanggal gajianmu masih lama, Tari. Seminggu yang lalu kami sudah transfer melalui rekening bank kamu. Lantas, kenapa kamu meminta gaji lagi untuk bulan ini sebelum tanggal gajian?”
Tari duduk terpaku di hadapanku. Ia memijat pelipis. Alisnya yang lancip hitam terlihat berkeringat.
“Iya, saya tahu, Pak. Tapi ... saya butuh uang,” ucapnya, pelan.
“Uang untuk apa?”
Aku menyipitkan mata, mencoba menyelidiki ekspresi wajah perempuan di hadapanku.
“Bapak tidak perlu tahu. Saya hanya ingin mengambil gaji saya lebih cepat karena saya sangat butuh. Saya janji akan bekerja lebih baik lagi.”
“Tidak bisa!” Aku mendepak meja sehingga Tari terkejut, mengerjapkan mata, ia mengalihkan pandangan ke sembarang tempat. “Kinerja kamu bulan lalu saja menurun, Tari. Saya tidak percaya dengan janji kamu itu. Ketika seseorang berjanji akan sesuatu saat dia butuh, esoknya saat dia sudah mendapatkan apa yang mereka mau, mereka pasti akan melupakan janjinya. Saya yakin kamu adalah salah satu dari orang-orang yang seperti itu.”
“Tolong, Pak. Berhenti menilai-nilai diri saya. Hanya saya yang tahu diri saya sendiri. Bapak tidak berhak untuk itu. Jika bapak tidak berkenan memberikan gaji saya, ya, sudah. Saya tidak memaksa, Pak.” Tari berdiri. Tatapannya melotot tajam. Ia benar-benar marah dengan kalimat yang baru aku lontarkan. “Ingat, Pak. Anda hanya bos, pemilik perusahaan. Anda bukan Tuhan yang pantas menilai orang lain!”
Perempuan tersebut melangkah keluar dari ruanganku. Bukan kali pertamanya, tetapi Tari adalah karyawan yang paling berani melawanku di perusahaan ini. Tak ada karyawan seberani dirinya. Bahkan meminta gaji di awal atau kasbon pun tidak ada yang berani seperti Tari.
Aku heran, terbuat dari apa hati perempuan itu? Kenapa dia sangat berani melawan seorang pemilik perusahaan? Apakah dia tidak takut dipecat? Entahlah, pikiran-pikiran seperti itu satu per satu membuatku berpikir keras. Sikap dan sifatnya sangat berbeda dengan kebanyakan orang, lelaki maupun perempuan di luar sana.
Dalam beberapa bulan, sekitar tiga puluh orang mengundurkan diri karena tidak tahan dengan sikapku memperlakukan mereka. Namun, Tari sudah bertahan di perusahaan ini lebih dari tiga bulan. Ia paling tahu apa yang bisa saja membuatku marah. Namun, tetap saja ia masih melakukan kesalahan-kesalahan yang memicu emosi di benakku.
Aku mengembusan napas panjang, berusaha meredam segala emosi yang membuncah.
-II-
“Ini gaji yang kamu minta. Saya tidak tahu akan kamu gunakan untuk apa uang-uang itu, tapi berjanjilah untuk setia bekerja dengan saya.”
Aku meletakkan sekumpulan uang yang telah kubungkus dengan amplop cokelat di meja Tari. Kemudian, kulangkahkan kaki untuk segera keluar dari ruangannya.
Namun, sebelum mencapai pintu, perempuan itu memanggilku, “Pak!”
Aku lantas membalikkan badan dan melihat Tari berdiri.
“Terima kasih banyak, Pak.” Segurat senyum, juga rasa haru, tampak di wajahnya. Tak tahu diriku mengapa aku begitu senang melihat kurva indah yang terbentuk di wajah perempuan itu. Aku tak tahu mengapa jantungku berpacu lebih cepat dari biasanya, juga darahku rasanya jelas mengalir.
Aku hanya mengangguk untuk menanggapi rasa terima kasih sang perempuan, lalu melangkah kembali ke ruanganku.
Sesuatu yang tidak pernah aku inginkan untuk terjadi ialah memberikan simpati berlebihan kepada siapa pun. Berawal dari perasaan itulah seorang manusia akan hancur oleh sebuah idealisme, entah mengapa aku beranggapan seperti itu setelah disakiti seorang insan yang dulu pernah kucintai dengan sangat. Rasa cinta dan kalimat-kalimat kesetiaan selalu ia ucap hanya untuk menenangkanku semata. Namun, sayang sekali semua itu melebur dalam satu rasa, yaitu kebencian tak bertepi. Hingga saat ini, aku membencinya.
