Bab 6 Debaran
“Sayang. Kamu suapin aku, dong.”
Aku hanya menatap kosong, tak merespons Asyifa yang duduk tepat di hadapanku.
“Sayang? Kamu kenapa, sih? He ....” Asyifa meraih pipi kiriku, berusaha membuat wajahku memandang ke arah dirinya. Namun, aku menepis tangannya.
“Andra! Apa-apaan, sih, kamu? Kamu kenapa? Akhir-akhir ini kamu nggak peduli banget sama aku!” Asyifa mulai bernada tinggi, membuat gendang telingaku nyaris pecah.
“Saya tidak apa-apa.”
“Aku tahu.” Asyifa menyipitkan kedua matanya, mencoba menebak apa yang terjadi dengan diriku. “Kamu sudah kena pelet, ya, sama sekretaris kamu itu?”
“Syifa! Apa-apaan kamu?! Jangan melibatkan orang lain! Bisa-bisanya kamu nuduh orang yang nggak ada sangkut pautnya dengan masalah ini. Saya cuma lagi capek! Dan kamu memaksa saya menemui kamu dalam keadaan seperti ini.” Suaraku tak kalah tinggi.
“Oh, jadi begitu. Oke, aku akan laporin kejadian ini sama ayahku.” Gegas perempuan itu berdiri. “Awas kamu, Ndra! Ini cuma peringatan, ya, buat kamu. Ayahku pasti akan memanggil kamu besok!” Perempuan tersebut berlalu pergi sebelum menghabiskan nasi goreng yang telah ia pesan beberapa waktu lalu.
Geram, kesal. Aku ingin melampiaskan perasaan ini pada apa pun di hadapan. Namun, aku sadar sedang berada di tempat umum. Orang-orang akan menganggapku gila jika melampiaskan emosi di sini. Aku pun memutuskan pulang dengan segala kegundahan yang menelungkup rasa.
Esoknya, Pak Hartono benar-benar datang ke kantorku. Lima menit sejak kedatanganku di kantor, pria berkacamata dengan rambut cepak cukup beruban tersebut duduk di sofa ruanganku.
Beliau pura-pura mengangkat koran yang terletak di atas meja, lalu membacanya. Membalik halaman per halaman. Sedangkan aku masih duduk di kursi kerja.
“Andra. Saya dengar-dengar kemarin kamu bertengkar dengan Asyifa, ya?”
Dasar wanita licik! Ia bersungguh-sungguh dengan perkataannya kemarin malam. Aku pun bangkit dan duduk tepat di hadapan pria tersebut.
“Maaf, Pak. Saya ... tidak bermaksud seperti itu.”
“Apa kamu masih ingat konsekuensi kalau kamu membuat Asyifa terluka, Andra?”
“Iya, saya ingat, Pak.”
“Kamu tahu kenapa saya akhirnya memutuskan investasi di perusahaan kamu? Semuanya karena Asyifa. Pertama kali saya bertemu denganmu waktu itu dengan Asyifa, dialah yang memohon agar saya mempertimbangkan proposal kamu.”
“Iya, Pak. Saya mengerti,” ucapku sambil membuang pandangan. Bagaimana tidak? Jika tua bangka ini marah, aku dan semua kekayaanku akan dipertaruhkan.
“Jadi, ini sebenarnya cuma peringatan buat kamu, Andra. Saya sangat percaya kamu itu bisa menjaga hati Asyifa.” Pak Hartono meletakkan koran di atas meja. Ia bangkit dan matanya menembus pemandangan di balik jendela. “Dia memang anak yang manja dari kecil. Tapi, kamu harus percaya kalau sebenarnya dia sangat baik.”
Aku hanya manggut-manggut. Apa pun yang tua bangka itu katakan, aku tidak pernah membantah, tidak pernah juga mencoba untuk melawan pendapatnya. Biarkan saja, aku masih bisa menahan kesabaran.
“Dan kamu harus siap kalau sampai kamu mengkhianati kepercayaan saya, Andra, siap-siap perusahaan kamu akan bangkrut.”
Pria tersebut benar-benar serius dengan apa yang baru saja ia katakan.
