Pustaka
Bahasa Indonesia
Bab
Pengaturan

Bab 9 Sebuah Omong Kosong Bernama Cinta

Siapa sebenarnya pria di rumah sakit yang selalu dibesuk Tari? Hingga kini aku belum bisa mengambil kesimpulan. Seorang pria yang sepantaran denganku. Mulutnya dibalut infus, dan ia tampaknya tengah koma. Apakah suami perempuan itu? Tapi, aku pernah membaca salah satu dokumen di lamaran kerjanya, status Tari sama sekali belum menikah. Lalu, siapa dia?

Aku berusaha keras memikirkan perihal ini dari beberapa hari yang lalu. Jika aku bertanya pada Tari, sangat tidak mungkin, bukan? Dia pernah bilang bahwa aku tidak seharusnya ikut campur dalam urusan pribadinya. Lalu, hingga saat ini aku juga belum melaksanakan perintah dari tua bangka—Hartono. Sangat berat hatiku untuk memecat Tari. Jika alasannya bekerja di perusahaan ini adalah untuk membiayai perawatan pria di rumah sakit itu, dan aku memecatnya, maka sudah pantas aku disebut sebagai orang yang tidak berprikemanusiaan.

“Andra! Kenapa perempuan jalang itu belum juga kamu pecat?!” Asyifa nyelonong masuk ke ruang kerjaku. Ia terpekik menyatakan protesnya, sedangkan aku tak bisa berkata-kata. Aku hanya menatapnya dengan kerutan di dahi.

Aku tak bisa mengambil keputusan.

“Sekarang juga, aku mau kamu panggil perempuan itu ke sini! Kalau kamu nggak bisa memecatnya, biar aku yang melakukannya, Andra!”

“Asyifa! Kamu tidak punya hak memecat karyawan saya! Perusahaan ini milik saya. Saya bosnya! Kamu hanya putri dari salah satu penyumbang dana di perusahaan saya!”

“Aku nggak mau tahu!”

Asyifa melangkah keluar. Sekembalinya, ia membawa Tari sambil menyeret perempuan tersebut dengan paksa. Tari terlihat tidak nyaman. Namun, ia mungkin juga tidak bisa menolak perlakuan perempuan sialan itu.

“Ma-maaf. Ada apa, Nona? S-salah saya apa?” Tari bertanya.

Jelas saja. Kenapa dia harus terbawa dalam masalah pribadiku? Memang benar tidak semestinya hal ini terjadi.

“Diam kamu, Jalang!”

Tari bergeming setelah kalimat kasar keluar dari mulut Asyifa. Ia menundukkan wajahnya sendu, gugup, sesekali kulihat tangannya gemetar karena takut pada Asyifa.

“Sekarang, kamu pecat dia, Andra!”

Aku menggertakkan gigi. Asyifa sudah keterlaluan. Aku bangkit dengan lugas, melangkah ke hadapan Asyifa dan menatapnya lamat-lamat.

“Apa? Kamu mau marah? Silahkan marah, Andra! Kamu harus ingat, aku adalah kunci dari suksesnya perusahaan kamu!”

“Lepasin dia sekarang juga!” ucapku, tegas. “Saya tidak akan memecat Tari! Kamu tahu kenapa? Karena Tari adalah salah satu karyawan saya yang berprestasi!”

“Sialan kamu, Andra!” Tangan kanan Asyifa melayang menuju pipi kiriku, tetapi kemudian kutangkis dengan cepat.

“Perempuan tidak berprikemanusiaan kamu, Asyifa! Setan kamu! Kamu mau saya memecat orang yang butuh pekerjaan dan uang? Dia berusaha keras mencari uang untuk membiayai perawatan orang yang dia sayang di rumah sakit! Kamu mau saya jadi iblis seperti kamu, hah?! Saya tidak akan jadi setan seperti kamu!” Kulepaskan tangan kanan Asyifa yang tadi kugenggam. “Maaf saja. Saya tidak mau menuruti kemauan kamu dan ayah kamu si tua bangka itu! Saya punya harga diri dan kehormatan sebagai manusia! Tidak seperti kamu, Asyifa, yang hanya mengandalkan kekayaan orang tua kamu! Kamu tidak pernah tahu rasanya berjuang dari bawah.”

Akhirnya, aku sudah tak bisa menarik kata-kataku. Benar-benar tidak bisa. Nasi sudah menjadi bubur. Tua bangka itu akan melakukan segala macam cara untuk membuatku bangkrut dan menjadi miskin.