-II-
Malam ini, aku masih berkutat dengan laptop di meja kerja. Aku terpaksa harus mengajak Tari kerja lembur lagi untuk kesekian kalinya. Akhir-akhir ini, banyak sekali klien, pun investor yang tertarik dengan perusahaanku. Di saat yang bersamaan juga, banyak perusahaan kompetitor yang mencoba untuk melumpuhkan usahaku dengan cara kotor. Tentu saja, hal-hal seperti pengelolaan perusahaan, baik dari dalam maupun dari luar adalah bagian dari tugasku.
Di tengah kesibukan ini, seseorang memasuki ruanganku tanpa mengetuk pintu terlebih dahulu. Aku melepas napas gusar karena tahu siapa sosok yang tidak tahu tata krama tersebut. Siapa lagi kalau bukan Asyifa. Meski begitu, aku tidak bermaksud untuk menghentikan pekerjaan yang sedang berlangsung.
Asyifa tak bersuara meski kini berdiri di sampingku. Inilah salah satu hal yang kubenci dari perempuan murahan tersebut. Ia melihatku tengah sibuk melakukan pekerjaan, tetapi ia dengan senyap justru menyejajarkan tinggi dengan posisi dudukku, lalu membelai mesra wajahku. Berkali-kali aku menghindar, tetapi perempuan tidak tahu diri ini selalu berusaha membuatku terjebak dengan pesonanya. Sialan!
Aku menggertakkan gigi. Tak bisa melakukan apa-apa jika Asyifa berkeras. Jika aku melawan, tentu saja ia akan melapor pada ayahnya. Jika diam, aku kehilangan wibawa sebagai seorang manusia terhormat. Oh, ayolah. Tidak adakah hal lain yang bisa dilakukan perempuan ini selain menempel dadanya di bahuku serta meniup-niup wajahku?
“Asyifa, saya peringatkan kamu—“
“Apa kamu mau aku laporkan lagi, Andra?”
Aku mendecih dan pekerjaan tidak bisa kulanjutkan. Lihatlah tingkah lakunya. Dia seperti binatang yang penuh nafsu. Ia membelaiku, membuka kancing jas dan kemejaku. Apa yang bisa aku lakukan?
Aku hanya berharap seseorang datang ke ruangan ini untuk menggagalkan rencana kotor perempuan ini. Tari! Ayolah, hanya dia harapanku. Berkas yang kuberikan padanya pasti sudah ia selesaikan. Dan sekarang ia pasti sedang berjalan menuju ke ruangan ini.
Asyifa berhasil membuka kancing kemejaku. Kemudian, melakukan tahap berikutnya, yaitu mengelus-elus dada bidangku hingga perut sixpack-ku. Ayolah, aku tidak tahan lagi. Tari, kumohon kamu datang dan menggagalkan aksi perempuan picik ini.
Aku berusaha melawan, menyingkirkan tangan Asyifa dari tubuhku. Namun, jelas dia kembali melakukan hal seperti sebelumnya.
“Apa kamu nggak rindu dengan momen-momen saat kita bercumbu, Sayang?” bisiknya tajam di telinga kananku.
“Asyifa, tolong, saya sedang bekerja.”
“Andra, ini sudah malam, waktunya istirahat dan melakukan hal ini. Benar, kan? Seperti waktu itu? Kamu benar-benar hot, Andra.”
Tak tahan, aku bangkit dari kursi, kulepaskan tangan Asyifa dari tubuhku.
“Berhenti, Asyifa!” tegasku, sedikit menahan volume suara untuk tidak meninggi.
“Oh, jadi kamu memilih untuk—“
“Persetan. Kalau kamu tega melihat saya hancur, silahkan. Saya tidak akan melarang kamu. Satu hal yang perlu kamu tahu, Asyifa. Saya bukan lelaki jalang seperti kamu!” Akhirnya, nada suaraku meninggi, emosi meluap-luap.
Beberapa saat setelahnya, sosok Tari muncul di ruangan ini. Ia tampak terengah-engah. Kenop pintu masih ia pegang dengan erat. Hanya setengah badannya yang masuk di ruangan ini.