“Iya, saya akan berusaha.”
Dilangkahkan kakinya ke arahku, menepuk bahuku sebelum akhirnya keluar dari ruangan ini.
Aku mengembuskan napas lega, tetapi ada juga rasa kesal yang datang menghampiri.
“Berengsek!”
-II-
“Ada apa, Tari?” tanyaku pada Tari yang tengah berdiri mematung di depan meja kerjaku.
“Saya mau minta izin, Pak.”
“Minta izin untuk apa?”
“Saya mau pulang, Pak.”
“Kenapa? Waktu pulang tiga jam lagi. Kamu tidak boleh pulang sebelum jam kerja usai.”
“Tapi, Pak. Saya benar-benar ada urusan mendesak.”
“Urusan mendesak apa?”
“Maaf, Pak. Ini urusan pribadi—“
“Kamu meminta izin kepada saya untuk pulang lebih cepat, tetapi kamu tidak mau mengatakan alasannya? Kalau begitu, saya tidak mengizinkan kamu untuk pulang.”
Tari terdiam sejenak, mengambil napas dalam. “Anda benar-benar jahat, Pak. Anda benar-benar tidak punya perasaan!”
Tanpa pertimbangan lagi, Tari melangkah keluar dan membanting pintu ruangan.
Aku melihat setitik cairan bening di sudut matanya sebelum menjejak keluar. Kenapa? Apakah aku salah? Aku bos di perusahaan ini, aku berhak untuk memberikan izin atau tidak.
Aku memutuskan ke ruangan Tari, ternyata benar ia tengah menangis sambil menyapukan tisu di wajahnya.
“Saya masuk!” ucapku yang kemudian membuka pintu ruang kerja Tari. Perempuan itu buru-buru menghapus air mata, menyembunyikannya sejenak, lalu menghadap padaku. Berdiri.
Aku diam beberapa menit. Suasana benar-benar diselimuti canggung. Bergelimang di seluruh penjuru ruangan.
“Saya memberikan izin agar kamu pulang. Tidak apa-apa kamu tidak mengatakan alasannya. Pulanglah.”
Belum bergerak, Tari masih diam di tempat. Menunduk.
“Apa yang kamu tunggu? Saya tidak akan menanyakan alasan kamu lagi. Lakukan sesukamu.”
Tari segera membereskan beberapa berkas yang berserakan di meja, kemudian mengambil tas hitam yang ia gantung di dinding.
“Terima kasih, Pak.” Tari menghentikan langkah sejenak di pintu. Setelah aku mengangguk setuju, ia melanjutkan langkah.
-II-
Aku tidak semudah itu menyerah, lantas mengikuti taksi yang membawa Tari. Membuntutinya dari belakang, menjaga jarak agar tidak terlalu jelas sedang mengikutinya.
Tak berselang lama, taksi yang ditumpangi perempuan tersebut berhenti di depan rumah sakit. Ya, rumah sakit yang beberapa minggu lalu tempatku melihat Tari. Aku semakin penasaran dengannya. Apa yang terjadi?
Tak menunggu lama setelah Tari masuk, aku pun keluar dari mobil dan mengikuti perempuan itu. Dengan langkah buru-buru, ia melewati ruangan demi ruangan yang ada. Sesekali ia mempercepat langkah, naik ke lantai atas dengan tangga.
Ruang ICU. Tari masuk ke ruangan bertuliskan ICU. Hal ini menambah rasa penasaran di benak. Kenapa ia sangat tertutup? Kenapa perempuan itu tidak pernah ingin mengatakan padaku alasannya memohon untuk aku terima bekerja? Kemudian, alasannya meminta izin untuk pulang? Semuanya ia tutup dengan rapat.
Aku bersembunyi di balik dinding pada tangga. Tari masih ada di ruangan itu. Apa yang dia lakukan?
“Pak? Ada yang bisa saya bantu?” Seorang suster tiba-tiba mengejutkanku. Aku mencoba bersikap biasa-biasa saja.
“Oh, tidak ada. Saya cuma ... nunggu seorang teman,” jawabku.