Mungkin, aku sudah menghantam palung hatinya, Asyifa tak merespons hingga akhirnya dia melangkah pergi dari ruanganku tanpa sepatah kata pun.

Terlanjur sudah. Apa yang aku perjuangkan sebenarnya? Aku sadar bahwa aku hanya seorang budak dari si tua bangka itu. Aku menyesal telah menjalin kerjasama dengan dia. Pada akhirnya, aku tidak bebas, hakku dibelenggu Hartono.

Untuk pertama kalinya, aku meneteskan air mata di hadapan Tari. Ia masih bergeming di pijakanannya. Dengan ragu-ragu ia menatap wajah hancurku.

Aku roboh dan bersimpuh, menutup wajahku menggunakan kedua tangan. Semuanya menjadi makin rumit. Sejak kehadiran Tari di perusahaan ini, setiap hari seolah menjadi drama yang tak berkesudahan. Di satu sisi, aku sangat berat jika ia harus berhenti dari perusahaanku. Di sisi lain, aku juga membencinya karena telah hadir sebagai penghancur segalanya. Salahkah aku menduga seperti itu?

“Kenapa Bapak tahu kalau saya sedang berusaha mengumpulkan uang untuk biaya perawatan seseorang?” tanya Tari setelah diam dalam beberapa waktu dan menyaksikanku menghabiskan air mata.

Aku tidak merespons, tetap menunduk karena tidak mampu memperlihatkan wajah ini padanya. Aku juga yang salah telah masuk ke dalam hidupnya, sedangkan dia sudah melarangku puluhan kali.

“Pak ... saya akan mengundurkan diri.”

“Tidak bisa!” pekikku, mulai bangkit setelah mengusap bulir-bulir air mata di wajahku. “Kamu tidak boleh keluar dari perusahaan ini. Saya tahu kamu sedang butuh uang.”

“Tapi, Pak. Saya sudah tahu semuanya. Kalau Bapak tetap mempertahankan saya di perusahaan Bapak, Nona Asyifa akan membuat Anda hancur.”

“Saya tidak peduli. Saya tahu bagaimana kerasnya hidup ini. Toh, saya hanya akan kehilangan satu investor.”

“Tapi, Pak—“

“Diam, Tari! Dan terima keputusan saya! Saya bosmu di sini!”

“Saya tidak mengerti dengan Anda, Pak. Berbulan-bulan saya bekerja di sini, saya belum juga bisa memahami Anda. Anda keras dan kasar pada saya. Tapi kemudian Anda mempertahankan saya, yang hanya seorang karyawan biasa. Padahal, nasib perusahaan Anda lebih penting dari saya,” ucap Tari pelan. Dadanya kembang kempis. Ia menggeleng-gelengkan kepala sebagai tanda tidak mengerti seperti apa yang dia ucapkan barusan. Wajar saja, toh, aku saja tidak mengerti apa yang sedang terjadi padaku.

“Kembali ke ruangan kamu dan bekerja seperti biasa,” kataku sambil merapikan rambut yang agak berantakan.

Tari menurut saja, ia segera keluar dari ruanganku.

-II-

Semenjak kejadian saat Asyifa berhasil kuhancurkan segala perasaannya, bukan hanya Hartono yang memutus jalinan kerjasama. Namun, ya, mereka memang keluarga picik. Mereka tahu dengan siapa saja perusahaanku bekerjasama. Mereka mempengaruhi satu per satu investorku, lalu beberapa dari mereka juga ikut memutus jalinan kerjasama.

Perusahaanku kehilangan sumber daya yang banyak, kehilangan pemasukan aktif, omset menurun dan beberapa masalah lainnya datang menghampiri. Puluhan karyawan terpaksa di-PHK. Ada yang mengundurkan diri secara terhormat.

Namun, malah bukan itu yang aku khawatirkan. Pikiranku hanya tertuju pada perempuan berambut sepunggung dengan hidung lancip tersebut. Aku takut ia juga mengundurkan diri karena terkena dampak dari perusahaan yang keadaannya sedang gonjang-ganjing. Aku tidak bisa berhenti memikirkannya. Entah mengapa. Bahkan ketika Tari masuk ke ruanganku pun, aku selalu berpikir negatif bahwa ia pasti akan mengundurkan diri.

“Pak ....” Tanpa sadar Tari sudah berdiri di depan mejaku.

“Iya, maaf. Saya—“

“Bapak sedang banyak pikiran?” tanyanya begitu lembut.