Aku dan Asyifa sontak melihat ke arah pintu. Cukup terkejut juga ekspresi Tari melihat ada Ayifa di ruanganku.
“Ma-maaf, Pak. Saya akan—“
“Berhenti kamu!” teriak Asyifa, berhasil menghentikan langkah Tari. Asyifa melangkah untuk menghampiri perempuan tersebut.
“Jadi, kamu sudah berurusan dengan orang yang salah!” Tak ragu-ragu, Asyifa mencengkeram rahang Tari.
“Masa depanmu akan hancur karena sudah mengganggu kesenanganku, Pelacur!”
Tampak setitik air mata di netra Tari. Aku jelas tidak bisa membiarkan hal ini terjadi. Peduli setan dengan perusahaan ini dan kekayaanku. Tubuhku bergerak dengan sendirinya. Melangkah ke arah Asyifa dan Tari yang berada di pintu, lalu mengulurkan tangan untuk melepaskan cengkeraman Asyifa.
“Kamu yang berurusan dengan orang yang salah! Lepasin Tari! SEKARANG JUGA!”
Ya, ketika emosiku telah menguasai, apa pun yang aku lihat telah gelap adanya. Tak peduli lagi diri ini dengan harta benda ataupun masa depan. Tak peduli lagi dengan perempuan picik di hadapanku ini. Tak peduli ia melapor atau tidak pada ayahnya.
Asyifa membelalakkan mata, terkejut mendengar teriakan yang begitu keras dan kasar. Tangannya yang mencengkeram Tari, lantas lemas. Dadanya kembang kempis, menatapku dengan kosong. Kini, dialah yang menangis sebelum Tari menjatuhkan air matanya.
“Aku benci kamu, Andra! Aku benci kamu! Aku benci kamu! Berengsek kamu!” Asyifa memukul dan menampar wajahku, tetapi aku tak peduli. Tajamnya mata ini tak lagi bisa tumpul. Membeludaknya emosi ini tak lagi bisa ditenangkan. Panasnya suasana, tak mampu didinginkan.
Asyifa pun berlalu pergi dengan perasaan hancur, dendam, air mata, dan sesuatu yang mendeskripsikan kehancuran di relungnya.
Sementara itu, Tari masih berada di depanku. Ia tak berani menatap diriku yang sedang dikuasai amarah. Meski begitu, betapa baiknya ia ingin menggapaiku dan menyapa diriku ini. “Pak ....”
“Tari, pulanglah. Saya akan tetap di sini untuk beberapa jam. Pekerjaan saya belum selesai.”
Aku sengaja mengatakan hal itu padanya agar aku sendiri dengan kegelapan hati ini.
“Tapi, Pak—“
“PULANG!”
Tak punya pilihan lain, Tari menjejakkan langkah pelan. Ia menutup pintu ruanganku. Ya, aku tahu ia pasti terkejut dengan perlakukan Asyifa padanya.
Aku melangkah pelan ke meja kerja. Tak mampu menahan rasa yang bergelimang di angan. Lututku rasanya begitu lemas. Aku roboh, tetapi kutahan dan berpegangan pada meja. Akhirnya, bulir-bulir kesedihan ini jatuh membasahi relung yang berdarah tak berkesudahan.
“BERENGSEK!”
Suaraku menggema di ruangan. Meski begitu, tak ada yang akan mendengarku. Tak ada yang akan melihat bahwa seorang bos yang terkenal galak dan tegas ini akhirnya lumpuh oleh sendu yang memaksa air mata tetap mengalir deras.
-II-
Pukul 10.00 malam, air mataku telah kering. Bekas-bekasnya pun tak ada di pipi maupun di sekitar wajahku. Aku bangkit setelah beberapa lama bersimpuh di lantai. Kurapikan kemeja dan jasku yang beberapa waktu lalu dilucuti oleh Asyifa, lalu keluar dari ruangan.
Ketika melewati ruangan Tari, aneh, kenapa lampu ruangannya masih menyala? Aku memeriksanya, dan benar dugaanku bahwa perempuan itu masih berkutat di depan komputer.
Aku melihat rautnya yang sendu dari balik kaca. Jadi, dia belum pulang? Aku menelan saliva beberapa kali.
Itu artinya, ia mendengar teriakan dan tangisku.
Kenapa ada perempuan seperti kamu, Tari?
-II-