“Oh, baik. Kalau begitu, Anda boleh menunggu di ruang tunggu, Pak.”
“Oke, baik.”
Sang suster pun melangkah ke ruangan tempat Tari berada.
Kuembuskan napas panjang, lalu memilih untuk kembali ke mobil dan pulang.
-II-
Di rumah, entah mengapa pikiranku tidak bisa tenang. Selalu saja teringat dengan wajah sendu perempuan itu. Ia seperti memikirkan masalah yang sangat serius. Itu seakan membebani pikirannya. Namun, kenapa dia tak mau mengatakan alasannya? Meski aku tahu mungkin aku tidak pantas mendengarkan alasannya. Aku hanya seorang bos yang tidak tahu tabiat. Suka memaksakan kehendak padanya, bahkan semua orang di perusahaanku.
-II-
“Pekerjaan kamu salah semuanya! Tidak becus!”
Aku membuang berkas-berkas yang sudah dikerjakan oleh Tari beberapa hari yang lalu. Berserakan di mejanya, juga tergeletak di lantai. Jelas, perempuan itu bertatap heran. Ia bangkit setelahnya.
“Ada apa, Pak? Kenapa—“
“Semua berkas ini salah, Tari! Lihat, tanggalnya! Lihat, namanya! Salah semua!”
Tari memungut satu berkas, kemudian membandingkannya dengan berkas yang seharusnya pada bidang tanggal tertulis tanggal hari ini.
“M-maaf, Pak. Saya tidak fokus akhir-akhir ini. Saya minta maaf. Akan saya perbaiki secepatnya.” Dengan segera Tari duduk dan berkutat dengan komputer.
“Sepuluh menit! Saya tunggu sepuluh menit dan semuanya harus sudah selesai!”
“Tapi, Pak. Ini sangat banyak, Pak. Mana bisa saya kerjakan dalam sepuluh menit.”
“Risiko. Itu urusanmu, bukan saya. Lagi pula, kamu hanya memperbaiki, bukan membuat ulang! Mengerti? Harus jadi sepuluh menit dari sekarang!” tegasku, lalu duduk di hadapannya sambil menunggu.
Kusedekapkan tangan, lalu memperhatikan perempuan itu mengetik dengan cepat. Jari-jari tangannya berpacu dengan waktu.
“Lama sekali! Saya butuh berkas itu, Tari! Yang cepat, dong, kerjamu! Apa kamu mau saya pecat?”
“Tidak, Pak. Maaf, sebentar lagi selesai, kok.”
Sepuluh menit sudah berakhir, sedangkan Tari belum juga menyelesaikan berkas-berkas penting yang akan dibawa ke investor itu. Aku dikejar waktu.
“Aduh, sial,” ucap Tari, mengutuk. Dadanya kembang kempis.
“Kenapa?” tanyaku sambil memperhatikan gelagatnya.
“Printernya, Pak. Macet.”
“Gunakan printer di ruangan karyawan lain! Cepat! Saya butuh sekarang!”
Tak menunggu lama, Tari segera bangkit, ia melangkah buru-buru, tetapi karena hampir tak fokus—mungkin—kakinya tersandung pada kaki meja. Tubuhnya terjatuh ke samping, tetapi dengan cepat aku meraih dirinya sambil memegang pinggangnya hingga di bagian perut.
Tari menatapku dengan lamat, kami bersitatap. Kurasakan napasnya menderu cepat, demikian jantung berdetak dua kali lebih cepat dari biasanya. Wangi napasnya merasuk ke lubang-lubang pernapasanku. Cukup lama bersitatap, aku pun tersadar bahwa ini seharusnya tidak pernah terjadi.
Berdiri dengan normal, Tari merapikan kemeja putihnya yang cukup berantakan karena insiden beberapa detik yang lalu. Ia salah tingkah, sedangkan aku mencoba bersikap biasa-biasa saja.
“M-maaf, Pak. Saya ... ke ruangan sebelah.”
Tari berlalu pergi, dan aku menunggunya.
Sialan! Ini tidak semestinya terjadi. Sebuah debaran kuat.
-II-