Entah sejak kapan aku tak pernah lagi diperlakukan atau ditanyai tentang keadaanku dengan begitu lembut oleh seorang perempuan. Dan ini memang membuatku sedikit terharu. Menyentuh sesuatu di kedalaman hatiku.

“Tidak. Ada apa? Apa kamu mau mengundurkan diri juga?” tukasku kemudian.

Tari menggeleng pelan. “Tidak, Pak. Saya tidak bermaksud untuk mengundurkan diri.”

“Lalu?”

“Boleh saya duduk?”

“Iya, silahkan.”

Tari mengempaskan pantat di kursi. Sekarang posisinya berhadapan denganku.

“Tadi ada yang menghubungi saya, Pak. Katanya dia berminat untuk investasi di perusahaan Bapak. Tapi, dia akan menghubungi lagi nanti.”

“Yang benar kamu?” tanyaku, merasa tidak percaya.

“Iya, Pak. Karena itu saya langsung lapor ke Bapak. Saya berharap orang itu tidak cuma omong belaka.”

“Ya, saya harap.” Aku menghela napas panjang. “Tari, kenapa kamu memilih untuk tidak mengundurkan diri seperti yang lainnya? Puluhan orang sudah keluar dari perusahaan ini. Apa kamu tidak takut gajimu ditangguhkan?”

“Tidak, Pak. Saya yakin sekali perusahaan Bapak bisa bangkit kembali. Tapi, alasan saya hanya satu kenapa saya tidak mengundurkan diri.”

“Apa itu?”

“Dulu, bukankah saya yang datang memohon-mohon untuk Bapak terima bekerja di sini? Saya berpikir seharusnya saya bertahan karena datang secara baik-baik, terlebih lagi sayalah yang memaksa Bapak menerima saya,” tutur Tari sambil sesekali tertunduk menyembunyikan senyumannya.

Kalimatnya membuatku benar-benar haru. Aku masih penasaran, terbuat dari apa hati perempuan di hadapanku ini? Apakah sama sekali ia tidak dendam padaku?

“Apa kamu tidak dendam dengan saya? Saya selalu membentak dan—“

“Rasa geram memang ada, Pak. Tapi ... saya bukan orang yang mau menghabiskan energi saya untuk dendam pada orang. Apalagi Bapak memang adalah bos saya.”

Lagi-lagi kalimatnya benar-benar sejuk ibarat es di kutub utara. Ah, aku memang terlalu berlebihan jika suasana hatiku membaik. Namun, tak dapat kusangkal, ia seperti angin, yang ketika panas, ia datang menyejukkan.

Aku tidak bisa berkata-kata karenanya. Mulutku seperti dibelenggu tanpa bisa mengucap sepatah kata pun. Suasana canggung akhirnya membalut seluruh ruangan. Hening, kudengar suara helaan napas perempuan tersebut. Ia lebih tenang daripada sebelumnya.

“Apa saya boleh tanya satu hal lagi?”

“Boleh, Pak. Silahkan.”

“Ah, tidak jadi. Saya yakin kamu akan berkata kalau saya tidak boleh ikut campur dalam urusan pribadi—“

“Orang yang di rumah sakit itu adalah pacar saya, Pak.”

Tiba-tiba sesuatu yang besar dan amat berat terasa seperti menghantam relungku. Kembali terluka dan berdarah-darah. Aku tidak tahu bahwa kenyataan yang baru terlontar dari mulutnya begitu membuatku sesak. Tubuhku rasanya panas dan tidak mampu kudinginkan kembali.

“Dulu, kami sudah berjanji akan menikah. Dia mederita kanker, Pak. Sebulan sebelum pernikahan kami, kondisinya lemah dan akhirnya koma. Dia tidak punya orang tua, dan sudah lama bekerja keras untuk mencari uang agar kami—“

“Cukup, Tari! Hentikan!”

Ya, aku begitu pengecut. Hatiku sangat sakit mendengar cerita romansa yang ia alami di hidupnya. Namun, kenapa ini bisa terjadi? Diriku yang lain seolah-olah takut tersaingi dengan pria yang selalu Tari besuk di rumah sakit itu. Kenapa?

Apakah hatiku yang telah lama beku ini, telah berhasil ia cairkan? Dan sekarang ... aku punya rasa yang disebut ... cinta?

Hah! Omong kosong!

Suara ketukan pintu mengalihkan perhatianku.

“Masuk!”

-II-

Unduh sekarang dan klaim hadiahnya
Scan kode QR dan unduh aplikasi Hinovel